
Laras membuka matanya dan tersenyum. Dia menatap William yang sedang menunggu jawaban dari dirinya.
"Sejak kapan kamu meminta izin hanya untuk menciumku?" tanya Laras.
"Tentu saja sejak aku tahu kalau kamu adalah Laras, istri tercintaku."
"Calon, Will. Ingat! Kita sudah cerai loh."
"Terserah. Jadi, apa aku boleh menciummu tanpa izin?" tanya William menatap Laras penuh harap.
"Tentu saja tidak boleh," jawab Laras dengan senyum jahilnya karena dia tahu William tidak akan berani melakukan sesuatu yang tidak disukainya.
"Laras, kita sudah dewasa dan aku bukan William yang dulu lagi. Aku bisa menjadi jahat loh yah," William mencubit pipi Laras gemas.
"Tidak sekarang, oke?"
"Bahkan aku bisa melakukannya di sini." William mulai mendekatkan wajahnya pada Laras.
"Will, gimana kalau kelihatan Ayah? Kamu jangan macam-macam yah."
"Kalau begitu, ikut ke rumahku. Kita bisa melakukan sebebasnya di sana dengan gaya model apapun," ujar William dengan wajah mesumnya.
Plak!
Laras memukul kepala William dan mendelik. Bibirnya satu hingga dua senti maju ke depan, cemberut. Hal itu sukses membuat William tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh, pria itu merindukan Laras, istri tercintanya.
Bukan khayalan lagi yang dia peluk saat ini, melainkan istri nyatanya. Istri yang selalu dicintainya. Benar kata pepatah, bahwa cinta sejati tidak pernah salah singgah, buktinya William mencintai Liu Meyrin yang ternyata adalah sang istri sendiri.
William dengan manja merebahkan kepalanya dan menjadikan paha Laras sebagai bantalnya. Laras tersenyum dan mengelus dengan penuh kasih sayang rambut halus William.
"Sayang, kamu ingin pesta pernikahan yang seperti apa?" William mendongakkan kepalanya sedikit agar bisa melihat tepat ke wajah istrinya.
"Aku lebih suka yang sederhana seperti dulu, Will. Tapi, melihat posisi kita saat ini sepertinya itu bukan jalan yang tepat. Selain itu, apa kamu siap dengan resiko yang harus ditanggung karena menjadikanku sebagai istrimu?" tanya balik Laras.
"Apapun resikonya, selama itu bersama kamu, aku siap mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi keluargaku."
"Uuh~ sweet sekali calon suamiku ini," goda Laras.
Tiba-tiba tanpa peringatan, William sedikit mengangkat tubuhnya lalu mencium bibir Laras. Tidak, bukan ciuman seperti biasanya, melainkan ciuman panas yang terkesan menuntut itu. Bahkan William sudah membalikkan posisi mereka, di mana Laras yang berada di bawah kekuasaannya.
__ADS_1
"Astaga! Kalian kalau mau bermain di kamar saja. Apa mansion Arlington kekurangan kamar?" hardik Daniel.
Spontan William beranjak dari posisinya yang menindih Laras. Pria itu langsung terduduk dengan tegap, membantu Laras untuk kembali duduk. Mereka berdua terlihat kikuk saat mendapat teguran langsung dari Daniel.
"Ck, anak muda zaman sekarang," sungut Daniel yang berjalan ke lantai dua.
"Kamu sih, Will. Aku 'kan sudah bilang, susah benar," kesal Laras.
"Salah kamu juga dong karena tidak berpikir untuk mendorongku," bantah William.
"Tapi aku 'kan sudah memperingatimu," bela Laras.
Akhirnya terjadi adu mulut antara keduanya. Tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya Laras pergi meninggalkan William sendirian di ruang tamu. Hentakan kakinya yang kuat dan tegas menandakan bahwa wanita itu marah.
Gerutuan selalu menghiasi bibir Laras. William mencoba menghentikan Laras, tapi seolah wanita itu menulikan pendengarannya, Laras masa bodoh.
William menyusul Laras ke lantai dua, dia mulai memohon maaf pada wanita itu. Tetap saja Laras mengabaikan sang lelaki. Laras benar-benar mengabaikan William yang ikut melangkahkan kakinya ke dalam kamar sang wanita.
William yang jengah akhirnya melakukan tindakan nekat. Dia memeluk Laras dari belakang, membuat langkah wanita itu terhenti. Setelahnya dia angkat tubuh ringan sang calon istrinya dan dibaringkan di atas kasur queen size-nya.
"Jadi, kalau di sini kita aman 'kan?" goda William yang posisinya sudah menindih Laras.
"Pergi sana, Will. Aku mengantuk. Nanti sore harus terbang ke London." Laras mendorong dada bidang William dengan sekuat tenaga.
Tidak ada bantahan dari Laras, wanita itu mulai memejamkan kedua matanya, menyembunyikan netra hitam pekatnya. William memeluk istrinya dari belakang dan ikut tertidur.
****************
Di depan pintu kamar Laras terdengar kegaduhan, membuat dua orang yang sedang menikmati mimpi indah mereka terganggu. William membuka matanya, dia menatap sekitar dan baru sadar bahwa dirinya tertidur di kamar istrinya.
Pikiran yang masih setengah sadar, mata yang masih menyipit dan dengan langkah malasnya, William menuju pintu kamar. Dia membukakan pintu kamar dan menatap orang-orang yang berani mengganggu dirinya.
"Ada apa?" tanya William dengan suara seraknya khas orang baru bangun tidur.
"...."
Tidak ada jawaban, mereka menatap William begitu takjub. Ada yah pria tampan bak malaikat. Tapi, ini adalah malaikat tanpa sayap yang begitu seksi dan tampan walaupun bangun tidur.
William mengernyitkan keningnya saat tidak mendapatkan jawaban dari beberapa orang yang berada di hadapannya. William semakin kesal saat dirinya ditatap secara berlebihan oleh para pelayan.
__ADS_1
Brak!
William tanpa bicara, langsung membanting pintu kamar. Dia terlihat kesal dan mulai melangkahkan kakinya kembali menuju kasur. Tapi sebelum tiba di tempat tujuan, pintu kamar kembali di ketuk.
"Kali ini aku akan membunuh siapapun yang tidak ada urusan penting," gumam William kesal.
William membuka pintu kamar dan menyembur siapapun yang berada di balik pintu. "Ada apa?"
Lea tersentak kaget saat mendapatkan semburan amarah dari William. "Ma-maaf Tuan, saya cuma mau bilang bahwa satu jam lagi kita akan melakukan penerbangan ke London."
"Oh ya. Ada lagi?"
"Tidak ada, Tuan."
William langsung kembali menutup pintunya tanpa sepatah kata pun lagi. Bedanya dengan yang tadi, kali ini William tidak membanting pintunya.
Dia melihat ke arah kasur, di mana Laras masih saja tidur walaupun terjadi kegaduhan. Ini membuat William teringat akan masa lalunya bersama calon istrinya itu.
William berjalan ke kasur dan mulai membangunkan calon istrinya. Laras hanya bergeming lalu membalikkan tubuhnya membelakangi William. Hal itu membuat William tersenyum juga kesal. Pasalnya sudah 10 menit berlalu tapi tidak ada respon.
Akhirnya William memutuskan untuk membersihkan diri dulu. Dia membiarkan Laras lebih lama lagi menikmati alam mimpinya.
William yang sudah rapi berdecak kesal saat melihat Laras masih bergelung manja dengan selimutnya. Bahkan, posisinya lebih nyaman dari yang tadi. Pria itu tanpa aba-aba menggendong Laras yang masih tertidur. Dia membawanya ke kamar mandi, lalu memasukkan istrinya itu ke dalam bathtub.
Laras langsung tersentak kaget saat merasakan air dingin menyentuh kulitnya. Dia menatap tajam pada si pelaku yang hanya berdiri di samping bathtub.
"Mandi sekarang atau aku yang mandiin. Akan tetapi, kalau aku yang mandiin, kita akan telat untuk melakukan penerbangan ke London," ujar William yang ikut menatap tajam pada Laras.
Mendengar penerbangan dan London, dia langsung teringat pada Daniel dan Emily yang mempunyai jadwal padat selama di sana.
"Tolong panggilkan Lea untuk mengemas barang-barangku, Will. Aku akan mandi." Laras segera membuka bajunya tanpa peduli kalau William masih berdiri di sana.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga