OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 11 SISI LAIN MEYRIN


__ADS_3

Meyrin mengajak mereka menuju ruang makan. Soga menyerahkan anaknya kepada salah satu pengawal untuk direbahkan ke kamar tamu. Mereka menikmati makan malam dengan tenang, hingga ….


Bruk!


Seseorang jatuh tersungkur di atas lantai. Semua terkejut, Yuki berteriak ketakutan begitu juga dengan Dewi. Lea segera beranjak dari kursinya melangkahkan kakinya menuju orang yang jatuh tersungkur.


Lea menatap Daniel dan Meyrin, mereka bertiga berbicara melalui tatapan mata hingga sebuah anggukan kepala diberikan oleh Daniel. Meyrin segera keluar dari ruang makan, dia mengambil kotak P3K di kamarnya.


Lea menutup luka tembak orang itu yang terus mengeluarkan darah. Yuki yang melihat itu mual dan ingin muntah, begitu juga dengan Dewi. Beda halnya dengan Rico dan Soga yang menatap tak percaya adegan di depannya.


Rico dan Soga mengantar istrinya menuju ke kamar mandi sesuai dengan arahan Lea. Mereka berempat berpapasan dengan Meyrin yang terlihat tenang tapi auranya menjadi dingin dan kejam. Begitu pula dengan sinar mata yang dipancarkan wanita itu.


Meyrin masuk ke dalam ruang makan, disana sudah ada beberapa pengawal bersiap menerima perintah. Meyrin duduk bersimpuh di samping pria yang tertembak itu. Dia mulai mengambil kain kasa dan memberikan kepada Lea sedikit demi sedikit untuk menghentikan pendarahan.


Daniel sudah tidak ada di ruang makan. Dia membawa Emily dalam perlindungannya di salah satu kamar yang berada di penthouse Meyrin. Dia mulai menghubungi Jack alias Ken.


"Apa ambulance sudah dihubungi?" tanya Meyrin.


"Sudah, Nona."


Rico dan Soga masuk kembali ke ruang makan. Setelah sebelumnya mereka membawa Dewi dan Yuki di kamar yang aman dengan satu pengawal. Banyak noda darah di atas lantai begitu juga dengan tangan Meyrin dan asisten pribadinya. Dua lelaki itu menatap tak percaya pada Meyrin apalagi dengan kejadian barusan.


Bagi mereka berdua, kejadian barusan itu hanya ada di film laga. Akan tetapi, hari ini dia menyaksikan langsung dan menjadi saksi bahwa adegan di film laga benar-benar terjadi di dunia nyata.


"La.. la—" Rico tidak bisa menyebut nama sahabatnya sakit shock.


"Panggil Meyrin, please," mohon Meyrin dengan menatap wajah dua pria yang berdiri di sampingnya.


"Meyrin, semua aman. Tidak ada yang mencurigakan, ayah sudah memastikannya dengan Jack," ucap Daniel tiba-tiba datang.


"Baik, ayah."


Tak berapa lama, beberapa tim medis datang dan mulai melakukan pertolongan pertama pada orang yang tertembak. Meyrin beranjak dari sana untuk ke kamar, mengganti bajunya yang terdapat noda darah. Sedangkan Lea ikut tim medis ke rumah sakit.


"Bawakan ini untuk, Lea. Pergi ke rumah sakit dengan dua orang pengawal lagi." Meyrin keluar dari kamar dan memberikan paper bag kepada salah satu pengawal disana.

__ADS_1


"Sebenarnya ini kenapa dan ada apa?" tanya Rico tak paham akan kondisi yang tiba-tiba terjadi.


"Bereskan di ruang makan. Kita akan pindah ke ruang tamu," ucap Meyrin memberikan perintahnya.


Wanita itu menatap keadaan sekeliling sebelum mengajak para lelaki masuk ke ruang tamu.


"Bawa sahabatku dan Lily kesini!" Laras memberikan perintahnya kepada salah satu pengawal yang berdiri di depan pintu ruang tamu.


****************


Emily, Dewi dan Yuki baru saja masuk ke dalam ruang tamu. Disana ada menu dessert dan cemilan yang baru. Mereka bertiga kembali duduk di tempat masing-masing. Meyrin menghembuskan nafas panjangnya, menyiapkan hati untuk membuka luka lama.


"Maaf untuk kejadian di ruang makan. Rico, Dewi, Yuki dan Soga, perkenalkan beliau adalah ayahku, Daniel Arlington. Tanpa aku jelaskan, kalian sudah mengenal siapa sosok ayahku. Di sebelahnya ada Emily, adik tiri kesayanganku. Umur kita sama hanya selisih beberapa bulan." Meyrin memperkenalkan dua anggota keluarganya.


