OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 56 MEYRIN MENGADU


__ADS_3

Saat Meyrin yang akan kembali ke mansion, wanita itu berpapasan dengan Aite. Wajah Aite begitu merah menahan amarah. Meyrin tahu apa yang membuat petingginya itu marah.


"Jangan siksa dia lagi. Aku sudah melakukannya untukmu. Semua sudah selesai, bukan?" ujar Meyrin menatap Aite, mencoba menenangkan petingginya itu.


"Baik Nona. Terima kasih." Aite membungkuk hormat pada Meyrin.


"It's okay selama mansion Paman aman. Jangan lupa nanti setelah makan malam kita akan rapat lagi tentang peristiwa yang terjadi."


"Baik, Nona."


"Oya Paman, jangan lupa panggil dokter keluarga untuk mengobati luka Buz. Aku tidak ingin dia semakin parah sebelum bertemu dengan bosnya," perintah Meyrin.


"Siap, Nona."


Setelah itu Meyrin kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menaiki anak tangga. Sedangkan Aite menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanahnya. Dia akan menjalankan perintah dari sang pimpinan. Sedangkan Ken ada pertemuan dengan investor bersama Alex.


Mereka berpisah di depan pintu kamar menuju ruang bawah tanah. Tiba-tiba sesuatu bergetar di saku celana Lea. Wanita kekar itu segera mengambil sesuatu yang bergetar tadi. Ponsel yang ternyata milik seorang Liu Meyrin bergetar menandakan adanya panggilan masuk.


"Nona, Tuan Daniel menghubungi Anda." Lea menyerahkan ponsel itu pada Meyrin.


Meyrin langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya dan menyapa ayahnya. "Halo, Ayah."


"Mey, apa kamu sudah menemukan siapa mata-matanya? Apa kamu terluka, Sayang? Apa Ayah harus turun tangan saat ini?" Daniel memberondong Meyrin dengan pertanyaan. Meyrin dapat mendengar nada suara kekhawatiran pada ayahnya.


"Meyrin tidak apa-apa, Ayah. Semua sudah aman. Ayah tenang dan fokus saja dengan urusan di New York."


"Ayah sudah melumpuhkan bawahan Cavendish dan tinggal mengurus para petingginya serta sang pemimpin itu sendiri," jelas Daniel.


"Walaupun begitu, Ayah tetap harus berhati-hati. Aku mendapatkan info dari Paman Nikolai jika Cavendish adalah mafia yang terkenal dengan kelicikannya seantero New York."


"Iya, Nak. Kamu jaga diri baik-baik bersama Ken. Bagaimana perkembangan misimu?" tanya Daniel di seberang sana.


Meyrin membuka pintu kamarnya dan merebahkan diri di atas kasur empuknya. Dia dapat melihat Lea yang sedang sibuk bolak-balik menyiapkan sesuatu. Memejamkan kedua mata dan menyembunyikan netra hitamnya. Ponsel iPhone masih setia berada di telinganya.


"Mey?" panggil Daniel dengan nada khawatir karena tidak mendapat respon dari putri sulungnya.


"William akan menandatangani surat cerai antaranya dan Laras. Tapi …," Meyrin menggantungkan kalimatnya.


"Tapi apa, Nak?"

__ADS_1


"William ingin Liu Meyrin menjadi istri sahnya," jawab Meyrin dengan nada lelah.


"Apa kamu masih mencintainya, Nak? Ayah sama seperti dulu dan akan seperti dulu. Maaf kalau Ayah menyuruhmu melakukan misi ini karena—"


"Ayah ingin aku mengetahui perasaanku kepada William setelah tiga tahun berpisah. Aku berharap perasaan itu tidak akan muncul lagi. Akan tetapi, perasaan yang lebih dari sekedar cinta muncul. Aku terobsesi pada William. Aku ingin memiliki lelaki itu sepenuhnya. Aku ingin suamiku hanya menatap dan menjadi milikku. Apa Meyrin egois karena masih menginginkan William yang suci?" Meyrin mengadu pada sang Ayah.


"Nak, dengarkan Ayah! Entah itu Laras maupun Meyrin, posisimu sama seperti sedia kala. Jika dulu Laras dicintai oleh William dan Ken karena kelembutan hatinya, maka saat ini dua pria ini kembali mencintai Meyrin karena ketegasan serta keberaniannya. Ayah tidak bisa memaksakan kehendak Ayah padamu, Mey. Kamu sudah dewasa dan punya keputusan sendiri, Ayah hanya akan berdiri di sampingmu, mendukung semua keputusanmu."


