OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 66 PETINGGI MAFIA ARLINGTON


__ADS_3

Dua orang dengan beberapa pengawalan baru saja keluar dari lounge VVIP Bandara Marco Polo. Mereka langsung masuk ke dalam mobil limosin, sedangkan pengawalnya berada di mobil Jeep di belakang mobil limosin. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata sedang mengawasi kedatangan keduanya.


"Tuan, dua petinggi mafia Arlington lainnya baru saja tiba di Venesia," lapor seseorang melalui panggilan pada ponselnya.


"Terus awasi saja mereka. Bagaimana penjagaan terhadap William? Apa Nikolai masih bersama dengan dia?" tanya orang di seberang sana.


"Tuan Rizzo tenang saja. Kita akan memulai aksinya malam ini. Semua persiapan sudah matang tinggal menunggu perintah dari Anda."


"Lakukan sesuai rencana. Aku jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengan Meyrin."


"Baik, Tuan." Setelah itu panggilan berakhir.


****************


Sedangkan di kediaman Aite, Meyrin mendengarkan penjelasan Ken. Pria itu juga menunjukkan bukti kalau dia dan Lupita tidak melakukan apapun. Ken juga menunjukkan bekas jahitan di kening Lupita serta gigitan sang wanita pada pundaknya.


Aite dan Joker yang melihat itu meringis. Mereka bisa membayangkan bagaimana sakitnya digigit hingga meninggalkan jejak kemerahan. Jejak itu kentara sekali karena kulit Ken yang putih bersih.


Meyrin hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Beda halnya dengan Emily yang sejak tadi tidak mematikan panggilan videonya. Wanita itu tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ken. Ken menatap Emily tajam, tapi diabaikan oleh Emily.


"Alex! Besok kamu harus sudah berada di Venesia, Italia. Paham?" bentak Ken walaupun tidak kelihatan asistennya, tapi pria itu yakin Alex ada bersama dengan Emily, sepupunya.


"Baik, Tuan," jawab Alex dari seberang sana membuat senyum penuh kemenangan terbit di bibir Ken dan Emily mengerucutkan bibirnya.


"Selamat pagi, Bos." King dan Queen menyapa Meyrin.


"Lily, kakak tutup teleponnya dulu yah. Ingat! Suruh Alex pulang saat ini juga dan kakak tidak menerima alasan apapun lagi." Meyrin langsung mematikan ponselnya.


"Bagaimana perjalanan para pamanku ini?" tanya Meyrin sembari menyambut uluran tangan King dan Queen.


"Tentu saja seperti biasa, sesampai di sini sudah menjadi artis," jawab Queen.


Meyrin yang menyadari kode melalui jawaban Queen langsung menyuruh mereka menikmati sarapan paginya. Setelah itu, dia meminta Lupita untuk tetap di kamarnya dengan pengawasan penuh darinya.


Lupita hanya menurut tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Entah apa yang membuat wanita itu begitu percaya dengan ucapan Meyrin. Mungkin ini adalah salah satu bakat yang dimiliki oleh seorang Liu Meyrin. Daya tarik yang membuat semua orang di sekitarnya percaya pada Meyrin.


Setelah memastikan Lupita aman di dalam kamarnya, Meyrin langsung melangkahkan kakinya menuju ruang rapat. Diikuti Lea, Ken yang tidak menggunakan topengnya lagi. Di belakang mereka ada para petinggi mafia Arlington, yaitu Aite, Joker, King dan Queen. Di belakang para petinggi ada dua orang yang berbadan kekar dan bertubuh besar, satu orang memiliki wajah baby face, dan satunya lagi pria dengan luka jahit di pipinya.

__ADS_1


Mereka semua memasuki ruangan yang tampak seperti ruang rapat. Seperti biasa, Ken duduk di tengah sebagai pemimpin rapat yang ditunjuk oleh Meyrin. Sedangkan sang pemimpin sendiri duduk di sebelah kanannya. Di depan sebelah kiri Meyrin kosong karena biasanya itu menjadi tempat duduk seorang Daniel Arlington.


Para petinggi duduk di masing-masing sisi saling berhadapan. Para tangan kanan dari petinggi berdiri di belakang majikannya. Mereka memasang pose siap sedia untuk melindungi tuannya masing-masing. Dedikasi dari mereka tidak perlu diragukan lagi jika itu berhubungan dengan organisasi.


"Paman Aite dan Paman Joker, ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Meyrin memulai rapatnya.


"Ti-tidak ada, Nona," jawab keduanya kompak.


"Baiklah karena kelima petinggi mafia Arlington sudah berkumpul, ada yang ingin aku katakan terlebih dahulu." Meyrin menatap Ken yang hanya dijawab cengengesan ala sepupunya itu.


"Tadi malam karena kebodohannya, Ken membongkar identitasnya tanpa sengaja. Seperti yang kalian lihat, Jack adalah Ken dan Ken adalah Jack. Aku tidak perlu menjelaskan siapa itu Ken karena dia memiliki dua nama dan keduanya sama" terkenal. Itulah alasan kenapa kalian aku panggil untuk berkumpul. Aku ingin kalian bersumpah untuk selalu menjaga rahasia Jack."


"Siap, Bos."


Lea berjalan membagikan empat lembar kertas, di mana masing-masing petinggi kebagian satu lembar. Aite, Joker, King, dan Queen serta para tangan kanan mereka mulai mengeluarkan pisau kecilnya masing-masing. Mereka mulai melukai salah satu jari tangan hingga berdarah lalu ditempelkan ke lembar yang disebar Lea.


Itu adalah cara bersumpah mafia Arlington. Sumpah darah para petinggi dan tangan kanannya. Sumpah setia akan tetap menjaga rahasia, menjalankan misi organisasi dan siap berjuang hingga titik darah penghabisan. Setelah itu mereka menggeser lembaran-lembarannya ke tengah meja panjang.


"Ada satu hal yang tak kalah penting dari ini. Beberapa hari lagi kita akan melakukan kunjungan ke Tuan Lee." Meyrin menatap keempat petingginya.


"Tuan Lee pemimpin kapak putih? Apa mereka membuat masalah, Bos?" tanya King.


"Maksudnya?" Kali ini Ken yang bertanya tanpa embel-embel Bos lagi.


"Buz menyembunyikan bosnya. Dia mengalihkan perhatian kita pada kapak putih."


"Bagaimana Anda mengetahui kalau Buz memberikan laporan palsu?" tanya Joker.


"Setelah rapat selesai waktu itu, aku bertemu dengan Nikolai Stevano. Dia telah menyelidiki penyerangan terhadap Walikota dan itu memang ditujukan untuk beliau."


"Tapi Bos, bukannya waktu itu Anda sendiri yang bilang jika Rizzo yang menyerang Walikota?" Aite menimpali ucapan Laras yang dijawab anggukan kepala oleh Ken dan Joker.


Tentu saja Aite menonton hasil rekaman CCTV saat Meyrin berubah menjadi malaikat pencabut nyawa. Maka dari itu, dia mengetahui semua permainan yang dilakukan Meyrin saat dirinya mengurus suara ledakan.


"Awalnya Rizzo memang ingin menyerang Walikota sebagai sambutan untukku. Sayangnya, Aksi anak buah Rizzo kalah cepat dengan anggota kapak putih. Nikolai telah memastikannya dan itu memang ulah dari anggota kapak putih."


"Tapi, bukankah kita tidak harus percaya sepenuhnya?" King mulai ikut dalam diskusi.

__ADS_1


"Ken!" perintah Meyrin.


Ken mulai beraksi dengan laptopnya. Dia mulai memasukkan kodenya untuk masuk ke dalam sistem pertahanan Armand. Empat petinggi itu menatap takjub seorang Ken yang begitu mahir dalam dunia cyber.


"Ken, apa kamu sedang balas dendam padaku?" terdengar suara Armand entah dari mana. Tapi, mereka yakin bahwa suara Armand berasal dari laptop Ken.


Ken terkekeh dan menjawab dengan santai, "Tidak. Nona Meyrin sudah mendapat izin dari Tuan Nikolai untuk mengakses kodemu. Aku ingin memeriksa rekaman penyerangan Walikota."


"Baiklah."


Ken lalu menekan enter dan muncullah beberapa file video dari data Armand. Ken hanya menyalin kode di sana dan hanya dirinya dan Armand yang paham. Setelahnya, pria yang terkenal mempunyai jutaan fans wanita itu mulai kembali bermain dengan satu kode itu.


Ken tersenyum senang saat berhasil membobol sistem pertahanan yang ada di gedung Opera La Fenice. Dia mulai mencari rekaman CCTV saat peristiwa itu terjadi dan mulai memutarnya. Semua menatap pada layar dan mengamati dengan seksama.


"Bagaimana Tuan Stevano dapat meyakinkan Anda, Bos?" tanya Queen setelah melihat video itu.


Meyrin mengulurkan tangannya pada Lea. Wanita kekar itu memberikan kantong kain dengan ujungnya berupa tali serut warna merah. Meyrin melempar itu di tengah meja. Queen segera beranjak dan membukanya.


Kedua matanya membulat sempurna, tidak percaya dengan isi dalam kantong itu. Dia meminta izin pada Meyrin untuk mengeluarkan isi dari dalam kantong tersebut.


"Tunjukkan saja!" perintah Meyrin dengan santainya.


Queen merenggangkan tali serut itu agar kantong merah bisa terbuka secara lebar. Pria yang memasuki usia 45 tahun itu sengaja tidak menyentuh isi dalam kantong. Dia tidak ingin meninggalkan jejak sidik jarinya pada benda tersebut, hingga terdengar bunyi suara benda yang bertabrakan dengan permukaan meja. Begitu pelan, tapi membuat semuanya terpekik.


Tuk!


"Astaga!"


Benda apakah?


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2