OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 22 SATU KAMAR?


__ADS_3

Melihat keadaan nona mudanya, Lea maju ke depan dan merangkulnya. Dia membawa Meyrin kembali ke rombongan William dan Adriano yang setia menunggu.


"Bisa kita segera ke hotel?" pinta Lea kepada Adriano sedikit memohon saat melihat Meyrin kehilangan fokusnya.


"Ada apa dengannya?" tanya William saat melihat Meyrin tidak seperti biasanya.


Lea merangkul Meyrin dengan posesif. Sedangkan Meyrin terlihat tertunduk tidak bereaksi apapun. Entah kenapa membuat diri William berempati kepada Meyrin. Padahal lelaki itu tidak terlalu mengenal sang pemimpin Arlington Group.


"Tolong segera ke hotel. Jika tidak, saya akan membawa nona Meyrin sendiri kesana!" Lea menghardik.


Lea sudah tidak peduli dengan posisinya yang dibawah William dan Adriano. Wanita itu hanya mengkhawatirkan keadaan Meyrin, nona mudanya. Dia tidak ingin kelemahan Meyrin semakin lama menjadi tontonan di depan umum.


"Nanti aku akan cari siapa orangnya," tekad Lea dalam hati untuk menemukan orang yang menyebut nama Rizzo.


"Baiklah, ayo segera ke hotel!" perintah William.


Rombongan itupun dengan langkah lebar segera keluar dari bandara. Di depan lobi sudah ada mobil limosin warna hitam.


"Boleh saya duduk dengan Nona Arlington?" tanya William.


Lea menganggukkan kepalanya, tidak ada niatan melarang. Berharap jika bersama William, nona mudanya itu kembali fokus. Mobil langsung melaju di jalanan yang terdapat banyak turis berlalu lalang serta penduduk setempat.


Saat ini mereka sedang menuju hotel Danieli dengan mengendarai mobil yang sudah disiapkan oleh Daniel Arlington. Sesuai dengan isi amplop cokelat yang diberikan oleh Josh kepada Meyrin, semua fasilitas sudah diatur oleh Daniel.


Hotel Danieli berjarak kurang lebih 12 kilometer dari Marco Polo Airport dan membutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk tiba disana. Hotel ini terletak di sebelah St Mark's Square dan Jembatan Sigh yang sangat mudah dijangkau oleh layanan antar-jemput pribadi.


Meyrin masih tertunduk di pelukan William, mencari ketenangan disana. William mengelus surai panjang dan punggung wanita itu bergantian. Hingga ….


"Terima kasih dan maaf," ujar Meyrin begitu lirih dimana hanya mereka berdua yang mendengarnya.


"Tidak masalah, sudah lebih baik?" tanya William saat Meyrin mulai menjauhkan tubuhnya.


"Iya, terima kasih dan maaf sekali lagi."


William mengerti, itu adalah tanda secara tersirat jika Meyrin tidak ingin berbicara lebih jauh lagi. Benar saja, setelah mengatakan itu, Meyrin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Lalu, pandangannya fokus menatap ke arah luar jendela.


Sekitar hampir satu jam perjalanan darat menuju ke hotel Danieli hanya dilewatkan dengan suasana hening. Sesekali Adriano dan William terlibat percakapan basa basi. Meyrin hanya menjawab jika ditanya dan itupun jawabannya singkat sekali.

__ADS_1


Mereka tiba di hotel yang dituju. Beberapa staff menyambut tamu kehormatan dengan berbaris rapi di sisi kanan dan kiri. Mereka membungkuk hormat dan mengatakan selamat datang dalam bahasa internasional.


Adriano berjalan di depan, diikuti William dan Meyrin serta Rama dan Lea di belakangnya. Beberapa pengawal yang sudah disiapkan Aite juga mengikuti mereka. Ada sekitar 10 orang pengawal yang akan bertugas menjaga keamanan seorang Liu Meyrin selama di Italia.


Tadi sejak di dalam mobil, Lea mengirimkan pesan SOS kepada Tuan Aite. Maka dari itu, Aite langsung menurunkan 10 pengawal handalnya untuk menjaga Meyrin selama di Venesia, Italia.


Lima orang masuk ke dalam lift eksklusif, sedangkan pengawal yang lainnya menyusul dengan lift biasa. Mereka sudah diberitahu lantai berapa nona mudanya tinggal. Dua orang pengawal stay di depan lift eksklusif karena itu perintah dari Aite. Sisanya naik ke lantai luxury yang sudah di booking seluruh lantai hanya untuk Meyrin dan William.


Dua orang pengawal berdiri di depan lift lantai luxury. Enam sisanya berjaga di sepanjang lorong, memeriksa jika ada yang mencurigakan.


"Kita satu kamar?" tanya Meyrin.


"Itu kunci kartu yang sudah disiapkan dan dipilih sendiri oleh Tuan Daniel Arlington," jelas Adriano.


"Yes! Akhirnya aku bisa berduaan dengan Meyrin. Aku akan mencari tahu tentang siapa Liu Meyrin sebenarnya." William membatin dan bertekad.


Senyuman penuh arti tanpa disadari oleh William tersungging di bibir tipisnya. Bibir yang merona secara alami, membuat siapapun ingin mengecupnya tidak terkecuali Meyrin. Wanita berparas cantik bak bidadari itu menoleh ke arah William yang tersenyum aneh.


"Anda … baik-baik saja?" tanya Meyrin.


William langsung masuk ke dalam kamar begitu saja, mengabaikan Meyrin. Meyrin yang melihat itu melongo tak percaya dengan tingkah William yang seenaknya. Merasa tak mau kalah, dirinya langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan membantingnya.


"Anda tidak sopan ternyata yah!" bentak Meyrin di depan William yang merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kenapa tidak sopan?" tanya William acuh tak acuh.


"Saya itu perempuan yang sudah bertunangan. Apa anda akan tidur satu kamar dengan saya? Diluar masih banyak kamar yang sama dan kosong! Apa anda tidak bisa mengalah?" Meyrin naik pitam melihat tingkah William yang terlihat biasa saja.


"Apa Nyonya Lian tidak bisa bersikap profesional?" sindir William.


"Ak … yak! Bukan begitu maksud saya. Ah sudahlah tidur yah tidur! Masa bodoh!" gerutu Meyrin yang langsung masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu.


William yang melihat tingkah kesal Meyrin mengedikkan bahunya. Ada sebuah rasa yang tidak bisa dia jelaskan. Akan tetapi, di mata William, Meyrin yang kesal sangat menggemaskan.


William memejamkan kedua matanya, menyembunyikan manik hitam kelamnya. Dia ingin tidur walaupun hanya sebentar. Sayangnya, pikirannya melayang pada kejadian tiga hari yang lalu.


****************

__ADS_1


Tiga hari yang lalu di kota Lunar City. William baru saja keluar dari ruang rapat. Rama sedikit mempercepat langkahnya agar sejajar dengan William.


"Ada apa?" tanya William menghentikan langkahnya.


"Tuan Daniel Arlington mengirim ini untuk anda." Rama menyerahkan amplop cokelat kepada William.


"Apa ini?" tanya William.


"Saya belum memeriksanya, Tuan," jawab Rama lugas.


William masuk ke ruang kerjanya dengan membawa amplop cokelat itu. Sedangkan Rama mengikutinya dari belakang dan duduk di tempatnya yang menjadi satu dengan William.


William membuka amplop itu dan mulai mengeluarkan isinya yang ternyata sebuah dokumen. Kerutan kebingungan menghiasi keningnya. Dibacanya lagi isi dokumen itu dengan teliti hingga ….


"Kenapa bisa seperti ini?" gumam William.


"Rama!" panggil William.


Mendengar namanya dipanggil, Rama segera beranjak dari duduknya dan menuju ke meja kerja tuan mudanya. Rama berdiri di depan meja besar yang menjadi pembatas antara dirinya dan sang bos.


"Baca itu!" perintah William sembari memijat pangkal hidungnya.


Tanpa diperintah dua kali, Rama mengambil dokumen yang dilempar William ke atas meja. Dibacanya dengan teliti karena dia tahu jika sudah William menyuruhnya, artinya ada masalah yang terjadi.


"Kenapa bisa seperti ini, Tuan?" tanya Rama setelah selesai membaca dokumennya.


Nah loh, apa yang kira-kira dikirim oleh seorang Daniel Arlington?


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2