
Bibir yang memakai lipstik merah terang tersenyum miring. Meyrin membalikkan badannya, manik hitamnya bersirobok dengan manik hitam William. Mereka berdua saling berbicara melalui tatapan mata keduanya.
Meyrin melangkahkan kakinya secara perlahan dan sensual ke arah William. Suara ketukan dari sepatu heelsnya menjadi musik setiap langkahnya. Menggetarkan hati William. Senyuman seksi Meyrin berikan, menghantarkan gelenyar aneh pada lawan jenisnya.
Langkah itu berhenti tepat di depan William. Berdiri dengan sensual seolah menantang seorang William Anderson Plowden untuk bertindak lebih jauh. Senyum di bibir Meyrin selalu tersungging di wajah cantiknya. Sungguh menggoda kaum lelaki manapun dan tak terkecuali William.
Rama dan Lea membulatkan kedua matanya saat tiba-tiba Meyrin duduk di pangkuan William. Sedangkan sang pewaris kerajaan Plowden tersentak kaget dengan tindakan tak terduga Meyrin. Benjolan di leher William naik turun menatap apalagi tercium wangi jasmine yang menguar dari tubuh wanita di pangkuannya.
Meyrin memajukan wajahnya, William menahan napasnya. Mata mereka saling bertatapan, deru napas dapat mereka rasakan seiring terkikisnya jarak diantara keduanya. Tiga sentimeter lagi bibir mereka akan bertemu. Satu sentimeter mereka dapat merasakan panasnya napas masing-masing.
Meyrin terus memajukan wajahnya melewati bibir William. Sengaja wanita itu menghembuskan napasnya di tengkuk leher William. Berhasil! Usaha Meyrin menggoda William sukses, terlihat dari pundak sang lelaki yang bergidik.
Meyrin mendekatkan bibirnya di telinga William. Wanita itu sengaja meniup telinga sang lelaki hingga membuatnya berwarna merah. Terlihat manik hitam William mulai berkabut. Lelaki itu terbakar sepenuhnya dengan apa yang dilakukan Meyrin.
"Sepertinya saya tidak harus melapor kemana akan pergi kepada Tuan Muda Plowden," bisik Meyrin begitu lirih dan terdengar seksi.
"Fvck!" umpat William.
Gairah yang awalnya sudah membakar tubuh William sekarang langsung padam. Bagaikan api yang berkobar langsung diguyur air hujan, padam seketika. William yang geram tanpa permisi memegang pundak Meyrin dan mencium bibir seksi wanita itu.
Ciuman yang terkesan buru-buru dan panas sekaligus. Meyrin dapat merasakan bahwa William sangat kesal terbukti dari bagaimana pria itu menciumnya. Wanita itu membiarkan William melampiaskan rasa kesalnya.
Merasa pasokan udara dalam paru-parunya semakin menipis, Meyrin segera mendorong dada bidang William. Setelahnya beranjak dari pangkuan William dan pergi keluar kamar tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
William masih tercengang dengan respon tubuhnnya terhadap Meyrin. Fokus tatapannya masih pada pintu kamar dimana sosok Meyrin menghilang bersama asisten pribadinya.
"Tenang saja, aku tetap setia dengan Laras dan tidak akan berpaling. Kakak bisa memegang ucapanku," sindir Rama mengulang kembali ucapan William tiga hari yang lalu.
"Kakak sialan!" sungut William yang langsung beranjak dan masuk ke kamar dengan membanting pintunya.
Rama yang melihat itu hanya tersenyum geli. Ada yah manusia yang hanya digoda seperti itu langsung tertarik? Bagi Rama wanita itu merepotkan. Dia hanya mengedikkan bahunya dan duduk di sofa, menggantikan posisi William.
Rama mengambil ponselnya, dia mencari nama Armand di list kontaknya. Setelah menemukan nama tersebut, dia menekan tombol panggilan suara. Dering kedua langsung tersambung.
"Bagaimana? Sudah menemukan apa yang aku mau?" tanya Rama tanpa basa basi, khas seorang Rama tidak ada duanya.
__ADS_1
"Paling tidak sapa dulu lawan bicaramu, fuvk you!" kesal Armand di seberang sana.
"Mulutmu itu semakin kotor saat menjadi tangan kanannya Tuan Nikolai. Langsung saja, aku tidak mau membuang waktu sia-sia."
"Brengsek! Kamu tahu sendiri, aku dan Ken punya kode etik sendiri. Aku tidak mau menghancurkan kode itu hanya untuk kepuasan Tuan Plowden. Tapi, aku bisa memberikanmu pencerahan tentang Nona Liu Meyrin," jelas Armand.
"Apa itu?"
"Semua asumsi kamu tentang Nona Liu Meyrin benar adanya."
"Jadi dia ad—"
"Iya dan karena sesuatu hal lagi, asumsimu yang lainnya juga benar. Aku hanya bisa memberikanmu informasinya sampai disana." Armand lalu mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Rama.
Rama terkejut saat suara 'tut' dari ponselnya terdengar, tanda kalau panggilan itu telah berakhir. Sedetik kemudian tersungging senyum di bibir asisten pribadi William.
"Ternyata takdir sedang bermain dengan Tuan Muda melalui Nona Meyrin," ujar Rama begitu lirih.
****************
"Kita langsung menuju ke Harry's Bar!" perintah Meyrin kepada pengawal yang dibawanya. Salah satu dari mereka menjadi sopir.
Lea duduk di kursi belakang bersama nona mudanya. Lea menyerahkan lipstik dan cermin kecil milik Meyrin yang tersimpan di mobil. Meyrin menatap Lea dan tersenyum kecut.
Dia memoles kembali bibirnya dengan lipstik yang diberikan oleh Lea. Ditatapnya pantulan wajah dia di cermin mini itu. Meyrin kembali tersenyum kecut saat melihat bibirnya bengkak karena ulah suaminya itu.
"Ada laporan apa?" tanya Meyrin pada Lea.
"Tidak ada Nona. Tapi besok jadwal anda masih sedikit senggang, berbeda dengan Tuan William," jawab Lea menatap tab nya dan sesekali menggesernya ke bawah.
"Ada jadwal apa besok?"
"Besok jam 9 pagi pemotretan di atas gondola bersama Tuan William sekaligus mempromosikan Venesia kepada Lunar City. Bisa dipastikan ini bukan sekedar pemotretan tapi tour Venesia," jelas Lea.
"Dari jam berapa sampai jam berapa?" Meyrin mulai merasakan firasatnya buruk.
__ADS_1
"Dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam bisa selesai lebih awal."
"Apa kita seperti melakukan video dokumenter honeymoon ke Venesia?" cecar Meyrin.
"Benar, Nona. Bukannya saya sudah pernah menyinggung hal ini waktu itu? Kenapa tidak Nona manfaatkan buat rujuk kembali dengan suami anda? Dilihat dari ci—"
"Jika kamu melanjutkannya lagi … Petra siap menemanimu!" potong Meyrin sambil menatap tajam Lea.
"Maaf, Nona. Jangan bawa Petra kesini, mendengar namanya saja membuatku merinding."
"Berapa lama pembuatan video itu?"
"Satu minggu karena itu permintaan dari walikota sendiri. Nona Meyrin tidak diperbolehkan menolak karena nanti Arlington Group akan bekerja sama dengan Walikota Venesia."
Kerut kebingungan menghiasi kening Meyrin, "Kerja sama apa?"
"Tuan Daniel berencana akan melakukan investasi pada Doge's Palace, museum seni yang ada di Venesia, Italia. Kerja sama ini berada di bawah naungan Arlington Group. Maka dari itu, Tuan Daniel meminta Nona ikut serta dalam perjalanan bisnis ini." Lea menjelaskan secara rinci dan Meyrin hanya bisa menepuk jidatnya.
Ayahnya itu selalu memberikan kejutan yang tak terduga untuknya. Meyrin menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil. Dia membayangkan bagaimana kehidupannya selama di Venesia bersama William.
Meyrin bergidik ngeri harus bermesraan dengan William, walaupun lelaki itu suaminya sendiri. Akan tetapi, selama tiga tahun tidak mendapatkan sentuhan dan hal manis dari William membuat wanita itu merasa asing terhadapnya.
Entah apa dan kenapa, setiap mendapatkan hal manis dari William jantungnya tidak baik-baik saja. Meyrin meyakinkan dirinya bahwa itu bukan getaran cinta, tapi sesuatu yang lebih dari itu. Sesuatu yang begitu besar dari cinta, dorongan untuk sepenuhnya memiliki seorang William.
Ada apa dengan Meyrin?
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1