
"Astaga!" Dewi dan Yuki berteriak kaget sembari menutup mulut dengan kedua tangan mereka.
Sedangkan Rico dan Soga melotot tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Meyrin. Rico tak menyangka alasan Meyrin meninggalkan William karena kesalahan dari William sendiri.
"Beruntung ayah segera mengetahuinya. Dia bersama teman-temannya mulai melakukan penyusupan untuk menyelamatkan Ken. Awalnya ayah tidak memberitahuku, hingga sebuah bom yang ada di dalam mobil memberitahuku siapa pelaku sebenarnya. William bukan hanya mencelakai Ken, dia juga hampir membunuh ayah, orang yang selama ini menjadi semangatku selama di LA." Meyrin menghentikan ceritanya.
"Bukannya kalau seperti itu masih bisa dibicarakan baik-baik?" cecar Rico yang didukung anggukan kepala dari Dewi dan Yuki.
"Ya. Ayah dan bunda serta Emily memberikan pengertian kepadaku. Begitu juga dengan Ken. Alasan Ken lah yang membuatku untuk memberikan kesempatan kedua pada William."
"Lalu?" tanya Dewi.
Meyrin terdiam. Dia mengulum bibirnya ke dalam. Wanita itu bermaksud untuk tidak melanjutkan lagi ceritanya. Dia tidak bisa lebih jauh dari ini. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya Meyrin memilih untuk pergi. Hanya seorang Ken yang tahu kebenarannya.
"Hai," sapa Ken di balik punggungnya.
"Ken?" Meyrin terkejut dengan kedatangan Ken yang tanpa diundang itu.
"Ceritakanlah! Sudah waktunya kamu untuk terbuka dan mengatakan pada semuanya termasuk Paman Daniel." Ken memeluk Meyrin dari belakang, mengalungkan kedua tangannya di leher sang wanita.
Daniel terkejut saat namanya disebut. Pasalnya bagi Daniel, dia sudah tahu kelanjutan cerita dari anak sulungnya tapi kenapa Ken mengatakan hal seperti itu?
Daniel menatap Emily yang dijawab dengan gelengan kepada. Dia beralih menatap Meyrin dan Ken yang malah tak mengindahkan tatapannya. Meyrin dan Ken saling tatap, berbicara dari mata ke mata.
Ken menganggukkan kepalanya dan mencium pucuk kepala Meyrin. Memberikan kekuatan pada sang wanita untuk melanjutkan ceritanya. Membuka sebuah rahasia yang selama ini disimpan oleh Meyrin dan Ken.
"Alasanku untuk pergi dari hidup William dan mengiriminya surat cerai karena suamiku sendiri berencana untuk menghancurkan keluarga Arlington." Laras menyelesaikan dengan satu kali tarikan nafas.
"Liu Meyrin!" hardik Daniel.
Daniel tak percaya ini semua. Cerita selanjutnya bukan seperti itu, lalu kenapa Meyrin membuat cerita yang seperti ini? Daniel menatap Meyrin dengan tajam. Sayangnya, Meyrin juga menatap sang ayah dan membenarkan perkataan yang baru saja keluar dari bibirnya.
"Setelah Ken memilih pergi untuk tour, aku pergi ke kantornya di LA. Kita sudah mempunyai janji temu untuk membahas masalah yang terjadi. Aku sudah memutuskan untuk kembali bersama William. Tapi, aku mendengar sendiri jika William akan menghancurkan keluarga Arlington agar bisa membuatku bertekuk lutut padanya." Meyrin menghentikan ceritanya.
"Liu Meyrin, Ken Lian persiapkan diri kalian untuk acara pertunangan beberapa hari ke depan," ujar Daniel begitu lantang.
"Apa?"
__ADS_1
Semuanya terkejut kecuali Soga. Pria keturunan Jepang itu memilih untuk diam dan tidak ikut campur. Dia tahu, jika dirinya ikut campur bukan hanya keluarganya dalam bahaya, tapi juga perusahaannya. Tidak ada yang tidak mengenal sosok Daniel Arlington di dunia bisnis.
Walaupun Arlington Group sudah berpindah tangan kepada Laras atau Meyrin, tetap saja tidak menutup kemungkinan Daniel akan bertindak. Bagi Soga, lebih baik dia memperhatikan perkataan yang keluar dari bibir istrinya, Yuki.
"Ayah tidak akan merestuimu bersama dengan William! Ayah sudah cukup menahan diri saat mengetahui bahwa dalang dari penculikan Ken tiga tahun yang lalu adalah William! Jangan paksa ayah untuk merestuimu!" Daniel murka.
Ya, seorang Daniel Arlington sangat murka saat tahu alasan sesungguhnya Meyrin meninggalkan William. Orang tua manapun pasti akan melakukan hal yang sama dengan Daniel. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Bahkan jika harus mengorbankan nyawanya, Daniel siap untuk kebahagiaan Meyrin dan Emily.
"Ayah!" Meyrin menatap mata ayahnya yang menyala karena amarah.
"Paman," giliran Ken yang memanggil Daniel.
"Daddy," Emily mengelus-elus tangan Daniel, mencoba meredam amarah Daddy nya.
Ken berjalan menghampiri Daniel, "Paman, aku sangat senang jika pertunangan ini benar-benar terjadi. Tapi, aku tidak ingin melalui cara seperti ini. Aku ingin mencuri hati Meyrin dengan caraku."
Ken memberikan pengertiannya. Berharap bisa meredam amarah Daniel. Dia sangat tahu betul jika reaksi Daniel akan seperti ini saat mengetahui alasan sesungguhnya Meyrin pergi dari hidup William. Hal inilah yang membuat Meyrin hanya bercerita pada Ken dan memilih untuk merahasiakannya.
Suasana menjadi tegang seketika. Daniel mulai mengeluarkan aura intimidasinya. Dia tatap Ken begitu tajam, beralih menatap Meyrin yang juga menatapnya tak kalah tajam. Yuki yang melihat itu berjalan mendekat ke arah Meyrin, mengelus lengan Meyrin agar tenang dan mengalah. Hal itu juga dilakukan oleh Emily.
Sedangkan Rico dan Soga meneguk salivanya dengan susah payah. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari dahi mereka. Sedangkan Dewi mencoba mencerna apa yang terjadi.
"Aku masih mencintai William, Ayah." Meyrin menatap penuh keyakinan tekad walaupun hatinya begitu ragu.
"Kamu lupa hal gila apa yang sudah diperbuat oleh William, hah?"
"Mana mungkin Meyrin melupakannya! Semua sakit hati ini akan Meyrin balaskan. Dendam dua tahun harus Meyrin balaskan! Jadi, tolong berikan izin ayah untuk mendekati William lagi," mohon Meyrin.
"Hanya balas dendam?" Daniel memastikan semua perkataan Meyrin, anak sulungnya.
"Iya." Meyrin menjawab begitu mantap dan masih tetap menatap mata tajam Daniel.
Semua yang mendengar perdebatan itu ikut tegang. Dua aura yang sama-sama mengintimidasi. Beda dengan Ken yang hanya diam saja, sedangkan Emily masih mencoba meredakan amarah Daddy nya. Dia tidak ingin Daddy dan kakaknya bertengkar.
"Kalau begitu, buat William bertekuk lutut pada Meyrin lalu suruh dia tanda tangani surat cerainya dengan Laras!" perintah tegas Daniel.
"Kalau begitu, kakak akan benar-benar bercerai dengan kakak ipar?" Emily menatap Meyrin yang hanya diam saja.
__ADS_1
"Iya. Setelah itu mau tidak mau, suka tidak suka, setuju tidak setuju Meyrin akan menikah dengan Ken," ucap Daniel final tak ingin dibantah.
Setelah mengatakan keinginannya, Daniel berjalan keluar dari ruang tamu dan meninggalkan penthouse Meyrin. Semua yang ada disana masih terdiam, meresapi semua yang terjadi begitu tiba-tiba.
"Laras," panggil Rico akhirnya kepada Meyrin sahabat sekaligus istri sah dari William Anderson Plowden.
"Aku harap semua yang ada disini merahasiakan apa yang terjadi baru saja." Laras menatap semua yang ada disana. "Oya satu lagi, tetap rahasiakan identitasku sebagai Liu Meyrin."
Setelah mengatakannya, Meyrin keluar dari ruang tamu. Meyrin masuk ke dalam kamarnya dengan dada yang kembang kempis. Nafasnya terengah-engah. Pikirannya jadi kacau karena perintah dan keinginan sang ayah.
****************
"Meyrin,"
"Kakak,"
"Sweetie,"
Panggilan dari Dewi, Emily dan Ken di luar pintu kamarnya. Meyrin memejamkan matanya, mengabaikan panggilan itu dan bersandar di belakang pintu kamar.
"Aku ingin sendirian. Kalian istirahat dulu saja," ujar Meyrin.
Meyrin melangkahkan kakinya menuju kasur queen sizenya. Dilemparnya tubuh kecil dan rampingnya di atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan sendu. Suara detak jarum jam menjadi musik malam yang menemani Meyrin.
Meyrin memejamkan matanya, menyembunyikan manik hitam yang begitu mempesona. Pikirannya melayang pada peristiwa setelah dirinya memilih berpisah dengan William. Betapa rapuh dan tak berdaya dirinya saat itu. Wanita yang kehilangan setengah hatinya.
Nafas yang tadi terengah-engah, sekarang mulai teratur. Pikirannya mulai tenang, indera pendengaran Meyrin dia fokuskan pada setiap detak jarum jam.
"Aakkh!"
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga