
William berbaring di atas kasur dengan posisi terlentang. Jadwalnya hari ini begitu padat membuat tubuh lelaki itu lelah. Rasanya ingin segera tidur, tapi sejak 30 menit yang lalu kedua matanya enggan untuk terpejam.
William membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan kiri, berharap dirinya dapat tertidur. Akan tetapi, semua hal itu tidak berhasil. Dirinya mengumpat dan memaki saat pikirannya selalu tertuju pada Meyrin.
"Sialan! Kenapa bayangan Meyrin begitu sulit untuk pergi dari benakku?" kesal William.
Dia beranjak dari kasurnya. Berjalan mondar-mandir seperti orang ketiban musibah. Helaan napas terkadang panjang, terkadang juga pendek membuat siapapun yang mendengarnya bosan. Hingga akhirnya dia menyerah, ya William kalah dengan hatinya.
Tak perlu berpikir dua kali, William keluar dari kamarnya. Dia berjalan di koridor lantai presidential suit. Bertanya pada seorang pengawal tentang keberadaan Rama.
"Tuan Rama ada di kamarnya, Tuan."
Mendengar jawaban dari pertanyaannya, William segera menuju ke kamar Rama. Diketuknya pintu kamar Rama yang terkunci dari dalam. Tak butuh waktu lama untuk sang asisten pribadinya membuka pintu.
"Ada apa, Tuan?" tanya Rama dengan wajah ngantuknya.
William tidak menjawab, tapi dirinya langsung masuk ke ruangan asisten pribadinya. Rama mengernyitkan keningnya saat melihat tingkah William. Pasalnya sang Bos malah berdiri di tengah ruangan.
Rama semakin tak paham saat William tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Tidak sampai semenit sang Bos keluar dari kamar. Lalu, William kembali mondar-mandir di tengah ruangan. Seolah pria itu sedang mempertimbangkan sesuatu yang lainnya.
Rama tak mau ambil pusing dengan tingkah William. Dirinya mengambil bantal sofa dan kembali melanjutkan tidurnya di atas sofa. Malam ini Rama akan mengalah dengan William, siapa tahu tuan mudanya itu malah ingin tidur di kamarnya.
Suasana menjadi tenang membuat Rama langsung terjun ke alam mimpi. William yang melihat sikap sang asisten seperti tidak peduli padanya menjadi kesal sendiri.
"Hei, bangun!" ujar William kepada Rama.
"Tuan, apa Anda bodoh? Ini sudah jam 2 dini hari. Nanti saya harus bangun jam 6 pagi untuk menyiapkan keperluan Anda," ujar Rama dengan mata yang masih terpejam.
"Yak! Sejak kapan kamu berani mengatakan hal tidak sopan seperti itu! Ayo cepat bangun, aku butuh sesuatu!" William menendang-nendang sofa yang dibuat berbaring oleh Rama.
Dengan berat hati dan terpaksa, Rama akhirnya bangun dan terduduk. Dia tatap William yang terlihat kabur. Pasalnya Rama sudah tidak kuat lagi menahan kantuk yang menderanya.
"Ada apa, Tuan? Tolong katakan dengan cepat," tanya Rama begitu lirih tapi masih bisa didengar oleh tuan mudanya.
Satu menit, lima menit hingga 15 menit tidak ada jawaban dari William. Rama yang sudah tidak tahan, akhirnya jatuh ke atas sofa untuk melanjutkan tidurnya. William yang melihat itu jadi kesal sendiri. Kembali dia menendang-nendang sofa itu.
Rama yang merasa terganggu akhirnya membuka kedua matanya. Dia akan meluapkan amarah ini, tidak peduli itu William atau siapapun. Dirinya sudah cukup sabar menunggu tuan mudanya untuk bicara.
"Astaga adik bodoh! Maumu apa, hah! Bisa tidak kalau besok saja? Kakakmu ini ingin tidur, sialan!" akhirnya Rama naik pitam dengan tingkah William yang kekanak-kanakan.
"Aku butuh sesuatu," jawab William dengan wajah tanpa dosanya.
__ADS_1
"Katakan sekarang juga atau aku akan menyeretmu keluar dari kamar ini!" Rama mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena emosi.
"Aku butuh nomor Meyrin," ucap William dengan suara lirih dan bola mata yang tidak menatap Rama.
"Astagaaa~" Rama menghembuskan napas panjangnya. "Kamu menggangguku hanya karena ingin nomor Nona Meyrin?" lanjutnya bertanya.
William menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Pria dengan kekuasaan penuh itu tidak berani menatap Rama. Ia sadar karena mengganggu waktu istirahat asisten pribadinya dengan hal yang sepele. Padahal perkara ini bisa dibicarakan esok hari. Akan tetapi, hati William tidak bisa menunggu hingga esok hari.
Rama segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel. Dia mencari nama Lea di sana dan menekan tombol hijau. Dalam hati dia harus meminta maaf secara langsung kepada asisten pribadi Liu Meyrin karena telah mengganggu waktu istirahatnya.
****************
"Halo, ada apa Rama?" tanya Lea.
"Lea, sebelumnya aku minta maaf karena mengganggu jam istirahatmu."
Mendengar permintaan maaf Rama, kerutan kebingungan menghiasi dahi asisten pribadi Meyrin. Ditatapnya jam digital yang ada di layar ponsel wanita yang menjabat sebagai asisten pribadi Liu Meyrin. Pukul 2.45 dini hari waktu Venesia.
"Tidak masalah. Aku baru saja selesai merawat Nona."
"Nona, sakit?" tanya Rama saat melihat kode dari William di depannya.
"Itu …," Rama menatap William yang juga menatapnya penuh harap.
Rama menghembuskan napas panjangnya, "Apakah Tuan Plowden bisa mendapatkan nomor pribadi Nona Meyrin?" tanya Rama hati-hati dan berharap Lea tidak menyulitkannya.
"Tak masalah. Jika itu mengenai urusan perusahaan, Tuan Plowden bisa langsung menghubungi Nona Meyrin. Aku kirim kemana nomor Nona?"
William yang mendengar jawaban Lea terlihat antusias. William membuka mulutnya, hendak mengeluarkan suara, tapi kembali dikatupkannya lagi. Dia melihat Rama yang melotot padanya tanpa rasa takut.
"Bisa kirim ke nomorku. Terima kasih, Lea." Rama menatap William yang juga melotot padanya. Rama tersenyum miring saat tahu apa yang ada di otak tuan mudanya itu.
"Sama-sama." Lea mengakhiri panggilan itu. Tak berapa lama, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Rama.
"Saya sudah mengirim nomor Nona Meyrin ke ponsel Anda, Tuan. Jadi, bisakah kali ini saya tidur?" sindir Rama.
"Tidurlah, aku tidak membutuhkan bantuanmu," ujar William yang langsung keluar dari ruangan Rama.
William tersenyum senang saat menerima pesan dari Rama. Dia langsung menyimpan nomor pribadi Liu Meyrin. William melangkahkan kakinya ke dalam kamar dan berbaring.
Ditatapnya kontak Meyrin yang sudah tersimpan di list kontaknya. Dia menekan tombol hijau untuk memastikan jika itu benar nomor Meyrin.
__ADS_1
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan. Cobalah beberapa saat lagi," suara operator yang menjawab panggilan William.
"Hah~" William menghembuskan napas panjangnya, ditatap jam digital di layar ponsel yang menunjukkan pukul 3.30 dini hari waktu Venesia.
"Sudahlah, mungkin dia sedang tidur. Bukannya kata Lea dia sedang sakit."
William meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia memejamkan kedua matanya, mencoba untuk tidur. Paling tidak dia sudah mendapatkan nomor pribadi Liu Meyrin. Seharusnya hal itu bisa membuatnya tidur dengan tenang hari ini.
****************
Sedangkan di tempat lain, Venesia.
"Bagaimana, apa semua sudah disiapkan?" tanya seseorang yang memakai kacamata hitam.
"Semua sudah siap, Bos. Tinggal menunggu perintah langsung dari Anda."
"Bagus, sudah waktunya kita membalas perbuatan Liu Meyrin," senyum jahat tersungging di wajah pria berkacamata itu.
"Bos, bukankah saat perayaan festival topeng akan banyak warga sipil yang akan menjadi korban?" tanya seseorang di seberang sana.
"Aku lupa kalau sedang menghubungimu. Bagaimana keadaan di mansion Aite?" tanya pria berkacamata kepada seseorang yang diteleponnya tadi.
"Mereka sedang rapat. Akan tetapi, pasukan yang berkumpul tidak lengkap. Kemarin yang hadir hanya Joker, Aite, Lea, Alex, Jack dan Nona Meyrin sendiri," lapor orang di seberang sana.
"Tidak jadi masalah. Terus awasi mereka dan laporkan jika ada hal yang mencurigakan."
"Baik, Bos."
Setelah panggilan berakhir. Pria dengan kacamata hitam itu menatap sebuah foto. Senyuman getir terpampang jelas di sana.
Siapa yang jadi mata-mata nih?
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1