OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 112 PENGHORMATAN TERAKHIR (S2)


__ADS_3

King yang bertugas menjaga mendengar suara tangisan di dalam kamar Daniel. Awalnya dia mencoba untuk mengabaikannya, tapi saat mengenali pemilik suara tangisan itu, dia langsung menyerbu masuk.


"Astaga! Tuan Ken!" teriak King dari ambang pintu.


King masuk ke dalam kamar dan menghidupkan lampunya. Dia terjatuh saking terkejutnya saat melihat pemandangan di depannya. Terlihat Ken sedang merangkul Daniel yang sudah tak berdaya lagi. Darah masih saja keluar dari dadanya.


King segera berdiri dan beranjak mendekati Ken. "Tuan, ada apa ini sebenarnya?" tanya King.


Ken menatap King lalu kembali menangis. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tak berniat untuk menceritakan apapun saat ini. King yang paham keadaan Ken, langsung menghubungi keempat jendral mafia Arlington.


Tak beberapa lama, Aite, Queen, dan Joker masuk ke dalam kamar dan ekspresi mereka sama seperti King. Mereka menatap tak percaya pada penglihatan kedua matanya. Mereka bertiga berjalan dengan linglung saat melihat keadaan Daniel.


Mereka berempat menundukkan kepalanya, berdo'a untuk sang pemimpin mafia Arlington. Tanpa Aite, Joker, King dan Queen sadari, air mata mengalir dengan derasnya di pipi mereka. Kenangan bersama Daniel terlintas di benak mereka berempat seperti kaset yang rusak, berulang tak tentu akhirnya.


"Tolong, bawa Paman ke rumah sakit," ujar Ken mencoba untuk tegar.


****************


"Ayah!" teriak Laras yang langsung terbangun dan terduduk. Napasnya tersengal-sengal.


William yang mendengar teriakan Laras ikut terbangun. Terlihat sang istri yang sedang mengatur napasnya. William mengambil segelas air untuk diberikan kepada Laras yang langsung meneguk hingga tinggal setengahnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya William.


"Aku ingin ke kamar Ayah, Sayang. Firasatku mengatakan terjadi sesuatu pada Ayah." Laras menatap William tanpa menyembunyikan kekhawatirannya.


William yang tidak tega akhirnya menyerah, "Baiklah, aku akan mengambil baju dulu. Setelah itu kita ke kamar Ayah."


William mengambil sebuah baju tidur couple. Dia menyerahkan satu setel untuk istrinya. Laras langsung mengenakannya tanpa malu kepada William. Dipikiran Laras hanya ada wajah sang ayah.


Setelah rapi, Laras melangkahkan kakinya keluar dari kamar, mengabaikan bagian terintimnya yang masih sakit. Ditambah perutnya yang terasa kaku, entah karena apa. Dia tidak bisa mengeluh untuk saat ini. Dia harus membenarkan pendapat William bahwa sang Ayah baik-baik saja.


"Itu mereka ke kamar Ayah?" tanya Laras pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Hatinya semakin tidak menentu. Hal buruk mulai menghantuinya, dia mempercepat langkah kakinya menuju kamar sang Ayah.


"Tolong, bawa Paman ke rumah sakit," ujar Ken mencoba untuk tegar walau hatinya tak bisa.


"A-a …."


Laras tak bisa berkata-kata lagi. Air mata langsung membasahi kedua pipinya saat melihat pemandangan di depannya. Di mana Ken sedang merangkul Daniel yang sudah tak bernapas lagi. Darah dari luka tembak di dada Daniel turut membasahi tubuh Ken.


Terkejut, tentu saja. Tidak percaya, itu sudah pasti. Laras tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Bibirnya kelu, langkah kakinya begitu berat saat mendekati dua pria Arlington yang dia sayangi.


William merangkul pundak Laras, membantu sang istri untuk mendekat ke arah Daniel dan Ken. Ken tertunduk, tidak berani menatap Laras. Lelaki itu tahu bagaimana perasaan Laras saat ini. 


Laras membuka mulutnya hendak berucap, tapi tidak ada yang keluar. Hanya suara isak tangisnya yang terdengar. Napasnya mulai tak beraturan, Laras berdiri mematung di samping jasad sang Ayah.


"Aaaaaaarrrgghh!"


Akhirnya teriakan kepiluan keluar dari bibir sang pemimpin mafia Arlington. Laras terduduk begitu saja di lantai, tepat di depan dada sang Ayah yang tertembak. Dua lubang peluru terlihat di sana, masih terus mengeluarkan darah.


"Ayah! Bertahanlah! Kita akan ke rumah sakit!" isak Laras yang mulai menekan luka tembak di dada Daniel.


"Periksa semua CCTV yang ada! Cari pelakunya! Temukan dia dan bunuh di tempat!" teriak Laras kepada keempat jendralnya.


Ken yang mendengar itu meremas kedua tangannya. Api amarah membakar hatinya karena dia adalah saksi bisu dari kematian seorang Daniel. Ken ingin membalas dendam, tapi dia sudah berjanji pada pamannya.


"Ken! Apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya Laras menatap Ken yang terus tertunduk.


"...." Ken tidak menjawab tapi dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ken! Kamu itu hackerku. Lakukan sesuatu!" Bentakan Laras sukses membuat Ken mendongakkan kepalanya.


Laras tersentak kaget saat wajah Ken begitu kacau. Matanya sembab juga memerah. Melihat sepupunya sekacau itu, Laras semakin menangis, meraung tak berdaya. William membawa Laras ke dalam dekapannya, membiarkan sang istri menangis sepuasnya.


"DADDY!"

__ADS_1


Emily datang dan langsung menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ken menggeser tubuhnya, membiarkan pahanya sebagai bantal. Emily langsung memeluk Daniel, dia menangis meraung-raung. Hal itu semakin membuat Laras tak berdaya.


Perut Laras mulai terasa sakit dan kaku. Kedua kaki dan tangannya terasa dingin saat ini. Kepalanya terasa pusing sebelum akhirnya dia jatuh pingsan di pelukan William.


"Laras! Hei, bangunlah!" William menepuk-nepuk pipi Laras agar bangun.


Emily menatap Laras yang tampak pucat, membuat wanita itu semakin menangis. Pikiran hal-hal buruk dan hidup seorang diri membuat Emily takut. Dia memanggil nama Laras untuk saat ini, paling tidak ada sang Kakak yang perlu diselamatkan.


Tim medis datang, Emily menyuruh mereka untuk memeriksa keadaan Laras terlebih dahulu. Dia harus lebih menjadi kuat lagi demi kakaknya. Beban sang Kakak terlalu berat, apalagi ini adalah hari pertama pernikahan Kakak tirinya itu.


"Tuan, sebaiknya Nyonya ikut kami ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan. Perutnya terasa keras sekali," ujar salah satu tim medis yang memeriksa Laras.


William yang mendengar itu langsung panik, begitu juga dengan Emily dan Ken. Mereka lupa kalau Laras sedang hamil muda dan wanita itu pasti shock saat melihat keadaan Daniel.


"Kakak ipar, pergilah ke rumah sakit terlebih dahulu. Daddy biar aku dan Ken yang mengurusnya. Tolong, selamatkan satu-satunya keluargaku, Kak." Emily menatap penuh kesedihan pada William.


"Baiklah. Tolong jangan lakukan pemakaman dulu sebelum Laras baik-baik saja. Aku ingin dia juga ikut mengantar kepergian Ayah," William menatap Emily dan Ken yang hanya merespon dengan anggukan kepala.


Setelah mengatakan itu, William langsung menggendong Laras menuju lantai utama. William mengabaikan sapaan para pelayan, pikirannya saat ini segera tiba di rumah sakit. Kebetulan, di lantai dasar dia melihat Rama.


"Ada apa dengan Nyonya, Tuan?" tanya Rama.


"Jangan banyak bertanya, Kak. Sekarang antarkan aku ke rumah sakit."


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2