OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 70 KOTAK MISTERIUS


__ADS_3

Sebuah mobil Alphard baru saja memasuki basement hotel berbintang. Seorang wanita dengan masker dan topi keluar dari dalam mobil. Tak berapa dari sang wanita, seorang pria ikut keluar juga dengan menggunakan masker dan topi.


Pria itu mempercepat langkahnya saat melihat seorang wanita yang berpenampilan sama dengan dirinya. Saat sang wanita membuka pintu kamar, pria itu langsung mendorong masuk, membuka masker sang wanita dan mencium bibirnya.


Kedua bola mata sang wanita membulat sempurna, terkejut dengan aksi tiba-tiba kekasihnya. Bahkan topi mereka langsung terjatuh begitu saja di atas lantai. Ciuman itu berlangsung singkat.


"Lily," panggil sang pria dengan penuh cinta.


"Tidak Al, kita tidak bisa melakukannya. Jika Kak Meyrin tahu, aku tidak bisa menerima konsekuensinya," tolak halus Emily.


"Apa konsekuensinya?" tanya Alex.


Ya, wanita itu adalah Emily Arlington bersama sang kekasih, Alex Gerard. Ini adalah malam terakhir mereka bersama karena besok pagi Alex sudah harus melakukan penerbangan ke Venesia.


Kisah cinta mereka berdua adalah cinta pada pandangan pertama. Pertemuan tak terduga keduanya di rumah sakit tempat Ken dirawat dulu, menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya. Hingga mereka menjalin kisah asmara tanpa persetujuan dari Daniel dan kakaknya, Meyrin.


"Mungkin kita tidak bisa bertemu selamanya," jawab Emily begitu dengan nada sendunya.


"Aku akan mencarimu hingga ke ujung dunia sekalipun. Percayalah padaku, Lily." Alex menangkup kedua pipi Emily.


"Aku bukannya tidak mempercayaimu, Al. Tapi, aku terlalu cinta padamu hingga akupun takut kehilanganmu. Please, biarkan kita seperti ini dulu."


"Sampai kapan kita bersembunyi terus-terusan, Lily? Cepat atau lambat mereka akan tahu hubungan kita. Orang-orang di belakangmu bukan sembarangan orang, mereka punya kekuasaan. Hingga waktunya tiba, hanya menjentikkan jari, mereka akan mengetahui hubungan kita." Alex mencoba meyakinkan Emily.


"Aku janji! Jika sudah waktunya, aku sendiri yang akan bicara pada keluargaku."


"Bukan aku, tapi kita. Aku dan kamu. Emily dan Alex akan menghadapi seorang Arlington bersama," ralat Alex.


"Baiklah."


Setelah itu, Emily yang memulai mencium Alex. Alex sendiri langsung membalas dan memimpin aksi pergulatan antara dua benda lingual itu. Bahkan pria itu menggendong Emily tanpa melepaskan ciuman di antara keduanya.


"Aakkh!" teriak Emily yang langsung mendorong Alex.


"Ada apa?" tanya Alex.


"I-itu!" seru Emily ketakutan.

__ADS_1


Sebuah kotak hitam dengan pita merah ada di atas sofa di dalam kamar hotel. Alex mengernyitkan keningnya, menatap tak mengerti dengan kotak itu. Pria dengan mata biru itu menatap kotak misterius dan sang kekasih bergantian.


"Apa kamu sering menerima kotak seperti itu?" tanya Alex yang dijawab gelengan kepala membuat sang lelaki semakin mengerutkan keningnya.


Alex berjalan mendekati kotak itu. Tapi, Emily menahan tangan sang kekasih. Wanita dengan surai pirang panjangnya menggelengkan kepala, tidak mengizinkan sang kekasih mendekati kotak itu. Tampak sangat jelas di wajah sang wanita kalau dia ketakutan


"It's okay." Alex meyakinkan sang kekasih bahwa semua baik-baik saja.


Alex melangkahkan kakinya semakin dekat dengan keberadaan kotak itu. Saat dia sudah ada di depan kotak misteriusnya, Alex langsung membuka tutupnya. Kerut kebingungan sudah sangat menghiasi kening sang lelaki.


"Kemarilah!" perintah Alex dengan lembut.


Emily berjalan mendekat dengan langkah takut-takut. Matanya terus menatap Alex, sungguh saat ini Emily begitu ketakutan. Alex segera menarik tangan Emily saat sang kekasih hampir berada didekatnya.


"Aakkh!" jerit Emily saat terjatuh di pangkuan pria yang dicintainya.


"Lihatlah! Ini sebuah gaun pesta yang sangat indah. Mungkin ini dikirim oleh penggemarmu. Pakailah suatu saat, siapa tahu penggemarmu ini sedang melihatnya," saran Alex begitu menenangkan.


Emily tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali mencium sekilas bibir sang kekasih. Alex yang merasa begitu dicintai tersenyum dan kembali mencium bibir sang kekasih.


****************


"Tuan Aite sedang menunggu Anda di ruang rapat, Nona." Kepala pelayan itu memberikan pesan titipan tuannya.


"Baiklah." 


Meyrin langsung melangkahkan kakinya menuju ruang rapat yang dimaksud. Nikolai berjalan di sampingnya, sedangkan Lea dan Armand berada di belakang mereka berdua. Sebelum memasuki mansion, Meyrin menyuruh anak buah Nikolai berada di luar mansion dan disetujui oleh sang pemimpin klan Naga Langit.


Meyrin dan Nikolai memasuki sebuah ruangan. Semua yang ada di dalam langsung berdiri dari kursinya dan membungkuk hormat. Meyrin berdiri di sisi kiri Ken dan Nikolai di sisi kiri Meyrin. Jadi, sekarang Meyrin diapit oleh Ken dan Nikolai.


"Sudah siap dengan rapatnya?" tanya Meyrin.


Keempat petingginya dan para tangan kanannya mendongakkan kepalanya. Mereka menatap dua pemimpin Nikolai, Ken, serta sang Bos, Liu Meyrin.


"Siap, Bos."


Meyrin langsung mengambil posisinya seperti biasa, sedangkan Nikolai menduduki kursi yang diperuntukkan untuk Daniel Arlington.

__ADS_1


"Nona, jadi bagaimana kita bisa percaya dengan klan Naga Langit?" tanya Queen memulai rapatnya.


"Mey, kamu tidak memberikan hadiahku?" bukannya menjawab, Nikolai malah melontarkan pertanyaan pada pemimpin mafia Arlington.


"Maksud Anda … ini?" Queen memamerkan benda yang tadi pagi ditunjukkan oleh Bos kecilnya.


Queen membuka kantong merah itu dan mengeluarkan benda yang ada di dalamnya. Nikolai mengangkat sudut bibirnya ke atas, bangga dengan hasil pekerjaannya sendiri.


Sebuah jari telunjuk dengan warna biru keabu-abu tergeletak begitu saja di atas meja. Ujung dari jari terdapat noda merah yang sudah berubah menjadi hitam. Kuku pada jari tersebut berwarna pucat pasi.


"Itu adalah hasil pekerjaan Paman Nikolai. Kita sebagai ketua tidak akan memberikan informasi tanpa adanya barang bukti." Meyrin menatap tajam para petingginya.


"Coba kalian perhatikan di sisi samping jari itu, ada sebuah tato lambang kapak!" perintah Nikolai.


Semuanya menatap pada jari yang ada di tengah meja. Mereka yang ada di sana berdecak kagum atas kejelian seorang Nikolai Stevano. Tato itu sangat kecil hingga mereka tidak menyadarinya sejak tadi, sebelum sang pemimpin klan Naga Langit memberitahukannya.


Meyrin yang sudah mengetahuinya hanya diam saja, mengamati ekspresi dari kelima petingginya. Otaknya sedang memikirkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya berpikir begitu serius. Dia sangat yakin kalau ada sesuatu dengan kembang apinya.


"Paman Aite, apa kamu sudah menyelidiki yang aku suruh?" tanya Meyrin menatap Aite.


"Sudah Nona. Penyalaan kembang api itu memang atas perintah Tuan Plowden melalui asistennya. Saya sudah mengkonfirmasinya langsung dari si pembuat," jelas Aite.


"Apa dia juga menyalakan kembang api yang seperti roket?" tanya Meyrin memastikan apa yang ada di kepalanya.


"Tuan Plowden tidak ada spesial request untuk kembang apinya. Tapi, saya bisa memastikan kalau dia tidak menyalakan kembang api seperti yang Nona maksud," Aite menjawab dengan sangat yakin dan Meyrin mempercayainya.


"Armand, tolong carikan aku video lengkapnya!" pinta Meyrin yang langsung mendapat anggukan kepala dari Nikolai.


"Kenapa bukan aku saja?" tanya Ken.


Kenapa, hayo?


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga


__ADS_2