
"Baik, Armand. Aku akan memberitahu Tuan Muda. Kalian berdua hati-hatilah."
Setelah mengatakan hal itu, panggilan antara Armand dan Rama berakhir. Rama segera menuju ke ruangan tuan mudanya. Tanpa pikir panjang, dia membuka pintu kamar, sepertinya dia lupa akan sesuatu.
"Akh! Maafkan saya." Rama langsung menutup pintu kamar dan berbalik, meninggalkan ruangan tuan mudanya.
William dan Meyrin masih terkejut dengan kehadiran Rama yang tiba-tiba itu. Suasana berubah menjadi canggung diantara keduanya.
"Sialan!" umpat William tiba-tiba.
Setelahnya lelaki itu berjalan menuju pintu kamar dan menguncinya. Menatap Meyrin dari belakang yang masih tetap berdiri mematung di posisi awalnya. William melangkahkan kakinya mendekati Meyrin lalu memeluknya dari belakang.
"A—"
Meyrin tanpa aba-aba langsung mengunci salah satu tangan William, lalu sedikit menurunkan tubuhnya dan dengan sekuat tenaga membanting William ke atas kasur.
"Wow!" seru William terkejut menatap Meyrin.
Meyrin hanya tersenyum dan dirinya mulai memenjarakan William di bawah kekuasaannya. Akibat gerakan Meyrin tadi, membuat salah satu tali mini dressnya turun hingga ke lengan.
Meyrin tersenyum nakal saat melihat benjolan di leher William naik turun. Dia sedikit merendahkan tubuhnya hingga belahan gunung kembar di balik mini dressnya mengintip. Lelaki mana yang tidak tergiur jika disajikan pemandangan keindahan secara gratis.
"No!" larang Meyrin saat tangan William hendak menyentuhnya.
William segera menarik kembali tangannya membuat Meyrin tersenyum. Senyuman itu menular pada lelaki yang berada di bawah kekuasaan seorang Liu Meyrin. William begitu terpesona dengan aura yang terpancar pada diri Meyrin.
Sehingga lelaki itu tidak menyadari kalau kedua tangannya sudah terikat dengan dasi yang dibawa Meyrin tadi. Wanita itu menautkan kedua tangan William menjadi satu, lalu mengikatnya di atas kepala. Saat William hendak menaikkan tali dress Meyrin, dirinya baru tersadar jika kedua tangan terikat.
"Kamu akan melakukannya?" tanya William menatap Meyrin tak percaya.
"Bukannya Tuan ingin saya menjadi nakal?" tanya balik Meyrin.
"Baiklah, kamu menang. Silakan berbuat nakal sesukamu," perintah William.
Tangan Meyrin mulai bergerilya di atas tubuh William. Jari lentiknya melepaskan kancing demi kancing kemeja sang lelaki hingga memperlihatkan dada bidangnya. Kemudian, membantu William melepas kemeja yang dipakainya.
"Apa aku tidak boleh menyentuhmu?" tanya William.
"Tidak, Tuan. Biarkan saya yang bekerja malam ini."
William tau, Meyrin sedang menggodanya. Wanita itu sedang bermain dengan seorang William Anderson Plowden. Permainan yang begitu lembut dan mengulur-ulur waktu, menguji batas kesabaran seorang William.
Setelah membantu melepaskan semua pakaian William, Meyrin kembali beranjak dari posisinya menunduk. Senyum kepuasan terpatri di bibir seksinya. Ada rasa bangga saat melihat tanda kemerahan yang diciptakannya.
Selama menanggalkan pakaian William, bibir dan tangan Meyrin tidak berhenti bergerilya. William yang mendapatkan perlakuan nakal seorang Meyrin hanya bisa menahan napas lalu membuangnya dengan kasar. Kedua matanya terpejam menikmati pergerakan tangan wanitanya.
__ADS_1
"Sialan!" umpat William tak sabaran.
Meyrin yang saat itu posisinya sedang bergerak lambat di atas tubuh William, tersentak kaget. Pasalnya, lelaki itu mengalungkan kedua tangannya yang terikat di leher Meyrin. Hal itu membuat kepala Meyrin terbelenggu di antara kedua tangan William.
William mendorong tengkuk Meyrin agar semakin dekat dengan wajahnya. Ciuman lembut, panas dan terkesan menuntut terjadi. Seperti cairan afrodisiak, membuat William dan Meyrin tidak bisa menghentikan efeknya.
