OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 130 DUA TAHUN YANG LALU PART 3 (S2)


__ADS_3

"Laras, bisa makan malam bersama?" tanya Rizzo di seberang sana.


Laras menghembuskan napas panjangnya. "Hari ini jadwalku padat. Sepertinya tidak ada waktu."


"Bagaimana kalau besok? Atau lusa?" tanya Rizzo lagi.


"Untuk satu bulan ini jadwalku sibuk. Besok aku harus menjemput sepupuku di Bandara," jelas Laras mencari alasan untuk tidak bertemu dengan Rizzo.


"Baiklah. Apa itu Ken Lian?"


"Iya, kalau begitu sampai ketemu minggu depan di perjalanan bisnis kita selanjutnya."


Setelah mengatakan itu, Laras mengakhiri panggilannya. Dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke mansion. Laras bukannya tidak tahu maksud dari niat Rizzo, tapi mau bagaimana lagi cinta dia hanya untuk William. Laras tidak bisa memaksa untuk jatuh cinta pada Rizzo.


****************


Waktu berganti begitu cepatnya. Satu tahun telah berlalu. Banyak orang-orang penting yang telah dikenal oleh Laras. Bahkan dia sudah mengenal empat jenderal mafia Arlington. Benar kata ayahnya itu, segala urusan Laras cepat selesai jika mengandalkan mereka berempat.


Aite, Joker, King dan Queen memiliki kekuasaannya sendiri dan itu semakin mempermudah segala urusan Laras. Bahkan, wanita itu sudah mulai belajar menggunakan pistol. Laras dan Rizzo berteman sangat dekat. Walaupun Laras mulai waspada terhadap Rizzo sesuai pesan Ken.


Ken yang ingin menyelesaikan tour-nya secepat mungkin, harus kecewa karena ada jadwal tambahan di Eropa. Kekhawatiran Ken terhadap Rizzo benar-benar terjadi. Pria berdarah Italia itu menghalalkan segala cara agar bisa menaklukan Laras.


Laras dan Rizzo terlibat perang dingin. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Arsip perusahaan menjadi tujuan mereka berdua untuk saling menaklukan.


Setelah satu tahun lamanya, akhirnya Ken dapat menyelesaikan semua tour-nya. Pria itu akhirnya bisa fokus pada perusahaannya dan Arlington Group. Selama tour dia selalu mendapatkan kabar dari Laras tentang apapun itu. Laras begitu mempercayai seorang Ken Lian.


"Ken!" teriak Laras saat melihat Ken baru saja memasuki mansion Arlington. Laras langsung berlari turun ke arah Ken.


"Hei hati-hati Laras! Tidak perlu berlari begitu," perintah Ken tapi tak diindahkan oleh Laras.


Laras langsung memeluk Ken dengan eratnya. Dia sangat merindukan pria yang memilih untuk mengalah demi kebahagiaannya. Ken tersenyum saat melihat betapa manjanya Laras pada dirinya. Ken sudah tahu semua tentang Arlington termasuk Laras.


"Aku merindukanmu, Ken," ujar Laras dan tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.


Ken mengernyitkan keningnya saat melihat Laras menangis. Pria itu membawa Laras untuk duduk di sofa. Pasalnya, baru kali ini dia menangis seperti ini.

__ADS_1


"Hei berhentilah menangis Laras. Ada apa? Coba cerita sama aku." Ken mengelus punggung sepupunya itu.


"Aku merindukan William, Ken. Aku juga lelah harus berperang dingin dengan Rizzo. Apa aku tidak bisa keluar dari jerat seorang Rizzo?" tanya Laras tentu saja dengan ingus yang menjadi ciri khasnya.


"Hei, apa Paman dan Bibi tidak di rumah?" tanya Ken karena dia sangat tahu kalau Laras tidak akan berkeluh kesah kepada Ayah dan bundanya.


"Beberapa hari yang lalu, mereka pergi ke Dubai. Aku kesepian di sini, Ken," manja Laras.


"Tenanglah, aku akan di sini untuk menemanimu. Semua tour sudah aku lakukan. Sekarang aku akan fokus pada perusahaan dan organisasi menemanimu, Ras. Jangan sedih lagi dan membuatku menyesal karena menyuruhmu menemui William."


Ya. Hanya seorang Ken Lian yang mengerti alasan di balik keputusan Laras yang terkesan tiba-tiba itu. Keluarga Arlington bahkan Daniel sendiripun tidak mengetahui alasan sesungguhnya Laras memilih cerai dengan William.


Rutinitas berjalan lancar seperti hari-hari biasanya. Keluarga Arlington masih tetap sama dijaga ketat oleh pengawal. Malam ini Ken memilih untuk pulang ke rumahnya setelah makan malam bersama.


"Kenapa tidak menginap saja, Kak?" tanya Emily yang baru tadi pagi tiba di mansion.


"Aku ada pertemuan dengan klien di club jam 08.00 malam nanti. Kamu mau ikut?" tawar Ken pada Emily.


"Kagak, capek. Kak Laras mungkin mau ikut?" Emily menatap Laras yang saat ini begitu fokus pada layar ponselnya.


****************


"Tuan, ini." Josh menyerahkan sebuah map kepada Daniel.


Kening Daniel mengernyit saat dia membaca isi dalam map tersebut. "Apa kamu yakin dengan ini?"


"Tentu saja, Tuan. Di sana sudah sangat jelas bahkan Joker baru saja memberitahuku bahwa pihak kepolisian sedang berpatroli di pelabuhan," jelas Josh.


"Suruh anak buah kita mundur beberapa saat. Jangan ada yang bergerak dan perintahkan pada Joker untuk tetap mengawasi pelabuhan serta gudang kita."


"Baik, Tuan. Lalu, apakah kita akan ke gudang?" tanya Josh.


Daniel menatap jam tangannya dan berkata, "Kita akan ke gudang pukul 00.30 dini hari nanti. Siapkan semuanya."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Josh meninggalkan ruang kerja Daniel setelah menerima perintah dari kepala pemimpin Arlington. Dia mulai sibuk mengurusi masalah yang terjadi. Ponsel Josh, asisten pribadi Daniel tidak berhenti berdering. Para bawahan Arlington mulai siaga di pelabuhan.


Pelabuhan tempat di mana gudang penyimpanan senjata yang akan dikirim sedang diawasi oleh kepolisian LA. Sementara waktu para bawahan mafia Arlington menghentikan aktivitas mereka dan berubah menjadi warga biasa.


Beberapa ada yang menyamar menjadi nelayan, bahkan ada yang menjadi warga yang hendak memancing. Sedangkan yang berada di dalam gudang, mulai siaga dengan serangan tiba-tiba. Semua aktivitas di dalam gudang dihentikan sesuai perintah Daniel. Lampu juga dimatikan agar gudang itu tampak tak berpenghuni dan tidak terjamah oleh siapapun.


Sesuai ucapan Daniel, pukul 00.30 pemimpin mafia Arlington itu bersiap untuk berangkat ke gudang yang berada di pelabuhan. Josh ikut serta bersama Daniel sebagai sopirnya. Satu mobil sedan dan satu mobil jeep mengikuti di belakang mobil Daniel.


"Josh, bagaimana keadaan di gudang senjata?" tanya Daniel.


"Polisi masih berjaga di sekitar pelabuhan, Tuan. Para bawahan sudah bersiap jika ada tindakan yang mencurigakan," lapor Josh.


"Kenapa polisi bisa berjaga di sana? Apa ada yang melapor?" tanya Daniel karena merasa ada yang aneh.


"Masih diselidiki oleh Joker, Tuan. Tuan Ken tidak bisa dihubungi, Tuan."


"Apa kamu merasa tidak ada yang aneh, Josh? Kenapa aku merasa ini disengaja agar kita ke gudang? Memang belakangan ini ada masalah dengan gudang?" tanya Daniel lagi mengutarakan asumsinya.


"Menurut informasi yang saya dapat dari Lea, ini bukan kali pertama terjadi semenjak Nona Laras menolak perasaan Tuan Rizzo, Tuan. Mereka terlibat perang dingin selama satu tahun belakangan ini. Maka dari itu, Tuan Ken kembali dan memilih untuk menjadi tangan kanan dari Nona Laras," jawab Josh lugas, sesekali dia menatap Daniel dari kaca dashboard-nya.


"Rizzo? Laras? Kenapa aku tidak tahu kalau mereka sedang perang dingin? Josh, suruh Ken menyelidiki semua tentang Rizzo jika dia ingin menjadi tangan kanan Laras." Daniel mengeluarkan perintahnya dan langsung dijawab kesanggupan dari Josh.


"Tidak mungkin! Josh! Putar balik dan kembali ke mansion!" perintah Daniel dengan paniknya.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2