OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 76 KETEGANGAN DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Deringan pada ponsel di salah satu kamar hotel Danieli terdengar, membuat sang pemilik kamar merasa terganggu. Walaupun begitu, dia tetap mencari keberadaan ponselnya.


Sembari mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya ponsel, dia membuka sebuah notifikasi. Ada sebuah pesan masuk di sana. Masih dengan rasa kantuk yang tak tertahankan, dia membuka pesan itu.


Bagai tersambar petir, pemilik kamar itu membulatkan kedua matanya. Dia yang awalnya mengantuk langsung rasa kantuk itu menghilang bagai ditelan bumi. Dia tatap jam digital yang ada di ponselnya.


Pukul 02.30 dini hari waktu Venesia, Italia. Pria yang ternyata Rama itu langsung beranjak dari berbaringnya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar William.


Rama mendapatkan pesan dari Lea kalau Meyrin sedang berada di salah satu rumah sakit Venesia, Italia. Pria tanpa ekspresi itu berdiri di depan pintu ruangan tuan mudanya. Dia mengatur napas dan mencari alasan penyebab Meyrin berada di rumah sakit.


Rama berjalan mondar-mandir di depan pintu dengan nomor 204 itu. 10 menit telah berlalu dan dirinya tidak menemukan alasan yang tepat. Hingga sebuah pesan kembali masuk dari Lea. Wanita itu memberikan usulan jika Meyrin terkena luka tusuk oleh pencopet saat hendak berbelanja ke supermarket.


Akhirnya Rama memberanikan diri untuk masuk ke ruangan William. Tidak terkunci berarti pria itu masih ada di kamarnya. Rama mengetuk pintu kamar dan menunggu respon dari tuan mudanya.


Merasa tidak ada jawaban, Rama kembali mengetuk sembari memanggil nama William. Masih tidak ada jawaban membuat Rama yang sedang urgent membuka pintu kamar itu tanpa izin. Ternyata, pintu kamar William tidak terkunci juga.


Rama mendekati William yang sedang duduk di meja rias sembari memejamkan kedua matanya. Sang asisten berjalan mendekat dan kembali memanggil nama tuan mudanya. Tidak ada respon membuat Rama mengeraskan suaranya.


"Tuan? Tuan William!" hardik Rama dengan lantang.


William langsung membuka kedua matanya. Dia terkejut saat kedua tangannya dalam posisi seperti sedang memeluk seseorang. Padahal, dia hanya memeluk angin malam saja.


"Laras mana?" tanya William.


"Nona Laras? Memangnya dia datang?" Rama balik bertanya.


"Apa dia sudah pergi?" William bertanya lagi.


"Pergi ke mana, Tuan? Saya sejak 15 menit yang lalu berada di luar tidak melihat kehadiran Nona Laras." Rama kebingungan sendiri menjawab pertanyaan tuan mudanya.


"Tadi dia di sini, Kak. Aku bersama dia tadi, mengobrol banyak hal. Bahkan kami saling berciuman." William menceritakan kejadian apa saja yang terjadi saat bersama Laras kepada Rama.


Rama menatap aneh pada William. Pria itu berjalan mendekati William lalu secara tiba-tiba memegang kening tuan mudanya. Pria yang mendapati julukan si wajah datar itu memeriksa suhu tubuh William. Normal, tidak ada yang salah.


"Tuan, apa Anda terjatuh di kamar mandi hingga membuat gangguan kecil pada otak?" tanya Rama menatap William khawatir.

__ADS_1


"Sialan! Aku seriusan Kak. Bahkan rasa bibirnya masih aku rasakan saat ini. Wangi parfum jasminenya masih tercium." William tidak terima dan dia membela dirinya sendiri.


"Terserahlah, tapi saya mempunyai kabar, emm …," Rama menatap William. "Kabar ini datang dari Nona Meyrin," lanjutnya.


"Kenapa dengan Meyrin?" tanya William sambil mengernyitkan keningnya.


Terlihat Rama menelan salivanya dengan susah payah. Dia agak ragu mengatakannya. "Nona Meyrin terkena kasus pencopetan dan dia …," Rama berhenti bicara.


"Kak, tolong jangan setengah-setengah memberikan informasinya. Ada apa dengan Meyrin?" geram William tak suka dengan cara Rama memberikan informasi.


"Nona Meyrin tertusuk dan sekarang berada di rumah sakit," ujar Rama dengan sekali tarikan napasnya.


Bagai tersambar petir di siang hari, William menatap Rama tak percaya. Dia mencari suatu kebohongan dalam pancaran mata sang kakak angkat tapi tidak ditemukannya.


"Bawa aku ke sana sekarang, Kak!" perintah William yang langsung melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Tuan, apa Anda akan memakai baju itu?"


Mendengar pertanyaan Rama membuat William menghentikan langkah kakinya. Dia berbalik dan melihat pantulan dirinya di cermin. Seorang lelaki dengan wajah tampan berdiri begitu gagahnya dengan baju tidur.


Tak butuh waktu lama, William keluar dengan pakaian casual-nya. Jam sudah menunjukkan pukul 4.00 pagi hari. William langsung masuk ke mobil di mana Rama yang menyetir sendiri.


Butuh waktu lima menit perjalanan menuju rumah sakit tempat Meyrin sedang dirawat. Selama perjalanan, William tampak panik dan dengan bodohnya dia menelepon ponsel Meyrin. Tentu saja yang menjawab sang asisten pribadi, Lea.


Mobil yang ditumpangi William dan Rama baru saja sampai di basement rumah sakit. Tanpa sepatah katapun, William langsung menuju ruang UGD setelah bertanya pada resepsionis.


Terlihat di depan pintu ruangan itu ada Ken yang tampak cemas. Pria itu berjalan mondar-mandir tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Sesekali dia menghentikan langkahnya di depan pintu UGD, berharap pintu itu segera terbuka.


William mempercepat langkah kakinya menuju ke arah Ken dan Lea. Lea yang menyadari kehadiran William segera memberi salam dengan membungkukkan badannya. Ken yang melihat itu mendongakkan kepalanya.


Ken terkejut dengan kehadiran William. Dia menatap Lea yang hanya menundukkan kepalanya. Lea sendiri lupa untuk memperingati Rama agar tidak memberitahu pada William. Jika seperti ini, identitas sesungguhnya Meyrin bisa terbongkar. Apalagi, Daniel Arlington berada di dalam ruangan bersama Meyrin.


"Apa yang terjadi pada Meyrin?" tanya William pada kedua orang di depannya. Di belakang William terlihat Rama yang menyusul tuan mudanya.


"Nona Meyrin tertusuk oleh pencopet saat pergi ke supermarket, Tuan," jelas Lea singkat, padat dan jelas.

__ADS_1


"Apa kalian tidak memberikan pengawalan pada dia? Sehebat apapun Meyrin, dia tetap seorang wanita yang butuh perlindungan! Bagaimana kamu yang sebagai asistennya tidak bisa menjaga tuannya sendiri! Kamu sudah lalai menjalankan tugas! Mana bisa Meyrin mempertahankan wanita tak becus seperti ini!" bentak William membuat Rama membelalakkan kedua matanya tak percaya.


Lea yang mendengar segala ocehan William menundukkan kepalanya. Semua yang dikatakan suami dari nona mudanya benar adanya. Dia telah lalai dan tidak bisa menjaga nona mudanya. Dia terlalu fokus pada keadaan sekitar hingga mengabaikan sisi terapuh dari Meyrin.


Ken yang mendengar ocehan itu murka. Dia tanpa aba-aba langsung menghantam tubuh William dengan tinjunya. William langsung mundur beberapa langkah setelah mendapat serangan dari Ken. Terlihat sudut bibir William mengeluarkan darah, sepertinya ada yang robek.


"Brengsek! Beraninya kamu menyalahkan Lea! Kamu tidak mengerti kondisinya! Diamlah dan pergi dari sini, sialan!" bentak Ken juga hingga terlihat urat-urat di lehernya menegang.


"Kenapa kamu membelanya, hah! Ooh … atau kamu menjalin cinta dengan wanita itu? Sungguh seleramu menurun setelah ditinggal Laras," ejek William.


Rama yang mendengar itu sadar bahwa paranoid tuan mudanya sedang kambuh. Dia memarahi Lea tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Bahkan Ken juga mendapat cemoohan William hingga membawa nama Laras.


Ken yang mendengar nama Laras, amarah yang ditahannya sejak tadi meledak sudah.


"Fvck! Sua—"


"Tuan Ken!" teriak Lea saat Ken hampir keceplosan memanggil William dengan kata suami.


Ken langsung menghentikan tangannya yang akan meninju William lagi. Dia seolah tersadar oleh teriakan Lea. Pria itu langsung menurunkan kepalan tangannya dan mengabaikan William.


"Tuan, tenanglah! Di sini rumah sakit milik orang lain," bisik Rama mencoba menenangkan William yang hendak akan memarahi Lea lagi.


Tak lama setelah itu, seorang dokter keluar dan tersenyum pada Ken serta Lea. Melihat senyuman itu membuat Ken dan Lea bernapas lega. Setidaknya ada kabar bahagia dari senyuman sang dokter.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2