OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 29 PERHATIAN WILLIAM


__ADS_3

William membebastugaskan petugas untuk beberapa saat, termasuk para asisten pribadi. Mereka hanya membutuhkan reporter dan dua orang pengawal saja. Setelah semua sesuai dengan yang diinginkannya, William memakaikan jasnya di pundak Meyrin.


"Pakailah, aku tidak ingin kamu sakit." William menahan jas itu dipundak Meyrin saat melihat sang wanita menolaknya.


"Terima kasih," ucap Meyrin akhirnya.


Jembatan ini adalah salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi saat berada di Venesia. Jembatan Rialto merupakan jembatan tertua dari empat jembatan yang menyeberangi kanal besar Venesia. William membawa Meyrin untuk semakin ke tengah jembatan, berdiri di bibir jembatan Rialto.



"Wow!" decak kagum Meyrin ketika tiba di bibir jembatan.


Bagaimana tidak kagum, di hadapan mereka terpampang pemandangan grand kanal yang super besar. Perahu gondola berseliweran di kanal yang ramai. Entah keberanian dari mana, William memeluk pinggang ramping Meyrin dan membawanya semakin mendekat ke tubuh sang lelaki.


William dapat mencium aroma jasmine yang menguar dari tubuh Meyrin. Bahkan, Meyrin menyandarkan kepalanya di dada bidang William. Tidak puas dengan posisinya, William membawa Meyrin berdiri di depannya dan dirinya memeluk dari belakang. Sungguh pemandangan yang bikin iri siapapun yang memandangnya.


William dan Meyrin memutuskan untuk menghabiskan waktu matahari terbenam di atas jembatan Rialto ini. Cahaya sore yang semakin tipis, berganti remang malam dan lampu-lampu kota yang mulai dinyalakan. Pantulan cahaya lampu terefleksikan dengan sempurna di atas permukaan air.


Meyrin tidak berhenti menatap keindahan alam yang Venesia sajikan. Pemandangan ini benar-benar menciptakan suasana romantisme diantara William dan Meyrin. Bahkan William semakin mendekatkan tubuhnya hingga menyandarkan dagunya di ceruk leher sang wanita.


"Pemandangan disini cantik, 'kan?" tanya Meyrin yang masih memanjakan netranya dengan pemandangan senja di jembatan Rialto.


"Kamu lebih cantik, Sayang," bisik William di telinga Meyrin.


"Apaan sih, Will." Meyrin merona dan William tidak akan melupakan wajah meronanya seorang Meyrin.


"Mau bermalam disini atau …," William menggantungkan kalimatnya.


"Bermalam disini," jawab Meyrin begitu antusias.


William terkejut dan kemudian tertawa. Dicubitnya pipi Meyrin dengan gemas dan itu membuat sang empu menggembungkan kedua pipinya. Sungguh, William benar-benar menikmati harinya bersama Meyrin saat ini.


"Kita duduk disini sekalian dinner," ajak William yang kembali menggandeng tangan sang wanita.

__ADS_1



Dibawanya Meyrin ke ujung jembatan dan berjalan di sisi kirinya. Disana ada beberapa cafe yang berjejer. Di pinggiran laguna terdapat tenda dengan lampu yang menyala begitu terangnya. Di bawah tenda itu terdapat beberapa kursi dan meja yang disusun begitu estetis.


William membantu Meyrin menarik kursi bagian belakangnya, membiarkan wanita itu duduk dengan nyaman. Seorang pelayan mendatangi mereka dan menanyakan menu makan malam yang ingin dinikmati. Setelah mencatat, pelayan itu membungkuk hormat dan kembali ke dalam cafe.


Lima menit menunggu, akhirnya menu makan malam mereka siap untuk disantap. William dan Meyrin memilih menikmati dinnernya dengan pesona malam yang ditawarkan secara cuma-cuma oleh jembatan Rialto.


Selama makan malam, mereka terlibat pembicaraan ringan termasuk tentang bisnis. Entah kenapa, berbicara dengan Meyrin mengingatkan William saat berbicara dengan istrinya, Laras. Rasa yang diberikan pun sama walau ada sesuatu yang berbeda.


Sedang asyik berbincang, tiba-tiba terdengar bunyi sirine dan pemberitahuan melalui speaker yang dipasang di beberapa titik. Pemberitahuan itu mengatakan jika akan terjadi Acqua Alta. Semua turis dan penduduk lokal mulai bingung dan pontang panting mencari tempat berlindung.


"Tuan! Nyonya! Mari ikut saya!" ajak salah satu reporter kepada William dan Meyrin.


Tanpa berdebat, kedua pewaris kerajaan bisnis terbesar di Lunar City itu mengikuti reporter tadi. Mereka masuk ke lorong kecil dan hilang di sempitnya jalan, sehingga mereka tiba di jalan yang lebih luas.


"Nyonya, bisa lebih cepat lagi?" tanya reporter tadi saat melihat Meyrin tertinggal.


Peluh mulai mengalir di kening William turun ke pipi dan dagu. Meyrin yang berada di gendongannya dengan inisiatif mengelap butiran keringat sang lelaki. Reporter itu masuk ke dalam sebuah hotel.


"Kalian tunggu disini. Saya akan memesankan kamar untuk kalian. Semoga masih ada yang kosong," ujar reporter tadi yang langsung pergi ke meja resepsionis.


Tak lama dia kembali dengan membawa kartu kunci dan menyerahkannya kepada William. Napasnya tersengal-sengal karena berlari dan mengurus proses check in hotel William dan Meyrin.


"Maaf saya hanya bisa membawa Nyonya dan Tuan Plowden ke hotel sederhana seperti ini. Tapi, walaupun begitu saya menjamin tempat ini paling kecil terkena dampak Acqua Alta."


"Kamu siapa?" tanya William waspada dan masih menggendong Meyrin.


"Maafkan saya yang lancang. Perkenalkan nama saya Dara seorang reporter. Tapi itu berlaku dari pagi hingga malam dan jika sudah jam sekian, saya bekerja sebagai cleaning servis di hotel ini," reporter tadi memperkenalkan dirinya sembari membungkuk hormat.


"Kalau begitu terima kasih yah," ucap Meyrin yang masih berada di gendongan William karena pria itu enggan menurunkan Meyrin.


"Sama-sama Nyonya Plowden, kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya."

__ADS_1


William hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja, beda dengan Meyrin yang tampak malu karena masih digendong. Dua pengawal berjalan mengikuti mereka ke arah lift, salah satu dari mereka menekan tombol lift dan ikut masuk ke dalam.


Sesampai di lantai yang dituju, mereka berjaga di depan pintu kamar setelah membantu Tuan nya untuk membuka pintu kamar.


****************


Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar. William menyuruh Meyrin untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Meyrin tak lama, dia hanya mengganti bajunya dengan lingerie merah yang panjangnya di atas lutut. Terdapat tali tipis di masing-masing pundak sang wanita.


Tempat persembunyian kedua bukit kembar milik Meyrin terlihat kekecilan. Hal itu membuatnya dua bukit milik wanita itu seperti akan keluar dari tempatnya. Meyrin dengan percaya dirinya berjalan melewati satu-satunya pria yang berada di dalam kamar tersebut.


Dia duduk di meja rias, menyisir rambut panjangnya. Terlihat di pantulan kaca William tak lepas memandangi tubuh Meyrin. Sedangkan wanita itu berpura-pura tidak tahu.


"Sialan!" umpat William dengan kerasnya dan langsung menuju kamar mandi dengan membanting pintunya.


"Dasar, otak mesumnya tidak pernah hilang dari dulu," lirih Meyrin yang beranjak menuju jendela kamar.


Air pasang laut mulai naik ke atas permukaan. Meyrin dapat melihat dengan jelas bagaimana air dengan kadar garam tak terbatas itu naik ke atas permukaan. Menenggelamkan apapun yang dapat ditenggelamkan. Ketinggian air bisa diperkiraan sekitar 100cm dari permukaan air laut.


William mengernyitkan keningnya saat melihat Meyrin duduk di kusen jendela. Lelaki itu mengambil selimut tebal dan berjalan mendekati Meyrin. Disampaikannya selimut itu pada tubuhnya sendiri, lalu melangkahkan kakinya semakin mendekati Meyrin.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Meyrin terkejut saat menatap ke belakang.


Apa yang William lakukan pada Meyrin selanjutnya?


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2