
Beberapa letusan kembang api secara bersamaan dinyalakan entah dari mana. Kembang api itu mengudara di langit malam membentuk lambang cinta. Semua yang menyaksikan kembang api secara gratis bertepuk tangan dan dari wajah mereka terpancar kebahagiaan.
Letusan itu tidak berhenti menghiasi hitamnya langit malam dengan berbagai cahayanya. William menatap Meyrin yang terpana dengan puluhan bahkan ratusan warna dari kembang api itu. Hingga akhirnya letusan kembang api itu berhenti membuat Meyrin menatap William.
Meyrin tahu hal ini adalah perbuatan dari suaminya. Bagi wanita itu tidak ada pria yang seromantis William. Pria yang masih menjadi suaminya itu selalu memberikan kejutan-kejutan yang diluar akal sehat seorang Liu Meyrin.
Duaar! Duaar!
Saat kedua mata mereka saling bersirobok, sebuah letusan yang begitu besar terdengar. Meyrin langsung menatap langit malam dan sebuah kembang api kembali bermunculan. Kembang api kali ini sedikit berbeda karena berbentuk tanda cinta. Bedanya tanda cinta kali ini banyak dengan berbagai macam warna menghiasi pekatnya langit malam.
Tiba-tiba William berlutut di depan Meyrin, membuat perhatian sang wanita kembali fokus pada William. Meyrin membelalakkan kedua matanya saat William mengeluarkan sebuah kotak beludru ukuran persegi panjang.
Meyrin ingin menarik tangannya dari genggaman William tapi ditahan oleh sang lelaki. Meyrin memberi kode pada William untuk menghentikan aksi gilanya. Wanita itu mengingatkan kembali William dengan jawaban yang selalu Meyrin berikan, yaitu pengalihan. Tapi bukan William kalau menurut begitu saja.
"Liu Meyrin, wanita tangguh dan berani. Wanita yang sudah mencuri hati seorang William. Entah sejak kapan perasaan itu hadir, tapi yang jelas kamu berhasil menyingkirkan Laras di hatiku." William melepas genggamannya lalu membuka kotak merah itu.
Sebuah kalung dari emas putih dengan dua daun yang dihubungkan oleh diamond kecil membentuk lingkaran. Terlihat mengkilap dan mewah, membuat wanita manapun yang melihatnya iri. Kalung itu semakin terlihat elegan dan mahal saat sebuah diamond yang lebih besar berada di tengah lingkaran, tampak begitu berkilau.
Meyrin sampai menutup mulutnya melihat kejutan demi kejutan yang diberikan oleh William. Makan malam romantis, dessert kesukaannya, dansa dengan lagu kenangan di masa lalu mereka hingga puncaknya sebuah pengakuan dengan kata-kata yang menyentuh.
"Liu Meyrin, aku tidak ingin meminta banyak darimu. Aku hanya ingin menjadi sahabatmu, orang yang selalu ada saat kamu membutuhkan sandaran. Orang pertama yang akan mendengarkan semua keluh kesahmu. Apakah aku bisa mempunyai hak seperti itu?" tanya William.
Meyrin menatap ke sekeliling di mana banyak pasang mata menatap mereka. Malam ini William dan Meyrin menjadi pusat perhatian sebagian besar para pengunjung Piazza. Bahkan tak banyak dari mereka yang merekam momen romantis antara keduanya.
Suara tepuk tangan terdengar, memberikan dukungan pada William. Sebagian besar pengunjung meminta Meyrin menerima pengakuan dari sang lelaki.
"Kita bersahabat, jadi bisakah aku menerima kalung itu sebagai lambang persahabatan kita?" Meyrin mengulurkan tangannya ke arah William untuk berdiri.
__ADS_1
William menyambutnya dengan senyuman bangga. Akhirnya dia berhasil menjadi sahabat seorang Liu Meyrin. Setidaknya itu menjadi langkah pertama untuk mendapatkan kepercayaan Meyrin lalu hatinya.
William mengeluarkan kalung itu dari kotaknya, lalu membantu Meyrin untuk memakaikannya. Sebuah suara tepuk tangan yang bergemuruh terdengar saat William selesai memasangkan kalungnya. Setelahnya suara kembang api kembali terdengar.
William kembali menggenggam tangan Meyrin dan menikmati pertunjukkan kembang api tersebut. Meyrin menyandarkan kepalanya di pundak William sembari mendongakkan kepalanya menatap langit. Malam ini benar-benar sangat indah dan romantis.
Kening Meyrin mengernyit saat beberapa kembang api tampak berbeda. Meyrin begitu jeli kalau soal kejanggalan. Dia mulai mengamati dengan teliti dan menghitung. Ada lima kembang api yang ketika dinyalakan berbunyi seperti roket.
"Will, apa kamu menyiapkan kembang api yang berbunyi roket itu juga?" tanya Meyrin memastikan.
"Aku hanya memesannya saja tanpa request. Aku cuma meminta mereka untuk menyalakan kembang api sesuai dengan kode dari Rama," jawab William jujur.
"Bagaimana Rama bisa tahu, secara jarak kita jauh dengan mereka?" tanya Meyrin lagi sembari menatap ke arah Rama dan yang lainnya di belakang.
"Paman Nikolai memberikan ini padaku," William menunjukkan sesuatu yang ada di dalam telinganya.
"Invisible earpiece, bukan?" Meyrin memastikan yang dijawab anggukan kepala dari William.
'Paman tolong selidiki tentang peluncuran kembang api hari ini di Piazza.'
Begitulah isi pesan Meyrin kepada Aite, begitu singkat, padat dan jelas. Setelahnya William mengajak Meyrin kembali ke hotel Danieli. Tanpa mereka sadari beberapa orang sedang mengawasi keduanya di antara kerumunan banyak orang.
William yang melihat Meyrin menggosok-gosokkan tangan di lengannya, berinisiatif membuka jasnya dan disampirkan ke pundak sang wanita.
"Terima kasih," ucap Meyrin sambil menolehkan kepala ke sisi kirinya, tempat William berjalan.
William membantu Meyrin dengan membukakan pintu mobil, memperlakukan wanita itu layaknya putri kerajaan. Meyrin masuk ke mobil dan setelah memastikan sahabat barunya aman, sang lelaki menutup pintunya. Kemudian memutari mobil dan berjalan ke sisi kemudi.
"Will, kita langsung ke hotel atau ke tempat yang lain?" tanya Meyrin saat mobil itu mulai berada di jalan raya, berbaur dengan kendaraan lainnya.
"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya balik William.
__ADS_1
"Em … sepertinya tidak ada. Lain waktu kita bisa pergi ke sana," jawab Meyrin tampak berpikir.
"Baiklah."
Setelahnya obrolan tentang perusahaan dan beberapa tender menjadi topik utama pembicaraan antara William dan Meyrin. Tak banyak wanita yang sering kali mengeluh saat mendengar laporan dari bawahannya yang ditugaskan.
Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi memasuki basement hotel. Saat William hendak membuka pintunya, Meyrin segera menarik kemejanya hingga kembali duduk. Tanpa permisi, wanita itu langsung mencium bibir William yang langsung membelitkan lidah mereka.
William terkejut saat menerima serangan dadakan dari wanita yang dicintainya. Tapi, keterkejutan itu tidak berlangsung lama karena setelahnya William menyambut ciuman Meyrin. Bahkan ia membantu memperdalam ciuman mereka.
Udara malam yang dingin tidak bisa memadamkan api gairah dalam tubuh mereka berdua. Mungkin hari ini mereka akan kembali merenggut nikmatnya madu cinta. William menekan tengkuk Meyrin membuat ciuman itu semakin dalam dan penuh gairah.
Tidak hanya sampai di situ, William beranjak dari kursi kemudinya. Menghimpit tubuh Meyrin di bawah kekuasaannya, lalu kembali mencium benda kenyal yang telah menjadi candunya. Meyrin semakin mengalungkan kedua tangannya di leher William, membiarkan lelaki itu menguasai tubuhnya.
"Will, bagaimana jika ada yang melihatnya?" tanya Meyrin saat pagutan di antara mereka terlepas.
Terlihat lipstik yang dikenakan Meyrin belepotan, bahkan bibirnya terlihat basah dan bengkak. William benar-benar tidak melepaskan kesempatan yang ada. Apalagi ini adalah Meyrin sendiri yang mengambil inisiatif.
"Kalau begitu, kita pindah ke tempat tertutup."
Dimana Will?
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1