OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 31 JUNA ANAKKU


__ADS_3

"Apa dia memiliki seorang ayah?" tanya William.


"Maksudmu apa, hah!" bentak Meyrin saat William menyinggung hal pribadinya apalagi tentang Juna.


Entah setan mana yang merasuki William hingga dirinya mengutarakan pertanyaan gila itu. Seharusnya sebagai orang asing, dia tidak bertanya hal privasi seperti itu. Tapi, dirinya menolak jika Meyrin sudah mempunyai anak.


Bagaimana mungkin wanita seperti Liu Meyrin mempunyai anak? Pemikiran gila itu ditolak mentah-mentah oleh akal sehat seorang William.


"Anda pikir saya wanita murahan yang menjajakan diri agar hamil, begitu! Picik sekali pikiran Tuan!" Meyrin mulai naik pitam saat tidak mendapatkan jawaban dari William.


"Bu-bukan begitu mak—" perkataan William terpotong oleh sebuah panggilan dari layar ponsel Meyrin.


"Hi, Sweetie," sapa orang itu.


"Mommy! Daddy datang!" seru Juna berlari ke arah Ken yang langsung menggendongnya.


"Ken? Daddy?" beo William tak percaya.


Bayangan hidup manis dan harmonis berdua dengan Meyrin hancur seketika. Lukisan masa depan di benak William retak dan hancur lebur bersama dengan hatinya saat mengetahui kenyataannya.


"Kalian berdua pasangan suami-istri?" tanya William berharap jawabannya bukan yang ada di otaknya.


"Iya," jawab Meyrin mantap.


"Hah?" Ken tak paham dengan alur cerita yang terjadi.


"Juna adalah anakku dan Ken yang kita sembunyikan. Apa itu menjadi masalah besar untuk anda, Tuan Muda Plowden?" jelas Meyrin dengan memberikan tekanan saat menyebut nama William.


Ken menatap Meyrin, dia menyadari sebuah kode yang diberikan oleh wanita itu. Sebuah senyum jahil mulai tersungging di wajah Ken. Sesuatu terlintas dalam benak lelaki itu.


"Memang kenapa kamu menanyakan hal itu, Will?" tanya Ken.


"Tidak ada." William menjawab dengan ketus.


"Ooh … atau jangan-jangan kamu merindukan Laras yah? Atau kamu merindukan bercinta dengan istrimu hingga—"


"Ken!" bentak William dan Meyrin bersamaan.


"Sweetie, kenapa kamu membentak calon suamimu ini?" Ken mulai menggoda Meyrin.


"Aku hanya tidak suka, calon su-suamiku membahas rumah tangga orang lain. Sudah aku tutup dulu, tolong jaga Juna. Bye Juna dan Hubby."


Tanpa menunggu jawaban, Meyrin langsung mengakhiri panggilannya. Walaupun dalam hati masih belum puas berbicara dengan Juna. William terdiam mencerna semua yang terjadi.

__ADS_1


"Aku akan menggunakan kamar mandinya," pamit Meyrin yang langsung beranjak tanpa menunggu jawaban dari William.


Saat keluar dari kamar mandi, Meyrin dapat melihat William sudah rapi dengan setelan casualnya. Meyrin berjalan ke tengah ruangan, di atas kasur itu sudah ada satu buah paper bag.


"Gantilah! Lea dan Rama sudah menunggu di luar. Aku harap kita bisa bersikap profesional," ujar William lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar.


"Dia kenapa sih, aneh banget." Meyrin mengedikkan bahunya acuh tak acuh.


****************


Meyrin keluar dari kamar disambut oleh Lea. Bodyguard sekaligus asisten pribadinya itu menatap Meyrin dari ujung rambut hingga ujung kaki, memastikan tidak ada yang terluka.


"Jadwal hari ini apa?" tanya Meyrin sembari mereka menuju lift diikuti para pengawal di belakangnya.


"Hari ini kita akan bertemu dengan Walikota dan menonton pertunjukan di gedung Opera La Fenice," jelas Lea.


Meyrin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka keluar dari lift dan melakukan perjalanan kaki hingga tiba di tepian jembatan Rialto. Di grand kanal sudah ada tiga gondola yang menanti kehadiran rombongan William dan Meyrin.


Seperti biasa, William memperlakukan Meyrin begitu lembut. Bahkan mereka duduk bersebelahan. Gaun panjang warna tosca dengan motif bunga di bagian roknya membuat penampilan Meyrin terlihat fresh.


William dan Meyrin memilih untuk duduk berdampingan. Bahkan pemimpin WR Entertainment itu enggan untuk melepaskan pelukannya pada pinggang Meyrin. Entahlah, mengetahui kenyataan bahwa Meyrin sudah mempunyai anak dengan Ken membuatnya semakin tak ingin kehilangan wanita itu.


Bahkan terbesit pikiran untuk membuat Meyrin hamil anaknya. Dia malah berharap dua kali one night stand dengan wanita itu membuahkan hasil. William menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Meyrin menatap aneh.


Deg! Deg! Deg!


Jantung William tiba-tiba berdetak sangat kencang dan cepat. Laki-laki itu memegangi jantungnya, sedikit menekan agar sang jantung tidak melompat keluar dari tempatnya. Meyrin yang melihat itu semakin panik.


"William! Kamu tidak apa-apa, 'kan?"


William mendongakkan kepalanya dan matanya menatap wajah khawatir Meyrin. Jantungnya kembali bertalu-talu membuat ia mengernyitkan keningnya. Wanita di depannya ini semakin panik.


"Maaf," ujar William yang langsung menarik kepala Meyrin mendekat dan mencium bibir Meyrin.


William tidak peduli dimana dan bagaimana reaksi yang melihat mereka berciuman di atas gondola. Otaknya sejak tadi mengirim sinyal untuk mencium bibir seksi seorang Liu Meyrin.


"Milikku!" sebuah suara terngiang-ngiang di rungu William.


William melepas ciumannya sebentar, membiarkan Meyrin mengisi paru-parunya dengan udara. Tidak sampai satu menit bahkan 30 detik belum sampai, William kembali mencium Meyrin.


Ciuman kali ini begitu pelan dan lembut, tidak seperti di awal yang terkesan buru-buru dan menuntut. Kedua mata mereka sama-sama terpejam, bahkan Meyrin mengalungkan tangannya di leher William.


Setelah puas dengan bibir Meyrin, William melepaskan ciumannya. Sebuah seringai muncul di bibir lelaki itu saat melihat bibir pemimpin Arlington Group itu bengkak dan basah. Sedangkan Meyrin terkejut saat dirinya sadar posisi.

__ADS_1


Entah kapan dan bagaimana, Meyrin yang awalnya duduk di samping William sekarang berada di pangkuan sang lelaki. Bahkan posisi mereka benar-benar membuat iri orang yang melihatnya.


Saking asyiknya berciuman, mereka tidak menyadari kalau sudah tiba di gedung Opera La Fenice. William menahan Meyrin agar tetap berada di gondola. Lelaki itu memberikan kode pada Lea.


Lea yang sudah bertahun-tahun bersama Meyrin bahkan dirinya tahu betul tentang nona mudanya itu. Saat mendapat kode dari William, suami sah nona mudanya dia langsung paham dan berjalan mendekat.


Asisten pribadi Meyrin itu menyerahkan lipstick dan cermin mini kepada William. Meyrin membulatkan matanya dan William menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Astaga," lirih Meyrin malu.


Tangan besar William menghapus sekaligus meratakan lipstik di bibir sang wanita. Rona merah menghiasi wajah putih bersih Meyrin saat mendapat perlakuan lembut dari seorang William.


Setelah memastikan tampilan Meyrin sudah sempurna, dia membantu wanita itu untuk turun dari gondola. Rama langsung mengulurkan tangan ke arah Meyrin.


Plak!


"Apa yang kamu lakukan?" tanya William memukul tangan Rama dan menatapnya tajam.


"Maaf, Tuan," setelahnya Rama kembali membalikkan badannya.


Selama Meyrin memakai lipstik dan merapikan penampilannya tadi, semua pengawal dan asisten tanpa terkecuali membalikkan badannya. Kode tatapan tajam seorang William sudah mewakili sebuah perintah tersirat.


Di depan gedung, seorang pria berpakaian rapi dengan beberapa pengawal yang berbaris berdiri. Rama mendekat ke arah William dan Meyrin.


"Tuan, Nyonya, di tengah itu adalah asisten pribadi Walikota," bisik Rama.


Mendengar itu, William memeluk pinggang ramping Meyrin. Meyrin menatap William dan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Mari kita berperan sebagai pasangan suami-istri yang saling mencintai," bisik Meyrin.


"Tentu saja. Satu yang perlu Nona Liu Meyrin tahu, aku sudah punya istri dan sangat mencintainya. Jadi, tolong Nona jangan jatuh cinta padaku." William ikut berbisik membalas ucapan Meyrin.


Mendengar itu, Meyrin tertawa sambil menutup mulutnya. Di depan gedung, asisten pribadi sang Walikota ikut tersenyum melihat interaksi tamu kehormatan yang begitu mesra.


Kayaknya asisten pribadi Walikota salah paham, hahaha


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2