OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 45 KEBENARAN TENTANG JUNA


__ADS_3

Meyrin baru saja keluar dari walk in closetnya dengan kaos putih dan celana jeans yang panjangnya di atas lutut. Dia melihat Lea yang baru saja masuk ke dalam kamar. Meyrin tersenyum menyambut asisten sekaligus bodyguardnya itu.


"Terima kasih sudah merepotkanmu," ujar Meyrin.


"Itu sudah tanggung jawab saya untuk menjaga Nona," jawab Lea yang mulai merapikan kasur.


"Iya Juna, tunggu sebentar. Ini Daddy sudah berada di kamar Mommy mu." Ken masuk ke kamar dan masih mengoceh dengan ponselnya.


"Pagi Sweetie," sapa Ken yang langsung mencium pipi Meyrin.


"Pagi juga, Ken."


"Mommy, Daddy! Una angen!" seru Juna saat melihat Mommy dan Daddy nya bersama.


"Mommy dan Daddy juga kangen Juna. Selama Mommy dan Daddy kerja, Juna jadi anak baik yah, Sayang."


"Ok Mommy. Una nulut ama Oni dan Ayah Josh. Una adi anak baik."


"Bagus, kalau begitu Mommy tutup teleponnya yah."


"Oke Mommy. Una ayang Mommy, Daddy dan Mama Lea."


Meyrin dan Ken yang mendengar pengakuan Juna tersenyum penuh sayang pada bocah 2,5 tahun itu. Sedangkan Lea menepuk keningnya dengan tingkah Juna.


"Maafkan kelancangan anak saya, Nona, Tuan," sesal Lea.


"Tidak apa, Lea. Aku dan Ken suka anak kecil apalagi semenggemaskan Juna. Kamu tidak perlu sungkan," jawab Meyrin memakluminya.


"Hah~ rasanya aku ingin memiliki anak seperti Juna, bocah itu terlalu aktif," seru Ken mengingat kembali saat dirinya bersama Juna.


"Padahal aku sudah mengajari Juna memanggil kalian sebagai Onty dan Uncle, tapi tetap saja memanggil kalian dengan Mommy dan Daddy."


"Kita tidak keberatan kok dengan panggilan itu. Benar kan, Sweetie?" tanya Ken pada Meyrin yang dijawab anggukan kepala.


"Bukannya itu keputusanku untuk menjadikan Juna sebagai anak asuhku. Kenapa kamu seperti keberatan begitu setelah 2,5 tahun lamanya, hm?" Meyrin menatap curiga pada Lea.


"Saya tidak berani, Nona."


"Tenang saja Lea, walaupun Juna sangat dekat dengan kita tapi kamu dan Paman Josh tetap orang tua kandungnya. Juna pasti lebih menyayangi kalian. Ikatan batin orang tua dengan anak lebih kuat daripada orang tua asuhnya." Ken menatap Lea dengan senyuman casanovanya.


"Bukan begit—"


"Santai saja, Lea. Ayo kita sarapan pagi dan setelah itu memantau sesuatu. Oya Lea, berikan aku dokumen yang harus diperiksa setelah ini."

__ADS_1


"Baik, Nona."


****************


William baru saja keluar dari kamar hotelnya dengan wajah kusut. Dua bodyguard serta Rama saling pandang dan bertanya-tanya lewat tatapan mata. Semua mengedikkan bahunya dan menggelengkan kepala.


"Ekhem! Tuan baik-baik saja?" tanya Rama sedikit berdeham.


William tidak menjawab tapi menyerahkan ponsel pribadinya kepada Rama. Tanpa banyak bicara, pria itu masuk ke dalam lift diikuti Rama dan dua bodyguardnya.


"Batalkan semua jadwalku hari ini. Berikan aku 20 dokumen yang perlu diperiksa. Serahkan dokumen itu paling tidak jam 10 tidak boleh lebih."


Setelah mengatakan itu, William keluar dari lift dan menuju mobilnya. Dia akan menaiki gondola, menyusuri Laguna yang ada di Venesia. Hari ini William bertekad akan melupakan kekesalannya pada Meyrin yang tak kunjung menelepon balik. Bahkan dirinya sudah meninggalkan pesan tapi tidak ada tanda-tanda dibaca oleh wanita itu.


"Maaf Tuan, sepertinya Tuan Nikolai akan datang ke Venesia sebelum festival pesta topeng," lapor Rama.


William menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Rama. Kerut kebingungan menghiasi dahinya, saat mendengar Nikolai akan ke Venesia.


"Bukannya Paman sedang ada di Akasia dan akan kembali ke Italia saat ulang tahun Kenzo?"


"Masalahnya Tuan Nikolai hanya bersama Armand dan beberapa bodyguard andalannya saja yang datang," jelas Rama membuat William semakin bingung.


"Apa kamu tahu tujuan Paman kembali?" tanya William sebelum mereka masuk ke mobil.


William terdiam, tidak bertanya lebih jauh lagi. Akan tetapi, kedatangan Nikolai kali ini terkesan mendadak dan buru-buru. Pasti sesuatu hal terjadi pada klan Naga Langit hingga membuat Nikolai kembali ke Italia.


Saat William hendak menaiki mobil, ia membalikkan badan dengan secara tiba-tiba. Menatap ke sekeliling. Instingnya mengatakan bahwa beberapa orang sedang mengawasinya.


William masuk ke dalam mobil diikuti oleh Rama. Benar saja, saat William masuk ke dalam mobil, seseorang sedang mengintip di balik tembok gang kecil. Orang dengan memakai topeng dan baju festival.


"Rama, tingkatkan kewaspadaan sebelum pesta topeng. Seseorang sedang mengawasiku," bisik William penuh nada curiga.


"Baik, Tuan."


****************


"Nona, saya menemukan ini di saku celana Anda," bisik Lea saat mereka sedang berada dalam perjalanan menuju ruang makan.


Meyrin mengambil secarik kertas itu. Dibukanya lalu membaca dengan santai karena dia sudah dapat menebak isi dari kertas itu.


Nona, Tuan Muda sudah mengetahui identitas Anda. Penyebab dia curiga adalah nasi goreng buatan Anda. Dia ingin saya menyelidiki Anda. Apa yang harus saya lakukan?


Begitulah isi dari kertas itu. Meyrin membuka ponselnya. Ada banyak panggilan dari nomor baru. Dua pesan dari nomor tak dikenal. Meyrin membuka pesan dari nomor yang melakukan panggilan sebanyak 20 kali. 

__ADS_1


Meyrin hanya membuka dan membacanya tanpa membalas. Senyum geli tersungging di wajah Meyrin. Dia sudah membayangkan wajah kesal si pengirim. Satu lagi adalah pesan yang wanita itu yakini adalah nomor Rama. Dia memberikan perintah pada Rama untuk tetap mengikuti semua kemauan William.


"Lea, apa William meminta nomor pribadiku?" tanya Meyrin.


"Benar dan itu melalui Rama," jawab Lea lugas.


Mereka tiba di ruang makan, Aite dan Joker menyambut dengan ramah kehadiran rombongan bosnya itu.


"Selamat pagi Nona, Tuan dan semuanya," sapa Aite begitu ramah.


"Apa kalian berbuat aneh lagi?" tanya Meyrin menatap curiga dua kesayangan ayahnya itu.


"Tidak, tidak. Kami tidak berani melakukannya setelah kehilangan 40% dari harta kami." Joker menjawabnya dengan terburu-buru.


"Bagus! Itu hanya peringatan kecil dariku. Jangan coba-coba mengabaikan organisasi lagi."


Setelah itu mereka menikmati sarapan pagi tanpa suara. Itu adalah aturan yang diterapkan seorang Meyrin. Tidak ada yang berbicara selama di meja makan.


Ting!


Sebuah pesan masuk dari Rama yang mengatakan bahwa William sedang bersamanya dan sedikit kesal. Meyrin tersenyum dan mengabaikan pesan itu setelah membacanya.


Meyrin selesai dengan sarapan paginya. Dia melihat jam digital di ponselnya, sedikit berpikir sebelum memberikan perintah.


"Jam 1 siang kita akan menyusun strategi penyerangan lebih awal. Paman, berapa orang yang kita punya di Italia?" tanya Meyrin menatap Joker dan Aite.


"Keseluruhan ada 200 orang. 50 diantara mereka adalah orang-orang terpilih," jawab Aite.


"Saya 30 orang. 10 orang pilihan, saya membawanya secara pribadi. Total ada 40 orang, Bos," jawab Joker.


"Bagus. Kita bahas lebih lanjut saat rapat nanti."


Konfliknya mulai naik yah.


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2