OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 116 SERBA SALAH (S2)


__ADS_3

"Apa itu tidak terlalu berlebihan, Sayang?" tanya William saat sang istri masih saja menangis.


"Tapi Ken sudah keterlaluan. Aku juga keterlaluan, hiks … hiks …. Kenapa Ken harus berkhianat saat seperti ini?" tanya Laras masih dengan tangis kekecewaannya.


William tidak bisa protes lagi. Percuma dia protes kalau ujung-ujungnya sang istri masih mempunyai alasan. Selain itu, dia harus memaklumi semua kelakuan Laras karena sang istri begitu mempercayai Ken.


"Baiklah, baiklah. Tenangkan dirimu, aku tidak ingin anak kita ikutan sedih, Sayang."


"Kamu juga! Dikit-dikit anak! Ini-itu anak! Semua karena anak! Apa kamu tidak punya hati? Aku itu lagi sedih, bukannya menenangkan malah melarang. Semua pria itu brengsek, kecuali Ayah!" Laras menumpahkan amarahnya kepada William.


Dia beranjak dari sofa dan berjalan menuju walk in closet serta membanting pintunya. William yang melihat perubahan mood sang istri hanya bisa mengelus dadanya. Sepertinya Laras yang hamil lebih menyeramkan daripada saat bertarung.


Tak lama kemudian, Laras keluar dengan memakai lingerie seksi warna merah. Kainnya yang transparan memperlihatkan dua lembar kain pelindung aset sang istri. Laras dengan percaya dirinya berjalan begitu saja melewati William, terlihat tidak peduli.


Benjolan di leher William naik turun saat melihat sesuatu yang sah untuk dia miliki dan sentuh. William langsung mengikuti Laras menuju peraduan mereka. Saat Laras sudah berbaring, William ikut berbaring dan memeluknya dari belakang.


Kedua tangan William mulai memberikan stimulasi-stimulasi untuk membakar tubuh sang istri. Bukan hanya tangan, bibirnya juga mulai melakukan tugasnya. Kecupan bahkan ciuman dilayangkan oleh William di tengkuk dan punggung Laras.


"Apa? Tidak ada jatah malam ini! Sana minta jatah sama Ken!" ujar Laras yang masih emosi sambil menepis tangan William.


"Hah?" William dibuat melongo dengan mood Laras yang naik turun itu.


Padahal tadi saat dia melakukan stimulasi Laras sangat menikmatinya. Bahkan, terdengar suara melodi yang sangat disukai William dari bibir sang istri. Tapi, sekarang ketika api gairah itu melingkupi mereka berdua, Laras menolaknya.


"Ini tidak serius 'kan, Sayang?" tanya William dengan nada tak percayanya.


"Sejak kapan aku tidak serius dalam ucapanku, hah! Duh Will, kenapa kamu bikin aku gak mood sih. Nyebelin! Sana pergi!" Laras langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


"Astaga! Aku bisa gila kalau meladeni moodmu yang seperti ini, Sayang," ujar William dengan nada lirih tapi masih bisa didengar oleh istrinya.

__ADS_1


Laras membuka selimutnya saat mendengar ucapan William. "Oh, jadi kamu tidak terima aku hamil gitu? Ini juga anak kamu loh, Will. Kamu tuh yah bikin aku tambah kesal aja. Udah san—"


Laras tidak dapat menyelesaikan omelannya karena William sudah membungkam mulut istrinya dengan ciuman. Lelaki itu dibuat gemas sendiri dengan sikap Laras setelah hamil. Masa bodoh jika setelah ini istrinya itu marah-marah lagi.


Setelah mencium Laras, William memberi jarak. Ditatapnya wajah sang istri yang tampak terkejut itu. William segera beranjak saat raut wajah Laras mulai kembali normal, dia akan menjauh dari sang istri. William tidak sanggup mendengar omelan Laras lagi.


"Huuuaaa!" tangis Laras pecah saat melihat William ingin membuka pintu kamarnya.


Mendengar Laras yang menangis seperti itu, William langsung menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang, di mana sang istri yang menangis dengan kencangnya. William mengusap wajahnya dengan kasar, bingung sendiri harus berbuat apa.


Akhirnya, lelaki itu kembali mendekati istrinya. Dia peluk Laras, posisinya saat ini William sedang berdiri di hadapan sang istri.


"Kamu jahat! Sudah menciumku malah main kabur saja. Kalau tidak cinta lagi, bilang gak usah main kabur begitu," sungut Laras masih dengan nangis bombaynya.


Nah kan, Laras mulai lagi dengan omelannya. William hanya menganggukkan kepalanya dan meminta maaf. Sepertinya dia harus belajar melatih kesabaran untuk menghadapi wanita hamil.


'Besok aku akan meminta tips pada Lea dan Josh cara menghadapi wanita hamil,' tekad William dalam hati.


Bagaimana bisa tahan jika dua bukit kembar Laras menempel begitu lekat di tubuh William. Selain itu, dengan posisi mereka saat ini, entah sengaja atau tidak, kaki Laras menyentuh Willy junior. Hal itu membuat senjata kebanggaan William berdiri tegak, siap untuk bertempur.


"Tidak ada jatah," ujar Laras seolah mengerti apa yang diinginkan suaminya itu saat ini.


William akhirnya menyerah, daripada dia menghadapi kebawelan Laras lagi 'kan? Lebih baik dirinya diam dan mengalah saja. Dia tidak mau menjadi bahan omelan dari istri tercintanya itu. Seperti biasa, William mulai menghitung kambing yang ada di kepalanya.


"Will, apa aku tadi keterlaluan terhadap Ken?" tanya Laras dengan pandangan menerawang.


William tidak menjawab, dia memikirkan jawaban yang tepat untuk diberikan kepada sang istri. Segala aspek William pikirkan agar tidak menyinggung sang istri. Dia tidak mau Laras menjadi marah dan ngomel lagi. Bisa membahayakan jatahnya di masa depan.


Bayangan peristiwa beberapa jam yang lalu di ruang kerja Daniel Arlington terlintas di benak William. Dia sedang mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Laras. Secara, Laras sangat mempercayai Ken lebih dari ayahnya sendiri.

__ADS_1


****************


Saat ini Laras sedang duduk di kursi kerja ayahnya. Sedangkan William sendiri memilih untuk duduk di sofa. Dia tidak ingin ikut campur urusan sang istri. Dia hanya ingin mengetahui cara kerja Laras.


Tak lama kemudian, Ken masuk ke ruangan. Pria tampan itu begitu tegas di setiap langkahnya. Sorotan mata begitu tajam saat menatap Laras. William melihat sang istri mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Begitu percaya diri, hm?" tanya Laras saat melihat Ken berdiri di depan meja kerja Daniel. Mereka berdua saling berhadapan.


"Ada apa, Ras?" tanya Ken dengan nada setenang mungkin, walaupun dia tahu apa yang sekarang ada di otak sepupunya itu.


Brak!


Laras menggebrak meja dengan keras dan menatap Ken begitu nyalang. Tatapannya bukan sebagai tangan kanan lagi, melainkan sebagai seorang musuh. Ken sama sekali tidak terkejut, dia sudah mengiranya. Lelaki itu siap menerima tumpahan amarah dan kekecewaan dari seorang Laras. Dia berhak mendapatkannya.


"Apa ada yang ingin kamu katakan, Ken?" tanya Laras menatap nyalang pada satu-satunya orang yang dia percayai.


"Aku hanya ingin memberikan ini untukmu. Itu adalah surat yang sudah Paman siapkan untuk pemimpin Arlington selanjutnya." Ken mengeluarkan sebuah amplop yang terdapat noda merah, darah dari Daniel. Dia menyodorkannya langsung ke meja Laras.


Laras menatap amplop putih itu tidak percaya. Ribuan pisau menusuk tepat ke arah jantungnya. Dadanya terasa sesak saat semua asumsinya tidak pernah salah. Bahkan, sebuah bukti konkrit sudah berada di depan matanya.


"Steve Arlington menghubungiku menggunakan ponsel Ayah," ujar Laras seperti sebuah gumaman tapi masih bisa didengar oleh Ken.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga


__ADS_2