"So?" tanya Rico.


"So yaah … seperti yang kamu lihat. Aku adalah Laras dan Laras adalah Meyrin," jawab Meyrin sembari mengedikkan bahunya masa bodoh.


"Kenapa kamu mengubah wajahmu, Mey?" tanya Yuki.


"Maksudmu apa?" kini giliran Dewi yang bertanya.


"Meyrin."


"Kakak."


Panggilan Daniel dan Emily secara bersamaan membuat para sahabat Meyrin menatap mereka. Meyrin hanya tersenyum dan membalas dengan anggukan kepala. Meyakinkan dua anggota keluarganya yang tersisa. Dirinya juga meyakinkan hati untuk kembali membuka luka lama yang tak pernah lepas dari bayangan seorang Meyrin.


Meyrin terdiam cukup lama. Suasana menjadi hening kembali. Para sahabat menunggu Meyrin untuk bercerita tanpa mendesaknya. Mereka tahu, hal yang ingin diceritakan oleh Meyrin bukan cerita biasa.


Meyrin menghembuskan nafas panjangnya. Dia menatap lurus ke depan, menembus lapisan kaca untuk melihat langit malam yang dihiasi gemerlapnya lampu di Lunar City. Kepingan ingatan dua tahun yang lalu kembali berputar di ingatannya.


"Aku bingung harus memulai dari mana. Ini bukan cerita yang pendek, mungkin akan memakan waktu istirahat kalian berempat." Meyrin menatap para tamunya.


"Tidak masalah, selama kamu siap untuk bercerita," putus Rico yang dijawab anggukan kepala oleh Dewi, Yuki dan Soga.

__ADS_1


"Mungkin aku akan mulai saat kita berpisah di Indonesia tiga tahun yang lalu," ujar Meyrin memulai ceritanya.


"Saat itu, malam sebelum pernikahan Dewi dan Rico, aku mengetahui kebenaran tentang ayah Daniel dan William. Bukan hanya itu, di saat pesta pernikahan aku tahu kalau William bukan dari strata sosial seperti kita, dia sama dengan ayah." Meyrin menghentikan ceritanya.


Deg!


Meyrin menatap ketiga sahabatnya, termasuk Soga. Merasa ditatap, mereka bertiga menundukkan kepalanya. Mereka merasa bersalah karena ikut andil dalam menyembunyikan identitas William.


"Tapi itu bukan masalahnya …, masalahnya terjadi saat setelah aku dan William pergi dari Indonesia."


Dewi, Yuki dan Rico kembali mendongakkan kepalanya. Kerutan kebingungan jelas menghiasi dahi mereka. Ada nada kecewa dan rapuh di setiap ucapan Meyrin.


"Waktu itu, William memberikan aku kejutan yang bahkan sampai detik ini masih terasa dan teringat olehku. Saat itu, aku merasa menjadi istri yang sangat beruntung di dunia ini. Sayangnya takdir berkata lain, aku harus mengakhiri semua ini." Meyrin menundukkan kepalanya, matanya terlihat berkabut.


Semua diam, menanti kelanjutan cerita dari Meyrin. Takdir apa yang harus membuat William dan Meyrin berpisah. Mereka sangat tahu betul betapa besar cinta diantara keduanya. Tampak Meyrin menghirup udara dan menghembuskan dengan nafas panjangnya perlahan.


"Saat itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan ayah serta Ken. Aku langsung tersadar tentang semua yang Ken lakukan selama ini hanya untuk menjagaku sesuai perintah ayah. Hari itu adalah waktu wisudaku dan William. Disana … disana Ken dan ayah hadir. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bermalam di mansion Arlington. Aku ingin mengenal keluarga baruku. Sayangnya, tidak dengan William, dia … dia … dia …."


"Apa paranoid William kambuh dan tidak mengizinkanmu untuk bermalam di mansion?" tanya Rico menimpali perkataan Meyrin yang ragu-ragu itu.


Meyrin menganggukkan kepalanya, "Iya dan kami terlibat pertengkaran kecil. Hingga aku memutuskan untuk tetap tinggal di mansion."


Setelah menjawab itu, Meyrin kembali bungkam. Dia ragu untuk menceritakan kisah selanjutnya. Dilihatnya sang ayah yang memberikan dukungan dengan tatapan matanya. Beda halnya dengan Emily yang mengangkat tangan terkepalnya membuat Meyrin tersenyum.


"Setelah itu, William menggunakan kekuasaannya untuk mencelakai Ken dengan bantuan paman Nikolai yang seorang mafia."


"Astaga!" 


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2