
"Selamat pagi, Tuan Plowden," sapa seseorang.
William membalikkan badannya untuk melihat siapa yang menyapanya. Saat melihat seseorang sedang turun dan mendekatinya dia tersenyum manis.
William yang pagi ini memakai celana jean, kemeja putih dan long coat abu-abunya serta aksesoris syal tersenyum saat menyadari siapa yang datang. Seorang wanita menuruni anak tangga dan membenarkan rambutnya yang tertiup angin.
William benar-benar tidak menyangka bahwa Meyrin sendiri yang akan turun langsung. Wanita itu tersenyum manis saat berada di hadapan William. Celana jean, kemeja putih dan long coat cokelat muda menjadi setelan yang dipakai Meyrin.
Entah ini sebuah kebetulan atau memang takdir, William dan Meyrin memakai setelan baju yang sama. Padahal Rama dan Lea sudah tidak saling berhubungan lagi. Bahkan kedua asisten mereka terkejut saat baju majikannya seperti couple.
"Merindukanku, hm?" goda Meyrin.
"Kasih aku ucapan selamat pagi yang romantis dong," pinta William dengan kurang ajarnya. Dia kembali melupakan Laras. Meyrin benar-benar membuat William melupakan sosok Laras.
Meyrin langsung mengalungkan kedua tangannya di leher William dan sedikit berjinjit. Sebuah ciuman selamat pagi diberikan Meyrin. William tersenyum saat mendapatkan morning kiss di sela ciumannya.
William memeluk pinggang sang wanita dan balik mencium bibir yang menjadi candunya itu. Meyrin mendorong William dan sedikit meringis saat tanpa sengaja pria itu menekan luka bekas operasinya. Pria itu benar-benar lupa dengan keputusannya jika Meyrin sudah di depan mata.
"Maaf, aku lupa." William menundukkan kepalanya, dia benar-benar melupakan luka di pinggang sang sahabat.
"Tidak masalah. Sudah siap dengan tugas terakhir kita?" tanya Meyrin.
"Tentu saja. Mari kita lakukan secepat mungkin, karena aku sudah tidak tahan membawamu ke hotel," jawab William dengan nada sensualnya.
Meyrin hanya tersenyum saat William tidak pernah berubah sedikitpun. Meyrin menatap ke belakang dan menganggukkan kepalanya kepada Lea dan Rama untuk memulai kegiatan mereka.
****************
Pukul 05.00 sore William dan Meyrin baru selesai melakukan semua kegiatan mereka. Pukul 08.00 malam nanti mereka ada pertemuan dengan Walikota sekaligus perpisahan.
Meyrin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia sudah melempar tas dan long coat-nya di ruang depan. Napasnya begitu teratur dengan mata tertutup. Dia ingin tidur sebentar.
William yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum sekaligus bergairah melihat Meyrin. Lihatlah posisi tidur wanita itu terlentang tanpa pertahanan. Dua kancing atas kemejanya dia lepas hingga celah dua gunung kembar mengintip malu-malu.
__ADS_1
William meneguk salivanya dengan susah payah. Dia berjalan ke arah kasur dan langsung mengambil posisi dengan menindih Meyrin. Entah keberanian dari mana, William mulai melucuti semua kancing kemeja Meyrin. Terpampanglah dua gunung kembar yang masih terlindungi kain berwarna merah.
Merah artinya berani. Seolah mengejek William, kain itu menantang William untuk menunjukkan keberaniannya melepas kain pelindung dua gunung itu. Sayangnya, William ingin bermain lembut hari ini. Dia tidak akan melakukannya terlalu cepat karena tahu bahwa pinggang wanita itu masih terluka.
William mulai menjelajah dari mencium kening Meyrin, kedua matanya yang tertutup, pipi gembulnya kanan dan kiri. Hingga akhirnya mendarat di pelabuhan candunya yaitu bibir sang wanita.
"Hmmph~" lenguh Meyrin dalam tidurnya.
William benar-benar jahil. Dia bahkan menelusupkan lidah tak bertulangnya. Senyum sang lelaki semakin menjadi dikala Meyrin membalasnya tapi masih berpura-pura tidur.
Tangan kanan William mulai bergerilya, membelai tubuh bagian atas Meyrin. Menstimulasi titik-titik sensitif sang wanita yang sama persis posisinya dengan Laras. Hingga tangannya berhenti tepat di bawah perut sang wanita. Dia merasakan membelai sesuatu yang aneh.
"Kenapa berhenti?" tanya Meyrin.
William langsung menyalakan lampu kamar dan menatap tepat ke sesuatu yang dia belai tadi. Dia membulatkan kedua matanya sempurna saat melihat bekas jahitan di sana dan beberapa lagi.
"Apa ini?" tanya William menatap tajam pada luka Meyrin.
"Yah seperti yang kamu lihat, luka jahitan," jawab Meyrin santai, membiarkan William melihat tubuh bagian atas dan lukanya.
"Dari mana?" tanya William.
William langsung menatap tajam kedua mata sang wanita. Mencari sebuah kebohongan dan sayangnya itu tidak ada di sana.
"Apa sakit?" tanya William menurunkan nada bicaranya. Dia belai luka-luka bekas jahitan di perut sang wanita.
"Uuuh~ itu geli," lenguh Meyrin jujur dan sedikit jahil karena dia tahu bukan itu yang diinginkan William sebagai jawaban.
"Meeey,"
"Hahaha … pertama kali terjun di medan pertempuran terasa sakit, seperti tubuhmu terbakar dari dalam. Tapi, setelah beberapa kali terkena peluru itu sudah biasa bagiku." Meyrin menjelaskannya begitu santai bahwa terkena peluru sama dengan tergores ranting pohon.
"Keluarlah dari dunia mafia dan jadilah istriku. Aku bisa menafkahimu hingga anak cucu kita," pinta William dengan nada sendunya.
Meyrin tersenyum melihat ketulusan William yang begitu mengkhawatirkannya. Dibelainya pipi sang lelaki dan sedikit mendongakkannya agar mereka saling bertatapan.
"Aku siapa?" tanya Meyrin, menatap tepat ke kedua bola mata William.
__ADS_1
"Tentu saja Liu Meyrin."
"Jika kamu ingin memilikiku, maka cintai aku apa adanya. Terima sisi gelapku seperti aku menerima paranoid-mu, Will. Aku tidak terlalu menuntut banyak karena memang aku tidak sempurna. Aku punya sisi gelap yang begitu sulit untuk dihilangkan." Meyrin menatap serius pada William.
"Apa itu artinya kita?"
"Iya, seperti yang kamu pikirkan."
Saat itu juga, William langsung memeluk Meyrin begitu erat. "Aku akan kembali melakukan terapi untuk paranoid-ku," ucap William di dalam pelukan Meyrin.
Meyrin melepaskan pelukannya, mereka saling bertatapan penuh cinta. Senyum selalu merekah di bibir keduanya. Debaran jantung yang seperti genderang perang. Meyrin dengan lihainya membuka simpul bathrobe yang dipakai William hingga memperlihatkan tubuh atas prianya yang masih basah.
Meyrin mendorong William, membuat pria itu tidur terlentang, di mana Meyrin berada di atasnya. Sang wanita mulai memberikan ciuman-ciuman pada di dada bidang William sambil membuka bathrobe yang dikenakan oleh William.
"Nngh~" lenguh William saat Meyrin memberikan kenikmatan padanya.
William langsung membalikkan keadaan di mana saat ini Meyrin lah yang berada di bawah kekuasaan seorang William. Senyum manis diberikan oleh sang wanita dan mengalungkan kedua tangannya di leher William. Membawanya sedikit demi sedikit mendekati wajahnya hingga sebuah ciuman panas tercipta.
"Kamu benar-benar membuatku gila," bisik William di sela ciuman panas mereka.
Lidah saling berbelit dan entah sejak kapan pelindung dua gunung Meyrin sudah tergeletak di bawah kasur. William membawa salah satu kaki Meyrin untuk ditekuk.
Belaian demi belaian diberikan William membuat suara lenguhan tak berhenti keluar dari bibir yang saling bertautan. Bahkan saking lembutnya, Meyrin sampai meremas sprei hingga kusut.
Saat William bermain di gunung kembarnya serta puncak yang tegang itu, saat itu Meyrin membusungkan tubuhnya ke atas. Tidak hanya panas lagi yang dirasakan Meyrin, akan tetapi sesuatu telah berdenyut dengan sendirinya.
Pinggang ke bawah, tepatnya di bagian inti Meyrin sangat sensitif. Tersentuh sedikit saja, membuat sang wanita langsung kelimpungan. William tanpa sengaja menyentuh titik itu.
"Aduuh~" kaget Meyrin membuat William langsung menghentikan kegiatannya.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga