
"Loh?" William menatap Laras yang malah duduk bukannya berbaring.
"Sayang, aku tidak bisa tidur lagi," ujar Laras dengan nada merengeknya.
"Baiklah, kalau begitu ganti baju tidur dulu baru setelah itu kita tidur bersama."
Laras hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan langsung menuju walk in closet. Dia mengambil lingerie hitam transparan dan kembali ke kamar. William yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut saat melihat istrinya memakai lingerie seksi.
"Kamu sedang menggodaku yah?" William langsung memeluk Laras dari belakang.
"Jangan aneh-aneh deh, Will. Ini bukan malam pertama kita." Laras melepaskan tautan tangan suaminya dan naik ke atas kasur.
"Walaupun bukan malam pertama kita, gimana kalau kita memecahkan rekor untuk pertama kalinya?" William tidak menyerah untuk mendapatkan jatah malamnya pada Laras.
"Rekor apa?" tanya Laras penasaran.
"Bercinta hingga empat ronde," jawab William dengan santainya.
"Hah?" Laras benar-benar dibuat melongo dengan permintaan sang suami.
"Mau yah, Sayang? Tuh Willy juniornya dah bangun." William memberi kode dengan menatap ke arah senjatanya.
"Tapi aku sedang hamil, Will. Bagaimana kalau terjadi apa-apa?"
"Aku akan bergerak pelan dan hati-hati, boleh yah, Sayang?" goda William yang posisinya saat ini sudah duduk di samping istrinya. Tangan kanannya mulai mengelus-ngelus paha sang istri.
Tok! Tok! Tok!
William menghentikan kegiatannya dan berdecak kesal. Padahal sedikit lagi dia bisa mendapatkan jawaban setuju dari sang istri. Langkah kaki yang dihentakkan, tanda bahwa William sedang kesal. Dia berjalan menuju pintu kamarnya.
"Loh, Ayah belum tidur?" tanya Laras yang mengikuti William dari belakang.
Mendengar suara istrinya, William langsung membalikkan badannya saat bayangan lingerie hitam melintas di pikirannya. Beruntungnya Laras menggunakan kemeja William, membuat lelaki itu menghela napas panjangnya.
"Belum. Ayah mau bicara sama suamimu, boleh?" tanya Daniel yang menatap Laras dan William bergantian.
"Kalau Laras terserah William, Yah." Laras tersenyum jahil saat menatap William. Dia tahu apa yang ada dipikiran suaminya saat ini.
"Baiklah, Ayah."
__ADS_1
Demi menjadi menantu yang baik, akhirnya William ikut dengan Daniel. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh Ayah mertuanya itu. Ada rasa enggan tapi juga penasaran dengan topik pembicaraan mereka. Daniel membawa William ke balkon lantai dua.
Sudah hampir 10 menit mereka terdiam, tidak ada yang memulai berbicara. William yang ingin memulai pembicaraan merasa tidak nyaman karena Daniel yang meminta lebih dulu. Tapi, jika terlalu lama di sini, dia tidak bisa memecahkan rekor bercinta dengan istrinya.
"Will," panggil Daniel pada akhirnya.
"Iya, Ayah."
"Apa kamu sanggup menjaga Laras untuk, Ayah?"
"Tentu saja William sanggup."
"Tolong jangan buat dia menderita lagi. Ayah tidak bisa menjaga Laras selamanya. Jangan biarkan air mata jatuh di pipinya bagaimanapun kondisi yang ada. Apa kamu bisa berjanji hal ini juga?" Daniel menatap tepat ke manik hitam menantunya.
"Iya, Ayah. William janji."
"Baguslah. Ayah bisa pergi dengan tenang setelah ini," ujar Daniel ambigu membuat William mengernyitkan keningnya.
"Maksud Ayah apa?" tanya William yang tidak paham dengan arti perkataan Daniel.
"Tidurlah dan jangan lupakan janjimu pada Ayah!"
Setelah mengucapkan hal itu, Daniel beranjak dari posisinya dan berjalan meninggalkan William dengan pertanyaan yang tak terjawab. William menatap kepergian Daniel dengan tatapan yang sulit diartikan. Sepertinya sang Ayah mertua sedang menyimpan sesuatu dari semua orang.
