OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 72 DUA PRIA MADNESS


__ADS_3

Lea baru saja memasuki kamar Meyrin. Terlihat nonanya sudah bersiap dalam mode pertempuran. Jaket kulit hitam serta celana kulit dengan warna senada. Rambut panjangnya diikat seperti ekor kuda. Dua senjata kesayangannya sudah berada di tempatnya masing-masing.


Meyrin tersenyum saat melihat kedatangan Lea. Lea mengatakan bahwa semua sudah siap, tinggal menunggu kehadiran Meyrin, sang pemimpin. Meyrin kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Mengambil lipstik sebagai sentuhan terakhir dalam make up nya malam ini.


"Ayo kita bersenang-senang!" ajak Meyrin begitu semangat.


****************


Rama terlihat panik saat tidak menemukan tuan mudanya di kamar lelaki itu. Saat memeriksa di ruang CCTV, tidak ada yang mencurigakan. Dia menghubungi Armand tapi tidak ada jawaban. Dicobanya berkali-kali, berharap teman seperguruannya itu menjawab.


Sayangnya, waktu itu Armand sedang mengikuti rapat dan ponselnya dalam mode senyap. Itulah kebiasaan tangan kanan pemimpin klan Naga Langit saat berada dalam sebuah rapat. Armand begitu fokus pada rapatnya dengan anggota mafia Arlington.


Dengan terpaksa, Rama menelepon Nikolai. Dering demi dering terdengar tapi tak kunjung tersambung juga, hingga terdengar suara operator. Rama kembali mencobanya lagi dan hasilnya sama.


Rama semakin panik, saat Armand dan Nikolai tidak dapat dihubunginya. Dia tidak mungkin menghubungi Meyrin lagi sedangkan dirinya tadi sudah merepotkan wanita itu.


Tekad yang bulat, akhirnya Rama memutuskan untuk kembali menelepon Nikolai. Jika panggilan kali ini masih tetap sama seperti tadi, tidak ada jawaban, dengan terpaksa dia akan menghubungi Meyrin. Meminta bantuan wanita itu untuk menemukan William.


Rama menekan tombol panggil di layar ponselnya saat menemukan nama Nikolai. Dering demi dering kembali terdengar membuat Rama tambah panik. Panik dengan keadaan William, serta panik untuk menghubungi Meyrin jika Nikolai tidak menjawabnya.


"Ada apa, Rama?" Nikolai akhirnya menjawab panggilan dari Rama membuat pria itu menghela napas panjangnya.


"Tuan tolong saya, Tuan William tidak ada di kamar. Saat saya selesai membereskan kamarnya, saya masuk ke kamar sendiri. Saat itu tidak menemukan Tuan Muda." Rama berkata terburu-buru hingga kata-katanya tidak tersusun dengan rapi.


Nikolai di seberang sana mengernyitkan keningnya, mencoba memahami bahasa Rama yang belepotan. Baru kali ini dia mendengar Rama berbicara tidak terstruktur seperti itu.


Nikolai dapat mendengar ada nada kecemasan dan kepanikan dari Rama. Itu artinya masalah kali ini tidaklah mudah. Setelah mencernanya, akhirnya satu kesimpulan yang didapat Nikolai. William menghilang.


"Baiklah, kamu tunggu di kamar."


Nikolai langsung mengakhiri panggilan itu. Dia kembali berjalan menuju tempat rapatnya dengan Meyrin. Pria dengan alis tebal itu mendekati Meyrin dan berbisik, meminta izin kembali lebih awal.


Meyrin menganggukkan kepalanya paham sebagai jawaban. Setelahnya Nikolai berjalan mendekati Armand, dia mengatakan kalau William menghilang dan menyuruh tangan kanannya tetap tenang.


Nikolai juga memberitahukan kalau Meyrin tidak mengetahui kabar ini. Itulah kenapa Armand sempat tersentak kaget dan menatap Meyrin sekilas. Setelahnya Armand hanya menganggukkan kepalanya tanda paham.


Nikolai akhirnya keluar dari ruang rapat bersama dengan Armand. Sesampainya di dalam Hummer putih, Nikolai mulai memerintahkan para orang-orangnya menyebar untuk mencari William.


Tanpa disuruh, dilihatnya Armand yang mulai sibuk mengutak-atik laptop digitalnya. Dia memeriksa semua CCTV jalanan yang ada di dekat hotel Danieli. Tidak ada yang mencurigakan.

__ADS_1


"Tunggu dulu!" tahan Nikolai saat indera penglihatannya menangkap siluet yang diyakininya adalah William.


Armand mengangkat kedua tangannya seperti orang yang bersalah ke atas. Dia menatap Nikolai, mencari sesuatu di dalam video yang ditampilkan pada laptop digitalnya yang ada di dalam mobil Hummer putih itu.


"Putar rekaman CCTV pintu utama hotel!" perintah Nikolai.


Tidak ada yang mencurigakan, tapi Nikolai seperti melihat siluet William tadi. Apa matanya sudah rabun hingga tidak bisa membedakan orang lain lagi?


"Kita ke taman belakang hotel sebentar," perintah Nikolai lembut pada anak buahnya yang sedang menyetir.


"Baik, Tuan."


Butuh waktu 30 menit perjalanan dari mansion Aite menuju hotel Danieli. Selama dalam perjalanan, tidak ada sepatah kata pun atau perintah yang terlontar dari Nikolai.


Mobil Hummer putih yang ditumpangi Nikolai baru saja memasuki basement hotel. Nikolai langsung keluar dari mobil dan sedikit berlari menuju taman belakang hotel.


"William!" teriak Nikolai saat melihat keponakannya itu duduk bersandar pada kursi panjang yang terbuat dari besi.


Benar saja, Nikolai tidak salah mengenali William. Pria yang selisih umurnya belasan tahun dengan William itu tidak rabun. Bisa jadi Rama tidak menyadarinya karena William sudah keluar dari lift dan berada di taman belakang hotel.


Di taman itu memang tidak ada CCTV yang terpasang untuk memantau. Hal itu dikarenakan kurangnya pengunjung yang ingin menikmati keindahan taman belakang.


Nikolai berjalan mendekati William. Mata pria itu tetap tertutup, mengabaikan panggilan dari pemimpin mafia klan Naga Langit tersebut.


"Kamu tuli, yah?" sindir Nikolai yang duduk di samping William.


"Aku ingin menenangkan diri, Paman." William menjawabnya tanpa menatap Nikolai.


"Apa ada masalah?" tanya Nikolai memancing anak rekan bisnisnya itu yang sudah dianggapnya sebagai keponakan sendiri.


"Aku merindukan Laras. Setiap aku melihat bintang di langit, aku selalu teringat akan Laras. Aku membutuhkannya dalam menghadapi dunia kejam ini. Tapi, aku sudah menceraikannya dan memilih bersama dengan wanita lain yang mampu membuatku jatuh cinta lagi." William mulai mencurahkan isi hati yang selama ini dia tahan.


"Kamu tidak boleh menyesalinya, Will. Jika kamu terus seperti ini, Meyrin juga akan terluka melihatmu masih teringat dengan mantan istri pertamamu."


"Aku masih berharap kalau Meyrin adalah Laras biar aku tidak merasakan perasaan bersalah ini. Aku merasa telah mengkhianati Laras. Aku tidak bisa melupakan wajah polos dan kelembutan hatinya, Paman. Ada tempat tersendiri untuk seorang Larasati Indria Putri di dalam hatiku. Bahkan … bahkan namanya saja masih teringat jelas dalam benakku. Tidak, bukan hanya nama, semua tentang Laras aku masih mengingatnya dengan jelas."


"...."


Nikolai tidak menjawab dan memberikan nasehat. Di satu sisi dia sudah berjanji akan merahasiakan identitas Meyrin yang sebenarnya. Di sisi lain, ada William yang rapuh dengan keputusannya. Nikolai tidak bisa berpihak pada siapapun, karena sejatinya mereka sedang saling jatuh cinta.

__ADS_1


"Paman, apa aku harus kembali melakukan terapi lagi?" tanya William sembari menatap Nikolai di sampingnya.


"Tentu saja. Bukannya kamu sudah mulai ada peningkatan dengan menahan amarahmu?" tanya Nikolai tak paham.


"Itu dulu sebelum bertemu dengan Liu Meyrin. Entahlah, setelah bertemu dengan dia, paranoidku semakin menjadi. Aku tidak ingin dia meninggalkanku sama seperti Laras. Aku ingin sembuh dari paranoid ini, Paman." William kembali menatap langit sembari tersenyum kecut.


"Hiduplah bahagia dengan Liu Meyrin. Paman cuma bisa bilang, terima masa lalu Meyrin seperti dia menerima kekuranganmu ini." Nikolai memberikan sarannya.


"Apa aku salah mencintai dua wanita?" tanya William lagi.


"Tidak ada yang salah dengan cinta. Perlakukan cinta itu dengan suci dan tulus, Will. Pamanmu ini lelaki brengsek, tapi lihatlah ada bibi Ariana yang menerima semua kelakuan kurang ajar Paman di masa lalu."


William menatap Nikolai dan menyunggingkan senyum pahamnya. Setelah itu mereka menatap langit berbintang bersama-sama. Pembahasan kali ini sungguh berat bagi dua orang pria yang mempunyai madness masing-masing. Walaupun begitu, ada seorang wanita di belakang mereka yang mampu menerima kekurangan keduanya.


Armand menghubungi Rama kalau William sudah ditemukan. Saat itu juga, Rama menuju taman belakang hotel. Terlihat William dan Nikolai yang sedang duduk berdampingan menatap langit malam.


"Mereka kenapa?" tanya Rama dengan napasnya yang masih tersengal-sengal.


"Sepertinya terlibat pembahasan yang cukup serius jika dilihat dari ekspresi wajah mereka berdua," jawab Armand menatap kedua majikannya.


"Kamu ke mana saja?"


Armand mengalihkan pandangannya pada Rama, teman seperguruannya. "Aku tadi sedang rapat dengan Nona Meyrin bersama Tuan Nikolai. Maaf, tidak bisa menerima panggilanmu."


"Tidak masalah, selama kedua majikan kita aman."


Mereka dapat melihat Willian dan Nikolai mulai beranjak dari kursinya. Langkah kaki keduanya begitu mantap menuju Rama dan Armand, orang yang paling dipercayai oleh William dan Nikolai.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2