
Rama yang melihat wajah panik William langsung membukakan pintu belakang mobil. Setelahnya dia sendiri mengambil posisi di balik kursi kemudi. Rama sendiri yang akan membawa dua majikannya itu ke rumah sakit.
"Kak Rama, tolong dipercepat sedikit laju mobilnya! Perut Laras terasa keras sekali ini," ujar William mulai panik.
"Tuan, tenanglah! Coba An—"
"Kak, tolong jangan menyuruhku untuk tenang. Keadaan di rumah begitu kacau saat setelah satu hari pernikahan. Sekarang perut Laras begitu keras seperti kayu rasanya," adu William dengan nada paniknya.
"Tetap saja kamu sebagai suaminya Laras harus tenang di saat seperti ini. Laras membutuhkanmu, jadi tenanglah dan coba berpikir dengan jernih," saran Rama yang membuat William memikirkan kembali perkataan Kakak angkatnya.
Sesampai di rumah sakit, saat mengetahui bahwa itu adalah pasiennya King, Laras langsung mendapatkan pertolongan pertama. William membaringkan Laras di brankar, seorang dokter melakukan pemeriksaan awal, lalu memasang infus dan selang NGT.
Brankar itu didorong menuju ruangan, di mana peralatan di sana sangat lengkap. William menatap sekitar, ada sebuah televisi besar dengan ukuran 24 inch. Lalu sebuah alat yang entah apa itu namanya berada di samping kanan Laras.
"Tuan tunggulah di sini. Lima menit lagi dokter akan tiba. Saya sudah melakukan penanganan pertama agar kandungan Nyonya baik-baik saja," jelas seorang dokter muda.
"Apa istri saya baik-baik saja?" tanya William.
"Istri Anda baik-baik saja, tapi untuk kandungannya biar dokter spesialis yang menjelaskan lebih detailnya."
"Will," panggil Laras dengan suara lirihnya.
William segera menghampiri Laras, mengabaikan dokter muda itu. Digenggamnya tangan Laras yang terasa dingin, tapi tidak sedingin tadi. Dia mencoba menenangkan Laras, padahal dirinyalah yang tidak tenang.
Laras yang melihat itu tersenyum jahil, "Apa aku ada di rumah sakit?" tanya Laras.
"Iya, tadi kamu pingsan lalu perutmu begitu keras seperti kayu. Aku langsung membawamu seperti ini tanpa berpikir panjang."
"Tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkanmu. Bagaimana dengan Ayah?" terlihat air mata Laras yang mulai menganak sungai di pelupuk mata sang istri.
"Tenanglah, Emily dan Ken yang mengurusnya. Aku juga sudah memberikan perintah untuk tidak melakukan pemakaman, sebelum kamu datang. Apa perintahku aneh?" William menggaruk tengkuknya.
"Tidak, itu sudah benar kok. Terima kasih yah. Tadi saat bangun memang perutku terasa sakit dan kaku. Setelah melihat keadaan Ayah rasa sakit itu perlahan hilang dan aku kembali merasakan sakit lalu entahlah," jelas Laras.
__ADS_1
"Kamu pingsan. Emily semakin kacau saat melihatmu pingsan tadi. Apalagi aku yang semakin berantakan. Lihatlah!" William berdiri dengan sempurna seperti seorang tentara yang berbaris.
Laras mengernyitkan keningnya saat tak paham dengan maksud sang suami. William yang mengerti tatapan sang istri hanya menghela napasnya kasar. Dia memutar bola matanya kesal.
"Lihatlah ke kakiku, Sayang. Aku tidak memakai alas kaki saking terburu-burunya. Sekarang Rama sedang membelikannya." William menjelaskan sambil memalingkan wajahnya, dia sungguh malu.
Laras mengikuti perintah William dan tersenyum saat melihat suaminya tidak memakai alas kaki. Sungguh saat ini William lebih malu daripada tadi. Dia benar-benar hilang akal jika itu menyangkut sesuatu tentang istrinya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Maaf aku tertawa, habis mukamu lucu dan bisa-bisanya sampai melupakan alas kaki."
Sambil menunggu dokter, William mengajak Laras berbincang hal apapun. Dia ingin mengalihkan perhatian istrinya dari kesedihan agar anak yang ada di perut Laras tidak ikutan sedih. Hingga pembicaraan mereka terhenti.
Laras yang menyadari upaya suaminya untuk menghibur tersenyum kecut. Ternyata, peristiwa yang terjadi hari ini bukanlah mimpi. Padahal wanita itu berharap bahwa semua adalah mimpi dan hanya perutnya yang sakit itu kenyataannya.
"Akh!" rintih Laras saat perutnya kembali kaku.
"Hei, sudah aku bilang jangan terlalu memikirkan sesuatu, Sayang. Ingat! Di dalam sini ada anak kita yang juga merasakan perasaanmu."
"Tarik napas … buang secara perlahan, Nyonya. Lakukan hal itu sampai pikiran Anda tenang," perintah sang dokter wanita.
"Hei, jangan menangis. Semua akan baik-baik saja, Sayang. Setelah ini aku akan menceritakan permintaan Ayah tadi malam, oke? Tenanglah, Sayang." William menghapus air mata yang mengalir membasahi kedua pipi sang istri.
"Semua badanku rasanya sakit, Will."
"Iya aku tahu, makanya tenanglah." William menggenggam tangan Laras lalu mengecupnya.
Dokter itu tersenyum saat pasiennya mulai tenang dan berkata, "Nah, sekarang mari kita periksa keadaan bayinya."
Dokter membuka baju Laras di bagian perutnya. Bagian pinggang ke bawah tubuh Laras telah ditutup oleh selimut. Setelah itu sang dokter mengoleskan gel dingin di atas perut Laras yang masih rata. Dokter kandungan bersiap dengan alat transducer di tangannya.
"Silakan lihat di layar, saya akan menjelaskan keadaan bayi kalian." Dokter itu mengatur beberapa tombol hingga di layar monitor muncul layar hitam pekat.
Dokter mulai melakukan tugasnya. Dia sedikit menekan transducer di bawah perut Laras saat tidak menemukan posisi sang bayi. Hingga akhirnya sebuah gambar hitam putih muncul di layar.
__ADS_1
"Tuan dan Nyonya, coba kalian perhatikan. Bulatan kecil di layar itu adalah kantung bayi dan titik kecilnya itu adalah bayi kalian. Belum terlihat bentuknya, tapi kalau dilihat dari ukuran dan beratnya dia sehat," jelas sang Dokter.
Mendengar penjelasan dari Dokter membuat calon orang tua baru itu menghela napas dan bersyukur. Terlihat di layar sebuah titik kecil begitu imut, membuat Laras tersenyum penuh kesayangan.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya William.
"Tentu saja, Tuan. Dia tumbuh dengan baik di tubuh Nyonya. Sepertinya dia senang mendapatkan orang tua seperti kalian."
Deg!
Saat mendengar ucapan dokter, ada rasa kekhawatiran dalam diri Laras dan William. Mereka mulai teringat dengan kekurangan masing-masing. William yang menderita kelainan mental, sedangkan Laras yang seorang ketua mafia. Senyum kegetiran tersungging di bibir keduanya.
"Apa kita bisa menjadi orang tua yang baik?" gumam Laras tanpa sadar.
"Tentu saja Nyonya. Memang pemikiran ini sering terjadi pada calon orang tua baru. Nah, mari saya kasih arahan buat Tuan dan Nyonya."
Setelahnya Dokter itu membersihkan sisa gel yang berada di perut Laras. William membantu Laras membenarkan bajunya kembali dan turun dari brankar. Mereka berdua duduk di kursi, di depan meja sang Dokter, saling berhadapan.
"Dokter, kata Anda anak saya tumbuh dengan baik, lalu kenapa istri saya perutnya keras?" tanya William penasaran.
Dokter itu tersenyum saat menerima pertanyaan William, dia balik bertanya, "Apa Anda baru saja melakukan hubungan intim dengan istri?"
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1