"Mana ada penyusup di tempat King yang penjagaannya begitu ketat," ujar William mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
William membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci. Saat dia berada di dalam kamar, senyumnya merekah saat Laras sedang berbaring menyamping di atas kasur dengan senyum sensualnya. Bahkan, lingerie hitam itu tidak mampu menyembunyikan dua aset sang istri.
Benjolan di leher William naik-turun saat melihat sesuatu yang halal untuk disantap. Lelaki itu langsung mengunci pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju Laras. Senyum keduanya tidak pernah lepas, begitu juga dengan tatapan saling menggoda dan terbakar api gairah.
Laras terlentang saat sang suami mulai menaiki tubuhnya. Posisinya saat ini William sudah menindih istrinya. Tatapan mereka saling bersirobok, manik hitam keduanya saling menggoda dan terbakar api gairah bersama-sama.
"Main pelan yah, Sayang. Kasihan anak kita." Laras membelai pipi William dengan penuh kelembutan.
"Pasti."
William mulai menciumi wajah Laras dengan penuh rasa cinta mendalam. Sedangkan Laras hanya memejamkan kedua matanya, meresapi rasa cinta yang dicurahkan William untuknya. Hingga akhirnya William melabuhkan bibirnya pada bibir sang istri, begitu memuja.
Kedua tangan William mulai bergerilya. Dielusnya lengan Laras begitu lembut membuat sang istri bergidik karena geli. Hingga ….
__ADS_1
"Aku tarik talinya yah," William tanpa menunggu jawaban Laras langsung menarik simpul tali pada kedua lengan Laras.
Hal itu langsung membuat tubuh bagian atas istrinya terpampang sangat jelas. Terpampang dua gunung kembar yang terlihat sedikit lebih besar dari terakhir kali pria itu melihatnya.
'Mungkin efek dari Laras yang saat ini sedang hamil,' gumam William dalam hatinya saat menatap aset berharga sang istri.
William menangkupkan kedua tangannya di aset sang istri, membuat Laras mengeluarkan suara lenguhannya. Pria itu tersenyum saat melodi yang tak pernah bosan didengarnya mulai mengalun indah.
"Uuhh~" erang Laras saat tangan sang suami mulai bermain di bukit kembarnya.
Saat tangan William bergerak memutar di salah satu bukit milik Laras, sesuatu yang sebesar biji jagung ikut bergetar, berputar di telapak tangannya. William tahu benda apa yang sedang menyapa telapak tangannya.
William langsung menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya untuk menjepit puncak dari gunung sang istri. Lalu, sedikit memilinnya dengan halus dan itu sukses membuat Laras kelimpungan. William sangat tahu betul bagian tersensitif dari tubuh sang istri.
Laras benar-benar dibuat sensitif terhadap sentuhan apapun dari sang suami. Bahkan kedua kakinya mulai menekuk saat bagian intimnya mulai ikut terasa sensitif. Tersentuh sedikit saja, membuat wanita itu melenguh dan mencengkram punggung William.
William yang melihat istrinya tak berdaya dengan sentuhannya, tersenyum penuh arti. Seperti yang dikatakannya, dia akan bermain lembut malam ini. Dia akan memuja tubuh sang istri sepuasnya tanpa halangan ataupun takut.
William berhasil menanggalkan lingerie hitam yang dikenakan istrinya. Dia membuangnya ke sembarang arah. Hanya selembar kain yang melekat di tubuh keduanya, melindungi area terintim mereka.
"Boleh, yah?" tanya William saat kedua mata mereka kembali bertemu.
"Lakukan sesukamu, Will. Aku milikmu sekarang, nanti dan selamanya," ujar Laras mengalungkan kedua tangannya di leher William.
Setelahnya mereka berdua benar-benar merealisasikan apa yang ada di otak mereka. Pikiran pengantin baru itu adalah bercinta dan memecahkan rekor empat ronde sesuai kemauan William. Walaupun itu mustahil bagi Laras karena tiga ronde saja dia sudah tidak bisa berdiri. Apalagi malam ini harus empat ronde.
****************
Sedangkan di tempat yang tak jauh jaraknya dari kamar William dan Laras, dua orang sedang saling bertatapan.
"Selamat tinggal, Paman." Seseorang dalam bayangan gelap mengarahkan sebuah pistol kepada Daniel yang hanya pasrah menerimanya.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga