OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
Extra Part


__ADS_3

10 tahun kemudian


"Pagi, Mommy, Daddy," sapa gadis kecil dengan rambut panjangnya yang bergelombang.


"Pagi Viona, loh kok sendiri? Kak Al ke mana?" tanya Laras yang sedang menata menu sarapan pagi mereka.


"Viona nggak kelihatan, Mom. Tadi udah ke kamarnya, barang hidung Kakak tak nampak," jawab Viona duduk di kursinya.


"Pagi Mommy," sapa William yang langsung mencium bibir Laras.


"Cium Viona juga, Dad," rengek Viona, gadis yang saat ini sudah memasuki usia 10 tahun.


"Pagi juga putri kecil Viona," sapa William yang langsung mencium pucuk kepala anaknya.


"Loh, Kakak Al ke mana?" tanya William juga karena belum melihat putra sulungnya itu.


"Viona tau di mana Kak Al!" seru gadis itu dengan riangnya.


Tanpa pamit, Viona langsung berlari menuju ruangan yang diyakini di sana lah sang Kakak berada. Viona tersenyum saat sebuah pintu ruangan terbuka. Dia yakin 100% bahwa sang Kakak berada di sana.


Benar saja, ketika Viona berada di ambang pintu, dia dapat melihat Alvaro sedang duduk santai membaca sebuah buku. Al memang suka banget baca buku, dia seperti Laras yang memiliki hobi membaca.


"Kakak!" teriak Viona dengan senyum khasnya membuat Al berdecak kesal.


Alvaro menutup bukunya lalu melangkahkan kakinya mendekati sang Adik. Dia mengelus rambut Viona dengan sayang. "Anak gadis tidak boleh tebar pesona begitu," ujar Alvaro.


Ya. Alvaro sangat menyayangi adiknya. Umur mereka selisih satu tahun. Al benar-benar sangat menjaga Viona. Sikap overprotektif Alvaro membuat teman-teman Viona iri.


"Ih Kakak. Rambut Vio jadi rusak nih," sungut Viona dengan memajukan bibirnya tanda kesal. Ciri khas sang Mommy.


"Walaupun begitu, Vio tetap menjadi kesayangan Kak Al. Apa Mommy dan Daddy sudah mengajak sarapan?" tanya Al mengalihkan perhatian sang Adik.


"Ah, benar juga. Ayo kita ke meja makan sebelum Mommy marah. Aku tidak mau kena omel sama Mommy," ajak Viona langsung menarik kakaknya untuk menuju ruang makan.


Sesampai di sana, Mommy Laras dan Daddy William sudah duduk manis. Mereka berdua menunggu kehadiran Alvaro dan Viona. Mereka tersenyum saat mendengar suara seruan si bungsu.


"Vio, lembutlah sedikit!" tegur Al yang langsung membuat Viona mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Jangan manja ke Daddy!" peringat Al saat melihat Vio akan mendekati Daddy William.


"Iih~ Kak Al nyebelin banget. Masih pagi udah bikin mood berantakan," kesal Viona.

__ADS_1


"Sudah duduklah! Ayo segera sarapan dan setelah itu berangkat sekolah!" William menengahi pertengkaran kedua anaknya yang sudah menjadi rutinitas di keluarga Plowden.


Sedangkan Laras hanya diam saja. Dia tidak akan membela siapa pun dikondisi seperti ini. Wanita itu hanya menatap keduanya dengan tatapan penuh peringatan. Hal itu sukses membuat Viona maupun Alvaro terdiam.


Akhirnya sarapan pagi mereka kembali tenang. Sudah menjadi aturan tersendiri bahwa di meja makan dilarang berbicara. Tak lama setelah itu, keributan di pintu utama terdengar.


"Selamat pagi semuanya!" sapa seorang pemuda dengan nada riangnya.


Al yang mengenali pemilik suara itu memutar bola matanya jengah. Temannya yang satu itu benar-benar bikin kepala sakit dengan tingkahnya yang terlalu aktif.


"Edgar, duduklah dan ikut makan bersama kami!" pinta Laras saat melihat Edgar memasuki ruang makan.


Edgar yang tanpa malu langsung mengambil duduknya di sebelah Viona. Dia menyapa si bungsu Plowden itu dengan merangkul pundak Vio. Sayangnya, Alvaro langsung memukul lengan Edgar dan memelototinya.


Ya. Seperti itulah Al terhadap adiknya. Begitu protektif dan siapa pun yang ingin mendekati si bungsu, maka dia harus menghadapi si sulung terlebih dahulu. Walaupun begitu, Viona sangat menyukai sikap overprotektif sang Kakak.


Bagi Viona, perhatian dari Alvaro begitu berguna. Pasalnya, gadis yang umurnya selisih satu tahun dengan Al tidak suka dengan pria yang menyentuhnya tiba-tiba.


Viona memang terlahir memiliki 80% gen dari sang Mommy. Hanya wajah saja yang campuran sama seperti Alvaro. Bedanya, Alvaro kebalikan dari Viona. Si sulung Plowden memiliki gen Daddy William lebih banyak daripada sang Mommy.


"Terima kasih makanannya," ucap semua yang ada di meja makan.


Laras memberikan kode kepada pelayan untuk membereskan ini semuanya. Hari ini dia ada rapat begitu juga dengan William. Semenjak perusahaan Arlington bergabung dengan Plowden, Laras sekarang merangkap tugas menjadi sekretaris pribadi William.


"Alvaro dan Viona ikut Edgar saja, Dad. Kalian tidak perlu khawatir. Al pasti akan menjaga Vio dengan baik," jawab Alvaro.


"Baiklah, Nak. Kalau begitu Mommy dan Daddy berangkat dulu yah. Kalian minta kepala pelayan untuk membuatkan makan malam di rumah. Ingat! Jangan makan di luar!" peringat Laras.


"Mommy mau ke mana kali ini?" tanya Viona.


"Jepang, Vio mau titip sesuatu?" tanya Laras yang paham atas keinginan sang anak.


"Tidak, Mom. Titip salam sama Tante Yuki saja," jawab Vio dengan senyum manisnya.


"Baiklah. Mommy dan Daddy pergi dulu," pamit Laras mencium pucuk kepala Viona dan Al sebelum mereka pergi.


"Edgar, sering-seringlah main di sini. Tante pergi dulu yah," ujar Laras sambil menepuk pundak teman masa kecil Alvaro.


Alvaro, Viona dan Edgar baru saja tiba di sekolah. Para siswi berteriak histeris saat melihat Alvaro yang keluar dari mobil pribadi milik keluarga Edgar.


Mendengar teriakan itu, membuat Viona semakin mengeratkan gandengan tangannya pada sang Kakak. Seperti biasa, dia ingin membuat siswi-siswi itu semakin cemburu padanya.

__ADS_1


"Vio, jangan seperti itu. Nanti bagaimana kalau kamu menjadi bahan bully-an hm?" Alvaro mengacak rambut Viona.


"Kakak! Rambut Vio jadi berantakan nih. Ntar kalau Vio nggak cantik, nggak ada cowok yang mau deketin Vio." Viona cemberut dan menggembungkan pipinya.


Edgar yang melihat itu gemas sendiri. Dia mencubit kedua pipi Viona. "Jika ada cowok yang deketin adik gue ini, dia harus berhadapan dengan abang-abangnya putri kecil kita," ujarnya.


"Iih Kak Ed nyebelin. Kak Al, Kak Edgar jahat," adu Vio dengan nada manjanya.


Seketika Edgar dan Alvaro tertawa melihat tingkah Lily. Gadis yang usianya selisih satu tahun sudah seperti ratu kecil bagi kedua pria itu.


"Masuk ke kelas sana!" perintah Al.


Begitulah setiap harinya. Alvaro dan Edgar akan mengantar Vio hingga tiba di depan pintu kelasnya. Setelahnya, mereka akan kembali ke gedung sekolahnya.


Iya. Sekolah Viona dan Alvaro satu halaman, hanya beda gedung. Saat ini Viona berada di bangku terakhir Sekolah Dasar. Dia loncat dua tahun karena kemampuannya.


Beda dengan Alvaro, IQ nya yang diatas 200 itu membuatnya langsung loncat ke Junior High School. Saat ini dia duduk di kelas dua bersama dengan Edgar. Sedangkan Edgar sendiri memang sudah waktunya kelas VII Junior High School.


Ya. Edgar lebih tua daripada Alvaro juga Viona. Dua cowok itu melangkahkan kakinya menuju kelas mereka. Sayangnya, saat di koridor, mereka dihadang oleh seorang gadis dengan seragam yang sama.


"Ada apa?" tanya Edgar menatap heran pada gadis itu.


"...." Gadis itu tidak menjawab, bahkan tidak berani mendongakkan kepalanya.


"Baiklah. Jika tidak ada masalah menyingkir dari jalan kami," ujar Edgar masih dengan nada lembutnya.


"A … Itu …," ucap gadis itu begitu gugup. Saking gugupnya dia terlihat kesusahan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Kamu membawa surat? Serahkan saja pada Kak Edgar. Aku tidak mau menerima surat dari gadis mana pun," ujar Alvaro yang langsung meninggalkan gadis itu begitu saja.


"Masih kecil sudah berpikiran tentang cinta. Saranku lebih baik kamu belajar, jika kepintaranmu sudah setara dengan Al, datanglah padanya," sindir Edgar yang langsung menyusul Rey ke dalam kelas.


Begitulah keseharian Viona yang mendapatkan rasa iri dari para siswi karena berdekatan dengan Alvaro dan Edgar. Sedangkan dua cowok ini tampak cuek dan fokus belajar dan mengukir prestasi gemilangnya.


Tunggu kisah Alvaro secepatnya hanya di NovelToon. Jangan lupa follow author yah (⁠✷⁠‿⁠✷⁠)


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga


__ADS_2