
Meyrin menatap ponselnya yang terus berdering sejak tadi, membuat konsentrasinya terpecah. Dia mencoba mengabaikannya tapi tidak bisa.
"Kita lanjutkan nanti malam rapatnya. Paman King dan Paman Queen bisa istirahat lebih dulu. Saya permisi." Meyrin langsung keluar dari ruangan diikuti oleh Lea.
"Halo, ada apa Rama?" tanya Meyrin menjawab panggilan ponselnya sembari terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Nyonya, paranoid Tuan William tiba-tiba kambuh!" panik Rama.
Meyrin tahu, Rama tidak akan menghubunginya jika lelaki itu masih bisa mengatasinya. Wanita itu juga tahu kalau Rama tidak akan pernah berbohong padanya walaupun dia sangat setia pada William.
Meyrin menghentikan langkahnya di tengah anak tangga. Dia berbalik dan menatap Lea. Kemudian mengumpat lalu berjalan menuju pintu utama mansion. Lea mengikutinya dengan sedikit berlari. Dia mencoba menggapai tangan nona mudanya itu.
"Nona, tenanglah! Ada apa?" tanya Lea.
"Kita ke hotel Danieli. Paranoid William kambuh dan Rama tidak bisa menanganinya," jelas Meyrin mulai panik.
Lea tahu, jika sudah berhubungan dengan William, Meyrin akan mudah lepas kendali. Nona mudanya itu akan menjadi panik dan tidak bisa berpikir dengan tenang. Di sinilah gunanya Lea, menenangkan Meyrin agar bisa berpikir jernih dan bisa mengambil keputusan yang masuk akal.
"Terima kasih, Lea," ucap Meyrin setelah dirinya mulai tenang dan mobil yang mereka tumpangi sudah melaju bersama kendaraan yang lainnya.
****************
"Tuan, semua berjalan sesuai rencana. Seperti kata Anda, target mudah ter—"
"Diamlah dan jangan lakukan apapun! Meyrinku sedang menuju ke hotel," perintah Rizzo kepada bawahannya yang sedang mengintai kamar hotel William.
"Baik, Tuan."
"Berto, di mana posisi Meyrin saat ini?" tanya Rizzo pada tangan kanannya yang merupakan seorang IT.
Berto langsung menarikan jari-jemarinya pada keyboard lalu menampakkan sebuah mobil limosin yang di dalamnya ada Meyrin. Rizzo menyeringai saat melihat Meyrin keluar dari dalam mobil.
"Dia masih saja tetap cantik seperti dulu. Akhirnya Laras kembali muncul ke permukaan dengan identitasnya yang baru," gumam Rizzo.
__ADS_1
"Tuan, coba lihat ke arah sini!" Berto memperbesar layar pada laptopnya yang memperlihatkan seseorang sedang mengintai Meyrin juga.
"Hahahaha … ini semakin menarik. Siapa yang akan Laras hadapi dulu? Aaah~ debaran jantung ini membuatku gila! Aku benar-benar menginginkan singa betina Arlington itu!" ujar Rizzo menatap penuh minat pada wajah Laras yang semakin cantik dengan body goal seorang wanita.
"Tuan, apa kita masih tetap pada rencana awal?" tanya orang di seberang sana.
"Pindah ke plan B. Aku akan menghubungi Meyrin."
****************
Di sisi lain, mobil Meyrin baru saja tiba di lobi hotel. Dia langsung menuju ke lift agar segera tiba di lantai kamar hotelnya. Ada dua penjaga di sana, dia menatap mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ada apa, Bos?" tanya salah satu dari mereka.
"Waspadalah! Seseorang sedang mengintai tempat ini." Meyrin memberikan perintah pada dua anak buahnya itu.
Di ujung lorong terlihat Rama sedang menunggu kedatangan Meyrin. Rama sekilas menjelaskan situasi yang terjadi. Rama juga mengatakan kalau William masih berada di dalam kamarnya.
Meyrin langsung melangkahkan kakinya ke dalam ruang tamu dan masuk ke kamar. Wanita itu terkejut saat melihat keadaan kamar yang sudah seperti kapal pecah. Belum lagi bantal dan beberapa benda pecah yang berserakan di atas lantai kamar.
Meyrin langsung berjalan ke arah balkon karena pintunya yang terbuka, tapi sayangnya tidak ada William di sana. Dia kembali ke dalam dan menuju ke walk in closet, nihil tidak ada sosok sang suami. Meyrin mulai khawatir dan pilihan terakhir adalah kamar mandi.
Ceklek!
"Astaga!" pekik Meyrin saat pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sosok William yang bersandar pada dinding kamar mandi.
Meyrin mendekati William dan berjongkok di depannya. Air shower langsung mengguyur tubuh keduanya, membuat mereka berdua basah kuyup. Meyrin melambai-lambaikan tangannya di hadapan William, sayangnya tidak ada respon dari sang suami.
Meyrin menatap keadaan William yang terlihat berantakan. Rambut yang biasanya tersisir rapi sekarang jadi acak-acakan, belum lagi bajunya yang lusuh dan beberapa terkena noda darahnya.
Melihat penampilan William yang begitu berantakan membuat Meyrin tidak tega. Dia peluk pria itu, mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Meyrin memberikan kata-kata sayang agar William bisa meresponnya.
"Mey … apa ini kamu?" tanya William menangkup wajah Meyrin dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Meyrin menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman termanis yang dia punya. William menghapus air mata yang membasahi pipi wanita yang dicintainya. Aliran darah mengalir dari pipi Meyrin seolah wanita itu menangis darah. Padahal aliran darah itu diciptakan oleh telapak tangan William yang terluka.
William memeluk Meyrin begitu erat, seolah wanita itu akan pergi jauh dan tidak kembali lagi. Meyrin hanya memberikan tepukan-tepukan kecil di punggung sang suami yang begitu lebar. Itulah yang sering Ken lakukan padanya jika lepas kendali.
"It's okay. Aku di sini. Semua baik-baik saja," ujar Meyrin.
Kata-kata itu seolah bagaikan mantra bagi William. Meyrin terus saja merapalkan mantra tersebut membuat William kembali tenang. Setidaknya, laki-laki itu harus tenang dulu baru bisa melakukan tindakan selanjutnya.
William sedikit mengendurkan pelukannya, tapi tidak melepaskannya. "Mey, berjanjilah kalau kamu tidak akan meninggalkanku," pinta William di balik punggung Meyrin.
Meyrin tidak menjawabnya membuat William kembali mengeratkan pelukannya. Kening Meyrin berkerut saat dirinya mulai sesak napas. Pasalnya, Meyrin tidak bisa menjanjikan apapun pada William karena dia bukan bagian masa depan seorang William.
Meyrin sadar diri bahwa dirinya tidak pantas lagi untuk William. Walaupun hati mereka masih tertaut sebuah rasa cinta. Berpisah selama tiga tahun tidak membuat rasa cinta di antara keduanya menipis, malah semakin kuat. Mereka berdua kembali jatuh cinta pada orang yang sama.
Bagi sebagian besar orang, mungkin itu adalah benang merah takdir. Meyrin merasa senang jika itu memang benang takdirnya dengan William. Akan tetapi, wanita itu harus rela untuk memutuskan benang merah itu. Wanita itu harus rela melihat William bersama wanita lain yang lebih pantas untuk suaminya.
"Meyrin," panggil William begitu lirih.
"Aku tidak bisa menjanjikan masa depan untukmu, Will. Tapi, untuk masa sekarang aku berjanji tidak akan meninggalkanmu." Akhirnya Meyrin mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.
Mendengar itu, William menyandarkan kepalanya pada pundak Meyrin. Dia benar-benar sangat merindukan wanita itu dan tidak ingin kehilangannya. William tidak ingin kesalahan di masa lalu membuatnya harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya.
Walau hati William sudah sepenuhnya teralihkan pada sosok Meyrin, tapi ada tempat tersendiri untuk istrinya, Laras. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Larasati di hati seorang William. Laras tetaplah Laras, sahabat, wanita dan istri tercintanya. Sedangkan Meyrin adalah wanita yang berhasil menggoyahkan hatinya.
"Nah, sekarang biarkan aku mengobati lukamu dulu. Ayo!" ajak Meyrin.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga