OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 33 AKU BUTUH ... KEN


__ADS_3

William duduk di kursi samping ranjang sambil menggenggam tangan Meyrin. Ditatapnya wajah Meyrin yang begitu damai dalam buaian mimpi. Bibir dan wajah wanita itu terlihat pucat tapi tidak sepucat saat berada di dalam mobil ambulance.


Tiba-tiba Rama dan Lea masuk ke kamar Meyrin. William menatap Lea yang sekarang bajunya kembali rapi.


"Sepertinya wanita itu menggantinya lebih dulu," batin William.


Rama mendekat dan menyerahkan paper bag kepada William, "Ganti pakaian dulu, Tuan."


William tidak menjawab, tapi dirinya beranjak dari kursi menuju kamar mandi yang menjadi satu dengan kamar Meyrin. Sepeninggal William, Lea segera menghampiri nona mudanya. Raut wajah yang tadi tegas dan biasa saja, sekarang langsung luntur seketika.


Dilihatnya wajah Meyrin yang pucat membuat garis bibir Lea melengkung ke bawah. Kesedihan dan khawatir terlihat jelas di wajah sang asisten. Sedangkan Rama hanya berdiri di samping pintu masuk dengan wajah datarnya.


Meyrin perlahan membuka matanya dan tersenyum saat melihat Lea ada di sampingnya. Saat manik hitamnya menatap sekeliling, Meyrin langsung membelalakkan kedua matanya.


"Lea, bawa aku pulang dari sini!" pinta Meyrin.


"Tidak boleh!" larang William yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tidak! Aku harus keluar dari sini. Lea, tolong bawa aku pulang! Please," mohon Meyrin, keringat dingin mulai membasahi keningnya.


"Baik, Nona. Saya akan mengurus kepulangan Anda hari ini."


"Siapa yang membolehkanmu!" William mencegah Lea dengan mencekal tangan asisten Meyrin.


Lea langsung menghempaskan cekalan tangan William dengan mudahnya. Dia tatap Meyrin dan William bergantian, memikirkan sesuatu. Sehingga sebuah keputusan berhasil dia dapatkan.


"Jangan sentuh saya, Tuan! Tolong perhatikan dengan siapa Anda berhadapan. Pemimpin saya meminta untuk pulang dan sebagai bawahannya, permintaan itu harus saya kabulkan! Lantas, atas dasar hak apa Anda melarang saya menuruti permintaan dari Nona Meyrin?" tanya Lea dengan tatapan tajamnya.


Seperti ada pisau yang tak kasat mata menusuk tepat di jantung William. Semua ucapan Lea benar adanya. Atas dasar apa seorang William Anderson Plowden melarang Meyrin pulang. Bahkan dia tidak punya hak apapun terhadap wanita itu, selain kesalahan one night stand.


Melihat William terdiam dan kondisi Meyrin yang semakin memburuk, Lea segera keluar dari kamar tersebut. Wanita itu mengurus semua kepulangan nona mudanya. Dia akan meminta untuk rawat jalan.


Tak berapa lama, Lea datang bersama seorang dokter dan dua orang perawat. Mereka memeriksa kondisi Meyrin, saling pandang dan menganggukkan kepala.


"Setelah saya periksa, keadaan pasca operasi Nyonya Plowden semuanya normal. Akan tetapi, untuk menghindari efek samping dari obat bius, saya sarankan untuk menunggu 3-5 jam lagi." Dokter menjelaskan sekaligus memberi saran.


"Bagaimana, Nona?" tanya Lea.


"Tunggu saja, tapi biarkan aku mengkonsumsi obat itu," pinta Meyrin lebih tepatnya ke Lea.


"Obat apa yang diminta oleh Nyonya, Tuan?" tanya sang dokter.

__ADS_1


"Ini dokter," Lea menyerahkan sebungkus obat yang memang selalu dia bawa kemanapun.


Kerutan di kening sang dokter kentara saat mengetahui obat apa yang dimaksud Meyrin. Dokter itu menatap Lea dan yang ditatap membenarkan pikiran sang dokter dengan menganggukkan kepalanya.


"Saya sarankan untuk tidak mengkonsumsi obat ini pasca operasi. Kalian bisa memakai cara lain, misalnya secara alami. Kalau begitu kami permisi dulu." Dokter itu menyerahkan obatnya kembali ke Lea.


Dokter dan kedua perawat itu keluar dari ruangan Meyrin. Di atas tempat tidur terlihat Meyrin yang mulai gelisah. William menatap Rama dan mereka berbicara melalui tatapan matanya.


Rama langsung keluar dari ruangan Meyrin dan itu membuat Lea curiga. Dia ingin mengikutinya, tetapi ia khawatir dengan keadaan nona mudanya.


"Jika ada urusan, serahkan Meyrin padaku. Aku akan mencoba membuat dia tenang," ujar William.


"Terima kasih, Tuan."


****************


Lea keluar dari kamar dan mencari sosok Rama. Benar dugaannya, Rama berbicara dengan dokter yang tadi memeriksa Meyrin.


"Kondisi Nyonya Plowden baik-baik saja, hanya sa—"


"Nona Meyrin trauma dengan rumah sakit. Kejadian dua tahun yang lalu membuatnya menderita trauma itu. Apa itu yang ingin ditanyakan oleh Anda?" timpal Lea menatap Rama begitu intens.


Rama menarik tangan Lea dan membawanya ke ujung lorong. Lelaki itu celingak-celinguk memastikan tidak ada orang yang menguping. Setelah dirasa aman, dia menatap Lea, menilai.


"Apa yang terjadi pada Nyonya Laras?" tanya Rama dengan ekspresi datar.


"Anda tahu?"


"Tentu saja. Saya punya informan sendiri yang bisa menyelidikinya. Nyonya Laras menyuruh saya untuk tetap tutup mulut."


"Apa And—"


"Tidak. Bagaimanapun Nyonya Laras tetap atasan saya yang harus dipatuhi perintahnya juga."


"Saya tidak bisa memberitahu secara detail. Tapi, garis besarnya peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu sebelum saya menjadi asisten pribadi beliau. Peristiwa itu membuat Nona Meyrin harus kehilangan Nyonya Besar Bella Arlington. Nyonya Besar meninggal di rumah sakit setelah sebelumnya menyelamatkan Nona Meyrin. Itulah kenapa Nona Meyrin trauma dengan rumah sakit," cerita Lea.


"Apa Nyonya sering mengkonsumsi obat itu?"


"Awalnya iya. Tapi, setelah Tuan Ken kembali dari tournya, obat itu terlupakan begitu saja oleh Nona."


"Ken Lian?"

__ADS_1


"Iya, Tuan Ken Lian Arlington, sepupu dari Nona Liu Meyrin atau biasa kalian kenal sebagai Nyonya Laras," jelas Lea.


"Kenapa Tuan Ken lagi?" gumam Rama dengan nada lirih.


"Ada apa dengan Tuan Ken?" tanya Lea pura-pura tidak mengerti dengan gumaman Rama.


"Tidak apa-apa. Lupakan saja. Kalau begitu, kita segera kembali ke kamar. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan Nyonya," ajak Rama.


Lea hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka kembali ke kamar tanpa ada yang berbicara lagi.


Sampai di kamar, mereka terkejut saat melihat William tidak bisa menenangkan Meyrin. Terlihat Meyrin sedang terengah-engah, peluh sudah membanjiri baju rumah sakitnya.


"Lea!" panggil Meyrin saat melihat asisten pribadinya.


Lea langsung mendekat, mengambil handuk untuk mengelap keringat yang bercucuran di wajah nona mudanya. Napas sang nona masih satu-satu dengan kerutan di keningnya.


"Nona, apaka—"


"Aku butuh … Ken," lirih Meyrin.


Bagai tersambar petir, William tak percaya bahwa kehadirannya tidak berarti apapun buat Meyrin. Meyrin lebih memilih membutuhkan Ken daripada dirinya. Padahal seorang William tidak mempunyai hak atas Meyrin. Beda dengan Ken yang merupakan tunangan Meyrin bahkan sudah mempunyai anak.


Mendengar Meyrin menyebut nama Ken, membuat dadanya terasa sakit. William menjauh, memberikan ruang untuk Lea. Dilihatnya sang asisten mengeluarkan ponsel dan menyerahkan pada Meyrin.


"Hi Sweetie," sapa seseorang di seberang sana sayangnya Meyrin tidak menjawabnya.


"Lea, ada apa dengan Meyrin?" tanya Ken mulai khawatir.


Mendengar suara Ken yang begitu mengkhawatirkan Meyrin, dada William berdesir. Ada rasa kalah sebelum berperang. Entah kenapa dirinya begitu menginginkan seorang Meyrin. Padahal saat mengejar Laras, dia tidak segila ini.


Ada apa dengan William?


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2