
Setelah mengatakan apa yang perlu dikatakannya, Lea keluar dari ruang bawah tanah itu. Sesampainya di halaman, terlihat Alex yang sedang menunggu asisten pribadi seorang Meyrin.
"Lea, mau ke rumah sakit bersama?" tanya Alex.
"Kamu takut yah menghadapi Tuan Ken?" goda Lea yang langsung masuk ke mobil.
Alex langsung masuk juga dan berada di kursi kemudinya. "A-aku tidak takut. Hanya saja Nona Meyrin yang menjamin keselamatanku."
"Alex, sebagai senior, aku sarankan kamu jangan menjalin hubungan dengan Nona Emily." Lea memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Ma-mak—"
"Nona Meyrin sudah tahu. Dia menyuruhku untuk menyelidiki hubungan di antara kalian berdua. Jika keadaan belum membaik, jangan mengatakan apapun dulu kepada keluarga Arlington. Kasihan Nona Meyrin sudah terlalu banyak menanggung beban seorang diri," saran Lea.
"Terima kasih, Lea. Aku saja yang terlalu buru-buru hingga tidak memperhatikan keadaan sekitar."
"Jalani saja seperti ini, asal tidak berlebihan. Aku hanya ingin Nona Meyrin tenang dan bahagia dulu."
"Baik, aku paham," jawab Alex lugas.
Setelah obrolan itu, tidak ada lagi topik pembahasan yang mereka bahas. Mereka mulai sibuk dengan pemikiran masing-masing.
****************
Sedangkan di rumah sakit, Ken masih tetap mengawasi William yang berada di dalam ruangan Meyrin. Sudah dua jam lebih semenjak Meyrin dipindahkan ke ruang rawat inap. Selama itu pula, Meyrin tetap tertidur.
Terlihat Daniel dengan pakaian rapi berjalan mendekati ruangan tempat anak sulungnya dirawat. Rama yang melihat kehadiran Daniel segera membungkuk, memberi hormat. Ken berjalan mendekati pamannya itu.
"Paman sendirian?" tanya Ken.
Tak lama muncul Alex dan Lea dari belakang Daniel. Satu-satunya pria yang bermata biru tersenyum saat melihat ke arah Ken. Sedangkan Lea masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan nona mudanya.
"Maaf, saya izin mengangkat telepon dulu," izin Rama.
Sepeninggal Rama, tidak ada yang berbicara di antara ketiga pria itu. Hingga akhirnya Alex lah yang memulai memecah keheningan. Pria itu menyerahkan paper bag yang berisi pakaian bersih kepada Ken.
"Sekali lagi kamu menghilang, aku pastikan kepalamu berlubang!" Ancaman Ken membuat nyali Alex langsung menciut.
Setelah itu Ken pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Tak lama dia kembali bersamaan dengan Rama yang telah selesai menerima telepon. Pria itu meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan Meyrin yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Daniel.
"Tuan, Walikota ingin bertemu dengan Anda," lapor Rama dengan berbisik pada William.
"Tunda!" jawab William tanpa menatap Rama yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Anda tidak bisa menolaknya, Tuan. Orang suruhan beliau akan menjem—" Rama menghentikan ucapannya karena William tiba-tiba menoleh padanya.
"Sialan! Siapkan bajuku! Jam berapa mereka datang menjemput?" tanya William akhirnya.
Rama menatap jam tangannya, "Sekitar 30 menit lagi di depan rumah sakit, Tuan."
"Oke, bawa bajuku yang ada di dalam mobil!"
Setelah mendapat perintah dari William, Rama langsung keluar dari ruangan Meyrin. Pria itu dengan kecepatan maksimal berjalan menuju basement rumah sakit untuk mengambil setelan kemeja William.
"Lea, kabari aku jika Meyrin sudah siuman," pinta William.
"Baik, Tuan."
Setelah itu William keluar dari ruangan Meyrin. Di depan pintu hanya ada Alex dan satu pria bertubuh besar, sepertinya seorang pengawal. Alex yang melihat William langsung memberikan hormat begitu juga pria yang bertubuh besar itu.
Tak lama setelah itu muncul Rama dengan membawa setelan kemejanya. William segera menuju ke kamar mandi untuk berganti kostum. Jangan kira William menerima pertemuan ini dengan senang hati. Pasalnya, William mulai menggerutu bahkan pria itu tidak ingin Rama ikut serta dalam pertemuan dengan Walikota.
Bukan Rama namanya jika dia mengikuti sifat kekanak-kanakan William. Rama tetap mengikuti William dari belakang. William ingin sekali menjaga Meyrin, menjadi orang pertama yang dilihat wanita itu. Akan tetapi karena Walikota ingin bertemu, mau tidak mau William harus hadir.
William tidak bisa menolaknya dan tidak diizinkan untuk menolak, karena itulah dia melampiaskannya pada Rama. Dia tidak mengizinkan Rama untuk ikut dalam mobil jemputan Walikota.
"Pergilah sendiri ke kantor Walikota!" ujar William sebelum masuk ke mobil.
"Baik, Tuan."
Beberapa pendayung gondola sudah standby di tempat. Mereka siap mengantar para turis untuk berkeliling menikmati kanal-kanal yang ada di Venesia. Beberapa sudah ada yang mulai bernyanyi, mengawali pagi dengan semangat yang membara.
Kruk~ kruuk~
"Shiit" umpat William lirih dalam logat bahasa Inggrisnya yang fasih.
"Ini, Tuan."
Terdengar bunyi perut yang keroncongan. Benar saja, William sejak dari hotel hingga menunggu Meyrin sadar belum makan apapun. Sopir itu menyerahkan sebuah botol minum untuk William. Bukan hanya botol minum, dia juga menyerahkan roti sebagai pengganjal perut William yang berbunyi itu.
"Thanks you," ucap William.
****************
Rama yang terjebak lampu lalu lintas tidak bisa mengejar mobil yang ditumpangi William. Dia celingak-celinguk menatap ke sekeliling jalanan. Hingga akhirnya Rama memutuskan untuk langsung menuju rumah dinas Walikota Venesia, tempat pertemuan tuan mudanya.
Rama menghubungi William untuk mengatakan bahwa dirinya akan menunggu di tempat pertemuan.
__ADS_1
"Astaga," desis Rama saat mendengar suara ponsel tuan mudanya berada di jok belakang mobil, sepertinya tertinggal saat tuan mudanya masuk ke rumah sakit dini hari tadi.
Rama segera mengambil ponsel tuan mudanya itu dan mengamankannya. Dia kembali melajukan mobilnya langsung menuju ke tempat pertemuan. Dia juga memberikan informasi kepada Nikolai kalau Meyrin sedang berada di rumah sakit.
Sesampainya di tempat pertemuan, Rama disambut oleh asisten pribadi sang Walikota yang sudah dikenalnya. Pria itu tampak celingak-celinguk menatap ke arah belakang Rama.
"Tuan William di mana?" tanya asisten Walikota.
"Hah? Bukannya Tuan sudah tiba sejak tadi bersama mobil jemputan?" tanya Rama balik.
"Kami menerima pesan kalau Tuan William akan datang bersama Anda."
"Tapi tadi Tuan William masuk ke dalam mobil dengan plat nomor pemerintahan."
Rama yang mulai paham dengan kondisi yang terjadi mulai menghubungi Armand. Beruntungnya kali ini Armand langsung menjawab panggilan dari teman seperguruannya itu.
"Armand, tolong selidiki sebuah mobil dengan plat pemerintahan yang pada pukul 08.00 di Rumah Sakit Villa Salus," ucap Rama tanpa basa basi.
"Ada apa?" tanya Armand yang mulai menghidupkan laptopnya dan memasukkan beberapa kode.
Terlihat Nikolai yang baru saja keluar dari kamar mandi. Enam otot perutnya tercetak begitu jelas seperti roti sobek. Wanita mana yang tidak tergiur dengan tubuh dan wajah sempurna sang pemimpin klan Naga Langit. Sayangnya, pria sempurna itu sudah menjadi milik Ariana.
"Ada apa?" tanya Nikolai saat melihat Armand begitu serius.
"Rama meminta tolong untuk melacak sebuah mobil, Tuan. Sepertinya sesuatu sedang terjadi pada Tuan William. Dia juga mengatakan kalau Nona Meyrin terkena luka tusuk dan sekarang dirawat di Rumah Sakit Villa Salus," jawab Armand yang tetap fokus pada pekerjaannya.
"Sambungkan aku dengan Rama melalui laptop," perintah Nikolai sebelum dia masuk ke walk in closet.
Tak beberapa lama, Nikolai kembali lagi ke ruang kerjanya. Terlihat laptopnya sudah tersambung panggilan video dengan Rama. Wajah asisten pribadi William tampak begitu gelisah.
"Rama, sebenarnya ada apa ini?" tanya Nikolai menatap Rama dengan serius.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1