OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 80 MENJADI TAWANAN


__ADS_3

"Apa William diculik?"


Itu kata-kata pertama yang Meyrin katakan saat melihat Ken, Nikolai dan Armand berada di dekatnya. Ken menatap Nikolai serta Armand, meminta penjelasan lebih lanjut. Percuma menyembunyikan sesuatu dari Meyrin saat ini.


"Apa Rizzo yang memberitahumu, Mey?" tanya Ken.


"Armand, apa Rama menghubungimu?" Bukannya menjawab, Meyrin malah bertanya pada Armand.


"Iya, Nona."


"Aku baru saja siuman, tapi ada masalah seperti ini. Bisa kita berdiskusi setelah aku istirahat sebentar?" tanya Meyrin menatap ketiganya.


"Baiklah. Istirahat dulu, biar kita membahasnya lebih dulu," jawab Ken.


Meyrin menganggukkan kepalanya. Dia ingin merebahkan tubuhnya tapi meringis saat luka pada pinggangnya terasa sakit. Ken yang menyadari hal itu segera membantu Meyrin untuk rebahan. Sedangkan Nikolai dan Armand keluar lebih dulu.


Saat Ken hendak keluar, dia berpapasan dengan Lea yang datang bersama seorang dokter dan dua orang perawat. Ken menganggukkan kepalanya, kode bahwa Meyrin baik-baik saja.


Dokter dan dua orang perawat langsung melakukan pemeriksaan pasca operasi. Dokter menganggukkan kepalanya kepada kedua perawat, mengatakan bahwa semua keadaan Meyrin normal.


Seorang perawat memberikan obat penawar racun yang disuntikkan ke kantong selang infus Meyrin. Meyrin tersenyum dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa inggrisnya yang fasih.


"Dokter, berapa lama saya harus melakukan perawatan?" tanya Meyrin sebelum dokter itu keluar dari ruangannya.


"Paling cepat satu minggu, paling lama satu bulan. Kita harus memastikan bahwa racun itu tidak menyebar ke bagian tubuh yang lainnya, Nona."


"Bisa lima hari saja, Dok?" tawar Meyrin.


Dokter itu tampak berpikir keras. Mempertimbangkan segala aspek terbaik untuk pasiennya. Dia juga tidak ingin terjadi hal buruk pada pasiennya. Dokter itu juga bukannya tidak mengenal seorang Meyrin, pebisnis wanita yang sukses di usia mudanya. Bahkan anaknya adalah penggemar dari seorang Liu Meyrin.


"Baik. Tapi, Anda wajib lapor kunjungan setiap dua hari sekali. Bagaimana, Nona?"


"Baik, Dokter."


Kesepakatan telah dibuat dan sang dokter berpamitan untuk melanjutkan tugasnya. Lea membungkukkan badannya, memberi hormat. Wanita itu mengantar sang dokter hingga di depan pintu dan kembali mengucapkan terima kasih.


"Bagaimana keadaan Meyrin?" tanya Ken.


"Nona baik-baik saja. Beliau meminta keluar dari rumah sakit setelah lima hari walaupun sang dokter tidak setuju."


"Lima hari itu artinya lima tembakan kembang api roket, 'kan?" gumam Nikolai.


"Itu artinya …." Ken mulai paham kemana arah pembicaraan Nikolai.

__ADS_1


"Benar! Itu adalah petunjuk yang diberikan oleh Rizzo." Nikolai membenarkan dugaan Ken.


"Dan kembang api roket itu dinyalakan bersamaan dengan Tuan William dan Nona Meyrin bersama. Sepertinya ini sudah Rizzo rencananya jauh-jauh hari. Apa kemungkinan ada mata-mata lagi?" Armand ikut dalam diskusi itu.


"Tidak! Itu keahlian Berto di dunia cyber," jawab Ken yakin.


"Kalau begitu, saya permisi masuk ke dalam dulu. Nona Meyrin memanggil," pamit Lea sambil menunjukkan ponselnya yang menampilkan panggilan atas nama Meyrin.


Ketiga pria itu menganggukkan kepalanya, mengerti. Setelah menghilangnya Lea, mereka kembali berdiskusi di ruang tunggu. Tentu saja bahasa yang mereka gunakan tidak membuat orang lain curiga.


"Ken, bukannya kamu pernah bertarung dengan Berto?" tanya Armand.


"Iya dan saat itu aku kehilangan data pribadiku. Berto berhasil menembus pertahananku dan dia mengetahui kalau Laras masih hidup."


"Pantas saja. Lalu, siapa yang menang?" tanya Nikolai dengan wajah yang penuh minat.


"Tidak ada yang menang karena aku juga bisa mencuri data pribadi Berto yaitu identitas Rizzo. Meyrin menjadikan identitas Rizzo itu sebagai kelemahan untuk berjaga-jaga dari serangan dia."


"Apa kita akan menyerang dengan kelemahannya itu?" tanya Armand.


"Tergantung Meyrin nanti. Aku hanya mengikutinya saja. Akan tetapi, Meyrin lebih mengutamakan berbicara terlebih dahulu daripada langsung bertarung," jawab Ken.


"Aku lebih suka langsung bertarung dan menghabisi semuanya tanpa sisa," ujar Nikolai dengan santainya.


****************


Jika di rumah sakit keadaannya begitu santai, beda halnya dengan yang ada di kapal yacht. Saat ini kapal itu telah berhenti di dermaga sebuah pulau. Pulau dengan begitu asing dan tak terjamah karena sebuah julukan. Julukan yang sudah mendunia.


William yang masih dalam pengaruh obat, tidak menyadari kalau dirinya sudah berpindah tempat. Dua orang membantunya untuk duduk di sebuah kursi kayu dan mulai mengikat tubuh William. Status pewaris tunggal keluarga Plowden itu saat ini adalah tawanan.


Sebuah api unggun dengan jarak tiga meter menyala, membuat hangat tubuh yang berada di dalam ruangan tersebut. Ada sekitar 10 orang yang mengelilingi ruangan tersebut. Bangunan yang berada di tepi laut lepas itu memiliki cuaca dingin yang menggigit hingga ke tulang.


Seseorang dengan wajah khas campuran Asia-Italia itu menyunggingkan senyumnya saat melihat pergerakan dari sang tawanan. Sepertinya William sudah mulai bangun dari tidur panjangnya. Cukup lama William sadar dari pengaruh obat tidur.


William mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Saat pandangannya mulai normal, dia mulai menatap ke sekeliling. Keningnya berkerut saat tidak mengenali tempat dia berada saat ini.


Sebuah ruangan yang seperti bekas rumah sakit karena di sana terdapat ranjang yang sudah bobrok. Besinya sudah berkarat dengan beberapa akar pepohonan yang tumbuh. Dinding-dindingnya sebagian ada yang jebol. Kasur dengan seprei warna putih tampak kusut dan usang.


Ruangan itu begitu gelap gulita. Sepanjang mata memandang hanya ada kegelapan yang terlihat. Beruntungnya ruangan itu ada sebuah api unggun yang dinyalakan oleh seseorang. Sehingga tidak terlalu gelap.


William langsung menatap seseorang yang duduk di depannya. Tatapannya fokus pada pria dengan wajah tampan sedang menyunggingkan senyum liciknya. Lelaki itu semakin terkejut saat melihat dirinya terikat di sebuah kursi.


"Yo, William Anderson Plowden," sapa orang itu saat melihat William tak berhenti meronta-ronta.

__ADS_1


"Siapa kamu? Apa maumu?" William berhenti meronta, percuma dia tidak bisa membuka ikat talinya.


"Aku siapa? Mauku apa?" tanya orang itu pada dirinya sendiri membuat William langsung naik pitam.


"Sialan! Siapa yang menyuruhmu, brengsek!" bentak William pada orang itu.


Plak!


Sebuah tamparan melayang pada pipi mulus William. Tamparan yang begitu keras sehingga meninggalkan jejak kemerahan di pipi sang pria.


"Tentu saja aku yang menyuruhnya. Aku tidak berbakat menjadi anak buah," jawab orang itu dengan santainya setelah menampar William.


"Sialan! Sebenarnya kamu siapa?" bentak William sambil berontak dalam ikatan, berharap tali itu terlepas dengan sendirinya.


"Jangan membuang tenagamu, Tuan Plowden. Itu menggunakan ikatan simpul mati, jadi tidak akan bisa terlepas."


"Tuan Rizzo, ada telepon dari Nona Meyrin." Seseorang berjalan mendekati pria yang sejak tadi berbicara dengan William.


Wajah pria yang ternyata Rizzo itu tersenyum penuh arti. "Wah, kebetulan sekali. Mafia Arlington memang tidak boleh diremehkan," ujar Rizzo menatap William.


"Apa hubunganmu dengan Mey—"


Rizzo mengabaikan pertanyaan William dengan menjawab panggilan dari Meyrin. "Halo, Sayang. Apa kabar?" sapa Rizzo berbasa-basi.


"Apa yang kamu lakukan pada William, brengsek!" teriak Meyrin di seberang sana. Rizzo sengaja menghidupkan loudspeaker-nya.


"Mey, tenanglah!" ujar seseorang di sana yang William kenali sebagai suaranya Nikolai.


Rizzo menatap William dan tersenyum culas. "Aku tidak pernah main-main dengan ancamanku, Sayang. Kemarilah! Dan lihat sendiri bagaimana keadaan kekasihmu ini."


Setelah mengatakan hal tersebut, Rizzo langsung mengakhiri panggilannya. Dia tidak perlu mendengarkan jawaban dari Meyrin karena ada sesuatu yang dia inginkan.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2