
"Kalian cukup menculik Buz dan membawanya ke markas saja," perintah Meyrin.
"Siap, Bos. Anu … apa saya boleh bertanya, Bos?" tanya Aite takut-takut.
"Tanyalah!"
"Dengan penjagaan yang super ketat, bagaimana Buz mengarahkan penyusup itu? Bagaimanapun, suara gaduh dari helikopter sangat memekakan telinga."
"Pertanyaan yang bagus. Alex!" panggil Meyrin.
Alex segera mendekat ke sisi Meyrin. Dia menyerahkan sekotak kecil, seperti kotak korek api. Meyrin membukanya, ada banyak benda seperti alat penyadap tadi. Bedanya, kali ini benda tersebut lebih kecil dan sedikit tebal dari benda penyadap tadi. Jumlahnya pun sangat banyak ada lebih dari 20 butir.
"Ini apa, Bos?" tanya Joker.
"Kalian akan menggunakan ini untuk menculik Buz. Perhatikan cara kerjanya!"
Meyrin tanpa aba-aba langsung menempelkan benda yang seperti alat penyadap itu ke leher Alex. Seketika itu juga, asisten pribadi Ken Lian jatuh tersungkur ke lantai. Semua yang ada di ruangan itu kaget dengan apa yang terjadi.
"Buz menggunakan ini untuk menjalankan tugasnya. Ini seperti alat kejut listrik yang bisa membuat seseorang tertidur selama 30 menit," jelas Meyrin.
Mereka mendengarkan penjelasan Meyrin dengan seksama. Apalagi perintah sang Bos adalah menggunakan alat seperti permen itu untuk menculik Buz. Kali ini Meyrin akan memakai taktik senjata makan tuan terhadap Buz, sang mata-mata.
"Bos, bagaimana kalau Buz tidak membuka mulutnya?" tanya Joker.
"Aku yang akan membuatnya membuka mulut dengan berbagai cara. Tapi, anggap saja kita sedang merekrut anggota baru." Meyrin mengatakan kata-kata yang ambigu, membuat yang ada di ruangan bertanya-tanya.
"Maksudnya, Bos?"
"Kalian akan tahu jika sudah waktunya."
Setelahnya Meyrin beranjak dari kursinya, dan semua yang ada di sana membungkuk hormat pada sang pimpinan tertinggi. Lea mengikutinya dari belakang sebelum Meyrin menghentikan langkahnya.
Sang Bos berbalik, menatap orang-orang kepercayaannya. Sebuah ide muncul di otaknya yang memiliki IQ di atas rata-rata. Wanita itu tersenyum miring saat membayangkan idenya berjalan lancar.
"Aku punya ide, apa kalian mau mendengarnya?" tanya Meyrin menatap Jack, Aite, dan Joker.
"Tentu saja, Bos." Aite dan Joker menjawab kompak, sedangkan Jack alias Ken hanya diam saja.
"Besok pagi aku ingin Buz sudah ada di markas. Aku ingin melukis wajahnya dengan pisau ini." Meyrin memamerkan pisau kecil yang sejak masuk ke ruangan rapat berada di genggaman tangan kanannya.
****************
__ADS_1
Siang itu Meyrin menyelesaikan rapatnya begitu cepat. Bahkan serangan balik dan taktik senjata makan tuan sudah dicetuskan oleh Meyrin. Siapa yang bertugas juga sudah diumumkan oleh sang pemimpin.
"Lea, bergabunglah dengan Jack dan Alex untuk mengawasi Aite dan Joker. Aku mau pergi sebentar," perintah Meyrin.
"Nona mau kemana?" tanya Lea.
"Aku akan bertemu dengan Paman Nikolai Stevano."
"Itu berbahaya, biarkan saya ikut."
"Tidak perlu. Ini pertemuan face to face. Paman Nikolai akan menemuiku di tempat yang sudah aku pilih."
Meyrin menjelaskan kepada Lea yang masih menatapnya dengan khawatir. Wanita itu menghembuskan napas kasarnya dan menggenggam kedua tangan sang bodyguard pribadinya.
"Aku akan kembali ke hotel untuk bertemu dengan Paman Nikolai. Saat ini dia sudah ada di Bandar Udara Marco Polo, Venesia. Aku akan kesana menggunakan motor."
Lea masih tetap menatap Meyrin dengan kekhawatiran yang jelas terbaca dari raut wajah sang asisten. Hal itu membuat Meyrin menyerah akan kepedulian Lea.
"Baiklah … setelah urusanmu selesai di sini, kamu bisa menyusulku kembali ke hotel." Meyrin menyerah dan membiarkan Lea untuk menyusulnya.
Ponsel Meyrin berdering menampilkan wajah sang empunya ponsel. Hal itu menandakan adanya panggilan video masuk. Meyrin segera menggeser tombol hijau ke atas yang langsung menampilkan wajah seorang pemimpin mafia terkenal dan mempunyai wilayah sendiri bahkan mendirikan kotanya di sebuah pulau. Nikolai Stevano.
"Laras! Kamu itu sedang apa, hah! Paman sudah di bandara, harus berapa lama lagi menunggu, rubah licik sialan!" sungut Nikolai yang sedang mendorong kopernya. Di sebelahnya ada Armand, sang tangan kanan dan beberapa pengawalnya.
"Iya tunggu, Paman. Aku ganti baju dulu setelah itu baru ke bandara."
Meyrin langsung mengakhiri panggilannya dan masuk ke dalam kamar. Tak lama, Meyrin keluar dengan kaos lengan pendek hitam. Bawahannya berupa celana pendek kain yang senada dengan kaosnya hingga memperlihatkan kaki Meyrin yang jenjang. Tidak lupa, sneaker putih sebagai aksesorisnya.
Tanpa memperdulikan sekitar dan sedikit berlari, Meyrin langsung keluar dari mansion. Di halaman depan sudah ada sebuah motor balap yang memiliki kapasitas 500cc. Dia langsung naik ke atas jok sepeda motor. Rambutnya yang panjang diikatnya model kuncir ekor kuda.
Dipakainya perlengkapan berkendara termasuk surat-surat izinnya. Terakhir, Meyrin memakai helm dan membiarkan kacanya terbuka. Manik hitam tajamnya terlihat sangat jelas.
Meyrin mulai menyalakan mesin motornya, tatapannya tajam menghadap ke depan. Setelah dirasa sepeda motornya siap untuk melaju kencang, wanita itu langsung tancap gas. Pos satpam yang melihat Meyrin langsung membukakan pintu pagar buat tamu big bosnya.
"Yuhuu!" seru Meyrin girang saat dirinya sudah berada di jalan raya.
Meyrin menarik tuas gas demi mempercepat laju motornya. Bahkan dia tidak tanggung-tanggung untuk menyalip kendaraan besar. Tidak ada rasa takut dalam diri Meyrin.
Dengan kecepatan yang semakin mendekati maksimal, dia meliuk-liukkan badan sepeda motornya. Meyrin mencari celah kosong agar sepeda motornya bisa lewat. Tidak jarang dia dan sepeda motornya berada di tengah-tengah kendaraan besar, terhimpit diantara mereka.
__ADS_1
Tapi, bukan Meyrin jika tidak bisa keluar dari keadaan tersebut. Wanita dengan rambut panjang itu benar-benar sedang menikmati harinya. Teriknya sinar matahari di siang hari tidak menyurutkan api semangat dalam diri Meyrin.
Wanita itu seperti bebas dan terlahir kembali. Memang benar kata Nikolai, jika ingin bebas maka berkendaralah dengan kecepatan maksimal. Saking cepatnya perjalanan yang awalnya 15 menit, sekarang Meyrin tempuh dengan 8 menit.
Di luar Nikolai dan para pasukannya sudah menunggu. Tanpa pikir panjang dan menunggu Meyrin mematikan mesin mobilnya, Nikolai langsung duduk di belakang jok sepeda motor.
Koper yang tadi didorongnya, dia tinggalkan begitu saja di samping Armand. Nikolai akan lupa diri jika sudah berhubungan dengan motor balap dan mobil sport.
Setelah Nikolai memberikan kode pada Meyrin, mesin motor itu terdengar suara menderu. Meyrin menarik tuas gas motornya tapi tidak dilajukan menunggu Nikolai siap.
"Ayo!" kata Nikolai pada Meyrin.
Saat itu juga, Meyrin menarik tuas gas motornya. Melajukan kembali sepeda motornya di jalanan Venesia, meninggalkan para bawahannya Nikolai begitu saja.
"Wow! Kemampuan menyetirmu lebih baik dari beberapa tahun yang lalu," puji Nikolai yang hanya dijawab senyuman meremehkan ala Meyrin.
"Kita akan kemana, Paman?" tanya Meyrin.
"Makan siang lalu menikmati grand kanal."
"Oke."
Meyrin langsung melajukan motornya ke sebuah restoran cepat saji. Saat mereka baru tiba di restoran cepat saji, ponsel Meyrin berdering. Ada panggilan video masuk dari William.
Meyrin langsung menggeser tombol hijau di layarnya, terpampang wajah William yang terkejut saat melihat Nikolai ada di samping Meyrin.
"Yo—"
"Apa yang sedang kalian lakukan berdua?" tanya William menatap tajam pada Nikolai.
Ada yang cemburu nih?
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1