OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 137 MENGGAPAI RESTU (S2)


__ADS_3

"Sa-saya …."


Bug!


Ken yang tidak tahan akhirnya kembali menghantam wajah Alex dengan tinjunya. Darah segar langsung keluar dari mulut asisten pribadinya. Sepertinya tulang rahang Alex ada yang patah. Emily langsung berlari menghampiri Alex. Dia kembali menangis.


"Lea, singkirkan Emily!" perintah Laras.


Lea langsung melangkahkan kakinya maju dan menghampiri Emily. Emily berontak, tidak mau dijauhkan dengan Alex. Sayang, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga yang dimiliki oleh Lea.


Lea memeluk Emily dari belakang, mengunci pergerakan adik dari majikannya itu. Tatapan Laras begitu tajam pada Alex. Rama yang melihat perubahan sikap Nyonya Plowden bergidik ngeri.


"Ken, tahan Alex!"


"Siap, Bos," jawab Ken yang langsung mengunci pergerakan Alex yang berontak.


Laras mulai beranjak dari posisinya. William menahan pergelangan tangan sang istri, memberikan isyarat agar tidak melakukan hal yang berbahaya. Sebagai jawaban, Laras tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Laras membawa amplop cokelat yang tadi diserahkan oleh Lea bersamanya. Meskipun dalam keadaan hamil, tapi aura bossy yang terpancar dari tubuh Laras tidak mengurangi pesonanya.


Laras menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Alex dan Ken. Lalu, tanpa banyak kata, Laras melempar amplop cokelat yang cukup tebal itu ke arah muka Alex.  Hal itu membuat beberapa lembar kertas keluar dan berhamburan.


"KATAKAN TUJUANMU SEBENARNYA TUAN GERARD!" bentak Laras dengan nada tinggi dan mata seperti elang yang siap menerkam siapa pun.


Alex terdiam. Lelaki itu paham maksud dari pertanyaan Laras enggan untuk menjawabnya. Dia tahu bahwa alasan apapun tetap saja posisinya kali ini salah. Bukan karena dia mengencani seorang Emily Arlington, lebih dari itu.


"ALEX FUNK GERARD!" Bentakan Laras sukses membuat seorang Alex terkejut.


"...." Alex menggelengkan kepalanya, membuat Laras geram sendiri.


Saat Laras hendak bermain dengan pisau kecilnya, Baby Al dalam perutnya menendang. Seolah Baby Al memberikan peringatan agar sang Mommy tidak melakukan hal-hal berbahaya lagi. Hal itu sukses membuat Laras melunak tapi sekejap. Sebelum pisau kecilnya menancap sempurna di telapak tangan kiri Alex.


Jleb!


"Alex!" teriak Emily saat dirinya melihat telapak tangan sang kekasih mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Kak Laras, tolong ampuni Alex! Lily sudah berdamai dengan masa lalu itu! Tolong Kak, cabut pisaunya," racau Emily yang tentu saja tak diindahkan oleh Laras.


"Ken, tolong cabut pisau itu, hiks … hiks … aku mohon lepaskan Alex. Biar Emily yang tanggung semuanya, tolong!" pinta Emily dengan tangisnya yang tidak mau berhenti.


"Pisau ini?" tanya Ken menatap Emily yang langsung dijawab anggukan kepala oleh sepupunya itu. "Baiklah, aku cabut sekarang."


Benar saja, Ken langsung mencabut pisau itu dengan sekali tarikan. Hal itu membuat darah muncrat ke wajah Alex dan Ken. Senyum miring diberikan oleh Ken.


"Aaargh!" teriak Alex saat merasakan sakit tiada tara pada telapak tangannya.


"Ken!" marah Emily saat melihat darah semakin banyak keluar dari telapak tangan Alex.


"Apa? Kamu menyuruhku untuk mencabutnya tadi, 'kan? Apa aku tuli? Apa kalian mendengar perintah Emily?" tanya Ken kepada semua orang yang ada di sana. Mereka sontak menganggukkan kepala, membenarkan ucapan sang tangan kanan Laras.


"Kak Laras, tolong ampuni Alex! Emily benar-benar sudah berdamai dengan masa lalu itu. Toh, selama ini Alex begitu baik sama Emily. Dia benar-benar mencintai Lily, Kak. Kakak tidak perlu merestui hubungan kami. Kakak hanya perlu melepaskan Alex dan Emily janji tidak akan mendekatinya lagi."


"Lily!" teriak Alex tidak terima dengan permohonan kekasihnya itu.


"Tidak Nyonya. Tolong jangan pisahkan saya dengan Nona Emily. Saya tahu bahwa selama ini telah melakukan kesalahan. Tapi tolong, jangan pisahkan saya. Saya benar-benar tulus mencintai Nona Emily. Saya tidak akan membenarkan perbuatan saya di masa lalu," ujar Alex.


"Nyonya, saya tahu bahwa perbuatan saya di masa lalu sudah kelewatan. Maka dari itu, saya ingin menebus—"


"Kamu menebusnya dengan membohongi kami semuanya? Kamu kita Arlington dan Plowden bonekamu, HAH!" bentak Laras.


"Tidak, tidak. Saya tidak ada pikiran seperti itu. Saya salah telah menjadi anti-fans dari Nona Emily dan bahkan melakukan kejahatan. Saya siap menebusnya dan menerima hukuman apapun itu, Nyonya." Alex memohon, dia tidak peduli lagi dengan darah yang semakin deras keluar dari telapak tangannya.


"Kakak tidak boleh menghukumnya. Emily sudah tidak apa-apa. Buktinya Emily ada di sini bersama Kakak dan yang lainnya. Tolong jangan dengarkan permintaan dia. Biarkan Alex pergi, Kak." Emily memohon sambil menatap Alex dan Laras bergantian.


"Baiklah, baiklah. Sepertinya kalian berdua melupakan siapa kepala keluarga saat ini. Entah kalian bodoh atau pikun," ujar William beranjak dari posisi duduk santainya tadi.


Sebenarnya, William hendak marah saat Laras mengabaikan peringatannya tadi. Beruntung ada Rama yang menenangkan William sebelum keadaan semakin keruh. William melangkahkan kakinya mendekati istri tercintanya dengan membawa sebuah map.


Deg!


Mendengar ucapan William, sontak membuat Emily dan Alex sadar. Keduanya menatap Laras yang masih dia di tempat. Bahkan, pemimpin mafia Arlington itu tidak mengatakan apapun lagi setelah bentakan terakhirnya. William berdiri sedikit lebih maju dari sang istri.

__ADS_1


"Ini hukumanmu! Semua tertulis dengan jelas hukuman apa saja yang akan kalian terima. Jadi, bersiaplah!" William menyerahkan map yang dia bawa ke Alex.


Alex menerimanya dengan tangan gemetar. Sejatinya dia sangat takut menerima hukuman dari dua pemimpin kerajaan bisnis di Lunar City. Tapi, mau tidak mau dia harus menepati janji yang terucap tadi. Selama dia tidak berpisah dengan Emily, apa pun akan Alex lakukan.


"Satu lagi, jangan lupakan janji kalian tadi. Sekarang, semuanya bubar!" perintah William.


Ken melepaskan kunciannya pada Alex, begitu juga dengan Lea. Lea mendekati Ken dan meminta pisau kecil kesayangan milik Laras. Sedangkan William sudah menggendong Laras ala bridal style menuju kamar mereka.


"Tsk, mereka itu selalu saja menebar kemesraan padahal sudah pengantin lama," kesal Ken.


"Itu yang terpenting, Tuan. Semakin lama dalam menjalin rumah tangga, seharusnya cinta semakin dalam," ujar Rama.


"Ini lagi. Kayak aja kamu sudah menikah dan berpengalaman. Muka aja kayak tembok begitu, sok nasehatin." Ken semakin kesal saat mendapatkan saran dari Rama.


Jelas Ken kesal dong. Ini yang ngasih saran Rama loh. Jikalau yang ngasih saran Lea masih bisa pria itu terima. Sedangkan Rama langsung berbelok tidak peduli lagi dengan Ken setelah memberikan saran.


"Dia benar-benar lelaki tembok dan muka datar," gerutu Ken kesal.


Saat semua sudah kembali ke tempat masing-masing, Emily segera menuju dapur untuk mengambil kotak P3K. Dia mulai mengobati luka tusuk Rey yang cukup dalam. Tanpa banyak bicara, Emily menghubungi dokter keluarga Arlington untuk segera ke mansion.


"Honey, berhentilah menangis," ucap Alex sambil menghapus air mata yang terus mengalir dari pipi sang kekasih.


"Aku membencimu, Al," ujar Emily kemudian.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2