
"Boleh saya bergabung, Nona?" tanya seseorang yang berada di belakang Laras.
Laras yang baru saja menerima pesan dari Lea menghela napas panjangnya. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju balkon dan mulai menikmati pemandangan halaman mansion. Tiba-tiba seseorang menyapanya dari belakang.
"Tentu saja," jawab Laras acuh tak acuh.
"Apa aku tidak menarik?" tanya orang itu yang ternyata seorang pria.
"Hanya tidak ingin berbicara."
"Lalu kenapa kamu menjawabnya?"
"Kalau begitu jangan ajak aku bicara," ketus Laras.
Terjadilah acara debat antara Laras dan pria yang tidak dikenalnya. Bahkan, mereka saling adu mulut tanpa menatap lawan bicaranya. Laras yang tidak ingin mengalah, begitu juga dengan pria itu.
Hingga suara deringan ponsel menghentikan adu mulut di antara keduanya. Ternyata suara itu berasal dari ponsel pria di sebelah Laras yang menjadi lawan adu mulutnya.
"Hallo … di balkon … baiklah, aku akan segera ke sana … iya ini dalam perjalanan."
Setelah itu panggilan berakhir. "Aku pergi dulu," pamit pria itu kepada Laras.
Laras tidak menjawabnya. Dia malah memalingkan wajahnya sebal karena emosinya benar-benar terkuras habis karena adu mulut dengan seorang pria tak dikenal.
Lea datang mendekati Laras dan mengatakan bahwa Tuan Giovanni akan memperkenalkan ahli warisnya. Laras menganggukkan kepalanya mengerti. Dia lalu berjalan mendekati panggung, bergabung dengan para tamu undangan.
Laras terkejut saat mendengar suara ahli waris dari keluarga Giovanni itu. Wanita itu berjalan sedikit lebih cepat dan menerobos barisan terdepan. Dia membulatkan kedua matanya sempurna.
Rizzo yang menyadari sosok Laras tersenyum begitu manisnya. Sedangkan Laras menatap tidak percaya pria yang menjadi adu mulutnya adalah ahli waris dari Giovanni.
'Bodohnya. Aku sudah memaki dia sebelum menjalin kerja sama. Apa yang harus aku katakan pada Ayah jika kerja sama antara Giovanni dan Arlington gagal,' rutuk Laras dalam hatinya.
Rizzo tersenyum saat melihat Laras yang tampak sedang membatin itu. 'Dia sungguh manis dan menggemaskan. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama,' gumam Rizzo tak henti-hentinya menatap Laras.
Kali ini, Rizzo diminta berdansa untuk pertama kalinya. Dia dibebaskan menggandeng tamu wanita manapun. Sayangnya, tatapan Rizzo terus mengarah pada Laras yang saat ini sedang berbicara dengan Daddy-nya. Tampak wanita itu akan pergi meninggalkan mansion Giovanni.
"Tunggu!" cegah Rizzo dengan menahan tangan Laras.
"Eh? Ada apa, Tuan?" tanya Laras bingung.
__ADS_1
Pasalnya sebuah lampu sorot mengarah padanya dan Rizzo. Hal ini membuat semua tamu undangan menatap keduanya. Lea dan Aite mundur beberapa langkah ke belakang, memberi ruang pada Nona mudanya itu.
Rizzo berlutut dengan satu kaki dan bertanya, "Maukah Nona menemani saya berdansa?"
Laras memberikan kode pada Rizzo untuk tidak melakukan hal bodoh. Sayangnya Rizzo mengabaikan kode dari Laras dan itu membuat ahli waris Arlington itu jengkel. Mau tidak mau akhirnya Laras menganggukkan kepalanya.
Rizzo tersenyum dan membawa Laras ke tengah ruangan, di mana lantai dansa sudah disiapkan. Rizzo meletakkan kedua tangannya melingkar di pinggang ramping Laras. Sedangkan Laras sendiri mengalungkan kedua tangannya di leher sang pemimpin keluarga Giovanni.
Suara tepuk tangan terdengar riuh menyambut dansa pertama pewaris keluarga Giovanni. Senyum tak pernah lepas dari bibir Rizzo saat melihat wajah Laras yang tampak kesal tapi ditahannya.
"Apa kamu marah?" tanya Rizzo dengan nada rendahnya.
"Jangan bertanya jika sudah tahu jawabannya," sungut Laras.
Rizzo membawa Laras untuk berputar dalam dansanya lalu kembali memeluknya dan berdansa.
"Tenang saja, kerja sama kita akan tetap berlanjut. Walaupun kita tidak akur, tapi aku ingin selalu bertemu denganmu, Laras," bisik Rizzo.
"Sebaiknya Anda lupakan hal itu karena saya sudah menikah." Laras menjadikan pernikahannya sebagai tameng.
"Apa kamu lupa kalau sudah mengirim surat perceraian ke William Anderson Plowden, mantan suamimu."
"...."
"Biarkan saya pergi, Tuan," ujar Laras akhirnya setelah selesai berdansa.
"Tunggu, Laras!"
Sayangnya, Laras tidak memperdulikan Rizzo. Dia meninggalkan mansion keluarga Giovanni setelah berpamitan pada Tuan dan Nyonya Giovanni. Aite dan Lea mengikuti Nona mudanya itu dari belakang.
"Non—"
"Diamlah Lea!" timpal Laras.
Laras tahu apa yang akan dikatakan Lea. Dia tidak bodoh jika tidak menyadarinya. Benar saja, di belakang mobil mereka terlihat Rizzo yang sedang mengejar dengan mobilnya.
"Bawa ke bukit," perintah Laras akhirnya.
Saat tiba di bukit, "Kalian tunggu di sini," perintah Laras.
"Laras!" teriak Rizzo yang baru saja keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Ikutlah denganku," perintah Laras dengan mode tegasnya.
Laras dan Rizzo berjalan ke arah bukit. Aite yang khawatir menyuruh pengawal senyapnya untuk bersiaga. Laras duduk di atas rerumputan hijau sambil memandang pemandangan malam kota LA yang tidak pernah tidur.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Rizzo.
"Aku suka suasananya. Di sini tenang dan damai, membuatku bisa berpikir dengan jernih," jawab Laras tidak mengalihkan pandangannya dari pemandangan malam kota LA.
"Apa Ken yang membawamu ke sini?" tanya Rizzo.
"Sejauh mana kamu mengetahui tentangku?" tanya Laras yang akhirnya menatap Rizzo.
"Semuanya, termasuk kehidupanmu di Indonesia. Ibumu serta kelima sahabatmu itu termasuk William, suamimu." Rizzo menjawab dengan santainya dan menatap Laras.
Kedua bola mata hitam mereka saling bersirobok. Tatapan keduanya saling berbicara dan tentu saja mengancam. Aura kepemimpinan di antara keduanya saling beradu, menguji siapa yang lebih kuat.
"Jika begitu, mari kita bekerja sama dengan baik tanpa melibatkan perasaan. Rasaku sudah mati untuk William, Tuan Muda Giovanni," pinta Laras.
"Kalau begitu, biarkan aku membukanya. Beri aku waktu satu ming—"
"William saja membuka hatiku harus menunggu lima tahun lebih. Bagaimana saya mempunyai kehormatan dengan orang seperti Anda. Lebih baik kita berteman saja."
Waktu berlalu begitu cepat, Rizzo dan Laras mulai berteman dengan baik. Beberapa kali keduanya terlibat perjalanan bisnis bersama dan bahkan menjadi pasangan dalam pertemuan. Berita mulai menyebar dan berasumsi bahwa Rizzo dan Laras menjalin sebuah hubungan.
Ken yang mendengar kabar itu segera menyelesaikan tour-nya. Ada sesuatu yang harus Laras ketahui tentang Rizzo Giovanni. Dia tidak mau Laras menyesal untuk kedua kalinya.
Laras yang saat ini berada di ruang rapat terkejut saat tiba-tiba ada notifikasi panggilan masuk di layar laptopnya. Ada nama Rizzo Giovanni di sana. Laras langsung membubarkan rapat begitu saja.
"Tck, kenapa pria ini tidak tahu caranya mundur sih," gerutu Laras antara kesal dan malu.
"Nona," Lea menyerahkan ponselnya yang terus berdering.
"Ada apa, Rizzo?" tanya Laras.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga