OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 58 ADA APA DENGAN KEN?


__ADS_3

Meyrin menatap tampilan wajahnya di cermin. Diambilnya lipstik warna merah senada dengan dressnya sebagai sentuhan terakhir dari make up nya malam ini. Sebuah anting panjang menjuntai menjadi aksesoris pelengkap.


Di mansion Aite, Meyrin baru saja keluar dari kamarnya. Dress merah panjang menjuntai begitu pas di tubuhnya yang ramping. Dress itu mencetak dengan jelas setiap lekukan tubuh Meyrin. Rambut yang dibuat gelombang membuat tulang selangka wanita itu terekspos.


Lea tersenyum bangga melihat penampilan Meyrin. Nonanya itu selalu terlihat cantik dan memukau dalam balutan busana apapun. Kecantikan Meyrin tidak ada duanya. Bahkan sang asisten membayangkan tubuh Meyrin yang polos tanpa sehelai benang pun.


Hal itu sudah pasti membuat lelaki manapun tidak tahan untuk menyentuh tubuh sang Nona. Membayangkan itu, Lea teringat dengan William, suami sah dari sang Bos. Pria yang telah melewatkan malam panas dengan nonanya.


"Lea, ada apa?" tanya Meyrin menatap sang asisten yang tersenyum dengan wajah meronanya.


"Tidak ada, Nona," dusta Lea, tapi Meyrin tetap menatap sang asisten penuh curiga.


Di bawah tatapan tajam dan penuh kecurigaan seorang Liu Meyrin, nyali Lea langsung menciut. Walaupun wanita itu tidak pernah takut akan kematian, tapi jika musuhnya Liu Meyrin beda cerita. Bahkan dengan tatapan saja sudah membuat Lea tak berkutik.


Tiba-tiba ponsel Meyrin bergetar. Ada nama Alex di layar ponselnya. Perasaan Meyrin langsung terarah kepada Ken. Soalnya Alex jarang sekali menghubungi dirinya jika itu tidak terlalu penting.


"Ada apa, Alex?" tanya Meyrin mencoba tetap tenang.


"Nona, baru saja saya mendapat telepon dari Nona Emily. Nona Emily meminta saya untuk ke London karena dia ada masalah dengan model lainnya. Saya ingin membantu Nona Emily, hanya saja …," Alex menggantungkan kalimatnya, dia takut jika itu merupakan hal yang lancang.


"Hanya saja apa?"


"Hanya saja sekarang saya bersama Tuan Ken yang sedang minum. Saya takut—"


"Dia ada di klub sendiri, 'kan? Aku akan menjemput Ken. Kamu pergilah ke London dan tolong urus masalah Emily untukku." Meyrin memberikan keputusannya.


"Baik, Nona."


Panggilan berakhir setelah Meyrin mendengar kesanggupan dari seorang Alex. Lea menatap Meyrin penuh tanda tanya.


"Emily membuat masalah lagi dan Alex harus mengurusnya. Ayo sekarang jemput Ken sebelum ia tanam benih lagi." Meyrin menjelaskannya tanpa diminta.


"Baik, Nona."


Jam 7.15 malam waktu Venesia, Meyrin baru saja tiba di klub milik Ken. Ken memang suka menanam sahamnya pada klub-klub malam yang menurutnya berpotensi menghasilkan ratusan dolar dalam sehari.

__ADS_1


Meyrin memakai long coatnya dan keluar dari dalam mobil. Para penjaga yang mengenali siapa Liu Meyrin langsung membiarkannya masuk. Biasanya bagi pengunjung yang lain akan diminta kartu keanggotaan.


Suara dentuman musik yang memekakan telinga langsung menyambut Meyrin untuk pertama kalinya. Semakin wanita itu masuk ke dalam, suara musik semakin keras terdengar. Meyrin sendiri tidak bisa mendengar panggilan Lea.


Lea menepuk pundak Meyrin, lalu tangannya menunjuk ke sebuah ruangan. Ruangan tempat si pemilik klub menghabiskan malamnya jika berkunjung ke Venesia, Italia. Benar saja, saat Meyrin membuka pintu ruangan, Ken sedang duduk santai di sofa.


Meyrin melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Dia melihat ada sekitar lima orang wanita yang berpakaian seksi serta kurang bahan. Mereka berlima sedang asyik menjamah tubuh Ken tanpa peduli dengan kehadiran seorang Liu Meyrin.


"KEN LIAN!" teriak Meyrin sekeras mungkin membuat kelima wanita itu menghentikan aksinya.


Ken tersenyum saat melihat Meyrin. Meyrin yakin pria itu sudah mabuk, terlihat saat pria itu berdiri sudah sempoyongan. Sedangkan kelima wanita tadi, langsung keluar saat melihat bahwa Liu Meyrin lah yang datang.


Di dalam klub ini tidak ada yang tidak mengenal seorang Liu Meyrin. Semuanya tahu jika Liu Meyrin adalah Big Bos dari seorang Ken Lian. Jadi, jangan mencari masalah dengan Big Bos jika ingin hidup kita tenang.


"Yo! Hik … Mey-hik … hik … Meyrin," sapa Ken yang berjalan sempoyongan ditambah dengan cegukan khas orang mabuk berat.


Meyrin memberi kode pada Lea dan dua bodyguardnya untuk membawa Ken ke mobil. Saat keluar dari ruangan, Meyrin menghentikan langkahnya. Seorang yang diketahui Meyrin adalah Manager klub tersebut menunggunya di depan pintu.


"Selamat malam, Nona," sapa sang Manager.


"Ada apa?"


"Ok aku bawa. Good luck Manager!" Meyrin menepuk pundak sang Manager untuk memberi semangat.


Pukul 7.30 Meyrin sudah berada di dalam mobil. Dia menghubungi William untuk memberitahu atas keterlambatannya. Wanita itu harus berbohong tentang alasannya karena dia tidak ingin terjadi hal yang tak diinginkannya.


Setelah panggilan berakhir, Meyrin menyuruh Lea untuk kembali ke mansion. Dia ingin Ken beristirahat di mansion Paman Aite.


Saat mobil Meyrin memasuki halaman mansion, pengawal yang bertugas segera membukakan pintu mobil bosnya. Meyrin tidak keluar, dia hanya menyuruh pengawal yang bertugas itu untuk membantu Ken kembali ke kamarnya.


Setelah memastikan Ken masuk ke mansion, mobil limosin yang ditumpangi Meyrin kembali melaju dengan kecepatan konstan. Butuh waktu 15 menit perjalanan untuk tiba di restoran yang sudah dipesan oleh William.


Sesampainya di sana, Meyrin keluar dari mobil dengan dikelilingi oleh para pengawal yang berpakaian serba hitam. Meyrin menyebutkan nama William kepada pelayan restoran.


"Baik, mari saya antar, Nona!" Pelayan itu berjalan mendahului Meyrin sebagai penunjuk jalan.

__ADS_1


Meyrin mengikuti pelayan itu di mana di sampingnya ada Lea dan dua orang bodyguard di belakang mereka. Mereka menuju lantai dua dengan menaiki tangga.


Hingga tiba di ujung tangga, Rama yang menyadari kehadiran Meyrin segera mendekat. Pelayan itu memberi hormat dan pergi setelah menerima kode dari Rama. Meyrin menyapa Rama dan tersenyum hangat.


"Selamat malam, Nyonya." Rama membungkukkan badannya memberi hormat.


"Panggil aku Nona saja kak Rama."


Rama yang mendengar panggilan Meyrin segera mendongakkan kepalanya. Pria itu sedikit terharu karena sebuah panggilan. Panggilan yang diucapkan oleh Meyrin barusan khusus diberikan oleh Laras padanya.


"Maaf," ucap Rama sembari menyeka air matanya yang akan menetes.


"Pasti kakak selama ini lelah menjaga William. Tolong, tetap jaga William untukku, Kak," pinta Meyrin.


"Aku sudah terbiasa dengan Tuan William. Aku pasti akan menjaga Tuan William hingga Nona dapat kembali kepadanya. Saya harap Nona dapat segera meninggalkan dunia hitam mafia," ujar Rama memelankan suaranya di akhir kalimat.


"Pasti Paman Nikolai yang memberitahumu. Tolong tetap jaga rahasia kita yah, Kak."


"Baik, Nona. Tuan menunggu Anda di balkon, mari saya antar!"


Rama mempersilakan Meyrin untuk berjalan lebih dulu. Disusul dirinya yang berada di samping Meyrin. Lea berada di belakang keduanya, sedangkan dua bodyguard berjalan paling belakang.


Di ujung lorong lantai dua, terlihat siluet seseorang yang sedang berdiri membelakangi mereka. Orang tersebut sedang menatap langit malam terlihat dari postur tubuhnya yang mendongakkan kepalanya.


Rama menganggukkan kepalanya saat Meyrin menatap pria yang terkenal dengan wajah datarnya itu. Meyrin melangkahkan kakinya mendekati seseorang yang sedang menatap langit.


"Hi," sapa Meyrin.


Cie … cie … yang lagi mau dinner.


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga


__ADS_2