Entah sejak kapan, tubuh keduanya sudah polos. Dasi yang menjadi tali untuk mengikat tangan William sudah tergeletak di lantai. Malam ini, William dan Meyrin akan merenggut nikmatnya cinta berdua.
****************
Cahaya remang-remang dari lampu tidur ditambah sinar rembulan yang masuk menembus lapisan kaca. Terlihat seorang wanita dengan mini dress dan sweater sedang duduk di kursi balkon.
Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari waktu Venesia. Meyrin menikmati angin malam dengan ditemani sebotol wine. Gemerlap lampu terefleksikan dengan sempurna di atas permukaan air.
Dihembuskannya napas kasar. Meyrin memijat-mijat keningnya. Pikirannya kembali memutar kembali peristiwa beberapa menit yang lalu.
"Ada apa Lea?" tanya Meyrin dalam keadaan setelah sadar.
"Apa Nona sudah membaca email yang dikirim Tuan Ken?" tanya Lea to the point.
"Oh, tentang penyerangan Walikota. Aku sudah membaca sekilas, apa ada masalah?"
"Tidak ada, Nona. Entah kenapa saya berpikir jika serangan itu ditujukan kepada Nona bukan Walikota. Selain itu, sesuatu pada biodata Tuan Steve ada yang tidak beres. Akan tetapi, saya tidak menemukan celah yang mencurigakan," jelas Lea panjang lebar.
"Sebentar."
"Lanjutkan!" perintah Meyrin saat dirinya sudah berada di balkon.
"Saya sudah meminta Tuan Aite dan Tuan Ken untuk menyelidikinya."
"Rizzo … Steve, hmm … sungguh nama yang membuatku geli." Meyrin tersenyum sinis pada gemerlapnya lampu kota.
"Nona, selanjutnya kita harus apa?" tanya Lea.
"Abaikan saja mereka, jadwalku selanjutnya apa?"
"Saya mengosongkan jadwal Nona hingga lusa besok."
"Kalau begitu, kirim dokumen yang harus aku periksa ke email."
Setelah mengatakan itu, Meyrin mengakhiri panggilannya. Memejamkan mata sejenak sebelum sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Meyrin tersenyum dan menengadahkan kepalanya.
Terlihat wajah tampan, rambut acak-acakkan dan manik hitam yang selalu dapat membius Meyrin. William benar-benar seperti Dewa cinta yang sudah memanahkan panahnya pada Meyrin. Pesona lelaki itu tidak dapat diragukan lagi.
"Kenapa belum tidur?" tanya William.
__ADS_1
"Aku terbangun, Will."
"Ayo masuk! Angin malam tidak baik untuk kesehatan." William langsung menggendong Meyrin kembali masuk ke kamar.
Meyrin langsung melingkarkan tangannya di leher William. Bibir William terlihat bengkak dan memerah, membuat seorang Meyrin tergoda untuk menciumnya.
"Aku ingin menciummu," Meyrin mengutarakan apa yang ada dipikirannya.
"Tunggu setelah berbaring."
"Lagi? Tidak! Aku hanya ingin menciummu, tidak lebih. Bagian intiku masih sakit," keluh dan protes Meyrin yang membuat tawa William pecah.
"Maaf kalau aku terlalu bersemangat," sesal William.
"Sialan! Ucapan sesalmu seperti sama sekali tidak menyesal," sungut Meyrin.
William membaringkan Meyrin di atas kasur dengan hati-hati. Pria itu tidak ingin menyakiti seorang Liu Meyrin. Selanjutnya ia ikut berbaring di sisi lainnya dan menarik selimut.
Meyrin langsung menggeser tubuhnya mendekat ke arah William. Dirinya ingin berada di dalam pelukan William yang hangat. Melihat sikap manja wanitanya, William tersenyum geli. Dia menarik selimut hingga batas leher sang wanita.
"Masih ingin menciumku?" tanya William.
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Aku teringat akan Juna," aku Meyrin.
"...." tidak ada respon dari William.
Meyrin tersenyum kecut saat tidak mendapati jawaban dari William. Dirinya sudah mengira kalau William tidak bisa menerima Juna.
"Mey," panggil William akhirnya.
"Hm?"
"Bisakah aku saja yang menjadi ayah dari Juna?" tanya William hati-hati. Dia tidak ingin Meyrin marah lagi.
Apa jawaban Meyrin?
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga