OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 14 TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Meyrin keluar dari kamarnya bersama Lea yang mengikuti dari belakang. Mereka menuju ke ruang tamu, disana ada keluarga Yuki.


"Hai, selamat pagi." Meyrin menyapa dan berjalan menghampiri mereka.


"Hai, Mey. Gimana tidurmu?" tanya Yuki.


"Sedikit ada gangguan, tapi semua bisa diatasi."


"Meyrin, sebenarnya kamu siapa?" tanya Yuki sedikit memajukan tubuhnya ke arah Meyrin.


"Bukannya kamu sudah tahu?" Meyrin mengernyitkan keningnya.


"Maksud Yuki identitasmu sebenarnya." Soga memperjelas pertanyaan sang istri.


"Aku belum bisa mengatakannya. Satu permintaanku, panggil aku dengan Liu Meyrin jangan Laras." Meyrin ikut mengecilkan suaranya.


"Oke kalau kamu tidak ingin mengatakannya. Satu pertanyaan la—"


"Selamat pagi~" seru Dewi dengan cerianya.


"Aduh nih cewek ganggu aja. Sini cepetan mendekat!" Yuki memberi kode kepada Dewi dan Rico agar mendekat.


Meyrin yang melihat tingkah sahabatnya tertawa. Ah, rasanya lama sekali wanita itu tidak tertawa begitu lepas seperti saat ini. Meyrin benar-benar merindukan saat berkumpul seperti ini.


Dewi dan Rico berada di sisi kanan Meyrin, siap mendengarkan yang dikatakan oleh Yuki.


"Nah, katakan pada kami. Siapa Liu Meyrin di Lunar City?" tanya Yuki yang mendapatkan anggukan kepala dari Dewi dan Rico, menatap sahabatnya dengan penasaran.


"Pemilik perusahaan Arlington Group. The most wanted girl in Lunar City." Meyrin mengedikkan bahunya dan tersenyum begitu manisnya.


"Waah~ brengsek nih anak. Bisa-bisanya menjadi the most wanted di kota orang." Dewi menatap kagum pada sahabatnya sekaligus mengejek.


"Aku tidak suka memperlihatkan siapa diriku kepada orang lain. Aku lebih suka bermain di balik layar. Aku mungkin akan menampakkan diriku kepada orang-orang yang penting saja," jelas Meyrin.


"Lalu bagaimana dengan konferensi pers kemarin?" tanya Yuki.


"Paman Aite sudah mengurusnya."


"Siapa lagi dia?"


"Seseorang di belakangku."


"Astaga Meyrin, jangan bilang ka—"


Plak!


Pukulan mendarat dengan indahnya di pundak dan kepala Rico. Pukulan yang diberikan oleh Meyrin juga oleh sang istri, Dewi.


"Itu mulut kalau bicara yah, mana ada sahabat kita jadi yang kamu pikirkan," sungut Dewi.

__ADS_1


"Siapa tau kan?" Rico mengedikkan bahunya.


"Nanti kalian akan tahu jika sudah waktunya." Meyrin menatap Lea yang berjalan mendekat.


"Maaf Nona, sarapan pagi sudah siap. Nona Emily sudah menunggu di ruang makan," lapor Lea yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Meyrin.


Setelahnya mereka berjalan ke ruang makan bersama. Jangan lupakan baby boy Yuki yang selalu mengikuti Meyrin hingga membuat wanita itu gemas sendiri.


"Selamat pagi, Sweetie." Ken menyapa saat Meyrin akan masuk ke ruang makan.


Meyrin yang sedang asik menggendong anaknya Yuki mendongakkan kepala untuk membalas sapaan Ken. Akan tetapi, ucapannya tercekat di tenggorokan saat melihat empat orang yang tak diundangnya.


Meyrin menatap Ken, seolah bertanya melalui tatapan matanya. Sedangkan sang lelaki hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Meyrin menyerahkan baby boy itu kepada Yuki dan berjalan mendekat ke arah Ken.


"Hello," sapa empat orang tak diundang itu saat Meyrin berada di hadapan mereka.


"Ken, mereka personil K-Pop kan?" bisik Meyrin yang tak lepas memandang empat orang Korea itu. Bisa dilihat dari wajahnya yang merupakan ciri khas orang Korea.


"Tentu saja. Ini adalah hadiah untukmu. Dua hari yang lalu mereka tiba di Lunar City dan hari ini mereka akan mengadakan konser di gedung Wira." Ken menjelaskan sembari menarik bagian belakang kursi untuk Meyrin.


"Jadi, mereka kejutan untukku?"


"Bukan itu saja, mereka resmi masuk ke dalam agensi yang berada di bawah naungan KL entertainment." Ken menyombongkan dirinya.


"Kalau gitu boleh dong sekali-kali ketemu mereka?" tanya Meyrin yang mulai menikmati sarapan paginya begitu juga dengan yang lain.


****************


Selesai sarapan pagi, Dewi, Rico, Yuki dan Soga berpamitan untuk kembali ke negara masing-masing. Rico yang tak ingin dicurigai oleh William sedangkan Sofa yang akan melanjutkan perjalanan bisnisnya ke LA setelah ini. Meyrin hanya menganggukkan kepalanya dan setuju.


Tanpa diperintah, Lea segera menghubungi Capt pribadi nona mudanya untuk menyiapkan penerbangan dua jam ke depan. Setelah memastikan semua aman terkendali, Meyrin berpisah untuk segera sampai ke perusahaan. Orang-orang tangan kanannya sudah mulai berisik menghubungi Lea sejak 30 menit yang lalu.


Dengan langkah malas, Emily terpaksa mengikuti kakaknya. Hidupnya sekarang bergantung pada Meyrin, bukan pada Daddy nya lagi. Walaupun wanita pirang itu dimanja oleh Meyrin dan Daddy nya tapi tidak membuatnya menjadi pribadi yang lemah dan sombong.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasi gerak-gerik Meyrin dan Emily. Saat melihat mobil yang membawa dua wanita muda Arlington, orang itu menghubungi seseorang. Terlihat jelas dari gerakan bibirnya yang seolah melapor hasil pengintaiannya.


****************


Satpam berjalan mendekat saat melihat mobil big bos nya datang. Dia membukakan pintu mobil belakang yang menjadi tempat duduk Meyrin. Meyrin keluar dari mobil diikuti Emily di belakangnya. Sedangkan Lea berjalan di samping Meyrin, mulai memberikan laporan jadwal sang nona muda.


Emily tersenyum saat beberapa karyawan Arlington Group menyapanya bahkan tak sedikit yang meminta tanda tangannya. Melihat itu membuat Meyrin memutar bola matanya bosan.


"Saat jam istirahat datanglah ke ruangan CEO jika ingin meminta tanda tangan dia. Lea, urus semuanya! Lily, ayo ikut kakak ke ruangan!" perintah mutlak dari seorang Meyrin.


Meyrin masuk ke dalam lift pribadinya bersama Emily. Wanita berambut pirang itu mengembangkan pipinya, berniat merajuk kepada Meyrin. Sayangnya, Meyrin tidak menggubrisnya. Cepat atau lambat dia harus mengajarkan semua tentang perusahaan kepada Emily. Tidak peduli adiknya itu suka atau tidak.


Ting!


Tanda bahwa mereka sudah sampai di lantai ruangan CEO. Seorang wanita yang berada di meja sekretaris membungkuk hormat saat melihat big bosnya datang.

__ADS_1


"Apa ada sesuatu?" tanya Meyrin sebelum masuk ke ruangannya.


"Anda mendapatkan tamu dan maaf saya tidak diperkenankan memberitahu identitasnya. Beliau menunggu di ruangan anda, Nona." Sekretaris itu menjawab masih dengan menunduk takut-takut.


Mendengar itu, kening Meyrin berkerut dan menatap sekretarisnya yang masih menundukkan pandangannya. Meyrin menatap ke belakang, Emily hanya mengedikkan bahunya tidak tahu.


"Pria atau wanita?" tanya Meyrin lagi.


"Pria, Nona."


"Oh. Lily, kamu tunggu kakak membereskan tamu ini. Cleo, siapkan ruangan khusus untuk Emily dan segera hubungi Lea."


"Baik, Nona Meyrin."


Setelah memberikan perintahnya, Meyrin masuk ke dalam ruangannya. Tempat dia menghabiskan waktu berjam-jamnya dengan tumpukan dokumen. Mempekerjakan otaknya untuk menyelesaikan semua masalah, baik urusan kantor maupun di luar urusan kantor. Bahkan otaknya sekarang harus memikirkan kemungkinan yang meneror Emily.


Meyrin yang sibuk memikirkan siapa kemungkinan pelaku teror terhadap Emily tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengamatinya. Wanita itu terus saja berjalan dan melupakan pesan dari sang sekretaris jika dirinya mendapatkan seorang tamu.


Meyrin menghembuskan nafas panjangnya saat duduk di kursi kebesarannya. Dia sedikit memijat pangkal hidungnya, hingga ….


"Sedang memikirkan sesuatu?" suara baritone yang sangat dikenalnya membuyarkan lamunan seorang Meyrin.


"William? Kenapa kamu disini?" Meyrin tersentak kaget dan berdiri dari kursinya.


"Apa anda mengenal saya, Nona Meyrin. Atau … kita pernah bertemu sebelum malam panas di bar?" tanya William.


"Jadi Anda tamu tak diundang yang dikatakan Cleo?" tanya balik Meyrin.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Nona."


"Saya tidak paham maksud Tuan Plowden. Kalau Anda mempermasalahkan ONS kita, anggap saja itu sebuah kesalahan orang dewasa."


Meyrin menjawab begitu formal. Dia duduk di depan William dengan anggunnya. William menatap Meyrin begitu tajam dan sedikit membakar.


"Aku tidak menyangka kalau pemilik Arlington Group adalah Liu Meyrin bukannya Larasati Indria Putri. So, Nona Meyrin …," William menggantungkan perkataannya.


"Hm?" respon Meyrin.


"Apa yang kamu lakukan pada istriku?" tanya William dengan nada dan pandangan menuduh.


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2