
Sepeninggal William, Meyrin menuju sofa yang sudah tersaji menu makan malam. Di atas meja ada dua piring yang masih tak tersentuh. Meyrin menatap kesal pada dua piring itu.
"Dia sama seperti dulu, lebih mengutamakan pekerjaan daripada kesehatannya," lirih Meyrin yang mulai menyantap makan malamnya.
Selesai dengan makan malamnya, Meyrin membawa satu piring itu ke ruang kerja. Tanpa permisi dirinya masuk dan benar saja, William masih sibuk dengan laptopnya. Hanya beda di kacamata yang sudah tidak bertengger lagi di pangkal hidungnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya William dengan nada tak percaya.
Meyrin tanpa permisi menutup laptop William lalu duduk dipangkuan lelaki itu. Spontanitas William memangku Meyrin agar tidak jatuh.
"Baiklah Tuan Plowden, waktu bekerja Anda sudah habis. Waktunya untuk makan malam Anda, Tuan."
Meyrin menyerahkan sepiring nasi goreng buatannya sendiri. Menu yang tadi dia buang karena ada daun bawang yang tidak disukai William.
"Apa ini?" tanya William.
"Nasi goreng buatanku. Makanlah!"
Meyrin beranjak agar William bisa makan dengan leluasa. Wanita itu duduk di kursi kerja khusus untuknya. Memeriksa beberapa email yang masuk, hingga kedua matanya membulat sempurna.
Email dari Lea mencuri perhatian penuh seorang Meyrin. Dibukanya isi dari email itu dan terkejut saat ada nama Steve disana. Kata demi kata dibaca dengan seksama oleh Meyrin, dia tidak ingin melewatkan satu huruf saja.
"Sialan!" maki Meyrin tiba-tiba membuat William terkejut.
"Apa ada masalah?" tanya William menghampiri meja Meyrin.
"Sedikit, kamu sudah makannya? Sini piringnya aku cuci," Meyrin mengambil piring kosong di tangan William dan melangkahkan kakinya menuju dapur.
William yang heran dengan tingkah Meyrin, mengikutinya dari belakang. Wanita itu menggulung rambut panjangnya hingga membentuk cepol ke atas. Kemudian dirinya memulai mencuci piring-piring kotor yang ditumpuknya tadi.
"Mey," panggil William yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Duduklah Will, aku mau menyelesaikan ini dulu," Meyrin melepaskan pelukan William.
"I love you," bisik William tiba-tiba.
Meyrin tidak menjawab, dia kembali menghidupkan kran air yang sempat dimatikannya. Tanpa William sadari, sebuah senyum tipis dengan pipi merona menghiasi wajah cantik Meyrin. Jantung wanita itu sudah bertalu-talu, seperti ribuan kupu-kupu berterbangan di padang bunga yang bermekaran.
****************
"Kemarilah!" pinta William saat Meyrin menyelesaikan acara cuci piringnya.
Meyrin mendekat dan langsung ditarik William agar wanita itu duduk di pangkuannya. Meyrin reflek langsung melingkarkan kedua tangannya di leher William. Setelahnya sang lelaki menyandarkan dagunya di pundak Meyrin.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Meyrin.
"Kamu tahu, aku sangat mencintai istriku, Laras. Sudah tiga tahun lebih aku mencarinya, dia seperti hilang ditelan bumi. Bahkan keluarganya tidak memberitahuku," cerita William tiba-tiba.
"...." tidak ada respon dari Meyrin.
"Waktu itu kami ada janji temu, tapi karena kesalahanku sendiri dia memilih pergi. Sebulan setelah janji temu itu, dia mengirimkan surat cerai ke alamat rumah kami, hanya Rama yang tahu tentang surat itu. Bahkan kedua orang tuaku tidak tahu hingga sebuah kecelakaan itu terjadi."
"Maksudmu apa cerita seperti ini?" Meyrin mulai ketar-ketir, tapi dirinya mencoba untuk tetap tenang.
"Aku hanya ingin bercerita, tidak ada maksud apapun. Jangan tanyakan alasannya karena aku pun tidak tahu."
"Apa kamu mencintai Nyonya Plowden?" tanya Meyrin sembari membuka kaca mata yang dikenakan William.
"Aku sangat mencintainya. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama bertemu. Apa kamu ingat kita pernah bertemu di pemakaman umum waktu di Indonesia?" William menatap Meyrin yang setia duduk di pangkuannya.
"Iya, memang ada apa di sana?"
"Ada janji di sana. Awal bertemu dengan Laras saat dia dengan gemasnya menangis di pinggir jalan sambil menggendong Memei. Memei mengalami peristiwa tabrak lari dan meninggal ditempat kejadian."
"Siapa Memei?"
"Kucing kesayangannya. Waktu itu, Laras berjongkok di pinggir jalan dan menangis. Tangisannya begitu pilu, tapi entah kenapa bagiku dia begitu menggemaskan. Aku membantunya mengubur Memei dan sebuah janji terucap. Kita berjanji kalau setiap tahun dan hari yang sama, kita akan mengunjungi makam Memei." William menghentikan ceritanya, pikirannya melayang pada peristiwa pertemuan pertamanya dengan Laras.
William tidak menyadari, selama dia bercerita, Meyrin menampilkan senyum manisnya. Sayang, senyum itu begitu tipis hingga siapapun tidak akan tahu, kecuali Meyrin sendiri. Meyrin menyandarkan kepalanya pada dada bidang William.
"Entahlah. Saat bersamamu, aku seperti bersama dengan Laras. Rasa itu sama, tidak ada yang berubah. Tapi aku sadar, kamu Liu Meyrin bukan Larasati Indria Putri. Mungkin Ken benar, aku terlalu merindukan sosok Laras hingga saat bersamamu aku menjadi nyaman."
"Jadi, aku hanya pelampiasan, begitu?" Meyrin sedikit menaikkan nada bicaranya.
William langsung menangkap wajah Meyrin. Ditatapnya manik hitam sang wanita yang begitu cantik di matanya.
"Aku tidak pernah berpikir begitu. Meyrin dan Laras itu berbeda. Kalian sosok yang sangat berbanding terbalik, kalian mempunyai tempat tersendiri bagiku," William menjelaskan agar Meyrin tidak salah paham.
"Benarkah?" Meyrin menatap penuh curiga pada William.
"Tentu saja. Bagiku Laras itu polos, lembut, menggemaskan. Kalau Meyrin …, sangat nakal."
"Apa-apaan itu. Bagaimana mungkin aku terlihat nakal, dasar laki-laki mesum," Meyrin hendak berdiri tapi ditahan oleh William.
"Biarkan aku pergi," Meyrin terus saja berusaha berdiri, tapi William semakin menahannya dan ….
Cup!
__ADS_1
William menarik tangan Meyrin dan mencium bibir wanita itu tanpa basa-basi. Ciuman yang lembut, selembut kain sutra membuat Meyrin terbuai. Ciuman yang awalnya dimulai oleh William, sekarang mendapat balasan dari Meyrin.
Awalnya hanya sekedar ciuman, tapi entah bagaimana ceritanya mereka berakhir di atas kasur. Baru beberapa jam yang lalu mereka membersihkan diri karena keringat. Sekarang, mereka kembali melakukan kegiatan olahraga malamnya.
"Kamu bilang aku nakal? Biar aku buktikan senakal apa diriku," ujar Meyrin yang langsung memindahkan posisi William.
Kali ini, Meyrin yang memenjarakan William di bawah kekuasaannya. Senyum nakal dan licik Meyrin berikan, sebuah rencana dalam otaknya sudah tersusun sangat rapi.
Meyrin beranjak dari kasur, berjalan ke arah laci. Senyuman miring wanita itu berikan saat membayangkan hal apa yang terjadi selanjutnya. Meyrin kembali berjalan ke arah kasur sembari memamerkan sesuatu di tangan kanannya.
"Wow!" decak kagum William membuat senyum Meyrin semakin mengembang.
"Kamu suka?" tanya Meyrin.
"Kamu akan melakukannya padaku?" tanya balik William.
"Tentu saja, Tuan. Bukankah Anda ingin melihat saya yang nakal?" Meyrin berdiri di depan ranjang, berhadapan dengan William.
"Kalau begitu, kemarilah!" William meneguk ludahnya saat melihat Meyrin yang berdiri begitu menantang di hadapannya.
"Tidak, Tuan. Kita harus memainkannya dengan caraku yang nakal," Meyrin mengerlingkan matanya.
"Dasar wanita penggoda."
"Aku suka menggoda suami orang," jawab Meyrin sekenanya.
"Kalau begitu—"
"Oh tidak bisa, Tuan. Anda harus mengikuti permainanku," final Meyrin yang melepaskan sweaternya.
Brak!
Pintu kamar yang terbuka tiba-tiba membuat Meyrin dan William terkejut.
"Akh! Maafkan saya."
Siapa yang datang nih?
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga