
"KEN LIAN!" teriak Meyrin di depan pintu kamar pria itu. Tidak ada jawaban dari dalam kamar, membuat Meyrin naik pitam.
"Jangan membodohiku, Ken! Aku tahu kamu sudah bangun! Dalam hitungan ketiga aku akan menghancurkan pintu ini, sialan!" ancam Meyrin sudah bersiap dengan pistolnya.
Lea baru saja tiba dengan dua pengawal yang berbadan kekar dan besar. Tanpa diperintah, sang bodyguard langsung mencari dua orang bawahan Aite untuk mendobrak pintu kamar itu.
"Satu!" teriak Meyrin, sedangkan Aite dan Joker yang sudah tiba di ruang kontrol menutup telinga mereka.
"Dua!" Dua bodyguard mulai bersiap di depan pintu kamar Ken untuk mendobraknya.
Dor! Dor!
Meyrin melesatkan dua peluru itu di handel pintu. Tatapan wanita itu mulai tajam dan tampak mengerikan. Dia paling benci saat Ken menjadi rewel seperti saat ini. Dirinya bukan cemburu, hanya tidak suka saja jika pria yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu menebar benih ke sembarang tempat lagi.
"Tiga!"
Saat itu juga, dua pengawal sudah bersiap mendobrak pintu kamar Ken. Meyrin langsung menyerbu masuk saat pintu kamar itu berhasil terbuka secara paksa. Aite dan Joker langsung memperbesar gambar kamera kamar Jack. Sontak semua yang melihat keadaan di dalam kamar membelalakkan kedua matanya.
"Haaah?"
****************
Ken menggeliat saat sinar matahari mengganggu tidur nyenyaknya. Walaupun dia tidur di sofa, tapi sofa itu besar dan lebarnya cukup untuk berbaring satu orang. Pria itu merenggangkan kedua tangannya dan menatap ke kasur.
"Ke mana dia?" tanya Ken menatap sekitar.
Tiba-tiba indera pendengarannya mendengar suara rintikan air shower dari dalam kamar mandi. Ken bernapas lega karena wanita itu tidak kabur. Pasalnya, pria itu sudah berjanji pada keluarganya untuk menahan sang wanita.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sesosok wanita mungil dalam balutan bathrobe putih. Rambutnya digelung dengan handuk tanda bahwa dia baru saja selesai keramas.
"KEN LIAN!" teriak seorang wanita di depan pintu kamar mandi.
"Astaga! Tuan punya pacar atau istri? Bagaimana ini?" panik sang wanita saat mendengar Meyrin berteriak dengan lantang di luar kamar.
__ADS_1
"Jangan membodohiku, Ken! Aku tahu kamu sudah bangun!" teriak Meyrin di luar kamar membuat wanita mungil itu bingung mencari tempat untuk bersembunyi.
"Tuan, tolong bantu carikan saya tempat persembunyian! Aku tidak mau kena omelan apalagi mendapat cap sebagai pelakor. Tuan, tol—"
"Kamu itu yah udah badannya kecil, bawel lagi. Udah diam aja, dia ngak bakal masuk. Wanita itu sukanya emang menggertak saja." Ken menjelaskan dengan santainya, padahal dia tidak melihat semerah apa wajah Meyrin saat ini karena menahan amarah.
"Satu! Dua!" hitung Meyrin dan melesatkan dua tembakan ke arah pintu.
Wanita mungil yang bersama Ken mulai panik kembali. Dia takut sama suara pistol yang baru pertama kali didengarnya. Wanita dengan tubuh mungil itu mulai meracau tak jelas dan berjongkok. Kedua tangan dibuat untuk menutup telinga dan tubuhnya bergetar ketakutan.
Ken mencoba menenangkan wanita itu, tapi percuma. Dia coba membantu wanita itu untuk berdiri, tiba-tiba kakinya tersandung handuk sang wanita yang terlepas dari rambutnya tadi.
"Aakkh!" seru Ken.
Ken kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya terdorong ke depan membuat wanita mungil itu terdorong ke belakang. Selanjutnya tubuhnya yang kecil jatuh di atas kasur empuk ukuran king size, sedangkan tubuh Ken menindihnya.
Brak!
Bertepatan dengan itu, pintu kamar berhasil didobrak dan terbuka. Semua yang menatap pemandangan di depannya membulatkan kedua mata mereka dengan sempurna. Pasalnya sekarang, posisi Ken sedang menindih tubuh seorang wanita mungil. Wanita itu terlihat ketakutan berada di bawah kekuasaan tubuh seorang Ken.
"Mey—"
"Diam!" timpal Meyrin menatap tajam seorang Ken yang langsung terdiam tak berkutik.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Meyrin pada wanita mungil itu. Dia memeluk wanita itu seperti memberikan ketenangan dengan menepuk-nepuk pundaknya pelan.
Meyrin terus saja menepuk-nepuk pelan pundak sang wanita hingga gemetaran pada tubuhnya berhenti. Dia menggenggam tangan wanita itu dan kembali menanyakan keadaannya. Sang wanita hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Siapa namamu?" tanya Meyrin dengan lembut, padahal tadi dirinya terlihat garang saat berada di luar kamar.
"Lupita," jawab wanita itu.
Ken langsung menutup mulutnya saat mendengar langsung wanita itu menyebut namanya. Walaupun Ken sudah tahu nama asli wanita yang ditolongnya, tapi mendengar langsung terdengar aneh dan lucu.
Sedangkan di ruang kontrol, Aite dan Joker serta yang lainnya tertawa terbahak-bahak saat mendengar nama unik itu. Jujur, mereka baru pertama kali mendengar nama seunik dan selucu itu. Terdengar aneh dan asing di indera pendengaran mereka.
__ADS_1
Meyrin langsung menatap tajam Ken yang terkekeh di depannya. Melihat tatapan tajam wanita yang dicintainya, Ken mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia sedikit bersiul untuk menahan tawanya agar tidak meledak.
"Nah Lupita, mulai sekarang kamu tidur di kamarku saja yah. Perkenalkan, namaku Liu Meyrin, lalu yang di samping ini Lea, dan pria yang suka tebar benih itu namanya Ken Lian," Meyrin memperkenalkan orang-orangnya karena memang hanya ada mereka berempat di ruangan itu.
"Ken Lian? Seorang rapper dan Idol itu? Astaga! Aku penggemarnya!" jerit histeris Lupita.
Lupita menatap tak percaya pada sosok Ken Lian yang ada di hadapannya. Benar kata pepatah, sosok aslinya lebih tampan daripada yang ada di televisi. Lupita baru menyadari bahwa pria itu adalah idolanya. Lupita terlihat panik dan mulai mencari sesuatu.
"Tenang saja, foto dan tanda tangannya kamu dapatkan nanti. Sekarang ayo pindah ke kamarku," ajak Meyrin menggenggam tangan Lupita yang terlihat imut.
Meyrin sudah tahu apa yang dicari Lupita. Sudah hal wajar setiap ada wanita yang mengetahui identitas sang tangan kanannya di organisasi, tentu saja mereka akan meminta foto dan tanda tangannya. Sedangkan Ken cemberut karena Meyrin mengabaikannya.
Lea menutup pintu kamar Ken setelah mengatakan akan ada rapat setelah tuan King dan Queen tiba di Venesia, Italia. Lea tidak menjelaskan lebih lanjut saat Ken bertanya hal lainnya. Wanita itu pergi begitu saja setelah menutup pintu kamar, menyusul nona mudanya.
Meyrin sedang sibuk memilihkan bajunya untuk dipakai Lupita. Wanita yang dipanggil Lupita itu agak sungkan karena semua baju milik Meyrin bermerk semua. Walaupun wanita itu bukan anak keluarga konglomerat, tapi dia merupakan remaja yang suka mengikuti trend fashion.
Ponsel Meyrin berdering, ada nama Emily di sana meminta melakukan panggilan video. Meyrin menyuruh Lupita untuk memilih sendiri bajunya selama dia menerima telepon. Meyrin menggeser tombol hijau pada layar ponselnya ke atas. Wanita itu tersenyum saat panggilan tersambung.
Meyrin semakin tersenyum saat wajah Emily yang dirindukannya muncul. Dia sedang berada di kamarnya dalam posisi berbaring. Seperti biasa, jika Emily memiliki waktu senggang, dia pasti akan bercerita pada kakaknya panjang lebar.
"Aaakh! Itu Emily Arlington, 'kan? Artis sekaligus model terkenal itu, 'kan?" jerit histeris Lupita saat melihat wajah Emily di layar ponsel Meyrin.
"Wah … aku terharu ada orang yang mengenalku. Ngomong-ngomong dia siapa, Kak?" tanya Emily di seberang sana menatap Lupita.
"Orang yang ditolong Ken. Ada apa kamu menghubungi kakak?" tanya Meyrin.
Kalang kabut jadinya jika Meyrin yang turun tangan.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga