OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 20 GELORA


__ADS_3

Jika William dan Meyrin sudah berada di atas awan menuju ke Italia, beda halnya dengan Emily yang ada di Lunar City. Emily yang baru saja pulang pemotretan di LA langsung mendapatkan telepon dari seseorang.


Senyum manis dan malu-malu tersungging di wajah cantiknya. Senyum khas orang yang sedang jatuh cinta. Seseorang itu mengajak Emily untuk makan siang bersama. Tanpa pikir panjang, wanita berambut pirang itu langsung menyetujuinya.


Emily langsung masuk ke walk in closetnya. Pilihannya jatuh pada mini dress tanpa lengan warna peach dipadukan dengan outer putih berenda. Tidak lupa sepatu yang warnanya senada dengan dressnya. Wanita itu berputar di depan cermin dengan wajah yang berseri.



Seorang pelayan mengetuk pintu kamar, mengatakan bahwa dirinya mendapatkan tamu. Emily langsung menyambar tas selempangnya dan buru-buru keluar dari kamar. Hatinya berdetak sangat kencang.


"Hi," sapa tamu Emily yang ternyata seorang pria.


"Hi, Alex." 


"Siang ini kamu sangat cantik, Nona Lily," puji Alex.


"Berhenti memujiku." Emily memukul lengan Alex yang keras karena rajinnya olah raga.


"Ayo kita makan siang!" Alex mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Emily.


Beberapa pengawal membungkuk hormat saat Emily dan Alex melewati mereka. Alex dengan gentle nya membukakan pintu depan samping kemudi untuk Emily. Emily merona saat diperlakukan seperti tuan putri oleh pria yang dia cintai.


Entah sejak kapan perasaan cinta itu menggelayuti Emily karena yang dia tahu, separuh hatinya sudah dicuri oleh Alex. Wanita itu menatap Alex yang sedang memutari mobil dengan sedikit berlari kecil.


Emily menatap Alex saat pria itu sudah duduk di depan kemudi. Alex juga menatap Emily dan memberikan senyuman termanis sebelum melajukan mobil sedannya. Saat mereka sudah ada di jalan raya, Alex menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Maaf," ucap Alex yang langsung mencium bibir Emily tanpa permisi.


Emily yang mendapatkan ciuman mendadak itu membulatkan kedua matanya, terkejut. Hingga akhirnya Emily mengalungkan kedua tangannya dan mulai membalas ciuman dari Alex.


Teriknya matahari siang ini tidak sepanas cinta kedua insan yang bergelora. Alex yang tahu akan keadaan, mulai melepas ciumannya. Nafas keduanya tersengal-sengal. Dada mereka kembang kempis karena kurangnya pasokan udara di dalam rongga dada.


"Maaf, aku kelepasan. Kamu terlalu cantik siang ini," ujar Alex merasa bersalah.

__ADS_1


"Oke, tak masalah."


"Maaf juga karena aku, lipstikmu jadi belepotan." Alex menyerahkan tisu dan sebuah lipstik warna pink.


"Kamu ingin aku memakai lipstik ini?" tanya Emily menatap lipstik pemberian Alex.


Pria itu tidak menjawab. Akan tetapi, anggukan kepalanya sudah mengatakan kemauan seorang Alex. Emily yang melihat sikap Alex seperti ini jadi gemas sendiri.


Setelah Emily merapikan make up nya dan memakai lipstik pemberiannya semakin membuat lelaki itu ingin mencium habis bibir tipis nona mudanya. Alex mulai melajukan kembali mobilnya.


Dering ponsel di dalam tas Emily mulai terasa, ada panggilan dari Meyrin. Tapi setelahnya langsung berakhir. Saat dia ingin memasukkan kembali ponselnya, dering itu kembali datang. Emily langsung menggeser tombol hijaunya setelah mengetahui bahwa sang kakak peneleponnya.


****************


Emily yang dimabuk cinta, beda dengan sang kakak yang saat ini sedang berbaring di ranjang queen size nya. Rasa lelah dan mendapatkan waktu istirahat benar-benar wanita itu manfaatkan dengan baik.


Suara ketukan pintu terdengar tapi Meyrin enggan untuk membuka matanya. Penyakit susah bangunnya dari dulu tidak pernah sembuh bahkan lebih parah. Tidak mau basa basi lagi, seseorang dari luar langsung membuka pintu kamar Meyrin dengan kunci cadangan yang dimilikinya.


Terlihat Lea baru saja membuka pintu kamar nona mudanya. Dilihatnya sang pemimpin Arlington Group masih bergelut manja dengan selimut dan gulingnya. Meyrin tidur seperti kucing yang kedinginan membuat Lea tersenyum geli. Baru kali ini wanita dengan badan kekar itu melihat nona mudanya tidur tanpa beban.


"Hm," gumaman tak jelas menjadi jawabannya.


"Satu jam lagi kita akan landing, Nona. Ayo bangunlah!" Lea mulai menggelitik tubuh Meyrin.


"Astaga! Oke! Oke! Aku bangun!" Meyrin langsung terduduk dengan mata yang masih terpejam.


Melihat tingkah konyol nona mudanya membuat tawa Lea meledak. Bagaimana ada wanita bangun tidur tapi mata masih terpejam, lucunya lagi posisi Meyrin yang terduduk.


"Nona, ayo bersiaplah. Gondola Venesia sedang menunggu kita."


Mendengar kata gondola dan Venesia langsung membuat Meyrin membuka kedua matanya. Manik hitam kelamnya terlihat begitu segar setelah tidur yang cukup dan nyenyak tentunya. Sebuah senyum diberikan Lea untuk menyambut nona mudanya.


"Bersihkan diri dulu, saya sudah menyiapkan baju di atas sofa," ucap Lea.

__ADS_1


"Terima kasih, Lea." Meyrin dengan langkah gontai masuk ke kamar mandi.


15 menit berlalu, Meyrin keluar dari kamarnya menuju kabin. Disana sudah ada William yang sedang menikmati cokelat panasnya. Sebuah kacamata bertengger dengan epiknya di hidung mancung lelaki itu. Pandangannya begitu fokus menatap layar laptopnya.



Sebuah ide muncul di dalam benak Meyrin. Dia akan memulai balas dendamnya saat ini. Senyum jahil tersungging di bibir tipis Meyrin.


Meyrin berjalan mendekati William. Lelaki itu masih tetap fokus pada layar laptopnya, hingga Meyrin tiba-tiba menutupnya tanpa permisi. William menengadahkan kepalanya dan mengernyitkan dahi, menatap Meyrin penuh tanda tanya.


Meyrin memiringkan kepalanya sedikit, seolah dirinya juga bingung harus menjawab apa. Tapi tidak dengan jemari lentiknya yang mulai bergerilya mengusap paha William. Manik hitam keduanya saling bersirobok, ada pancaran yang aneh di mata William. Begitu pula dengan jantung Meyrin yang mulai berdetak seperti genderang perang.


William menatap Meyrin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Benjolan di lehernya naik turun saat melihat penampilan wanita yang duduk di depannya. Sesuatu yang salah sedang terjadi pada tubuhnya.


William menatap lekat dan terpesona pada Meyrin. Penampilan wanita yang berada di depannya ini membakar tubuhnya. Dia begitu tergoda hanya dengan melihat Meyrin dengan kaos ketatnya warna putih, dipadu dengan hotpants yang panjangnya di atas lutut.


Kaki yang jenjang dengan kulit putih bersihnya disilangkan oleh Meyrin. Wanita itu duduk di depan William, saling berhadapan. William menahan nafasnya saat jari lentik itu sudah berada di dadanya yang bertalu-talu. Meyrin tersenyum melihat reaksi dari suaminya.


William menghela nafas kasarnya setelah jari lentik wanita itu sudah tidak ada di dadanya. Meyrin sedikit mengangkat tubuhnya saat tangannya berada di kedua sisi kepala William.


Pandangan kedua mata mereka tidak terlepas, saling memancarkan pesona masing-masing. Meyrin mendekatkan wajahnya ke wajah William dan saling menautkan kedua tangannya di belakang leher William.


Jarak wajah yang begitu dekat, membuat mereka bisa merasakan deru nafas panas masing-masing. Tatapan yang mulai terbakar hingga entah siapa yang lebih dulu memulai, bibir keduanya saling bersentuhan.


Hanya sentuhan lembut yang dapat membakar tubuh keduanya. Sentuhan lembut di bibir membuat setiap syaraf-syaraf di tubuh mereka menginginkan hal yang lebih dari ini. Gelora dalam diri mereka memberontak ingin lebih dari sekedar sentuhan. Akan tetapi, William langsung mendorong Meyrin saat tiba-tiba wajah Laras yang tersenyum manja padanya terlintas.


"Shiit!" umpat William dengan nada lirih tapi masih bisa didengar oleh Meyrin.


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga


__ADS_2