
"Hm?" gumam Ken.
Meyrin mendongakkan kepalanya, mencuri tatap pada pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandung. Memejamkan matanya, menghirup udara dan sepersekian detik menahannya lalu membuang nafas panjangnya dengan perlahan.
Setelah dirasa tenang, mengalirlah cerita awal mula Liu Meyrin bertemu dengan seorang William. Siapa yang tidak mengenal lelaki itu, William Anderson Plowden seorang the most wanted boy di Lunar City. Pesonanya yang menyamai Ken menjadikan lelaki itu sebagai idola para wanita di Lunar.
Tidak ada yang tidak mengenal seorang William. Pria tampan dengan sejuta pesona dan pastinya seorang pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Plowden. Meyrin menceritakan secara detail kejadian saat pertemuannya dengan Steve dan William di Indonesia.
"Hah~ lalu kita harus bagaimana sekarang?" tanya Ken akhirnya.
Meyrin kembali mengubah mimik wajahnya. Tenang, dingin dan tak tersentuh. Wanita itu memijat pangkal hidungnya, berpikir keputusan apa yang harus diambilnya.
"Ini artinya ada dua musuh yang mengintai, betul?" tanya Meyrin yang dijawab anggukan oleh semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Kita fokus ke masalah yang mengintai tanpa melakukan apapun lebih dulu. Steve sendiri jika melakukan tindakan lebih dari ini, kita akan bertindak dengan cara Arlington," sebuah keputusan sudah terlontar dari pewaris kerajaan bisnis Arlington.
"Tapi Nona, beberapa hari ini teman yang lain tidak melihat orang misterius itu lagi semenjak insiden saya tertembak," timpal pria yang berbaring itu.
"Kalau begitu abaikan saja semuanya. Anggap ini toleransiku. Lea, perketat penjagaan di rumah sakit ini dan penthouse. Ken, kamu ganti semua sistem keamanan di penthouseku."
"Oke."
"Baik, Nona."
"Kamu istirahatlah, Baron atau Steve tidak akan berani mengganggumu lagi."
Setelah mengatakan itu, Meyrin beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan kamar inap itu. Ken ikut menyusul begitu juga dengan Lea.
"Lea, jadwalku untuk satu bulan ini apa saja?" tanya Meyrin sambil terus berjalan.
"Ada apa?" tanya Ken saat melihat Meyrin seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kita bahas sesampainya di penthouse sekalian kamu memperbaiki sistem keamanan disana."
****************
Saat ini Meyrin dan Ken berada di ruang kerja wanita cantik itu. Ken mulai sibuk dengan laptopnya, menjalankan perintah dari Meyrin yang saat ini duduk di depannya.
"Sweetie," panggil Ken.
Merasa tidak menerima jawaban, Ken mengalihkan pandangannya ke arah Meyrin yang ternyata sedang melamun. Tatapan matanya begitu kosong, tapi ekspresi wajahnya mengatakan jika dia sedang memikirkan sesuatu.
"Meyrin." Ken melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Meyrin.
Masih tidak ada respon. Ken berusaha mengembalikan fokus Meyrin terhadapnya. Seperti kata pepatah, hasil tidak akan mengkhianati usaha. Itulah yang terjadi, akhirnya Meyrin kembali fokus.
"Ada apa?" tanya Meyrin.
"Justru aku yang bertanya, kamu kenapa?"
"...." Meyrin terdiam.
__ADS_1
"Sweetie, kamu masih menganggapku sebagai kakak, kan? Ceritalah, jangan ditanggung sendiri."
"Aku sedang berpikir, sesuatu sedang mengincar Lily." Meyrin menyandarkan kepalanya di punggung kursi.
"Tidak akan terjadi apapun pada Emily. Bukankah selama ini tidak ada yang berani mengganggu gadis manja kita?"
"Ini beda Ken. Aku merasakan bahwa orang ini sangat terobsesi pada Emily. Sesuatu yang kelam sedang menghampiri Emily."
"Kenapa ada asumsi seperti itu?"
"Ini bukan asumsi lagi tapi sebuah kesimpulan, Ken."
"Lalu?"
Meyrin membuka laci meja kerjanya, "Lihatlah ini!"
Meyrin mengeluarkan amplop hitam dengan pita merah. Kerut kebingungan menghiasi dahi Ken. Dia sedikit mendorong laptopnya ke samping dan fokus menatap Meyrin serta amplop itu.
Meyrin menganggukkan kepalanya, tanda memberi izin kepada Ken untuk membuka dan membaca isi dari amplop tersebut. Diambilnya amplop itu, lalu dibuka dengan hati-hati.
"Untuk Emily?" tanya Ken setelah membaca dua baris kalimat yang tertulis di dalam amplop.
"Iya."
"Mungkin dari fans nya. Secara Emily adalah publik figur dan seorang model."
"Fans mana yang mempunyai alibi mengirim hal seperti ini. Ini terlalu mewah Ken. Coba kamu lihat ini juga!" Meyrin menyerahkan secarik kertas.
"Bukannya ini surat yang ada di kotak hitam di kamar Emily tempo hari?" tanya Ken semakin tak paham.
Kening Ken semakin mengkerut, tanda dia tidak paham. Melihat itu, Meyrin menghembuskan nafas panjangnya. Entah kenapa, firasatnya saat ini sangat kuat tentang Emily dan pengirim misteriusnya.
"Selain itu, kertas yang orang misterius ini gunakan semuanya memakai jenis kertas jasmine dengan tinta merah." Meyrin mulai membeberkan fakta.
"Ah, benar juga, hanya orang tertentu yang bisa menggunakan kertas jenis ini. Selain itu, dia identik dengan warna hitam dan merah. Sungguh melambangkan dirinya sekali."
"Iya, misterius dan berani." Meyrin setuju.
"Lalu kita harus apa?" tanya Ken.
"Aku sudah menambah pengawal untuk Emily. Aku juga menempatkan dua orang bodyguard untuk menjaganya dalam kegelapan."
"Bukannya itu terlalu berlebihan. Jika seperti ini, bukannya itu semakin membenarkan tindakan orang misterius ini."
"Aku harus melakukannya, Ken. Soalnya selama dua bulan aku akan melakukan perjalanan bisnis ke Italia untuk menggantikan ayah. Sedangkan ayah akan mengurus perusahaan yang ada di New York."
"Baiklah. Pergi dengan tenang dan lakukan tugasmu sebagai pewaris Arlington Group. Emily dan perusahaan disini serahkan padaku dan Josh."
"Terima kasih, Ken."
Lea masuk ke dalam ruangan, mengatakan jika makan malam sudah siap. Meyrin menganggukkan kepalanya dan menyuruh sang asisten pribadi sekaligus bodyguardnya untuk merapikan kembali berkas dan surat dari pria misterius itu.
__ADS_1
"Simpan dan pastikan Emily tidak mengetahui hal ini lebih jauh!" perintah Meyrin kepada Lea.
"Baik, Nona."
Setelahnya, Meyrin dan Ken berjalan menuju ruang makan di dalam penthouse milik Meyrin.
****************
Satu minggu telah berlalu semenjak pembahasan tentang pria misterius. Satu minggu pula tidak ada pergerakan dari Steve. Bawahannya yang berada di rumah sakit sudah kembali bertugas di penthousenya.
Meyrin baru saja keluar dari lift, bersiap untuk ke perusahaan. Seorang dengan setelan jas kantoran mendekat dan memberikan sebuah amplop cokelat kepada Meyrin. Lea terlihat begitu santai saat mengenal siapa sosok pria itu.
"Apa ini, Paman Josh?" tanya Meyrin.
"Sebelum tuan Daniel berangkat ke New York bersama Tuan Joker, beliau menyuruh saya untuk memberikan amplop itu," jelas Josh tangan kanannya Daniel Arlington.
"Kapan ayah berangkat ke New York?" tanya Meyrin sambil menyerahkan amplop itu kepada Lea.
Josh menatap jam tangannya, "Sekitar 15 menit yang lalu, Nona."
Tak lama dering ponsel Meyrin terdengar. Dilayar itu tertera Ayah is calling. Meyrin segera menggeser tombol hijaunya.
"Iya, Ayah?"
"Pergilah ke Italia dengan tenang. Ken sudah menceritakan semua tentang Emily. Ayah sudah menyuruh tim khusus untuk menjaga Emily," suara Daniel terdengar dari seberang sana.
"Baiklah Ayah. Ayah juga jaga diri baik-baik. Biarkan orang-orang ayah yang bertindak jika terjadi sesuatu," pesan Meyrin.
"Iya, Nak. I love you and miss you, Sayang."
"Love and miss you too, Ayah."
Panggilan antara ayah dan anak akhirnya berakhir. Meyrin langsung masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Lea. Josh hanya terdiam dan memberi hormat sampai mobil nona mudanya menghilang dari basement.
"Kemana kita pergi, Nona?" tanya Lea yang duduk di samping kursi kemudi.
"Perusahaan. Ada beberapa berkas yang harus diperiksa lebih dulu. Satu lagi, suruh dewan direksi untuk berkumpul satu jam dari sekarang."
"Baik, Nona."
Lea menganggukkan kepalanya kepada sopir. Setelahnya wanita itu mengambil ponselnya, menghubungi sekretaris Meyrin untuk menyiapkan rapat dengan para dewan direksi.
Meyrin sendiri sudah mulai sibuk dengan tab nya, memeriksa email yang masuk dari sekretarisnya. Tiba-tiba fokusnya teralih pada map cokelat tadi. Meyrin mengambilnya, mengeluarkan isi dalam map dan mulai membacanya.
"Astaga!" pekik Meyrin.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga