OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 82 LIMA JUTA DOLAR


__ADS_3

Satu hari telah berlalu dan Ken mulai sibuk mengatur strategi penyerangan di pulau Poveglia. Dia bisa asumsikan kalau William ada di salah satu ruangan rumah sakit itu. Masalahnya ada di ruangan mana William?


Berdasarkan pengalamannya bertarung dengan Rizzo dan Berto, itu bukan hal yang mudah. Melihat betapa pintar dan liciknya mereka jika menyangkut tentang tempat persembunyian. Pastinya tempat itu adalah ruangan yang tidak mudah dijangkau oleh siapapun. Tempat di mana hanya orang yang diinginkan Rizzo masuk saja yang bisa.


Ken baru saja tiba di rumah sakit. Dia langsung menuju ke ruangan tempat di mana Meyrin di rawat. Malam ini mereka akan kabur dari rumah sakit. Armand sudah memastikan semuanya, begitu juga dengan Lea.


Mengingat Lea, Ken jadi teringat peristiwa beberapa jam yang lalu. Peristiwa saat di mana asisten pribadi Meyrin itu mengancam seorang dokter. Sungguh, Lea adalah mama muda yang berkharisma serta berani.


Bayangan wajah tak berdosa Lea kembali terbayang di benak Ken. Apalagi wajah sok polos Meyrin, membuat siapapun yang menatapnya tidak tega.


"Dokter, tolong saya sudah tidak betah di rumah sakit ini. Izinkan saya pulang. Saya akan meminum obat dengan rutin dan konsul setiap dua hari sekali," pinta Meyrin dengan wajah polos dan tak berdayanya.


Ken menutup mulutnya agar tidak tertawa. Dia tatap wajah Meyrin dan sang dokter bergantian. Wajah dokter itu kebingungan, antara kasihan, takut tapi khawatir. Kasihan melihat Meyrin yang punya trauma dengan rumah sakit. Takut karena Lea yang menodongkan pistol pada sang dokter. Khawatir karena kondisi Meyrin masih belum stabil.


Bahkan, untuk berjalan saja Meyrin butuh dipapah oleh Lea maupun Ken. Saraf motorik Meyrin masih belum pulih karena adanya efek samping dari racun tersebut.


"Dokter hanya perlu memberikan resep obatnya saja dan saya pastikan Nona meminumnya. Kalau bisa obat anti nyeri yang bertahan selama berjam-jam." Kali ini Lea yang berbicara.


"Tapi itu berbahaya. Efek racunnya masih ada dan kalau mengkonsumsi obat anti nyeri dengan dosis banyak itu berbahaya."


Terdengar bunyi Lea yang sedang menarik pelatuk pistolnya. Hal itu membuat sang dokter gemetar ketakutan. Dia tidak menyangka bahwa orang-orang yang ada di dalam ruangan ini adalah pemilik identitas tersembunyi.


"Jadi, bagaimana keputusan Dokter?" tanya Lea lagi.


"Ba-baik."


Akhirnya setelah perdebatan yang cukup alot, dokter itu setuju untuk memulangkan Meyrin. Tentu saja dengan syarat wanita itu harus melakukan pemeriksaan rutin.


"Satu lagi, jangan bilang kepada siapapun tentang kita yah, Dok?" pinta Meyrin.


"Untung Anda anaknya Daniel Arlington. Beruntungnya, aku punya hutang nyawa sama dia. Ingat! Jangan mati sebelum aku melihat anak-anakmu," ujar sang Dokter kesal sendiri.


"Siap, Dokter." Meyrin mengangkat tangan dan mengacungkan kedua jempolnya.


"Pulang besok jangan sekarang! Sekarang Anda latihan berjalan saja. Paham?"

__ADS_1


"Baik, Dokter."


Setelahnya Dokter itu keluar dari ruangan Meyrin dengan perasaan kesal dan dongkol. Dia kalah dan terbujuk dengan anak-anak muda. Dedikasinya sebagai dokter belasan tahun kalah dengan seorang anak muda yang mengacungkan pistol pada dia.


****************


"Aduh!" rintih Ken dan tersadar dari lamunannya.


"Duh! Om ini gimana sih. Kalau jalan pakai mata dong! Punya mata dua tapi otak pikirannya kemana-mana," gerutu seseorang yang terjatuh di lantai.


Ternyata, selama dalam perjalanan menuju ruangan Meyrin Ken malah melamun. Hingga dia tidak sadar bahwa seorang gadis yang berada di persimpangan sedang berjalan menuju ke arahnya. Tabrakan antara keduanya tidak bisa dihindarkan lagi.


"Lupita?" tanya Ken saat melihat wajah orang yang ditabraknya.


"Waaah! Ke—"


Ken langsung bertindak saat melihat Lupita akan berteriak memanggil namanya. Ken tidak mau penyamaran sempurnanya terbongkar karena tingkah konyol bocah mungil ini.


"Diamlah bodoh! Kamu mau membongkar identitasku, hah!" bentak Ken dengan nada lirih.


Lupita terpaksa menganggukkan kepalanya mengerti karena napas dia yang tinggal sedikit. Ken langsung melepaskan bungkamannya dan Lupita langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Ken tanpa mengatakan sepatah kata pun langsung meninggalkan Lupita begitu saja. Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar berharap gadis kecil itu tidak mengejarnya. 


"Syukur dia tidak mengikutiku," seru Ken yang membuka pintu ruang rawat inap.


Di sana sudah ada para petinggi mafia Arlington, Armand dan Nikolai. Armand sudah sibuk dengan laptopnya. Ken langsung menghampiri Meyrin.


"Duduklah bersama Armand, Ken!" perintah Meyrin kepada sang tangan kanan di medan pertempuran.


Tidak perlu diperintah dua kali, Ken langsung melangkahkan kakinya menuju sofa, di mana Armand yang sedang fokus menatap layar laptopnya. Sesekali pria itu mengumpat, saat yang diinginkan tidak didapatkannya, sama seperti Ken.


Sebuah headset bertengger di leher Armand. Saking sibuknya, dia tidak menyadari kehadiran Ken. Ken sedikit mengintip layar laptop Armand yang menampilkan tulisan error dengan seluruh laptopnya yang berwarna merah.


Tiba-tiba sebuah peringatan muncul di layar laptop Armand membuat lelaki itu mengumpat lagi. Dia benar-benar dibuat tak berkutik oleh sistem pertahanan musuhnya. Begitu ketat dan jika salah sedikit maka sistem pertahanan dirinya yang terancam, seperti saat ini.

__ADS_1


"Lagi bermain dengan Berto, hm?" tanya Ken melihat Armand yang begitu frustasi.


"Kalahkan dia, paling tidak seri sajalah! Aku akan transfer lima juta dollar ke rekeningmu," ucap Armand begitu frustasi.


"Tak masalah. Ingat! Tepati janjimu."


Ken langsung mengambil alih posisi Armand. Armand sedikit menggeser tubuhnya ke samping, memberikan kendali penuh pada Ken.


"Oke. Waktunya lima juta dollar masuk ke rekening, Berto," ucap Ken.


Sedangkan semua yang berada di dalam ruangan hanya menggelengkan kepala saat kedua cyber dari dua pemimpin sedang bersatu melawan cyber dari Rizzo. Ken mengangkat sudut bibirnya saat suara seperti alarm pada laptop Armand berhenti berbunyi.


Armand bertepuk tangan di samping Ken saat data pribadinya aman. Ken masih tetap fokus pada layar laptop hingga tiba-tiba dia berdecak kagum.


"Kalian punya mata-mata di pihak Rizzo?" tanya Ken menatap Armand tak percaya.


"Tentu saja. Aku berhasil menemukan satu alamat IP yang dapat dilacak dan tentu saja kami mengancam agar dia berpihak pada kita," jelas Armand.


"Bagus, ini justru lebih cepat selesai. Siapkan lima juta dolarmu untukku." Ken menaik-turunkan alisnya, sedangkan Armand memutar bola matanya. Kekalahan sudah jelas di depan mata.


Armand saat hendak mengeluarkan ponselnya untuk melakukan transaksi tiba-tiba mengernyitkan keningnya. Bunyi alarm tanda peringatan muncul kembali di layar laptop Armand.


"Ini yang aku suka darimu, Berto," seru Ken begitu antusias pada layar laptopnya.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Armand bingung.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2