OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 127 MASA LALU WILLIAM (S2)


__ADS_3

"Karena kecerobohan dan amarah serta paranoid Daddy, Mommy menjadi salah paham dan meninggalkan Daddy."


"Maaf," ujar Laras spontan.


"Mommy," peringat William.


"Maksudnya maaf karena menghentikan ceritanya Daddy."


"Mommy jangan bertingkah deh. Apa Daddy tidak perlu cerita lagi?" William mencubit pipi Laras gemas.


"Jangan. Daddy cerita saja. Mommy akan menjadi pendengar yang baik," sergah Laras sambil mengelus tangan William yang ada di pipinya.


Setelah itu, Laras benar-benar terdiam mendengarkan cerita masa lalu William. Mereka terdiam beberapa saat, menikmati keheningan yang tercipta. William menatap langit-langit kamar, pandangannya menerawang jauh ke tiga tahun yang lalu.


****************


William terkejut saat ciri-ciri yang disebutkan sekretarisnya sama dengan sosok Laras. Tanpa pikir panjang, William keluar dari ruangannya dan menyusul Laras. Berharap wanita itu tidak terlalu jauh dari kantornya. Sayangnya, dia tidak menemukan keberadaan sang istri.


William langsung menuju basementnya dan melajukan mobil sport itu ke arah mansion Arlington. Dia ingin menjelaskan kesalahpahaman yang ada. Sayangnya, sesampai di mansion penjaga mengatakan bahwa Laras belum kembali.


"Kalian yang berbohong padaku!" bentak William pada dua pengawal yang berjaga di pintu gerbang.


William mulai berbuat onar hingga salah satu dari mereka menghubungi Daniel Arlington. Tak lama kemudian, Daniel datang bersama Bella, istrinya untuk menemui William.


"Loh, kok sendirian, Will? Laras mana?" tanya Bella menatap ke arah belakang William.


Bagai tersambar petir di siang hari yang terik, William menatap tak percaya pada Bella Arlington. Dia memundurkan langkahnya lalu berbalik tanpa mengucapkan apapun lagi. Daniel dan Bella saling bertatapan melihat tingkah aneh menantunya itu.


"Rama, suruh Armand mencari keberadaan Laras! Lacak seluruh jalanan di Lunar City!" perintah William mulai melajukan kembali mobil sport-nya.


Pikiran William mulai dipenuhi amarah saat dirinya masih belum menikah sosok sang istri. Hingga dering ponselnya berbunyi menampilkan nama Rama.


"Katakan!" jawab William langsung.


"Nyonya masih ada di perusahaan, Tuan. Dia berada di tangga darurat menuju jalan keluar." Rama melapor.


William langsung mengakhiri panggilannya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Mobil itu meliuk-liuk bagaikan tertiup angin, begitu ringan menyalip sisi kosong kendaraan di depannya.

__ADS_1


Sesampai di perusahaannya, William langsung menuju tangga darurat seperti yang dikatakan Rama. Sayangnya, sesampainya di sana, dia tidak menemukan siapapun. Tapi, sesuatu yang berkilau tergeletak di anak tangga.


William mendekatinya dan terkejut bahwa itu adalah cincin pernikahannya dengan Laras. Hal itu menandakan bahwa Laras berada di sini untuk beberapa waktu yang lalu.


"Sialan! Brengsek!" umpat William sembari memukul-mukul tembok hingga membuat tangannya membiru akibat memar.


"Aaaarrgghh!" teriak William begitu frustasi.


William berjongkok, menangis begitu pilu saat merasa usahanya sia-sia. Lelaki itu memeluk erat cincin yang ditinggalkan oleh istri tercintanya. Hingga kemudian Rama datang dan mencoba menenangkan tuannya.


Sudah satu bulan William mencari keberadaan Laras, tapi wanita itu seperti hilang di telan bumi. Bahkan Armand pun tidak bisa mencari keberadaan Laras. Bukan tidak bisa, dia sulit menembus pertahanan Arlington yang dijaga oleh Ken.


"Will, istrimu pasti ada di mansion Arlington. Armand tidak bisa menembus pertahanan di sana. Mereka menggunakan kode keamanan seorang cyber, yaitu Ken," jelas Nikolai saat menghubungi William.


"Terima kasih, Paman."


William benar-benar dibuat pasrah oleh keadaan. Sekeras apapun dirinya berusaha, semua sia-sia. Bahkan, Armand pun tidak bisa menembus pertahanan Daniel Arlington.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kamar terdengar. William menyuruh siapapun di balik pintu untuk masuk. Terlihat Rama yang masuk dengan membawa sebuah amplop cokelat. William mengernyitkan keningnya saat melihatnya. Pasalnya, dia sudah memilih untuk fokus mencari Laras dan tidak mengurus perusahaan.


"Tuan, Lea memberikan ini untuk diserahkan kepada Anda." Rama mengulurkan amplop cokelat itu yang langsung diterima oleh William.


"Lea?"


"Iya, Tuan. Asisten pribadi Nyonya. Dia mengatakan bahwa namanya adalah Lea," jelas Rama.


William membuka amplop tersebut dan terkejut saat selembar surat cerai yang dia terima. Data dalam berkas itu sudah diisi oleh tulisan yang dikenali William, yaitu tulisan tangan sang istri. Bahkan, berkas itu sudah ditandatangani oleh istrinya tinggal menunggu tanda tangan dari William baru mereka resmi bercerai.


"Aaaarrgghh!" William melempar amplop itu.


Amarah seketika langsung menyelimuti William. Tatapan matanya langsung kosong. William mulai mengamuk. Dia beranjak dari duduknya dan mulai mengamuk. Semua barang yang ada di dalam kamar tidak lepas dari sasaran amarah pria itu.


William tidak peduli dengan apapun saat ini. Dirinya benci hidupnya saat wanita yang dia cintai memilih pergi dari hidup William. Rama masih setia berada di dalam kamar itu. Dia sedang bersiaga jika William mulai bertindak di luar akal manusia.


Benar saja, William saat ini berjalan menuju nakas yang berada di samping ranjangnya. Pria itu tidak peduli bahwa di lantai kamarnya sudah berserakan serpihan kaca dari benda yang dibuang olehnya.

__ADS_1


William tetap berjalan, walaupun telapak kakinya menginjak serpihan kaca. Pandangan dia hanya fokus pada nakas. Rama yang tahu tujuan William langsung berlari, menahannya dengan memeluk dari belakang.


Tentu saja William berontak, dia paling tidak suka diganggu saat paranoid-nya kambuh. Pria itu membenci apapun yang tidak sesuai dengan keinginannya. Bagas dan Melisa masuk ke kamar.


"Ya Tuhan, William!" jerit Melisa saat melihat sang anak tampak kacau.


"Mommy tunggu di sini, biar Daddy dan Rama yang menenangkan William." Bagas menyuruh istrinya untuk tetap di tempat, jangan mendekat.


William yang terus memberontak, Bagas dan Rama yang mulai kewalahan. Akhirnya Bagas memberikan isyarat kepada Rama untuk membuat William pingsan. Asisten pribadi William itu menyadari kode dari Bagas dan sekuat tenaga memukul tengkuk William hingga jatuh pingsan.


"Rama, panggil dokter keluarga dan suruh pelayan untuk membereskan kekacauan ini," perintah Bagas.


"Baik, Tuan."


Rama langsung menjalankan perintah dari Bagas. Dia juga menghubungi Nikolai, memberitahu kabar terkini tentang keadaan William. 


"Kalau begitu, Rama bilang pada Bagas dan Melisa, aku akan segera ke LA. Mereka tidak perlu menjemputku, aku akan datang bersama para bodyguard," ujar Nikolai.


"Saya tidak berjanji, Tuan. Anda tahu sendiri bagaimana kerasnya Tuan Bagas."


"Ah, kamu benar. Baiklah."


Nikolai langsung mengakhiri panggilannya dengan Rama. Sedangkan sang asisten kembali masuk ke kamar William. Dia menyampaikan salam dari Nikolai.


"Terima kasih, Rama. Kita akan menjemputnya. Tolong jaga William untukku." Bagas menepuk pundak Rama dengan keras.


"Tuan tenang saja, saya akan menjaga Tuan William dengan nyawa sebagai jaminannya." Rama menjawab dengan lantang dan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan sedikitpun di ucapan dan tatapannya.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2