
"Dia sangat aktif," ujar Laras saat dirinya sudah berada di dalam mobil.
Baby Al terus saja memberikan tendangan-tendangan manja di perut Laras membuat wanita itu mengelus perutnya. Semakin dielus, semakin sering tendangan itu hadir. Seolah baby Al sangat senang dengan tangan hangat sang Mommy.
Mobil yang ditumpangi oleh Laras baru saja memasuki halaman perusahaan WR Entertainment milik suaminya. Melihat siapa yang datang, satpam bersiap menyambut Laras. Saat mesin mobil itu berhenti, satpam langsung membukakan pintu belakang mobil.
"Selamat pagi, Pak," sapa Laras pada satpam dengan senyum manisnya.
"Selamat pagi, Nyonya," jawab satpam itu.
Melihat istri dari sang Bos datang, beberapa karyawan yang dilewati Laras menyapanya. Bahkan tak jarang mereka menundukkan kepalanya, memberi hormat pada Laras. Ya, Laras memang terkenal menjadi pribadi yang ceria dan ramah. Berbeda jauh dengan suaminya, William.
"Nyonya, Anda ingin menemui Tuan William?" tanya Brian yang dahulunya merupakan asisten pribadi ayahnya William.
"Iya ada, Nyonya. Apa per—"
"Tidak perlu, biar aku saja yang langsung ke ruangannya," jawab Laras memotong ucapan Brian.
"Baiklah, Nyonya. Kalau begitu saya antar Anda hingga tiba di ruangan Tuan." Brian menekan tombol pintu lift yang akan membawa mereka bertiga ke lantai tempat William bekerja.
Ting!
Pintu lift terbuka, menandakan bahwa mereka telah tiba di lantai tempat William bekerja. Di lantai tersebut hanya ada dua pintu berseberangan. Satu pintu ruang kerja William dan satunya lagi tempat rapat penting diselenggarakan.
Kerut kebingungan menghiasi kening Laras saat tidak menemukan sekretaris yang bertugas. Laras menatap Lea dan bertanya, "Apa sekretarisnya sedang cuti?"
2
"Sebentar, Nyonya." Lea membuka tab nya dan melihat jadwal William yang dikirim oleh Rama. "Seharusnya bekerja, Nyonya." Lea memberikan jawaban yang dibutuhkan oleh Laras.
"Ada yang aneh," gumam Laras.
"Apa yang aneh, Nyonya?" tanya Lea tak paham dengan maksud dari perkataan bosnya itu.
Laras tidak menjawabnya, dia langsung melangkahkan kakinya ke dalam ruangan William. Benar saja dugaannya, suaminya itu sedang berduaan dengan sekretarisnya. Bahkan yang bikin mengejutkan adalah posisi keduanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Laras murka.
Dia melihat suaminya sedang memangku sekretaris yang usianya lebih muda dari dirinya. Laras bisa memperkirakan umurnya pasti sekitar 25 tahun. William langsung mendorong sekretarisnya itu dan menghampiri Laras.
"Sayang, kamu salah paham. Biar aku jelas—"
"Pecat dia!"
__ADS_1
Sekretaris William yang mendengar perintah Laras tersenyum mengecek. "Apa hak Nyonya menyuruh Tuan William memecat saya? Saya terpilih karena kepintaran dan kelihaian dalam segala sesuatunya," sombong sekretaris itu.
Lea yang mendengar itu memutar bola matanya jengah. Sekretaris William tidak tahu saja jika Laras sudah marah tidak pandang wanita maupun pria. Benar saja, tanpa aba-aba Laras langsung melepas pisau kecilnya yang terselip di baju hamilnya itu.
Pisau itu hanya lewat di samping sekretaris William dan berhenti menancap di lemari arsip dokumen suaminya. Saking tajamnya pisau itu hingga menancap dengan sempurna.
"Aakh!" jerit sekretaris William saat merasakan pipinya perih dan Lea tersenyum miring.
William jangan ditanya, dia juga ikut terkejut. Apalagi sekilas pisau itu tidak mengenai tapi malah berhasil menggores pipi sekretaris William.
"Sayang," panggil William tidak percaya.
"APA? Aku tidak memakai pistolku," kesal Laras.
Ya. Selama masa hamil, William melarang Laras membawa pistolnya. Tapi, bukan Laras kalau menurut begitu saja. Apalagi, dia seorang pemimpin mafia. Di manapun dia berada, bahaya akan selalu mengikutinya. Maka dari itu, dia tidak akan mengandalkan bawahannya.
"Pergi dari sini!" perintah Laras pada sekretaris William itu yang langsung kabur begitu saja.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya William.
"Jelaskan!" perintah Laras.
Tanpa diperintah kedua kalinya, William akhirnya menceritakan asal muasal insiden hingga dirinya memangku sang sekretaris. Sayangnya, belum tuntas bercerita, Laras menghentikannya.
"Baiklah, pakai mobil Daddy aja," jawab William.
"Lea!" panggil Laras dengan nada tegasnya.
Lea yang menyadarinya langsung berjalan mengambil pisau kecil kesayangan bosnya itu. Setelahnya dia menyerahkan pada Laras. Setelah itu, Laras menggandeng tangan William untuk segera menuju rumah sakit.
Saat di depan meja sekretaris, terlihat Rama yang sedang menunggu William dan Laras keluar.
"Kak Rama, aku akan mengganti sekretaris William dengan sekretaris yang aku pilih. Jika kakak mempunyai saran bisa langsung melalui Lea," ujar Laras.
"Baik, Nyonya."
"Rama, aku dan Laras akan ke rumah sakit. Tolong selesaikan sisanya!" perintah William yang langsung membuat Rama melongo tak percaya.
"Baiklah. Kalian segera ke rumah sakit dan berikan kabar gembiranya padaku. Tugasmu tidak sedikit sialan," kesal Rama yang mendapat kekehan Lea.
Ya. Semenjak kedua aset William dan Laras menjadi satu, membuat sebagian besar tugas sang istri menjadi tugasnya. Bahkan, William harus menghandel dua kerajaan bisnis Plowden dan Arlington secara bersamaan.
"Kalau begitu berikan setengahnya kepada Lea. Asistenku akan membantumu, Kak," ujar Laras.
__ADS_1
"Baik, Nyonya," jawab Rama begitu antusias sedangkan Lea yang berada di belakang Laras merengek.
"Bantulah Kak Rama sekali-kali, Lea. Nanti setelah lahiran aku akan mengerjakannya sendiri," ujar Laras.
"Baiklah, Nyonya," jawab Lea begitu tak bersemangat.
Bukannya Lea menolak, tapi tanpa William dan Laras ketahui, Rama sering meminta bantuan padanya. Bahkan, sebelum ke perusahaan, Lea sudah menyelesaikan dua dokumen yang dikirim oleh Rama. Niat hati hari ini bebas dari pekerjaan kantor, malah ditambah lagi.
William membukakan pintu samping kemudi untuk Laras. Setelah memastikan istri tercintanya duduk dengan aman dan nyaman, dia menutup pintunya. Sedikit berlari, pria itu memutari bagian depan mobil untuk menuju kursi kemudi. Sedangkan Lea duduk di kursi belakang mobil.
Ya. Selalu seperti ini posisi jika mereka pergi bertiga. Kecuali jika Rama ikut maka yang menjadi sopir asisten pribadi William sendiri. Mobil melaju dengan kecepatan rendah. Memang selama hamil, ke manapun Laras akan diantar oleh William.
"Daddy, boleh mampir ke kedai sate ayam nggak?" pinta Laras.
"Mommy ingin makan sate ayam?" tanya balik William yang dijawab anggukan kepala oleh istrinya.
"Baiklah."
Memang, selama Laras hamil yang bagian mual diberikan kepada William. Sedangkan yang bagian ngidam Laras. Jadi bisa disimpulkan ribetnya William yang harus mual dan menuruti kemauan Laras dan calon anaknya.
William memutar kemudinya, mengarahkan mobilnya menuju kedai sate ayam langganan sang istri. Tiba-tiba ponsel William berdering, menampilkan nama Rama.
"Aku saja yang menjawabnya," ujar Laras yang langsung mengambil ponsel suaminya.
"Hallo Kak, ada apa?" tanya Laras langsung pada intinya.
"Lihatlah berita terkini!" ujar rama di seberang sana.
"Nyonya, ini!" Lea menyerahkan tab nya yang menampilkan sebuah video siaran langsung.
"Kenapa bisa begini?" Laras menatap terkejut pada video itu.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1