Mendengar perkataan ayahnya, tanpa sadar air mata menganak sungai di kedua matanya. Kepingan pertemuan pertama dirinya dengan William hingga tadi pagi berputar di benaknya. Begitu juga tentang masa kelam dua tahun yang lalu, di mana saat itu hanya ada Ken, Ken dan Ken.


Ken lah yang menjadi cahaya dalam gelapnya dunia. Ken lah yang menjadi semangatnya di saat hanya ada kemurungan dalam hidup seorang Meyrin. Ken jugalah yang selalu membawa keceriaan dalam hidup Meyrin.


"Meyrin!"


Meyrin terhentak saat mendengar panggilan dari ayahnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat Lea berdiri di depannya. Seperti orang yang baru saja sadar dari koma, Meyrin tampak kebingungan.


"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Lea.


"Meyrin! Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Daniel lagi di seberang sana dengan nada khawatir.


"It's okay Ayah. Tadi Meyrin sedikit melamun," jawab Meyrin dengan nada menenangkan.


"Ya sudah kalau begitu istirahatlah. Ayah merindukanmu dan Emily."


Setelah itu panggilan berakhir. Meyrin melempar ponselnya di atas kepalanya. Dia juga merentangkan kedua tangan di atas kasur ukuran queen sizenya.


Lea baru saja keluar dari walk in closet dengan membawa dress. Hal itu membuat Meyrin mengernyitkan keningnya, bingung. Pasalnya malam ini dia tidak ada rencana atau janji temu dengan siapapun.


Lea yang menyadari kebingungan nona mudanya, berjalan mendekat. "Malam ini Tuan William mengajak Nona untuk makan malam."


"Ooh."


Meyrin menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore. Meyrin menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


"Bilang pada Paman Aite dan yang lainnya, rapat dilaksanakan besok saja. Lalu bilang pada William kalau kita akan langsung menuju lokasi."


"Baik, Nona." Lea keluar dari kamar setelah meletakkan dress Meyrin di gantungan baju, di samping meja rias sang Nona.


Meyrin beranjak dari posisinya dan berjalan ke arah meja rias. Rambut yang sejak tadi diikat menggulung dia buka, hingga membuat surainya jatuh terurai. Wanita itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sebuah senyum sendu terbit di bibir tipis Meyrin.

__ADS_1


"Ternyata aku semenyedihkan ini," lirih Meyrin.


Meyrin lalu berjalan menuju kasur empuknya lagi. Dia merebahkan tubuhnya secara sempurna dan memejamkan kedua matanya. Meyrin ingin tidur nyenyak tanpa pada bayangan peristiwa dua tahun yang lalu.


****************


"Baiklah."


Setelah itu Rama mengakhiri panggilan teleponnya. Dia kembali masuk ke kamar tempat tuan mudanya menunggu. Di dalam kamar terlihat William yang sedang sibuk dengan laptopnya. Sebuah kacamata bertengger dengan manisnya di hidung mancung sang pemimpin kerajaan bisnis keluarga Plowden.


"Tuan, Nona Meyrin menerima undangan makan malam Anda," lapor William.


"Izinkan Paman Nikolai untuk masuk ke dalam kamar." perintah William yang tidak mengalihkan perhatiannya dari laptop.


"Baik, Tuan."


Setelah itu Rama keluar dari kamar tuannya. Ternyata Nikolai baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju Rama. Asisten pribadi William membungkuk hormat saat Nikolai Stevano berdiri di depannya. Di samping Nikolai seperti biasa, ada Armand yang setia.


"Tuan William sudah menunggu Anda di dalam ruangannya, Tuan. Mari saya antar Anda ke ruangannya," ujar Rama yang mulai berjalan di depan Nikolai dan Armand.


"Tidak ada Meyrin?" tanya Nikolai mengikuti Rama dari belakang dan Armand di sampingnya sedikit mundur.


"Nyonya sedang ada urusan, Tuan," jawab Rama lugas.


Nikolai menghentikan langkahnya dan menatap punggung Rama yang sedikit berada jauh di depannya. Rama yang merasakan bahwa Nikolai tidak mengikutinya, menghentikan langkah dan berbalik.


Benar saja, Nikolai bersama Armand sedikit tertinggal di belakang Rama. Rama berbalik dan menghampiri rekan kerjasama tuan mudanya itu.


"Ada apa, Tuan?" tanya Rama.


"Kamu menyebut Meyrin, Nyonya? Jadi …."


Jadi apa nih Paman? Nanggung banget ngomongnya


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga


__ADS_2