OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 135 HASIL USG (S2)


__ADS_3

"Mau ke mana?" tanya Ken saat Laras beranjak dari kursinya.


"Buat apa kamu tanya-tanya, sialan!" umpat Laras masih dengan rasa kesalnya.


Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat menuju kamarnya di lantai dua. Hari ini benar-benar membuat Laras tidak mood untuk melakukan hal apapun. Tapi, dia teringat bahwa harus mengunjungi dokter kandungannya.


"Daddy, kita pergi sekarang ke rumah sakitnya yah. Setidaknya dengan begitu Mommy tidak akan kesal setelah melihat wajah anak kita," pinta Laras sembari menggandeng tangan William.


"Apapun keinginan Mommy, Daddy sebisa mungkin turuti," ucap William mengecup kening Laras.


Setelahnya, mereka kembali ke luar dari mansion Arlington untuk menuju rumah sakit. Hanya ada Lea yang menemani mereka berdua. Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung diarahkan menuju sebuah ruang pribadi Dokter kandungan.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Plowden," sapa sang Dokter menyambut kehadiran William dan Laras.


Lea tidak ikut masuk ke dalam ruangan, dia menunggu di luar. Dia juga mulai mengerjakan dokumen yang baru saja dikirim oleh Rama. Cukup lama Laras dan William berada di dalam untuk konsultasi masalah kandungan.


"Kenapa Nyonya begitu lama di dalam yah?" gumam Lea bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Lea menatap pintu ruangan itu dengan tajam. Seolah dia memiliki mata untuk menembus benda mati. Sayangnya itu hal percuma, bahkan jika dia harus melotot tidak akan terlihat apa pun.


Ceklek!


Pintu ruangan terbuka, menampilkan William dan Laras yang tersenyum bahagia. Sepertinya Lea mulai paham hal apa yang membuat calon orang tua baru itu tampak bahagia. Terbukti dari tangan Laras yang memegang selembar foto.


"Pasti mereka senang karena melihat hasil USGnya," gumam Lea lagi.


Lea mendekati kedua majikannya yang sedang berbahagia itu. Laras yang menyadari kehadiran asisten pribadinya mendekat segera menariknya.


"Lea, lihatlah!" seru Laras kepada asisten pribadinya dengan begitu riangnya.


Lea mendekat dan terkejut saat melihat foto bayi dalam mode 3D. Di dalam foto itu tampak seorang bayi yang seperti sedang tersenyum.


"Apa jenis kelaminnya, Nyonya?" tanya Lea penasaran.


"Coba tebak! Aku yakin pasti jawaban kamu tepat." Laras meminta asisten pribadinya menebak.


"Cowok?" tanya Lea sembari menatap Laras dan William bergantian. "Astaga!" serunya lagi tak percaya.


"Yupz. Anak kita cowok dan itu artinya nama dia sudah pasti Kenzo Alvaro," seru Laras.


"Kenzo? Mommy menamai anak kita dengan nama Ken? Daddy tidak suka!" protes William.


"Terserah, pokoknya Mommy mau anak kita namanya Kenzo Alvaro, titik."


Laras langsung melangkahkan kakinya menuju basement rumah sakit. Dia memilih duduk di belakang bersama Lea. Sudah dipastikan bahwa wanita hamil itu sedang merajuk karena permintaannya tidak dituruti oleh sang suami.

__ADS_1


Begitu juga dengan William. Lelaki itu kali ini enggan menuruti kemauan sang istri. Bagaimana mungkin dia yang susah payah membuat adonan bayinya, susahnya morning sickness, dan selalu menuruti kemauan sang istri. Lihatlah! Laras malah memilih nama Kenzo artinya anaknya kelak akan dipanggil Ken sama seperti sepupu sialan istrinya.


Mereka sudah tiba di mansion Arlington. Ya, melalui Lea, wanita hamil itu meminta untuk menginap di mansion Arlington. Selain karena jaraknya yang dekat, dia juga mendapatkan kabar bahwa Emily akan pulang. Sebisa mungkin, Laras akan menyempatkan diri untuk berkumpul dengan Emily.


"Kakak!" teriak Emily dari dalam mansion saat menyadari kehadiran Laras.


Laras langsung membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh kedua saudara tiri itu. Rasa sayang keduanya melebihi rasa sayang saudara kandung. Laras benar-benar menjaga Emily dengan sekuat tenaga. Dia tidak mau kehilangan keluarganya lagi.


"Ah! Apa itu?" seru Emily melepaskan pelukannya dari Laras.


"Apa kamu merasakannya?" tanya Laras yang langsung dijawab anggukan kepala Emily dengan semangat.


"Apa baby Al sedang menyapa onty, Sayang?" tanya Emily sambil mengelus perut buncit sang Kakak.


Seolah baby Al yang masih di dalam perut mendengar, dia memberikan tendangan pada telapak tangan Emily. Emily langsung menjerit kegirangan. Dia berjongkok dan mendekatkan telinganya di perut sang Kakak.


"Baby Al, mau denger onty nyanyi nggak?" tanya Emily yang langsung sukses mendapatkan cubitan gemas dari Laras.


"Abang Al akan menjadi penerus Daddy-nya nanti," ujar Laras menatap William yang malah memalingkan wajahnya.


"Cih, menyebalkan. Jangan seperti Kakak ipar dong, paling tidak seperti uncle Ken aja yah, Abang Al eh?" Emily mendongakkan kepalanya. "Abang … Al?" tanyanya.


"Yupz. Keponakanmu cowok."


"Kakak ipar jahat banget sih," sungut Emily dan menatap tajam pada William.


"Tidurlah Lily. Besok pagi Kakak akan buatkan makanan kesukaanmu," ujar Laras saat Emily berlindung di belakang tubuhnya.


"Janji yah, Kak."


"Emily Arlington! Kamu itu sudah umur—"


"Aaahh, Mommy William mulai lagi deh ceramahnya. Iya, iya Emily tidur," timpal Emily karena enggan mendengarkan omelan dari William.


Langkah yang dihentak-hentakkan, akhirnya Emily menuju lantai dua. Sebelum menaiki anak tangga lebih jauh, Emily berbalik dan menatap William dan Laras yang juga menatapnya.


"KAKAK IPAR NYEBELIN! EMILY CUMA SAYANG SAMA KAKAK!" teriak Emily sekuat-kuatnya lalu berlari menaiki anak tangga sebelum mendapat semburan amarah dari William.


"Bocah sialan! Dia benar-benar yah," kesal William.


"Sudahlah Daddy, maklumi saja." Laras menenangkan William.


"Mommy sih terlalu memanjakan dia. Lihatlah! Dia semakin kurang ajar sama aku. Padahal umur dia tidak beda jauh dengan Mommy. Tapi, tingkahnya selalu seperti anak kecil. Bagaimana kalau nanti dia menikah, sia—"


Cup!

__ADS_1


Laras langsung mencium bibir tebal William. Itu adalah cara paling ampuh agar suaminya berhenti mengomel. Benar saja, seketika William terdiam, menghentikan omelannya. Laras langsung menjauhkan wajahnya tapi segera ditahan oleh William.


"Boleh yah?" tanya William meminta jatahnya.


"Gendong, Daddy," manja Laras yang langsung dituruti oleh William.


William menggendong Laras ala bridal style menuju kamar mereka di lantai dua. Jangan lupakan kedua bibir mereka yang masih saling bertautan. Laras mengalungkan kedua tangannya di leher William, membuat ciuman di antara mereka semakin dalam dan intens.


"Turunkan aku, Will," pinta Laras saat melihat sang suami kesusahan membuka pintu kamar mereka.


William menurut dan membiarkan Laras yang membuka pintu kamar mereka. Setelah keduanya masuk, William langsung mengunci pintu dan kembali menyerang bibir Laras. Bibir istrinya itu sekarang tampak memerah dan bengkak karena ulah keduanya yang sama-sama terbakar gairah.


William menggendong Laras dan membaringkannya di atas kasur dengan perlahan. Walaupun berat badan sang istri tiap harinya bertambah itu tidak membuat sang suami kesusahan melainkan senang. Itu artinya dia berhasil membuat anak dan istrinya bahagia.


"Aku mau di atas, Sayang," pinta Laras saat tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benangpun.


"Sesuai kemauanmu, Sayang. Bergeraklah dengan liar dan manjakan Willy juniormu."


****************


Laras menggeliat dalam tidurnya saat merasakan hawa dingin menyerangnya. William yang menyadarinya semakin membawa tubuh polos istrinya ke dalam pelukannya.


"Daddy, Mommy lapar," ujar Laras masih dengan mata terpejam.


"Steak, bagaimana?" tanya William karena itu adalah menu tercepat dan terbaik buat ibu hamil.


"Baiklah. Mommy tunggu di sini yah?"


"Iya, tidurlah dulu. Nanti kalau sudah selesai Daddy bawa ke kamar," ujar William sembari mencium kening sang istri.


William beranjak dari kasurnya. Sebelum itu dia membenarkan posisi selimut untuk istrinya. Dia tidak ingin istri dan anaknya masuk angin. Setelah memastikan Laras aman, dia keluar dari kamarnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya William.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2