
Rama membaca dokumen yang diberikan William dengan teliti. Setiap kata demi kata dia pahami dengan benar makna yang terkandung. Tak berapa lama, keningnya berkerut sesaat dan kembali berkerut lagi.
"Kenapa bisa seperti ini, Tuan?" tanya Rama.
"Kenapa balik tanya?" ketus William.
"Maaf, Tuan. Em …." Rama menggantungkan kalimatnya.
William menaikkan satu alisnya ke atas saat melihat gelagat asisten pribadinya. Bukan hanya seorang asisten pribadi, tapi dia sudah menjadi satu-satunya kerabat keluarga terdekatnya.
"Apa mungkin Nona Meyrin adalah Nyonya Muda Laras? Karena sesuatu dan satu hal lainnya, Nyonya Laras memilih untuk merubah wajahnya?" ujar Rama.
"Astaga kak! Kenapa bisa ada asumsi seperti itu. Ini dunia nyata, bukan sinetron!" William menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan asumsi kakak tirinya itu.
"Siapa tahu seperti itu, adik bodoh!" Rama ikut kesal.
"Tuan Rama yang terhormat, apa anda mengatakan saya bodoh?" tanya William dengan nada yang sedikit ditekan.
"Tidak berani, Tuan Muda," Rama langsung menundukkan kepalanya walaupun hatinya masih kesal.
"Sudahlah! Setujui saja semua syarat yang tertulis di dokumen itu!" pasrah William.
"Termasuk satu kamar dengan Nona Meyrin? Bukannya dia tunangan da—" ucapan Rama terpotong oleh jawaban William selanjutnya.
"Aku tidak peduli, bukannya kita harus profesional dalam keadaan apapun?"
"Termasuk menjadi model ambassador dari kerja sama ini?" tanya Rama memastikan.
"Kenapa kamu bawel sih? Aku bilang setujui ya setujui! Disini yang bos aku apa kamu?" kesal William.
"Maaf, Tuan. Tapi, apa anda berpikiran kalau ini seperti bulan madu berdua?"
William menatap Rama tak percaya. Entah kenapa, hari ini asisten pribadinya itu tidak seperti biasanya. Seperti ada yang salah dengan otaknya.
"Kakak tidak salah makan kan? Otakmu itu seperti menjodohkan aku dan Meyrin. Tenang saja, aku tetap setia dengan Laras dan tidak akan berpaling. Kamu bisa memegang ucapanku. Tidak akan terjadi apapun di Venesia, Italia."
Setelah itu Rama mulai melakukan perintah William. Dia menyalin semua isi dalam dokumen itu dan mencetaknya untuk menjadi arsip buat William. Setelah selesai, Rama memberikan dokumen yang sudah di rangkap dua untuk ditandatangani oleh big bosnya.
****************
William tersentak dan terduduk di sofa saat indera pendengarannya mendengar suara ketukan pintu kamar. Dia menatap ke sekeliling ruangan dan baru sadar kalau dirinya sejak tadi melamun. Ingatannya berputar pada kejadian tiga hari yang lalu.
William beranjak dari duduknya saat ketukan pintu itu kembali terdengar. Dia membukakan pintu dan terlihat ada Lea dan Rama yang sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya William dengan nada malasnya.
"Saya ingin bertemu dengan Nona Meyrin," ucap Lea sopan.
"Masuklah! Dia ada di kamar."
Lea langsung masuk ke satu-satunya kamar yang ada di ruangan itu. Terlihat Meyrin yang sedang terlentang tanpa pertahanan. Kedua mata wanita itu terpejam, deru nafasnya begitu lembut dan teratur.
"Nona," panggil Lea lirih yang tidak ingin membangunkan big bosnya.
Saat tidak mendapatkan jawaban, Lea segera menutup mulutnya. Dia berbalik dan hendak keluar dari kamar. Langkahnya begitu perlahan agar tidak membangunkan nona mudanya yang sedang tertidur.
"Ada apa, Lea?" suara Meyrin terdengar.
"Anda tidak tidur?" tanya Lea yang akhirnya berjalan mendekat ke atas ranjang tempat nona mudanya berbaring.
"Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan belum satu hari musuh sudah mengintai. Rizzo? Sialan! Kenapa nama itu ada disini?" marah Meyrin masih memejamkan kedua matanya.
"Saya sudah menceritakan semuanya kepada Tuan Aite. Maka dari itu, beliau mengirim 10 pengawal andalannya." Lea menjelaskan.
"Atur waktu untuk bertemu dengan Paman Aite malam ini!" perintah Meyrin.
"Siap, Nona."
Setelah mengatakan itu, Lea masih tetap berdiri disana. Meyrin memicingkan matanya saat menyadari asisten pribadinya masih disana.
"Tuan Muda Juna ingin melakukan panggilan video. Ap—"
"Berikan ponselnya!"
Meyrin langsung terduduk dan bisa dilihat matanya bersinar penuh semangat lagi. Siapa lagi yang bikin mood booster dia membaik kalau bukan si bocah bawel, Juna. Lea memberikan ponsel Meyrin yang saat turun dari pesawat sudah dititipkan padanya.
Meyrin langsung mencari nama Ken di list kontaknya. Senyumnya semakin mengembang saat menemukan nama pria yang selalu ada untuknya. Dia langsung menekan tombol panggilan video di layar ponselnya.
Senyum di wajah cantik Meyrin memudar saat panggilannya tidak mendapatkan respon. Bibirnya sekitar satu-dua sentimeter maju ke depan, cemberut. Wajahnya mulai kembali murung dan uring-uringan.
Hingga sebuah panggilan masuk dan Meyrin langsung bersemangat. Ada nama Ken di layar ponselnya. Meyrin langsung menggeser tombol hijaunya.
"Mommy!" teriak bocah kecil yang langsung mendekat ke kamera ponsel.
Meyrin yang melihat itu tertawa gemas. Pasalnya, wajah sang bocah tampak terlihat besar gegara itu.
"Mommy! Mommy! Una angen," teriak bocah itu lagi saat Ken membawanya ke gendongan.
__ADS_1
Melihat itu Meyrin tertawa terpingkal-pingkal hingga memegangi perutnya yang sakit. Lea yang melihat itu juga ikut tersenyum bahagia. Akhirnya sang nona muda sudah kembali ceria lagi.
"Iya Juna sayang. Mommy juga kangen sama Juna. Apa Juna menjadi anak baik bersama Daddy?" tanya Meyrin.
"Una anak aik (Juna anak baik)," jawab Juna dengan bahasa candelnya.
"Sudah kamu berhenti bicara. Bahasamu belepotan begitu," sungut Ken gemas yang langsung mendapat kembungan pipi dari sang bocah.
Niat hati Juna ingin bertingkah kesal, tapi hal itu malah membuat Ken, Meyrin dan Lea tertawa. Bocah itu malah ikutan tertawa melihat semuanya tertawa. Ah, sungguh menggemaskan seorang Juna dan Meyrin sudah merindukannya.
"Nah, Juna mau ngomong apa sama Mommy?" tanya Meyrin setelah tawanya mereda.
"Mommy, Daddy jahat! Una ngak boleh ain ama uncle Alex," ucap Juna mulai mengadu pada Meyrin.
"Hei, Juna ngak boleh gitu, Sayang. Daddy itu benar siapa tahu uncle Alex sedang sibuk. Kenapa Juna tidak main sama Ayah Josh saja?" saran Meyrin.
"Ah benal uga!" seru Juna dengan bahasa candelnya.
"Jadi, Juna main sama Ayah Josh dulu yah. Daddy mau bicara sama Mommy berdua. Bisa?" ujar Ken dengan penuh kelembutan.
"Oke, Daddy. Mommy! Una ayang Mommy!" seru Juna dengan semangat membuat Meyrin tersenyum penuh keharuan.
"Mommy juga sayang sama Juna." Meyrin memberikan ciuman jarak jauhnya di layar ponsel membuat Juna tersenyum bahagia.
Meyrin melihat bocah itu langsung turun dari pangkuan Ken. Ken mengubah kameranya ke mode belakang agar wanita itu bisa melihat kepergian Juna. Juna dengan langkah lucunya keluar dari kamar bersama baby sitternya.
Setelahnya, Ken kembali mengembalikan mode kameranya seperti semula. Sekarang tinggal Ken, Meyrin dan Lea yang ada disana.
"Apa saya harus pergi?" tanya Lea paham akan posisinya.
"Tidak Lea. Kamu tetap disana saja. Pastikan kamu selalu berada di samping Meyrin," jawab Ken.
"Baik, Tuan."
"Apa kamu sudah melihat beritanya?" tanya Meyrin tanpa basa basi.
Berita apa nih yang dimaksud Meyrin?
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga