
William baru saja keluar dari kamar mandi. Dia terkejut saat Laras masih berada di meja riasnya. Bahkan wanita itu berputar layaknya seorang model. William baru kali ini melihat istrinya narsis seperti itu.
"Sayang, kemarilah!" panggil Laras penuh cinta.
William tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekati sang istri. "Ada apa, Sayang?" tanya William.
"Hmmm … wanginya suamiku," ujar Laras yang langsung mencium William.
"Kamu kesambet apa sih, Ras?" tanya William yang merasa tingkah istrinya ini aneh.
"Tidak ada. Sekarang cepatlah ganti baju. Aku sudah menyiapkan baju untukmu."
William menganggukkan kepalanya dan sebelum pergi, dia mencium bibir Laras sekilas. Pria itu masuk ke walk in closet di mana baju yang sudah disiapkan oleh Laras berada di dalamnya.
Kerutan kebingungan di dahi William tampak jelas. Dia mengerjap-ngerjapkan kedua netranya dan benar saja, semua nyata. Pria dengan rambut yang masih basah itu menatap sekali lagi baju yang telah disiapkan oleh sang istri.
"Ada apa sebenarnya dengan Laras?" gumam William pada dirinya sendiri.
Walaupun enggan tapi dengan terpaksa dia memakai baju yang telah disediakan oleh Laras. William tidak mau mengecewakan sang istri, meskipun itu sangat menggemaskan jika Laras sudah cemberut.
"Aaah! Tampannya suamiku ini," seru Laras begitu melihat William keluar dari walk in closet dengan baju warna merah muda.
Beruntungnya hanya warna saja yang feminim, tidak dengan model bajunya. Saat ini William mengenakan kaos putih dan celana kain putih dengan jas warna merah muda. Siapapun yang melihat sang pewaris keluarga Plowden mengenakan baju itu pasti merasa geli. Beruntungnya lagi, wajah William yang tampan sangat mendukung, jadi semua bisa dimaklumi.
"Kamu tidak apa-apa? Kenapa tingkahmu hari ini aneh sekali?" tanya William menatap curiga pada istri tercintanya.
"It's okay kok. Nah, jadwal kita hari ini apa?" tanya Laras menggandeng tangan William, bergelayutan manja.
"Tidak ada. Biarkan Rama dan Lea yang mengurus. Kita santai saja di rumah ini."
"Baiklah, sebaiknya kita segera turun untuk sarapan pagi," ajak Laras yang disetujui oleh William.
Mereka keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar menuju ruang makan. Di sana baru ada King yang sedang menikmati secangkir kopi dan cemilan ringan.
"Selamat pagi, Nona. Apa tidur Anda nyenyak?" sapa dan tanya King sembari membungkuk hormat.
__ADS_1
"Selamat pagi juga, Paman. Seperti biasa, aku selalu tidur dengan nyenyak. Oya, Ayah di mana?" tanya Laras saat tidak mendapati kehadiran seorang Daniel Arlington.
"Tuan sedang menerima telepon, Nona."
"Ooh." Laras hanya ber'oh' ria saja.
William membantu menarik belakang kursi makan untuk Laras, membiarkan wanita itu duduk dengan nyaman. Setelahnya, dia duduk di samping Laras. King memberikan isyarat kepada kepala pelayan untuk menghidangkan menu sarapan pagi mereka.
"Nona, para petinggi akan datang nanti siang. Apa ada yang perlu saya sampaikan untuk mereka?" tanya King.
"Tidak ada, Paman. Aku akan di sini bersama William. Biar aku dan William yang menjemput mereka di Bandara."
"Kalau begitu, biarkan saya menyiapkan pengawalan ketat untuk Nona dan Tuan Plowden."
"Terima kasih, Paman," ujar William kali ini.
Walaupun besok dia akan menjadi seorang suami dari pemimpin mafia, tetap saja William sedikit gugup menghadapi para jendral Laras. Mereka lah yang memberikan jiwa dan raga serta siap bertarung hingga tetes darah penghabisan bersama bosnya.
William jadi teringat peristiwa di pulau Poveglia, di mana dirinya yang terlihat lemah di hadapan Laras. Dirinya yang waktu itu sebagai sandera bisa melihat bagaimana sang istri bertarung. Tembakan yang akurat, gerakan tubuh yang menghindar dengan cepat, serta kepiawaian Laras menggunakan pisau mininya.
Jangan ditanya bagaimana kerja pisau kecil yang selalu dibawa Laras ke manapun. Tusukan yang begitu dalam dan tepat mengenai nadi musuh hingga keluar cairan merah yang merembes keluar. William benar-benar takjub akan sosok Laras saat di Medan pertempuran. Istrinya itu berubah menjadi singa yang siap menerkam siapapun pengganggunya.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Aite dan Daniel berjalan di sampingnya.
"Paman Aite sejak kapan datang?" tanya Laras.
Aite menguap tanpa sengaja. "Maaf. Saya baru sampai jam 04.00 dini hari, Bos."
"Setelah ini tidurlah. Besok kalian akan mendapatkan tugas berat dariku," perintah Daniel dan duduk di kursi yang sudah menjadi tempat Daniel sekian lama.
Setelah itu terhidang berbagai macam menu lengkap sarapan pagi mereka. Semuanya mulai menikmati sarapan pagi dengan khidmat. Tidak ada suara apapun selain dentingan antara alat makan dengan piring.
Tiba-tiba Laras mulai memelankan suapannya. Sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Perutnya sedikit bergejolak, mendorong sesuatu untuk segera dikeluarkan. Sedikit membanting lembut alat makannya, Laras berlari ke arah kamar mandi terdekat sambil menutup mulutnya.
"Hoeek! Hoeek!"
__ADS_1
Laras langsung mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel. Rasa mual yang teramat sangat mulai menyerangnya. Walaupun isi perutnya sudah kosong, tapi di dalam sana masih bergejolak. Bahkan wanita itu mulai merasakan rasa asam dan pahit dari cairan asam lambung yang naik.
Laras yang tak kunjung kembali, membuat William khawatir. Dia berpamitan pada Daniel, King dan Aite untuk menyusul Laras menuju kamar mandi. Sesampai di sana William terkejut saat Laras bersandar di kabinet wastafel bawah.
"Sayang, are you okay?" William mendekati Laras yang tampak lemas dan tak bertenaga.
"Gendong, Sayang. Kakiku seperti jeli dan perutku tihmmp—" Laras berbalik dan kembali memuntahkan isi perutnya.
William menjadikan satu rambut Laras di tangan kirinya agar tidak terkena muntahan. Sedangkan tangan kanannya memijat tengkuk sang istri. Setelah dirasa tidak ada lagi, Laras berbalik tapi kakinya seperti tidak mempunyai tulang. William segera bertindak dan menggendong sang istri.
William membawa Laras kembali ke kamar mereka. Sebelumnya dia meminta salah satu pelayan untuk membuatkan minuman jahe. Pria itu langsung menuju ke lantai dua, di mana kamar mereka berada.
"Nona ke mana?" tanya Aite saat Laras dan William tidak kembali.
"Tuan dan Nyonya Plowden kembali ke kamar mereka. Kondisi Nyonya tampaknya tidak baik-baik saja, Tuan." Kepala pelayan melapor setelah menerima laporan dari salah satu maid.
"Selesaikan sarapannya setelah itu kita ke kamar mereka. King, tolong panggilkan dokter keluargamu. Aku takut terjadi apa-apa pada putriku," perintah Daniel.
"Siap, Tuan."
Mereka kembali melanjutkan sarapannya. Sedangkan William membaringkan tubuh Laras di kasurnya dengan perlahan. Seorang maid masuk membawakan pesanan William. Setelahnya pelayan itu berpamitan untuk kembali mengerjakan yang lainnya.
"Sayang, bangun dulu dan minum ini." William mengelus pelan pipi sang istri.
"Apa itu?" tanya Laras menatap gelas yang ada di tangan William.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
@hana_ryuuga