OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 7 KONFERENSI PERS


__ADS_3

Sebuah mansion di pusat kota, terlihat seorang pria yang sudah memasuki usia kepala lima sedang sibuk menikmati waktu santainya. Tiba-tiba seseorang berlari, mendekat ke arahnya.


"Tuan Daniel, sesuatu terjadi pada nona Meyrin dan tuan Ken."


"Meyrin?" Daniel mengingat-ingat siapa itu Meyrin.


"Nona Liu Meyrin," Josh membantu tuan besarnya mengingat.


"Iya, ada apa dengan mereka berdua?" tanya Daniel menatap asisten pribadinya, Josh.


"Ini, Tuan," Josh menyerahkan tabletnya kepada Daniel Arlington.


Kening Daniel berkerut karena membaca artikel itu. Dimanapun dia mencari berita, maka akan muncul nama keponakannya dan wanita misterius.


"Kenapa bisa begini?" tanya Daniel.


"Saya sedang menghubungi tuan Ken, tapi belum ada respon," lapor Josh.


Daniel langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia langsung mencari nama Laras disana, mencoba menghubungi putri sulungnya. Dering pertama tidak ada jawaban hingga suara operator terdengar. Daniel ganti menghubungi dengan nama Meyrin dan dering ketiga langsung ada jawaban.


"Halo Ayah, ada apa?" tanya Meyrin di seberang sana.


"Kalian ada dimana?" tanya Daniel.


"Kalian?" Meyrin pura-pura tak paham maksud ayahnya yang langsung diacungin jempol oleh Ken yang berada di sebelahnya.


"Liu Meyrin!" bentak Daniel dengan tegasnya.


"I ... iya Ayah. Aku lagi bersama Ken dan dalam perjalanan pulang," jawab Meyrin takut-takut.


"Pulang ke mansion sekarang juga!" perintah tegas Daniel dan langsung mematikan sambungannya.


Daniel langsung memijat keningnya melihat tingkah anak dan keponakannya. Josh hanya bersiap jika tuan besarnya akan marah, dan benar saja Daniel menatap tajam ke arahnya.


"Lea ada dimana? Kenapa bisa kecolongan seperti ini?" bentak Daniel kepada Josh.


"Maaf, Tuan. Nanti akan saya tanyakan." Josh membungkukkan badannya.


"Terserah. Suruh mereka berdua langsung ke ruang kerjaku," Daniel langsung pergi setelah memberikan perintahnya.


****************


Sedangkan di bagian sisi lain Lunar City. William baru saja tiba setelah perjalanan bisnisnya ke Indonesia. Rama menyerahkan sebuah ponsel kepada William. Sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Ada nama Ken Lian disana membuat William langsung mengklik linknya.


Kening William mengernyit saat muncul foto Ken dengan seorang wanita. Bukan itu yang menjadi fokus William, melainkan wanita yang sedang memeluknya. Walaupun bertemu sebentar, tapi daya ingat William tidak diragukan lagi. Dia sangat yakin kalau wanita itu adalah Liu Meyrin.


"Rama, dia Liu Meyrin kan?" tanya William menunjukkan layar ponselnya.


Rama menatap layar ponsel William lekat-lekat, "sepertinya begitu, Tuan."


"Cari tahu ada hubungan apa mereka berdua!" perintah William yang langsung masuk ke dalam mobil.


****************


Brak!


Daniel menggebrak meja kerjanya. Ditatapnya empat orang yang ada di hadapannya saat ini. Akan tetapi, fokusnya hanya ke dua anak manusia yang berbeda jenis dan masih muda.

__ADS_1


"Liu Meyrin, kenapa kamu tidak bisa menahan diri saat bertemu dengan Ken? Ayah tahu kalau kamu sangat merindukannya, tapi lakukan pelukannya setelah sampai rumah apa tidak bisa?" bentak Daniel.


"Bi.. bisa ayah," jawab Meyrin takut-takut.


"Ingat! Ayah menyembunyikan identitasmu karena permintaanmu sendiri. Jika seperti ini, William bisa curiga. Orang dibelakang William juga, Nikolai Stevano sama seperti ayah."


"Meyrin salah, maaf ayah."


"Ayah tidak mau kamu berada dalam masalah lagi seperti dua tahun yang lalu. Jadi tolong mengertilah," Daniel mulai menurunkan nada bicaranya walaupun amarah belum padam.


"Maaf, Ayah. Walaupun begitu, tadi malam kita habis bertarung," Meyrin hanya menunduk dan memainkan jari-jemarinya.


"Meyrin!" Ken menyenggol lengan Meyrin.


"Ups!" Meyrin menutup mulutnya keceplosan. Dia semakin menunduk takut disembur sang ayah.


Ken hanya menggeleng-gelengkan kepalanya akan kepolosan Meyrin yang tidak berubah. Meyrin dan Laras sama saja, jika sudah bersama ayahnya akan berbicara jujur.


Beda halnya jika sudah berhadapan dengan musuh, maka tidak ada kelembutan disana. Ken menatap pamannya yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Daniel.


"Ken, ada yang mau dikatakan?" sindir Daniel tajam.


Ken menghembuskan nafas panjangnya. Setelah itu dia bercerita dari saat di bandara sampai dua mobil yang tak dikenal menyerang mereka. Lea yang mendengar itu semakin menundukkan kepalanya. Dia yakin, pasti giliran dia yang kena semburan dari bos besarnya itu sebentar lagi.


"Lea!" benar saja, Lea berjalan mendekat ke arah Daniel dan dua majikan mudanya.


"Siap, Tuan!" jawab Lea tegas.


"Sudah mendengar cerita Ken, bukan?"


"Sudah tuan. Maafkan atas kecerobohan saya," ucap Lea sambil membungkukkan badannya.


Daniel menghembuskan nafasnya, "Jangan memanggil diri sendiri dengan Laras, Nak."


"Maaf, ayah."


Daniel sangat tahu hati Meyrin begitu lembut untuk keluarganya. Inilah kelemahan Daniel yang tidak bisa marah terlalu lama pada anak sulungnya itu. Tapi, lembutnya Meyrin hanya untuk orang yang dia sayangi. Beda halnya jika berhadapan dengan musuh-musuh dari keluarga Arlington.


Ken mengernyitkan keningnya saat Meyrin mengatakan akan melakukan konferensi pers. Bukannya dengan begitu identitas dia akan diketahui oleh semua orang. Sebenarnya rencana apa yang sedang berada di otak cemerlang Laras.


"Terserah. Ayah hanya ingin hidup normal bersama kalian. Semua sudah ayah berikan padamu, Meyrin. Lakukan sebaik mungkin dan jangan mengecewakan ayah. Ayah akan turun tangan jika kamu mulai kesulitan. Tak masalah, bukan?"


"Tak masalah ayah. Laras eh Meyrin sudah membuktikannya dengan menghidupkan kembali perusahaan yang dulu pernah ayah korbankan untuk menutupi skandal Meyrin dan Ken waktu di Indonesia," jawab Laras mantap.


"Ya, dan kamu menjadikan itu sebagai pusat dari kerajaan bisnis Arlington. Ayah bangga sama kamu."


"Maksud kalian, perusahaan Arlington Group yang terkenal sebagai perusahaan nomor satu di Lunar milik Meyrin, bukan milik paman?" tanya Ken tak percaya menatap Meyrin dan pamannya bergantian.


"Begitulah," Meyrin menyombongkan dirinya.


"Wah sialan kamu, Ras! Kamu menjadi the number one woman in Lunar City kalau begitu," seru Ken takjub.


"So, apakah rencana gilaku akan berhasil?" tanya Laras sambil menaik-turunkan alisnya.


"Pasti berhasil," kali ini Ken mendukung rencana gila sepupunya itu.


"Kalian membicarakan apa?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Rahasia anak muda, Ayah," jawab Laras misterius.


"Kalau begitu menginaplah disini," pinta Daniel kepada Laras dan Ken. Mereka berdua menyetujuinya.


"Hadiahku gimana, Ken?" Meyrin kembali teringat dengan hadiah yang dijanjikan oleh Ken.


"Besok, setelah konferensi pers aku akan membawanya ke penthouse mu."


****************


Meyrin menggeliat saat sinar matahari mulai masuk ke dalam ruangan, mengganggu waktu tidurnya. Lea semakin membuka lebar tirai jendela itu membuat Meyrin menarik selimutnya, menghalau cahaya matahari.


"Nona Meyrin, waktunya untuk konferensi pers. Tuan Ken sudah menunggu di bawah," Lea membangunkan nona mudanya itu.


Masih dengan wajah mengantuknya, Meyrin yang posisi awal berbaring sekarang menjadi duduk sambil memeluk bantal gulingnya. Sesekali dia menguap karena waktu tidurnya berkurang.


Semalam dia begadang dengan Ken untuk membahas rencana gila seorang Laras atau Liu Meyrin. Wanita itu ingin agar William paham bagaimana rasanya menjadi Laras yang selama lebih dari lima tahun dibohonginya.


"Saya akan turun ke bawah lebih dulu. Baju sudah saya siapkan di walk in closet," jelas Lea yang hanya mendapat balasan anggukan kepala.


30 menit kemudian, Meyrin keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Disana, sudah ada Ken dan sang ayah.


"Kalian sudah siap mempublikasikannya?" tanya Daniel menatap Meyrin dan Ken bergantian.


"Aku sudah menceritakan semuanya pada paman dan beliau setuju," jelas Ken saat melihat wajah penuh tanya Meyrin.


"Ayah tidak perlu turun tangan. Biar aku dan Ken yang mengurus semuanya."


"Josh, siapkan pengawal untuk mereka berdua. Suruh Aite dan Joker mengamankan lokasi. Jangan sampai keduanya terluka," perintah Daniel.


"Ayah, tidak perlu seheboh itu. Toh, aku cuma melakukan konferensi pers bukan memperkenalkan jati diriku kepada mereka semuanya," Meyrin menatap tak percaya pada ayahnya.


"Hanya untuk antisipasi dan ayah tidak menerima penolakan," setelahnya Daniel pergi meninggalkan ruang keluarga diikuti Josh.


Memang, setelah kehilangan Indah dan bertemu dengan putri sulungnya, Daniel sangat menjaga keluarganya. Apalagi setelah kejadian dua tahun yang lalu, Daniel semakin memperketat penjagaannya kepada Emily juga Laras.


****************


Iringan mobil baru saja tiba di depan sebuah gedung. Beberapa pengawal keluar dari mobil dan berbaris rapi, menghalangi para reporter menyerbu Ken dan Meyrin. Pihak keamanan gedung juga melakukan hal yang sama.


Ken keluar dari mobil sportnya yang langsung disambut dengan kilatan cahaya dari kamera para reporter. Lelaki itu mengabaikannya, dia memutari mobil dengan sedikit berlari menuju sisi samping kemudi.


Ken membukakan pintu mobil untuk seseorang, lelaki itu menganggukkan kepala kepada orang yang masih berada di dalam mobilnya. Ken mengulurkan tangannya dan Meyrin menyambutnya.


Perlahan, Meyrin keluar dari mobil dengan bantuan Ken. Senyum Meyrin tak pernah lepas. Para reporter yang melihat itu menjadi terpana akan pesona wanita yang berada di samping Ken.


Sikap Ken yang begitu posesif semakin membuat Meyrin tersenyum malu-malu. Tingkah mereka berdua tidak luput dari sorotan kamera. Lampu flash tak pernah berhenti menghujani Ken dan Meyrin yang berjalan di red carpet.


Ken dan Meyrin seolah tak peduli dengan para reporter. Mereka berdua seperti hidup di dunia yang berbeda. Memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka adalah pasangan yang serasi dan saling cinta.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2