OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 100 KEPERCAYAAN LARAS PADA KEN


__ADS_3

20 menit berlalu dan akhirnya Laras serta William turun ke lantai dasar, di mana Daniel dan Emily sudah menunggu mereka. Jangan lupakan Ken yang juga berada di sana, menunggu kehadiran mereka berdua.


Jangan tanyakan lagi bagaimana ekspresi mereka bertiga. Tentu saja yang menarik adalah ekspresi Emily yang sudah cemberut sempurna dengan wajah kesalnya. Sesayang-sayangnya Emily pada Laras, gadis berambut pirang itu tetap saja mempunyai rasa kesal.


Saat Laras hendak minta maaf, Emily langsung beranjak dan menuju ke mobil yang sudah ada di halaman depan. Laras menatap canggung Ken dan meminta maaf pada Daniel.


"Sudah, next jangan lupakan jadwal Emily. Dia seperti itu karena tadi kena omel managernya. Emily harus mencari alasan atas keterlambatan penerbangannya." Daniel menjelaskan masalah yang dihadapi Emily agar tidak ada kesalahpahaman antara kedua putrinya.


"Iya Ayah."


William tersenyum saat melihat Laras begitu ketakutan jika berhadapan langsung dengan Daniel. Wanita setangguh dan seberani Laras, bisa takluk dengan seorang Daniel Arlington. Tentu saja, Laras tetaplah Laras. Wanita yang begitu patuh pada orang tuanya.


Akhirnya setelah terlambat penerbangan gara-gara Laras yang susah dibangunin, mereka langsung menuju ke bandara Fu. Emily langsung menyandarkan kepalanya di pundak Laras.


"Lily, maafin Kakak yah," ujar Laras sembari mengelus sayang rambut pirang sang adik tirinya.


"Lily juga minta maaf karena sempat kesal dengan Kak Laras."


Yah, beginilah hubungan persaudaraan mereka berdua. Walaupun beda ibu, tapi kasih sayang keduanya melebihi hubungan persaudaraan kandung. Daniel benar-benar beruntung memiliki dua putri seperti mereka berdua.


Entah kebaikan apa yang telah dilakukan Daniel di masa mudanya, hingga mendapatkan anak yang luar biasa baiknya. Padahal, seingat Daniel semasa remaja hingga bertemu Indah, ibu Laras, dia selalu melakukan hal brengsek.


Mobil itu berhenti di depan Bandara Fu, di mana semua tim keamanan berbaris. Ada dua artis yang harus dijaga, serta tiga orang konglomerat yang akan melakukan penerbangan. Banyak fans dari Ken dan Emily yang berbaris memanggil-manggil nama mereka.


Ken memeluk pinggang ramping Emily dan melambaikan tangan kepada para fans mereka berdua. Sedangkan Laras memilih menggandeng tangan Daniel, sedangkan William menyuruh Rama berjalan di sampingnya.


Mereka masuk ke dalam bandara menuju landasan di mana pesawat pribadi Arlington sudah menunggu. Sesampainya di dalam pesawat, Emily langsung bertukar tempat dengan Laras.


"Kakak sama kakak ipar aja. Aku sama Daddy. Ken biarkan dia bersama Alex," sungut Emily yang terlihat sebal dengan Alex.


Lea mendekatkan wajahnya pada Alex, "Kalian bertengkar?" tanya Lea dengan nada berbisik.


"Tidak juga, entah apa yang membuat dia terlihat kesal begitu," jawab Alex dengan nada lirih juga.


"Sebaiknya kamu tanyakan, jangan sampai Nona Emily kesal dan bikin curiga Nona Laras dan Tuan Daniel," saran Lea yang dijawab anggukan kepala.

__ADS_1


William bersama Laras, Daniel dan Emily yang berada di samping mereka berdua, serta Ken yang memilih untuk sendirian. Sedangkan Rama, Lea, Alex dan Josh, serta Juna berada di belakang, tempat khusus para asisten berada.


Daniel membawa semua keluarga Arlington ke London karena dua hari lagi Laras dan William akan mengadakan pesta pernikahan di sana. William sudah membicarakan hal ini dengan Daniel.


Tidak ada hal yang menakjubkan di dalam pesawat. William terkejut saat Laras sudah tidak takut lagi dengan pesawat. Dia jadi kembali teringat waktu membawa Laras pergi ke Jepang dengan pesawat pribadinya untuk pertama kali. Wanita itu begitu ketakutan apalagi saat terjadi turbulensi.


"Tidak takut lagi?" tanya William saat melihat Laras yang memandang ke arah luar jendela, di mana hanya hamparan awan yang seperti kapas.


"Aku sudah sering naik pesawat, Will. Hal yang membuatku takut saat ini adalah bertemu dengan Rizzo."


"Ah! Orang yang menculikku waktu itu? Apa kalian ada masalah?" William mulai menatap Laras dengan serius.


Laras memalingkan wajahnya dari jendela dan menatap wajah William. "Bagaimana kalau kita fokus ke pernikahan dulu? Itu masa kelam yang tak ingin aku bahas sebenarnya."


"Apa kamu tidak ingin menceritakannya padaku? Aku juga mempunyai masa kelam selama kamu pergi. Bukan hanya kehilangan istri tercinta, tapi aku juga kehilangan kedua orang tuaku."


"Baiklah, kita akan saling bercerita setelah urusan pesta selesai. Setuju?" tanya Laras.


"Baiklah. Apa kamu ada jadwal selama di London?" William menatap layar ponselnya yang berisi jadwal dia selama satu bulan.


"Bagus. Aku juga untuk dua minggu ke depan tidak memiliki jadwal. So, kita akan langsung honeymoon."


"Pulau pribadi lagi?" Laras mencoba menebak.


"No. Aku tidak pernah memberikan kejutan yang sama untuk wanita tercintaku."


"Baiklah. Aku akan mengikuti jadwalmu." Laras menyandarkan kepalanya di dada William.


"Hei, mau tidur lagi?" tanya William tak habis pikir dengan Laras yang mulai memejamkan kedua matanya.


Melihat posisi Laras yang tidak sampai di pundaknya, William sedikit menurunkan posisi duduknya hingga kepala Laras tepat bersandar di pundaknya. Napas wanita itu sudah teratur, artinya Laras sudah tertidur.


William mencuri cium di kening sang wanita, "Kamu sudah berjuang dengan keras. Sekarang, biarkan aku yang berjuang untukmu."


"Dia tertidur lagi?" tanya Daniel yang menatap putri sulungnya.

__ADS_1


"Iya Ayah. Sepertinya Laras kelelahan belakangan ini."


"Padahal Ayah sudah memperingatkan dia untuk tidak memforsir tubuhnya."


"Laras kalau sudah fokus pada sesuatu, dia harus menyempurnakannya dan menyelesaikan sesegera mungkin. Itu sudah menjadi kelemahan dia. Dia akan menghentikan hal gila itu setelah tumbang." William mengelus rambut Laras dengan lembut.


"Ayah lupa kalau kalian berdua sudah bersama bertahun-tahun. Terima kasih, sudah menjaga Laras dengan baik," ucap Daniel.


"Tidak. Ibu Indah lah yang telah berjasa selama ini. Dia orang yang pantang menyerah pada kelamnya kehidupan. Maka dari itu, Laras seperti sekarang seperti melihat Ibu Indah."


Daniel terdiam. Dia kembali teringat kenangannya bersama Indah. Walaupun sudah puluhan tahun, kenangan dengan wanita yang membuatnya berubah itu tak pernah usang dimakan waktu. Emily yang melihat perubahan sikap Daddy nya menepuk-nepuk tangan kekar Daniel yang sudah mengkerut.


"Bu Indah telah banyak membantu kita semua. Tanpa Bu Indah, mungkin Emily tidak ada di dunia ini. Mungkin Emily bukan seorang model yang terkenal. Maka dari itu, Bu Indah bagi keluarga Arlington merupakan suatu anugerah."


Emily menatap Laras dan tersenyum. "Sekarang Bu Indah mengirimkan Kak Laras untuk keluarga Arlington. Kami sangat menyayanginya. Jadi, Kakak ipar, tolong jangan sakiti dia lagi. Memang dari luar dia terlihat kuat, tegar dan tidak takut apapun. Akan tetapi, dalam hatinya begitu rapuh. Apalagi setelah peristiwa dua tahun yang lalu."


"Ada apa dengan dua tahun yang lalu?" tanya William yang mulai penasaran.


"Apa Laras berjanji akan menceritakan tentangnya?" tanya Daniel menatap William yang sedang menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu biarkan dia yang bercerita."


"Jujur, setelah peristiwa itu Kak Laras berubah total seperti yang Kakak ipar lihat. Seorang Liu Meyrin. Waktu itu, ada Kak Ken yang selalu menemani dia. Mungkin Kak Ken tahu semua tentang apa yang dirasakan oleh Kak Laras waktu itu," jelas Emily.


"Laras tidak menceritakan apapun?" tanya William tak percaya. Emily menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Sedalam apa rasa percaya Laras kepada Ken hingga keluarganya saja tidak tahu tentang Laras. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah sedalam apa rasa sakit yang telah dia dan keluarga Arlington berikan pada wanita ini?


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2