OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 50 MALAM PANJANG


__ADS_3

Paranoid William yang kambuh membuat Meyrin terjebak dengannya di dalam kamar, berdua. Semua barang-barang yang ada di dalam kamar menjadi pelampiasan kemarahan seorang William. Pria itu tidak memedulikan keberadaan Liu Meyrin.


Meyrin hanya menyaksikan suaminya itu melampiaskan amarahnya. Dia masih memantau sejauh mana pengendalian seorang William terhadap paranoid-nya. Sebuah pesan pemberitahuan dikirim kepada Rama dan Lea oleh Meyrin.


Meyrin terkejut saat William merampas ponselnya lalu membuangnya begitu saja. Layaknya membuang sebuah sampah yang usang dan tak berguna. Napas pria itu tersengal-sengal, tapi kedua matanya menyiratkan bahwa William sudah mulai tenang.


"Sudah selesai?" tanya Meyrin.


Bukannya menjawab pertanyaan Meyrin, William malah menindih, memenjarakan tubuh Meyrin di bawah kekuasaannya. Tatapan William kali ini bukan penuh amarah melainkan sebuah tatapan memuja. Mata mereka saling bersirobok, wajah keduanya begitu dekat hingga dapat merasakan napas masing-masing.


"Aku tidak bisa menahannya," bisik William begitu lirih, di mana hanya dirinya dan Meyrin yang dapat mendengar.


"Menahan apa?" tanya Meyrin tenang.


"Rasa obsesiku terhadapmu. Sepertinya aku sudah gila."


Meyrin tersenyum lalu membelai wajah tampan William. "Kamu tidak gila, tapi keren. Oleh karena itu, obsesi itu agung dan indah."


"Kamu wanita yang dapat memporak-porandakan pertahananku. Wanita nakal dan liar tapi membuatku merasakan getaran cinta lagi," desis William merasakan belaian lembut Meyrin.


"Bagaimana jika suatu saat Nyonya Plowden kembali. Siapa yang akan kamu pilih?" goda Meyrin.


"Aku akan menceraikan Laras, jika kamu bersedia menjadi istri sahku."


"Wow! Tidak pernikahan kontrak?"


"Aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku membenci tapi menyukai perasaan ini," bisik William.


"Jangan menaruh perasaan padaku. Aku tidak pantas untukmu," pinta Meyrin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Semua yang aku butuhkan adalah kamu. Kamu segalanya untukku," desis William mencoba meyakinkan Meyrin.


"Aku terlalu kotor untukmu, Will. Kamu tidak akan bisa menerimaku jika tahu tentang masa laluku."


"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menatap masa sekarang dan masa depan berdua denganmu serta anak-anak kita. Pastinya Juna sebagai kakak tertua dari adik-adiknya kelak."


"...." Meyrin terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Mey," panggil William.

__ADS_1


Meyrin yang tertunduk, dia tidak berani menatap wajah William. Hatinya belum siap menerima pengakuan seorang William. Dia ingin menerima kembali suaminya, tapi hatinya belum yakin. Kilasan dua tahun yang lalu berputar di otaknya bagaikan film tanpa iklan.


Bahkan saat-saat dirinya pertama kali membunuh seorang manusia sangat jelas terekam. Hal itu terus berlanjut hingga saat ini. Meyrin yang kotor dan tidak pantas bersanding dengan seorang William yang bersih. Dia tidak ingin suaminya dalam bahaya.


Merasa tidak menerima jawaban, William mengangkat dagu Meyrin hingga mata mereka kembali saling beradu pandang. Napas William sudah mulai teratur lagi, emosinya sudah kembali stabil.


"Mey, ijinkan aku menjadi ayah Juna. Bagaimanapun masa lalumu, siapapun orang yang meninggalkanmu, aku akan tetap menerimamu apa adanya," ujar William mengelus pipi tirus Meyrin dengan penuh cinta.


"Kalau begitu, kapan kamu akan menandatangani surat cerai itu?" tanya Meyrin memastikan kapan misinya akan berakhir.


"Besok," William menatap Meyrin penuh keyakinan.


Cup!


Meyrin mencium bibir William sekilas. William tersenyum begitu juga dengan Meyrin. Senyuman itu berubah menjadi ketawa. William beranjak dari posisinya dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Meyrin.


Meyrin membalikkan tubuhnya, menghadap pada William. Senyum keduanya tak pernah pudar hingga perlahan-lahan senyum di antara keduanya memudar bersamaan dengan menipisnya jarak wajah keduanya. Napas panas mereka saling beradu satu sama lain.


Sehingga kedua bibir saling bersentuhan, menggetarkan jiwa terdalam mereka. Bisikan-bisikan cinta mulai mengalun di indera pendengaran William dan Meyrin. Dentuman jantung keduanya bak genderang perang.


Kedua mata yang saling terpejam, menghantarkan rasa yang ada. Menikmati setiap sapuan lingual mereka, saling berbelit dan tak ada yang mau mengalah. Suhu yang semakin panas membuat tubuh keduanya terbakar oleh api gairah.


"I love you, Liu Meyrin. Selamat, kamu sudah berhasil membuatku melupakan Laras."


William tidak mengizinkan Meyrin untuk menjawabnya. Dia hanya ingin membuat Meyrin merasakan rasa cinta dan obsesinya. Bibir yang masih saling berpagutan, kedua tangan William mulai menjalankan aksinya.


Tangan kanan William tanpa permisi mulai menyelinap masuk dibalik kaos yang dikenakan Meyrin. Mengelus kulit putih sang wanita yang begitu halus di telapak tangannya.


"Hmmph~" hanya terdengar suara lenguhan dari bibir Meyrin saat William berhasil menyentuh titik sensitifnya.


Entah kapan dan bagaimana, mereka berdua sama-sama polos di bagian atasnya. William melepaskan ciumannya, mereka saling tatap dan tersenyum.


Sebelum kemudian dirinya kembali mencium bibir Meyrin yang sudah tampak bengkak dan basah. Malam ini, mereka kembali akan merenggut manisnya madu cinta diantara keduanya.


****************


Meyrin terbangun saat ponselnya berdering. Dia meraba-raba sisi kirinya, mencari keberadaan ponselnya yang tak kunjung didapat. Akhirnya dengan terpaksa, Meyrin membuka matanya yang masih mengantuk.


"Aduh!" rintih Meyrin saat seluruh tubuh dan bagian intinya terasa sakit.

__ADS_1


Kepingan adegan panasnya dengan William beberapa jam yang lalu terlintas. Mereka melakukannya berkali-kali, seperti orang yang tak pernah lelah. Sepertinya William akan mewujudkan impiannya mempunyai anak bersama sang wanita. Meyrin menatap sekeliling, mencari keberadaan ponselnya yang ternyata ada di atas meja sofa.


Meyrin memungut kemeja William yang berada paling dekat dengan posisinya. Dikenakannya kemeja itu tanpa tambahan yang lainnya. Dilangkahkan kakinya menuju meja sofa lalu mengambil ponselnya.


Sebuah alarm peringatan untuk Meyrin mengkonsumsi pil kontrasepsinya. Meyrin segera mencari bajunya atau tas yang biasa dibuatnya untuk menyimpan pil tersebut.


Meyrin kebingungan saat apa yang dicari tidak ada. Bahkan, dalam saku celananya pun tidak ada. Wanita itu terdiam dan berpikir lagi hingga sebuah umpatan kasar terlontar dari bibirnya.


"Bagaimana bisa aku keluar dari mansion hanya membawa ponsel saja," gumam Meyrin.


Meyrin terlihat gelisah. Dia berjalan mondar-mandir di tengah kamar. Rasa sakit di tubuh dan intinya tidak terasa lagi karena sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang. Wanita itu terus berpikir mencari jalan keluarnya.


Akan tetapi, seperti alam mendukung William dan memojokkan dirinya, Meyrin tidak menemukan jalan keluarnya. Apalagi saat tiba-tiba Meyrin teringat bahwa dirinyalah yang menyuruh William untuk melakukannya di dalam. Tidak hanya satu kali, bahkan berkali-kali hingga membuat seorang Meyrin melenguh kepuasaan.


"Kenapa bisa jadi seperti ini sih?" rutuk Meyrin kesal pada dirinya sendiri.


"Hi, Sayang," sapa William yang tiba-tiba memeluk Meyrin dari belakang.


"Kamu bangun?" tanya Meyrin khawatir William mendengar umpatannya.


"Iya. Aku butuh kamu buat menghangatkanku lagi." 


Setelah mengatakan itu, William langsung menggendong Meyrin ala bridal style. Dibaringkannya Meyrin di kasur dengan lembut, seolah wanita itu adalah barang pecah belah yang harus diperlakukan dengan lembut.


Tubuh Meyrin kembali terbakar di bawah tatapan tajam William. Terbakar oleh api gairah yang kembali tersulut, hingga akhirnya Meyrin menyerah. Dia kembali jatuh pada pesona William dan melanjutkan permainan panas mereka. William juga tidak segan-segan untuk menumpahkan benihnya di dalam rahim Meyrin.


William menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Lelaki itu menawarkan lengan kekarnya sebagai bantal. Tentu saja hal itu tak dapat ditolak oleh Meyrin. Dia tidur dengan berbantal lengan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang William.


"Semoga kamu tidak bertumbuh di dalam sana," batin Meyrin.


Jadi apa ngak nih?


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2