OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 101 WELCOME TO LONDON


__ADS_3

Pesawat mereka telah mendarat di Bandar Udara Heathrow yang merupakan bandara tersibuk. Anak buah King sudah menunggu kedatangan rombongan Arlington. Sambutan hangat dan fasilitas VVIP diberikan oleh King secara cuma-cuma.


"Ayah, kita akan langsung menuju butik untuk melakukan fitting baju pengantin," pamit William pada Daniel.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Emily sudah bersama dengan agensinya. Ken dan Daniel ikut dengan King. Rama dan Lea menemani dua majikannya untuk melakukan fitting baju.


Dua mobil sudah disiapkan oleh King untuk menyambut kedua bosnya itu. Lea membukakan pintu untuk William dan Laras, sedangkan Rama membawa dua koper kedua majikannya ke dalam bagasi.


Mobil William dan Laras melaju terlebih dahulu. Rama memberitahukan tujuan mereka kepada sang sopir. Jalanan di London begitu padat hingga mereka terjebak macet.


Laras yang sedang sibuk dengan ponselnya tak mengindahkan keadaan sekitar. Sedangkan William sedang sibuk menjawab panggilan yang masuk, begitu juga dengan Rama dan Lea. Hanya Laras yang santai saat ini, dia melihat berita-berita terkini.


Kedua matanya terbelalak sempurna saat melihat berita yang trending. Laras mencoba mengetik beberapa suku kata dan langsung muncul fotonya dan William saat berada di Venesia. Hal itu diperkuat saat William dan dirinya berada di Bandara Fu tadi.


"Lea, kamu sudah lihat berita?" tanya Laras.


"Belum, Nona. Apa ada masalah?" tanya balik Lea. Laras langsung menyerahkan ponsel pribadi pada asisten pribadinya itu.


"Apa kita harus meredamnya, Nona?" tanya Lea.


"Tidak perlu. Toh, lusa kita akan menikah. Biarkan saja berkembang dengan sendirinya. Aku hanya berpikir, siapa dalang di balik ini semua?"


"Bukannya di depan Anda ada dua artis besar, Nona?" Rama ikut dalam pembicaraan Lea dan Laras.


"Bodohnya aku, kenapa tidak kepikiran ke sana. Ya sudah lah. Will, setelah fitting baju, kita akan ke mana?" Laras mengalihkan perhatiannya pada William yang sedang sibuk menscroll tabletnya.


"Makan malam dulu. Baru kita ke hotel untuk istirahat. Oya, kamu mau dilaksanakan di hotel mana?" tanya William menunjukkan beberapa ballroom hotel yang dikirim oleh Wedding Organizer (WO).


"Boleh outdoor?" tanya Laras.


"Kamu dengar 'kan? Istriku minta tema outdoor," ujar William pada headset bluetooth yang ada di telinganya.

__ADS_1


Tak berapa lama, sebuah pesan masuk di tablet yang ada di tangan Laras. Menampilkan berbagai jenis dekorasi outdoor. William dapat melihat binar kebahagiaan di mata sang istri. Bahkan senyum di bibir Laras tersungging merekah.


"Sudah ada pilihan yang cocok?" tanya William setelah beberapa menit membiarkan sang istri memilih.


"Aku mau yang ini," Laras menunjuk satu foto yang dia sukai.


"Oke, kita ambil tema ini." William mengirim kembali tema yang di pilih oleh Laras.


"Ada yang perlu diperhatikan, Sayang?" tanya William lagi, memastikan bahwa semua sesuai dengan keinginan sang istri.


"Tidak. Aku suka tema ini, pas banget melambangkan kita berdua, Will." William hanya menganggukkan kepalanya.


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki sebuah rumah mode dari desainer terkenal di London. William dan Laras keluar dari mobil dan menuju pintu masuk rumah mode tersebut.


Di depan pintu, seorang wanita bule dan bermata biru dengan baju seksinya sedang menyambut mereka. William merangkul pinggang ramping Laras. Wanita itu menyambut William biasa saja, tapi saat menyambut Laras, wanita itu begitu excited. Wanita itu memeluk Laras dan mencium kedua pipi sang pemimpin Arlington. Bahkan, mengelus wajah dan tubuh Laras membuat sang empu bergidik ngeri.


Laras langsung menempel pada tubuh William dan tanpa sengaja dua bukitnya menyentuh lengan calon suaminya. William tersentak tapi segera setelah itu dia bisa mengendalikannya. Ditatapnya wajah Laras yang tampak ketakutan dengan sikap Molly yang merupakan seorang desainer.


"Dia pecinta sesama jenis," jawab William santai.


"Oh. Hah?" Laras terkejut hingga tanpa sadar suaranya begitu keras.


Rama, Lea, dan Molly bahkan beberapa karyawan menatap Laras. Laras jadi merasa bersalah dan memilih untuk semakin mendekati William karena malu dan takut. Bagaimana tidak takut, saat Molly malah menatapnya dengan penuh minat itu.


"Nah, Nyonya Plowden silakan masuk ke dalam ruangan. Saya akan mengambil beberapa gaun pengantin. Dua orang karyawanku akan membantu Nyonya," ujar Molly.


Laras menatap William, meminta izin. William mencium kening Laras dan setelah itu memberikan izinnya. Laras masuk ke dalam ruangan bersama dua karyawan, sama seperti yang dikatakan Molly baru saja. Sedangkan Molly berjalan ke sebuah ruangan bersama beberapa karyawannya.


Tak lama muncul Molly dengan lima karyawannya yang masing-masing membawa dua gaun pengantin yang akan dicoba oleh Laras. Molly menganggukkan kepalanya menyuruh satu persatu karyawannya itu masuk ke ruangan fitting baju.


Laras keluar dengan gaun putih model seperti ikan duyung. Pinggang rampingnya dan lekuk tubuh Laras tercetak sangat jelas. William langsung menggelengkan kepalanya. Laras terus mencoba gaun pengantinnya satu persatu dan William selalu menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Laras kesal sendiri dan menatap tajam pada William. Sedangkan yang ditatap hanya mengedikkan bahunya.

__ADS_1


"Nyonya sangat cantik dengan gaun pengantin manapun. Kulitnya yang bersih dan tubuhnya bak seorang model benar-benar impian setiap wanita," ujar Molly memuji tubuh Laras yang membuat calon pengantin itu bergidik ngeri.


Laras langsung masuk ke dalam ruangan lagi untuk mencoba baju kelimanya. William yang melihat tingkah Laras langsung tertawa. Sedangkan dari tadi Lea menatap melongo dengan tingkah absurd dua pasangan pengantin ini.


"Ini sudah hal biasa. Dulu sebelum mereka menikah pun bahkan lebih parah dari ini," bisik Rama.


"Sepertinya susah bagimu, yah." Lea menatap Rama penuh kasihan.


"Tidak juga. Bahkan aku sempat salah mengira Nyonya hamil karena turun dari yacht dia muntah-muntah."


Lea tertawa renyah dan membayangkan bagaimana wajah lucu nonanya saat itu. Aah, rasanya Lea ingin menghapus pernikahan kontrak itu. Entah kenapa Nona Laras memberikan syarat bahwa pernikahan mereka bertahan selama satu tahun. Lea benar-benar tak habis pikir.


Dua orang karyawan kembali membuka tirai, kali ini Laras keluar dengan gaun pengantin yang super mewah. Bagian atas model kemben mewah dengan motif bunga mawar. Belahan dadanya tertutup kain furing tipis. Lalu bagian bawahnya berupa rok panjang menjuntai dengan motif yang sama. Bagian belakang memanjang hingga beberapa meter.


William sedikit terpana dengan penampilan Laras saat ini, tapi setelah tersadar pria itu langsung menggelengkan kepalanya. Sudah cukup! Kesabaran Laras sudah habis.


Laras mengangkat rok pada gaunnya lalu menghentakkan langkah kakinya dengan tegas dan berjalan menuju hadapan William.


"Will, kamu tahu? Ini sudah baju kelima dan kamu menolak semuanya? Baju ini berat dan sangat melelahkan. Apa indera penglihatanmu bermasalah, hah!" Laras berdiri berkacak pinggang di hadapan William.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2