
Meyrin baru bangun setelah tertidur akibat pengaruh obat dan penawar racun yang disuntikkan ke tubuhnya. Lea membantu nona mudanya untuk duduk bersandar di ranjang. Wajah Meyrin tampak lebih segar daripada saat pertama kali dirinya sadar setelah operasi.
"Tolong panggilan mereka bertiga. Aku sudah lebih baik dari yang tadi." Meyrin menatap Lea dengan keyakinan penuh dan raut wajah yang baik-baik saja.
Lea menatap Meyrin dengan penuh selidik. Tatapan Lea begitu tajam, seperti memindai sesuatu yang harus butuh ketelitian khusus. Walaupun Lea adalah bawahan Meyrin, tapi jika sang asisten itu menjelma menjadi kakak sekaligus seorang ibu, Meyrin lah yang tunduk. Tatapan Lea begitu tajam menilai kondisi nona mudanya itu.
Lea menghela napas panjangnya dan berkata, "Baiklah, Anda menang."
Setelah mengatakan itu, Lea keluar dari ruangan sang Nona. Di depan pintu ada Nikolai, Ken dan Armand yang sedang sibuk dengan sesuatu di ponsel Armand. Lea meminta ketiganya untuk masuk ke dalam ruangan.
Di sana, di dalam ruangan, Meyrin menyambut kehadiran Ken, Nikolai dan Armand dengan senyum manis yang terkesan lemah. Efek dari racunnya masih ada membuat wanita itu tampak lemah dan tak berdaya.
"Sudah lebih baik, Mey?" tanya Nikolai setelah tiba lebih dulu di samping sang pemimpin mafia Arlington.
"Lebih baik dari yang tadi, hanya saja masih terasa lemah." Meyrin menjawab dengan jujur apa yang sekarang dirasakannya.
"Mey, William diculik oleh Rizzo." Ken langsung masuk ke topik pembicaraan yang berat.
"Aku tahu," jawab Meyrin singkat dan jelas.
"Apa kita akan menyerang?" tanya Ken langsung.
"Tentu saja, tapi setelah lima hari ke depan."
"Tapi William bis—" Nikolai tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Meyrin langsung menimpali perkataan sang pemimpin klan Naga Langit. "Masih ingat dengan kembang api roket yang ada lima buah?" tanya Meyrin menatap semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Tentu saja dan pulau itu adalah tempat Rizzo menunggu kita," jawab Ken.
"Lima itu artinya dalam lima hari kita akan bertemu. Lima hari dihitung saat kembang api itu diluncurkan. Sekarang waktu yang tersisa tinggal dua hari lagi, sedangkan aku harus keluar dari rumah sakit ini setelah lima hari ke depan." Meyrin menjelaskan fakta dari misteri kembang api itu.
"Lalu?"
__ADS_1
"Tentu saja aku akan kabur Ken. Suamiku sedang disandera oleh Rizzo. Aku tidak mau kejadian dua tahun yang lalu terulang lagi. Cukup Rizzo membuatku menderita saat itu tapi tidak dengan sekarang. Aku akan membunuhnya jika dia—"
Ponsel Meyrin berdering dan hanya sebentar. Sebuah panggilan dengan nomor baru dan Meyrin tahu itu adalah nomor Rizzo. Walaupun nomor lelaki itu tidak ia simpan, tapi wanita itu sangat hafal dengan nomor Rizzo. Saking membekasnya luka yang ditinggalkan Rizzo membuat Meyrin mengingat semua tentang lelaki itu untuk bahan balas dendamnya.
Meyrin kembali menghubungi nomor itu. Pada dering pertama hingga keempat tidak ada jawaban, barulah di dering kelima, panggilan itu terjawab.
"Halo, Sayang. Apa kabar?" sapa Rizzo di seberang sana.
"Apa yang kamu lakukan pada William, brengsek!" teriak Meyrin yang amarahnya langsung memuncak. Nikolai yang berada di dekatnya mencoba menenangkan Meyrin.
"Aku tidak pernah main-main dengan ancamanku, Sayang. Kemarilah! Dan lihat sendiri bagaimana keadaan kekasihmu ini." Setelah mengatakan apa yang perlu dikatakan, Rizzo langsung mengakhiri panggilannya.
"Brengsek!" umpat Meyrin yang langsung membanting ponselnya.
Saking kuatnya bantingan itu, membuat ponsel Meyrin pecah parah dan tidak bisa digunakan lagi. Napas Meyrin tersengal-sengal karena amarah yang tak tersalurkan. Wajahnya sedikit meringis karena merasakan luka setelah operasi berdenyut.
"Tenanglah, Mey. Semua akan baik-baik. Klan Naga Langit akan membantumu menghadapi Rizzo," Nikolai mencoba menenangkan Meyrin.
Selama Meyrin beristirahat, Ken menceritakan peristiwa dua tahun lalu yang menimpa seorang Laras. Ken juga mengatakan dampak dari semua ini dan efeknya kepada Laras. Salah satu efek yang ditimbulkan oleh Rizzo adalah temperamental Meyrin yang tidak baik-baik saja.
"Aku sama Armand sudah menyelidikinya. Pulau itu bernama Poveglia dan terkenal angker. Di pulau itu hanya ada hutan dan sebuah rumah sakit yang menjadi kuburan massal pada waktu dulu. Aku sedikit mendapat denah dari rumah sakit itu." Ken menjelaskan perkembangan dia mencari lokasi kemungkinan William berada.
"Kumpulkan orang terpilih dari masing-masing para petinggi. Lalu, suruh Aite mempersiapkan semua anggotanya ikut turun langsung." Meyrin mulai memberikan perintahnya dan sepertinya wanita itu akan mempersiapkan sebuah perang.
"Mey, Aite cukup bawa orang-orang terpilihnya juga. Klan Naga Langit akan menjadi pemeran pendukungnya. Itu sudah lebih dari cukup. Bagaimana?" tanya Nikolai.
Meyrin tersenyum saat mendengar tawaran yang menarik itu. "Tentu saja, Paman. Ken, lakukan seperti yang Paman Nikolai katakan!" perintah Meyrin.
Meyrin sudah membayangkan berapa banyak korban jatuh dari pihak musuh. Bau darah kemenangan mulai menyeruak dari indera penciuman Meyrin. Begitu harum dan menyegarkan pikiran. Meyrin menyukainya dan sangat menantikan hal itu terjadi. Apalagi jika Rizzo mati dengan kedua tangannya.
"Lea, urus semua masalah di rumah sakit. Lusa aku harus keluar, kalau tidak aku akan kabur."
Lea hanya bisa menghela napas panjangnya dan menyanggupi kemauan nona mudanya. "Baik, Nona."
__ADS_1
****************
Bruk!
Terdengar bunyi orang jatuh ke tanah. Seseorang segera masuk ke ruangan guna memeriksa bahwa tawanan mereka masih di tempat. Terlihat William yang jatuh tersungkur ke tanah akibat usahanya ingin melepaskan tali ikat.
Berkali-kali pria itu mengumpat karena usahanya selalu berakhir sia-sia. Dia harus bebas sebelum Meyrin datang. Dia tidak boleh membahayakan nyawa sahabatnya, jika perlu dia harus melarang wanita itu untuk datang.
"Sialan! Lepaskan aku!" teriak William tapi tidak ada respon dari penjaga di luar maupun di dalam.
"Uuh~" ringis William saat merasakan kepalanya terasa sakit.
Bau anyir mulai tercium dan William sangat tahu betul bau apa itu. William menatap sebuah batu yang berada di dekatnya, benar saja di atas permukaan batu itu ada noda darah. Sepertinya kepala William tadi terbentur ke batu hingga terluka.
"BRENGSEK! LEPASKAN AKU!" teriak William sebelum salah satu anak buah Rizzo memukul tengkuk William hingga jatuh pingsan.
"Berto, apa ada pergerakan dari Meyrin?" tanya Rizzo pada tangan kanannya.
"Maaf saya tidak bisa mengaksesnya, Tuan," sesal Berto.
"Itu sudah cukup. Mereka akan bergerak. Persiapkan pertempuran dengan mereka!" perintah Rizzo begitu lantang kepada seluruh anak buahnya.
Kali ini Rizzo sudah bertekad akan menyelesaikan masalah di masa lalu. Dia akan mendapatkan apa yang dirinya inginkan. Bagaimanapun caranya, Meyrin harus menjadi miliknya. Meskipun harus membunuh William yang tidak tahu apapun tentang hubungan dirinya dan Meyrin.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
@hana_ryuuga