
"Kalau begitu, kita pindah ke tempat yang lebih tertutup."
Setelahnya William keluar dari mobil lalu membuka sisi pintu Meyrin. Dia mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh tangan sang wanita. Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju lift yang akan mengantar keduanya ke lantai kamar presidential.
"Persetan," umpat William yang langsung kembali mencium Meyrin dengan rakus.
William tidak peduli dengan CCTV yang berada di dalam lift. Dia hanya peduli dengan cinta dan hasratnya saja. Siapa sangka, ternyata Meyrin juga membalas ciumannya. Wanita itu menjinjitkan kakinya dan menekan tengkuk leher William dengan kedua tangannya. Hal itu membuat ciuman di antara keduanya semakin dalam.
Ciuman yang terkesan buru-buru dan tidak ada yang mau mengalah. Hanya terlepas beberapa detik saja sebelum salah satu dari mereka kembali memulai pergulatan bibir dengan panas. Semua kenangan William dengan Laras perlahan tergantikan kenangannya bersama Meyrin.
Ting!
Suara pintu lift terbuka. William melepas ciumannya. Meyrin dapat melihat wajah kedua pengawalnya berpaling. Saat melewati mereka, terlihat telinga keduanya memerah. Napas Meyrin dan william tersengal-sengal akibat permainan bibir keduanya.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan dengan nomor 204 dan menguncinya. William langsung menyandarkan tubuh Meyrin pada pintu dan kembali menciumnya. Dibawanya kedua tangan Meyrin ke atas kepala sang wanita dan menakutkannya menjadi satu.
"Uuh~" lenguhan mulai terdengar dari mulut keduanya yang masih menikmati manisnya bibir masing-masing.
William melepas jas yang tersampir di pundak Meyrin dan dibiarkannya tergeletak begitu saja di lantai. Begitupun Meyrin, tangan wanita itu bergerilya melepaskan satu persatu kancing kemeja William. Dibantu oleh William, kemeja itu akhirnya lepas membuat sang lelaki topless.
William melepas ciumannya dengan napas terengah-engah. Hal serupa terjadi pada wanita itu, membuat William melepas genggaman tangannya pada tangan Meyrin. Saat kesempatan itu datang, Meyrin menggunakannya untuk mencium kembali suaminya.
Masih dengan posisi saling berperang lidah, William meletakkan tangan kanan di tengkuk leher Meyrin dan tangan kirinya di antara lutut. Tanpa aba-aba pria itu menggendong Meyrin ada bridal style. Meyrin langsung melepas ciumannya dan memeluk leher William saking terkejutnya.
"Astaga! Bagaimana kalau aku jatuh?" rengek Meyrin membuat William kembali menyambar bibir yang terlihat mulai membengkak itu.
Ceklek!
Pintu kamar yang tertutup oleh William menggunakan kakinya. William langsung membaringkan Meyrin di atas kasur dan langsung menindihnya. Tapi tidak sepenuhnya menindih karena lelaki itu menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan.
__ADS_1
William membelai wajah Meyrin yang terlihat sangat cantik di bawah sinar rembulan yang mengintip. Dibelainya dari dahi turun ke hidung, terus ke bawah yaitu bibir seksi sang wanita. Tangan itu berhenti di sana membuat Meyrin menjulurkan lidahnya untuk membasahi jari telunjuk sang lelaki.
"Kamu sangat cantik dan seksi, membuatku ingin mengurungmu di kamar sepanjang hari," bisik William dengan suara seraknya, tanda lelaki itu menahan gairahnya.
"Tolong jangan lakukan itu! Jika kamu masih ingin—"
"Ssst! Aku menginginkanmu lebih dari siapapun. Aku tidak suka perasaan ini muncul, tapi aku tidak bisa menahannya," desis William.
"Aku tahu paranoid itu membuatmu tersiksa. Tapi … suatu saat aku takut akan membuat paranoidmu semakin menjadi."
"Kalau begitu jadilah milikku sepenuhnya. Izinkan aku menggapai hatimu dan singkirkan Ken dalam hatimu. Aku tidak ingin melampiaskan amarahku padanya. Aku juga tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Aku ingin belajar lebih baik dari William yang dulu."
"Tapi—"
William yang mendengar kata sanggahan itu langsung membungkam mulut Meyrin dengan ciumannya lagi. Dia tidak ingin mendengar kalimat selanjutnya. Jika dia mendengarnya lagi, William tidak tahu seberapa marahnya dia. Lelaki itu tidak ingin membuat seorang Liu Meyrin ketakutan.
Tidak mudah menahan amarah bagi seorang William. Jika Meyrin adalah Laras seharusnya paranoid-nya bisa dihentikan. Tapi ini malah semakin menjadi dan lelaki itu tidak menyukainya. Apalagi ditambah obsesinya terhadap wanita itu, membuat William semakin susah menahan amarahnya.
Saat itu juga, William seperti disiram air dari pegunungan. Begitu sejuk dan segar serta dapat memadamkan api amarahnya. Seketika itu juga dia kembali menjadi William yang lembut. Akan tetapi, kata-kata itu semakin membuat api gairah dalam tubuhnya semakin berkobar.
"I love you too," ucap William.
William mencium kening Meyrin dengan lembut dan lama. Kemudian ke kedua mata Meyrin yang terpejam. Diciumnya bergantian dengan lembut dan penuh cinta. Lalu, kedua pipi tirus wanita yang berada di bawahnya bergantian.
Ketika William memberikan ciuman-ciuman di wajah sang wanita, Meyrin memejamkan kedua matanya. Wanita itu tidak menyadari kalau kedua tangan William mulai menurunkan tali tipis gaun yang dikenakannya. Pundak wanita itu terbuka memperlihatkan tulang selangka Meyrin yang putih mulus.
Meyrin bergidik geli saat William memindahkan ciumannya ke arah pundaknya yang terbuka. Belahan bukit kembarnya mulai terlihat. Suara lenguhan manja mulai terdengar bagaikan simfoni di rungu William.
Malam ini William ingin memanjakan Meyrin. Dia tidak ingin bermain kasar ataupun terburu-buru seperti sebelumnya. Dia ingin Meyrin juga menikmati dan ikut andil dalam permainan yang diciptakan olehnya.
__ADS_1
Ruam merah mulai terlihat di pundak dan leher Meyrin. Bukan hanya satu atau dua buah tapi lebih dari lima dan itu letaknya menyebar. Meyrin terbuai dengan rasa cinta dan kelembutan sentuhan sang lelaki hingga tidak menyadari bahwa William telah menarik resleting belakang gaunnya.
Hal itu memudahkan William untuk menarik turun gaun yang dikenakan Meyrin. Sehingga membuat dua gunung kembar yang masih dilindungi menampakkan pesonanya. Gundukan di leher William naik turun melihat pemandangan di depannya.
Dengan keahliannya, William berhasil melepaskan pelindung yang menyembunyikan pesona dua gunung kembar kesukaannya. Kedua mata mereka tak pernah lepas untuk saling memandang. Tenggelam dalam pesona manik hitam pekat masing-masing.
William kembali melanjutkan aksinya memberikan tanda kepemilikannya di atas tubuh Meyrin. Lelaki itu semakin gencar saat lenguhan-lenguhan keluar dari bibir seksi sang wanita. Hingga entah bagaimana caranya baju yang dikenakan keduanya sudah berceceran di atas lantai.
Hanya menyisakan celana pendek ketat pada tubuh William dan kain segitiga tipis warna hitam di tubuh Meyrin. Ruam kemerahan sudah banyak menghiasi tubuh bagian atas wanita itu. Mulai dari leher hingga pinggangnya tak lepas dari jamahan William.
Tiba saatnya mereka masuk ke kegiatan intinya. Tapi sebelum itu, William memberikan stimulasi-stimulasi ringan untuk kembali membangkitkan gairah dalam tubuh Meyrin. Meyrin yang diperlakukan sedemikian rupa, kembali mengeluarkan suara lenguhannya, terbuai dalam permainan William.
William tersenyum saat indera pendengarannya kembali mendengar melodi kesukaannya. Dia semakin ingin wanitanya mengeluarkan melodinya sebanyak dan sekeras mungkin. Jika memungkinkan dalam melodi itu, sang lelaki ingin Meyrin memanggil namanya.
"Aku lepas yah?" desis William di antara leher dan telinga Meyrin.
Meyrin tidak menjawab tapi wanita itu menganggukkan kepalanya. Itu sudah mewakili sebuah jawaban bagi William. Tanpa membuang waktu lagi, sang pria langsung melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya.
William membuka kain segitiga hitam yang menjadi satu-satu pelindung di tubuh Meyrin. Terdengar sang wanita mendesis saat merasakan kelembutan yang diberikan oleh William. Rasa obsesi Meyrin terhadap William tidak bisa dikendalikan lagi. Wanita itu ingin William menjadi miliknya.
Malam ini, di kamar hotel Danieli no 204 William dan Meyrin kembali menikmati malam panas. Keduanya telah memulai permainan inti untuk saling merenggut kenikmatan dan manisnya madu cinta mereka berdua.
Udahan dulu hihihi
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga