OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 136 SIAPA ALEX? (S2)


__ADS_3

BAB 136 || SIAPA ALEX? (S2)


William melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia ingat telah membuat saus BBQ sangat cocok jika dipadukan dengan steaknya nanti. Tinggal ditambah kentang atau bikin salad sayur. Ide hidangan steak sudah William rangkai di dalam otaknya.


Akan tetapi, ide itu tiba-tiba langsung hancur saat melihat pemandangan di depannya. "Apa yang kalian lakukan? Emily! Alex!"


Sontak saja sepasang kekasih itu langsung melepaskan pagutan di antara keduanya. Mereka yang kepergok oleh William langsung mematung tak berani menatap lelaki itu. Sedangkan William semakin melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua.


William menghentikan langkah kakinya, menatap Emily dan Alex dengan tatapan tajam. "Apa yang ingin kalian lakukan di sini?" tanyanya.


'Sial, kenapa harus kepergok sama Kakak ipar sih?' gerutu Emily dalam hatinya.


'Aku harus apa? Apakah jujur saja? Lalu kalau Emily marah bagaimana?' batin Alex bertanya-tanya.


"JAWAB!" Bentakan William sukses membuat Emily dan Alex tersentak.


"Kakak ipar, se—" Emily tidak bisa melanjutkan perkataannya karena perintah yang dikeluarkan oleh William.


"Alex, ikut aku! Emily kembali ke kamar!" perintah William tidak ingin dibantah.


Setelah memberikan perintahnya dengan tegas, William berjalan meninggalkan dapur. Alex yang hendak mengikuti William ditahan oleh Emily. Gadis itu menggelengkan kepalanya takut terjadi apa-apa. Walaupun William bukan ketua mafia seperti kakaknya, tapi Kakak iparnya itu seorang penderita kelainan paranoid.


"Kamu tenang saja. Mungkin sudah waktunya kita harus jujur tentang hubungan ini." Alex mencoba menenangkan kekasihnya itu, padahal dirinya juga takut.


"Tapi—"


"Honey, percayalah sama aku. Sekarang turuti perintah Tuan Plowden, kembalilah ke kamarmu." Alex mencium kening sang kekasih sebelum meninggalkan Emily sendirian di dapur.


Emily khawatir. Seperti perintah Kakak iparnya dan sang kekasih, Emily kembali ke kamarnya. Tapi, saat melewati kamar sang Kakak dia menghentikan langkah kakinya. Ditatapnya pintu kamar tidur Laras dan dengan pikiran kalut dia masuk ke dalam kamar.


"Kak Laras, tolong Emily!" tangis Emily langsung pecah saat masuk ke kamar sang Kakak.


Emily langsung berhambur ke pelukan Laras yang masih tertidur. "Kak, tolong Emily, hiks … hiks …."


Laras langsung tersadar dari tidurnya saat mendengar suara Emily menangis. "Tenanglah dulu! Setelah itu ambilkan baju Kakak dan katakan ada masalah apa."


Emily hanya menganggukkan kepalanya saja dan masih menangis di dalam pelukan Laras. Setelah beberapa menit, akhirnya Emily mendongakkan kepalanya. Dia beranjak dari pelukan Laras dan memungut baju tidur sang Kakak.

__ADS_1


"Nah, sekarang katakan apa masalahmu, Lily," perintah Laras dengan lembutnya.


Akhirnya meluncurlah cerita saat dirinya pertama kali bertemu dengan Alex. Lalu setelah peristiwa itu hingga berakhir mereka saling jatuh cinta. Emily menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Emily menceritakan kisah cintanya dengan menundukkan kepala, enggan menatap sang Kakak.


"Lalu hingga akhirnya, malam ini saat Lily dan Alex berciuman, Kak William mengetahuinya. Sekarang Alex sedang menghadap Kakak ipar." Emily menyelesaikan ceritanya.


"...."


Laras tidak memberikan respon apapun. Emily sadar bahwa dia telah melakukan sebuah pengkhianatan kepada kakaknya sendiri. Emily juga sadar ada konsekuensinya dari sikap pengecutnya ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, Emily harus menerima resiko atas sikapnya.


Laras mengambil ponselnya yang ada di samping nakas. Dia langsung menghubungi Lea, asisten pribadinya. Emily dengan sedikit keberanian, mencuri pandang Emily meneguk ludahnya saat melihat wajah serius sang Kakak.


"Lea, bawakan berkas mereka sekarang dan temui William. Aku takut dia bertindak di luar batasnya." Laras langsung memberikan perintah saat panggilan itu terjawab.


"Saya sekarang sedang berada bersama Tuan, Tuan Ken serta Rama, Nyonya," jawab Lea di seberang sana.


"Oke, aku dan Emily akan ke sana."


Setelah mengatakan itu, Laras mengakhiri panggilannya bersama asisten pribadinya. Dia menatap Emily yang masih menundukkan kepalanya. Walaupun Laras sadar bahwa adik tirinya sesekali mencuri pandang ke arahnya.


"Ikut dengan Kakak!" ajak Laras dengan nada tegasnya dan Emily sadar bahwa inilah saatnya dia harus menerima konsekuensi dari kebohongannya sendiri.


Bruk!


Prang!


Mendengar suara gaduh sukses membuat Emily mendongakkan kepalanya. Di depannya terlihat Alex yang sedang tersungkur ke meja. Hal itu membuat benda yang ada di atas meja berjatuhan di lantai. Bahkan, serpihan kaca itu mengenai tubuh Alex.


"Alex!" teriak Emily langsung berhambur ke arah sang kekasih.


Emily menangis saat melihat wajah Alex babak belur. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Gadis itu langsung memeluk Alex dan menangis sejadinya.


"Hei, kenapa kamu ke sini? Bukannya aku sudah menyuruhmu kembali ke kamar?" tanya Alex dengan nada lirihnya.


"Aku sudah jujur pada Kak Laras," jawab Emily masih memeluk Alex.


"Kenapa kamu melakukannya di saat seperti ini?" Alex meringis saat kekasihnya memeluk ia begitu erat.

__ADS_1


"Maksudmu apa?" tanya Emily tak paham.


"Alex Funk Gerard, bangun!" teriak Ken dengan nada marah.


Emily yang mendengar sepupunya itu memanggil nama Alex mendongakkan kepalanya. Dia dapat melihat raut wajah Ken begitu marah kepada asistennya. Tiba-tiba dia teringat bahwa Ken memanggil kekasihnya dengan nama Alex Funk Gerard bukan Alex Gerard.


"Apa mungkin?" Emily menatap Alex tak percaya.


"Kamu tunggu di sini dulu. Aku akan menyelesaikan semuanya. Tetap percaya padaku, Lily." Alex mulai berdiri.


Emily menatap Alex dengan pandangan kosong. Dia tidak percaya bahwa hal ini terjadi padanya. Emily tidak tahu harus melakukan apalagi. Semua kenangan manis dengan Alex berkelebatan di benak Emily. Dia tidak mungkin membohongi perasaannya yang sudah jatuh cinta pada Alex.


Emily melihat Alex mendekati Ken, William dan Laras. William dan Laras tampak santai, di belakang mereka sudah ada Rama dan Lea. Terlihat Lea menyerahkan sebuah amplop kepada Laras. Sedangkan Rama menyerahkan sebuah map kepada William.


Emily tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak bisa melakukan hal apapun lagi. Dia mulai pasrah saat mendengar nama lengkap sang kekasih. Mau tidak mau dia akan menerima semua keputusan yang akan diberikan oleh sang Kakak.


Alex menghentikan langkahnya di depan Tuan dan Nyonya Plowden. Dia yang merasa penyamarannya tidak perlu ditutupi lagi, memberanikan diri menatap William dan Laras. Tingkah Alex membuat Ken geram dan berdecih. Dia benar-benar dibutakan oleh sikap baik Alex selama ini sehingga tidak menyadari sesuatunya.


"Laras, boleh aku memukul dia lagi?" tanya Ken dengan menahan amarahnya.


"Duduklah, Ken! Kamu sudah melampiaskan semuanya, 'kan?" jawab dan tanya Laras.


"Belum, karena aku ingin dia membayar semua perbuatannya selama ini kalau perlu mati saja," gerutu Ken.


"Alex Funk Gerard," panggil Laras dengan aura dinginnya.


"I-iya, Nyonya," jawab Alex gugup.


"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Laras.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga


__ADS_2