OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 131 DUA TAHUN YANG LALU PART 4 (S2)


__ADS_3

"Bagaimana keadaan mansion?" tanya Daniel lagi.


"Aman, Tuan. Penjaga tidak menemukan hal yang mencurigakan," jawab Josh lugas.


"Kapan kamu mendapatkan laporannya?" tanya Daniel.


"30 menit yang lalu dari penjaga gerbang, Tuan," jawab Josh yang masih tetap fokus menyetir.


"Josh, bukannya penjaga gerbang kita izin untuk kembali lebih awal karena sakit perut?" Daniel menatap tangan kanannya yang menghandel semua urusan kantor.


"Benar, Tuan." Josh membenarkan ucapan Daniel dan tidak memikirkan apapun selain tiba di gudang.


"Fvck! Josh, putar balik dan kembali ke mansion dengan kecepatan penuh!" perintah Daniel begitu panik.


Josh tanpa banyak tanya lagi langsung menekan remnya dalam-dalam lalu membanting setir. Berputar dan kembali melaju dengan kecepatan penuh. Dia tidak tahu apa yang dikhawatirkan oleh Daniel, tapi itu jelas hal yang buruk.


Josh melihat Daniel berulang kali menelepon seseorang, tapi tidak pernah tersambung satu pun. Tuannya tidak menyerah, dia terus menghubungi seseorang yang entah siapa itu. Setiap Daniel tidak menerima jawaban, saat itu umpatan kasar keluar dari mulut tebal Daniel.


****************


Laras baru saja menyelesaikan dokumennya. Wanita itu setelah pisah dengan William memilih untuk belajar bisnis dengan sang Ayah. Bahkan, dia siap jika harus menggantikan posisi Ayahnya baik itu di perusahaan maupun di organisasi mafia Arlington.


Selain itu, dia juga sedang mendirikan perusahaannya sendiri. Dia menjadikan perusahaan yang bangkrut di Lunar City menjadi perusahaannya sendiri. Laras menolak bantuan Daniel. Putri sulung Daniel Arlington itu ingin mandiri dan merintis semuanya dari nol.


Laras mematikan layar laptopnya dan menguap saat rasa kantuk sudah tidak tertahankan lagi. Dia mulai beranjak dari kursi kerjanya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur queen size nya. Ditariknya selimut hingga ke batas leher.


Duar! Duar! 


Terjadi dua ledakan di mansion Arlington. Bella dan Emily segera keluar dari kamar memeriksa keadaan. Kedua wanita Arlington itu terkejut saat melihat koridor lantai dua sudah hancur.


"Laras!" seru Bella.


"Emi, pergilah ke lantai dasar dan minta pertolongan yah. Hati-hati dengan serangan susulan," perintah Bella Arlington.


"Bagaimana dengan Kak Laras, Mom?" tanya Emily khawatir.


"Mommy akan menyelamatkan kakakmu. Sekarang pergilah dan cari Daddy untuk meminta bantuan, Nak." Bella mendorong tubuh Emily agar segera menuju ke lantai dasar sebelum lantai itu dipenuhi oleh kobaran api.


Emily menuruni anak tangga dan terkejut saat tiba-tiba sebuah bom kembali meledak di lantai dua.


"Mommy!" teriak Emily.


"Pergilah, Emi. Mommy tidak apa-apa," teriak Bella dari lantai dua.


Seperti kata Mommy-nya, Emily terus berlari ke arah luar mansion, mencari pertolongan. Sedangkan di lantai atas Bella tampak meringis karena kakinya tertimpa runtuhan batu bata.

__ADS_1


Perlahan, wanita yang usianya sudah memasuki kepala empat itu memindahkan batu batanya. Lalu mencoba berdiri dengan menyangga tubuhnya pada tembok. Bella menuju kamar Laras, terlihat anak tirinya itu sedang tertidur dengan pulas.


Bella tersenyum dan menghampiri Laras "Jika kamu mempunyai kelemahan seperti ini, bagaimana mungkin Bunda meninggalkanmu, Nak."


Bella duduk di samping ranjang Laras dan membelai pipi anak tiri yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung. "Laras bangunlah!"


"Laras baru saja tertidur, Bunda," jawab Laras ogah-ogahan.


"Kita diserang, Laras. Jadi, bangunlah lebih dulu," ujar Bella dengan nada keibuannya.


Mendengar kata di serang, Laras langsung membuka kedua matanya dan terduduk. Dia lalu mengambil pistol sang Ayah yang sudah diwariskan kepada dirinya. 


"Bunda? Apa rumah kita dibom?" tanya Laras saat mencium bubuk mesiu.


"Iya, sekarang kita harus keluar, Nak."


Laras beranjak dari tidurnya dan terkejut saat melihat kaki Bella yang memar. Bukan hanya memar saja, darah juga keluar dari luka yang disebabkan oleh runtuhan batu bata tadi.


"Kaki Bunda kenapa?" tanya Laras.


"Hanya kejatuhan reruntuhan tadi. Ayo kita segera keluar dari sini."


Saat keduanya membuka pintu, siapa sangka seluruh koridor lantai dua sudah dipenuhi oleh api. Bahkan yang tidak kalah mengejutkan, di anak tangga Emily sedang menunggu Bella dan Laras.


"Anak nakal, kenapa masih di sini?" hardik Bella.


Akhirnya mereka bertiga menuruni anak tangga bersama, tapi sebuah kayu jatuh dari atap rumah. Kayu itu tepat berada di atas Laras dan tanpa banyak peringatan, Bella segera mendorong kedua putrinya, hingga kayu itu jatuh tepat men jggenainya.


"Aakhh!" teriak Bella kesakitan.


"Mommy!"


"Bunda!"


Teriak Emily dan Laras bersamaan.


****************


Laras menghentikan ceritanya. Dia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. William yang berada di sampingnya menggenggam tangan sang istri.


"Hentikan jika tidak ingin bercerita, Sayang." William memberikan pengertiannya.


Laras menatap William dan tersenyum. "Setelah itu Bunda menyuruhku dan Emily keluar dari mansion. Sayangnya, sebuah peluru mengarah ada Emily. Aku segera menghalaunya. Hal terakhir yang aku dengar adalah teriakan Bunda dan Emily dan setelahnya kegelapan yang menghampiriku."


Laras kembali menghentikan ceritanya, memberikan waktu untuk dirinya menahan diri. Dia tidak ingin lepas kendali saat mengingat kembali masa kelamnya.

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi?" tanya William.


"Bunda meninggal dunia karena kebanyakan menghirup gas CO dan … dan …." Laras terdiam lagi.


Emosi wanita itu benar-benar sedang diuji sekarang. Apalagi Laras saat ini sedang hamil, moodnya naik turun. Laras tidak suka, tapi dia menikmati masa hamilnya.


"Dan separuh dari wajahku hancur. Menurut cerita Emily, saat aku terkena tembak, aku tersungkur ke lantai yang penuh dengan serpihan kaca. Itulah alasanku harus menghilang dan melakukan operasi wajah."


"Itulah alasanmu menghilang dan kembali lagi setelah tiga tahun?" tanya William.


"Iya."


"Dan kamu kembali hanya untuk balas dendam pada Rizzo?" tanya William menatap tak suka pada istrinya.


"Aku kembali untuk balas dendam pada suamiku yang beraninya menipu dan mengotori kepolosanku, dasar brengsek," umpat Laras tanpa kenal takut lagi.


"Sekarang mulutmu ini sangat pandai mengumpat yah. Jangan diulangi lagi! Aku tidak suka anak kita mendengar kata-kata yang tidak layak." William mencubit kedua pipi Laras.


"Sakit, Daddy." Laras merengek seperti anak kecil yang ingin membeli permen.


"Sekarang sebaiknya kita tidur. Ini sudah tengah malam."


"Apa Daddy tidak marah karena aku sempat dekat dengan pria lain?" tanya Laras takut-takut.


"Buat apa? Mommy yang dulu maupun yang sekarang itu pesonanya tidak bisa ditolak. Jangankan Rizzo, Daddy aja langsung jatuh cinta pada wanita bernama Liu Meyrin. Bahkan, sempat mengira bahwa aku pria yang tidak bertanggung jawab karena telah mengkhianati janji suci pernikahan kita," ujar William.


William merebahkan tubuhnya lalu menawarkan tangannya sebagai bantal sang istri. Tentu saja hal itu tidak akan ditolak oleh Laras. Wanita yang saat ini sedang hamil lima minggu itu tersenyum penuh rasa bahagia dan bersyukur.


"Oya, siapa dalang dari penyerangan mansion Arlington?" tanya William penasaran.


"Tentu saja Rizzo Giovanni karena obsesinya kepada Mommy. Dia ingin menghancurkan Arlington agar Mommy bisa bertekuk lutut padanya," jawab Laras dengan wajah mengantuknya.


"Jadi, Mommy kembali untuk balas dendam dengan Rizzo juga?" tanya William tidak terima.


"No. Alasannya tetap sama seperti di awal, yaitu balas dendam pada Daddy. Hingga sebuah pertempuran terjadi dan hal itu membuat Rizzo mengetahui siapa Liu Meyrin. Daddy, bisa kita tidur? Karena kelanjutan ceritanya dimulai dari pertemuan kita waktu di Indonesia." Laras sudah meringkuk dan mencari kehangatan di tubuh suaminya.


"Baiklah. Selamat malam Mommy dan Baby Al."


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga


__ADS_2